
* MANSION UTAMA.
Dengan tajam Tuan Fredell menatap layar ponselnya, sepertinya panggilan telepon yang baru saja Tuan Fredell Terima adalah panggilan penting.
Bagus.. Jadi kau kembali.. Aku pikir kau sudah membusuk di neraka.
Batin Tuan Fredell yang nampak terlihat kembali menghubungi beberapa nomor penting di ponselnya.
Mari kita selesaikan masalah kita.
"Ayah.." Panggil Kang Daniel yang tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk ruang kerja tersebut.
"Apa kau sudah menyiapkan keberangkatanmu?"
"Maaf Ayah, tapi saya tidak akan kemana-mana."
"Apa maksud kamu Daniel? Apa kau akan mengabaikan perintah Ayah?" Tanya Tuan Fredell yang langsung beranjak dari duduknya.
"Maaf Ayah, saya tidak pernah bermaksud untuk menentang perkataan atau mengabaikan perintah Ayah, tapi saya benar-benar tidak bisa pergi Ayah,"
"Apa karena Emery?"
"Saya mencintainya Ayah."
"DANIEL.. " Teriak Tuan Fredell. Dengan kasar Tuan Fredell mengusap wajahnya sambil menghirup nafas di udara dan kembali mengeluarkannya dengan perlahan.
"Apa kau tahu akibatnya jika keluarga Cullen mengetahui identitasmu? Mereka tidak mungkin menyembunyikannya dari publik, Cullen keluarga yang besar Daniel, berhenti membuat Ayah khawatir."
"Ayah.. Saya rela tidak menggunakan marga Elfredo di nama saya, dan tentang permintaan Ibu, saya yakin, Ibu pasti akan mengerti. Saya bisa menjaga diri sendiri Ayah, percayalah.. Semua akan baik-baik saja."
"Tapi tetap saja Daniel, Ayah masih merasa khawatir, sebab Ayah tidak bisa mengabaikan begitu saja janji Ayah kepada Ibumu, dan sekarang Lucas."
"Ayah tidak perlu mengkhawatirkan Lucas, dia bersama saya sekarang." Jawab Kang Daniel.
"Apa? Kenapa bisa kau.. "
"Saya tidak sengaja bertemu dengannya siang tadi, sebenarnya apa yang terjadi dengannya? dia nampak terlihat kacau." Tanya Kang Daniel yang di balas helaan nafas panjang oleh Tuan Fredell.
"Dia sudah mengetahui dengan apa yang harus ia ketahui, meski tidak semuanya. Sebab jika ia mengetahui tentang kematian Ibunya, pasti akan membuatnya menjadi seorang pembunuh."
"Saya mengerti Ayah. Lebih cepat lebih cepat lebih baik. Sebab, meskipun Ayah berusaha untuk menyembunyikan semuanya, cepat atau lambat Lucas pasti akan mengetahuinya."
"Dan soal gadis itu. Ayah tidak ingin Lucas mendekati gadis itu lagi, apalagi sekarang gadis itu tengah di awasi oleh keluarga Berta, karena Putra Adley. Cukup keluarga Cullen saja yang pernah berurusan dengan keluarga Berta. Dan kau.. "
"Iya Ayah, saya mengerti."
"Sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu untuk bersama putri Chris."
"Apa Ayah masih berharap jika keluarga Cullen akan menerima lamaran Ayah untuk Lucas?"
"Apa kau pikir adikmu akan menerimanya? Dan kenapa kalian selalu membuat Ayah cemas, bahkan sekarang Lucas, apa kau yakin adikmu akan baik-baik saja?"
"Iya Ayah, saya yakin. Dia nampak baik-baik saja."
"Daniel.. Sebaiknya kau terus waspada, Ayah ingin kau bisa menjaga Lucas seperti apa yang kau lakukan selama ini, meskipun Lucas tidak mengetahui jika selama ini kau yang selalu menjadi tameng untuknya, tapi Ayah minta kali ini, jangan sampai lengah."
"Ada apa Ayah? Kenapa Ayah nampak begitu tegang?"
"Tidak apa-apa, Ayah hanya memperingatkan, sebab kita tidak pernah tahu, kapan musuh akan muncul dan menghabisi nyawa kita. Dan itulah mengapa Ayah selalu memintamu untuk tetap waspada."
"Iya Ayah, saya mengerti."
"Dan satu lagi.. Jangan biarkan Lucas menemui gadis itu. Apapun alasannya. Setidaknya sebelum Ayah mengirimnya ke Amerika."
"Ayah.. Maaf jika saya lancang menanyakan hal ini, tapi.. Masalah gadis itu."
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu Daniel? Itu adalah balasan dari perbuatan Tiar Galenka. Mungkin kau akan berfikir jika Ayah adalah seorang sosok yang kejam, yah itulah Ayah. Dan Ayah berharap, kalian bertiga tidak ada yang mengikuti jejak Ayah. Cukup Ayah saja."
"Ayah.. Apa Ayah tidak berniat untuk meninggalkan semuanya?"
"Ini dunia Ayah, dan sudah sangat lama Ayah bergelut dengan dunia hitam. tidak semudah itu untuk Ayah meninggalkan semuanya." Ucap Tuan Fredell yang kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela dengan perasaan cemas.
"Baikalah.. Maaf jika saya terkesan mencampuri pekerjaan Ayah.. Kadang saya merasa cemas, sekali waktu Ayah bisa saja mati terbunuh, sebab yang saya tahu, ada sebagian orang yang ingin menghancurkan bisnis Ayah,"
"Tidak semudah itu untuk menghancurkan keluarga Elfredo."
"Saya harap juga begitu. Saya hanya merasa khawatir, melihat akhir dari Tuan Chirs yang hancur saat melawan keluarga Berta membuat saya selalu merasa khawatir di setiap harinya, keluarga Galenka tidak semudah itu untuk mundur, apalagi di saat Ayah menghancurkan bisnis mereka dan membuat keluarga Galenka kehilangan semuanya,"
"Berhentilah mengkhawatirkan Ayah, sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, juga Lucas dan Ken, Ayah percayakan mereka padamu."
"Baiklah Ayah. Sepertinya saya harus pergi. Sebelum putra Ayah menghancurkan Apartemen saya."
"Kembalilah ke Mansion Daniel,"
"Iya Ayah, tapi tidak sekarang." Ucap Kang Daniel yang langsung beranjak meninggalkan Tuan Fredell yang masih terdiam menyamankan dirinya di sebuah kursi sambil memejam.
* * * * *
* MANSION ALPHA KHANDRA.
"Apa Tuan muda baik-baik saja?" Tanya Dareen yang langsung menutup laptopnya saat melihat Leon yang baru saja selesai mengakhiri panggilan terlfonnya.
"Entahlah Ren, aku tidak pernah yakin saat dia yang mengatakan jika dia dalam keadaan baik, aku bahkan tidak tahu di mana dia sekarang."
"Bagaimana dengan Nyonya besar?" Tanya Dareen lagi.
"Sudah pasti Bibi merasa khawatir, meskipun Bibi selalu mengatakan jika semuanya baik-baik saja."
"Apa Tuan Alpha benar-benar pergi?"
"Hm, bahkan tidak mengucapkan satu katapun, yang aku dengar terakhir ia berpesan agar aku melindungi Starla, dan ternyata keputusan yang dia maksud adalah ini, aku bahkan tidak menyadarinya. Sialan Alpha.." Umpat Leon yang langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil mengusap wajahnya.
"Apa yang harus aku katakan kepada Starla jika dia menanyakan keberadaan Alpha" Lanjut Leon yang kembali mengalihkan pandangannya ke arah Dareen yang tiba-tiba terlihat serius.
"Tuan Alpha akan baik-baik saja, anda tidak perlu sekhawatir itu Leon. Sebenarnya ada hal yang lebih saya khawatirkan sekarang," Balas Dareen terlihat lebih serius.
"Ada apa?" Tanya Leon mengernyit.
"Ini bersangkutan dengan masa lalu Nona Starla, saya tidak tahu, kita berhak ikut campur atau tidak dalam masalah ini, yang jelas saya benar-benar khawatir sekarang, sebab yang saya dengar, kasus pembunuhan karyawan Club malam milik keluarga Elfredo 26 tahun silam yang sempat ramai di media masa ada hubungannya dengan Nona Starla."
"Maksudnya? Pelaku pembunuhan itu masih hidup? Lalu apa hubungannya dengan Starla?"
"Benar, dan yang membuat saya khawatir, si pelaku ternyata adalah Ayah dari Nona Starla. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Ayah Nona Starla, Tuan Tiar Galenka adalah mantan anggota Mafia yang bisnisnya hancur akibat ulah Tuan Fredell. Dan saya jadi tahu alasannya sekarang, kenapa keluarga Elfredo sangat menentang hubungan antara Lucas dan Nona Starla."
"Apa?
"Masalah ini melibatkan dua keluarga, antara keluarga Elfredo dan Galenka, aku khawatir, jika bersangkutan dengan Nona Starla, maka Tuan Alpha pasti akan terlibat. Dan lagi-lagi keluarga Berta akan berhadapan dengan keluarga Elfredo."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Leon terlihat khawatir.
"Menyembunyikan Nona Starla, jika kita tidak ingin terlibat dalam masalah ini, Nona Starla harus tetap aman, sebab dengan cara seperti itu, Tuan Alpha juga tidak akan terlibat."
"Baiklah.. Aku akan mencari Apartemen buat Starla, sebab semua lokasi Panthouse keluarga Berta pasti akan mengundang kecurigaan mereka. Dan lakukanlah yang menurutmu terbaik Dareen, aku percaya padamu, dan satu lagi. Bibi Aleen tidak boleh mengetahui hal ini,"
"Iya, saya mengerti." Jawab Dareen dengan anggukannya. Sebelum pandangannya tertuju pada Nyonya Aleen yang tengah melangkah ke arah mereka.
"Iya Yoon.. Kalian nampak terlihat tegang, ada apa?" Tanya Nyonya Aleen perlahan.
"Kami hanya sedang memikirkan Alpha."
"Dia akan baik-baik saja, dia hanya butuh waktu untuk sendiri dan melupakan semuanya, percayalah.. Alpha bukan pria yang lemah." Balas Nyonya Aleen yang berusaha untuk bersikap tenang, sedang Leon bisa dengan jelas menangkap kekhawatiran dan kesedihan yang tergurat jelas di wajah yang terlihat murung itu.
"Saya tahu Bibi Aleen, saya hanya berfikir, jika keputusannya untuk pergi itu salah,"
"Mungkin, tapi Bibi yakin, dia akan secepatnya kembali. Dan.. Mungkin akhir minggu ini Bibi akan kembali ke Jerman, dan Yoon.. Apa kau akan tetap di sini?"
"Saya.. "
"Apa kau memikirkan Starla?"
"Hm, dia sendirian di sini, mungkin saya akan tetap di sini untuk menemaninya, apa Bibi Aleen tidak apa-apa?"
"Tentu saja, Bibi juga senang, sebab Starla masih punya kamu di sisinya. Sejujurnya, Bibi sangat cemas, Bibi juga sedih, sebab keinginan Bibi yang ingin melihat Alpha bersama Starla sepertinya tidak akan terwujud, bahkan sekarang Alpha menghilang.. Bibi hanya berharap, semoga perasaannya cepat membaik." Ucap Nyonya Aleen dengan mata yang mulai berkaca.
"Bibi jangan khawatir,"
"Terimakasih Yoon, dan Dareen.."
"Iya Nyonya besar," Jawab Dareen dengan sedikit membungkuk.
"BRT Grup, sepertinya kau harus kembali mengurusnya lagi untuk Alpha."
"Baik Nyonya."
"Terimakasih Dareen.. " Jawab Nyonya Aleen yang kembali beranjak meninggalkan Yoon dan Dareen yang langsung saling menatap dengan tarikan nafas lega.
* * * * *
* HOSPITAL.
Dengan hati yang di penuhi kekalutan, Starla melayangkan pandangannya ke luar jendela, perasaan rindu kini menyiksa batinnya, sudah 3 hari sejak ia tersadar dari komanya, ia tidak pernah sekalipun melihat sosok yang selalu menemani tidurnya selama ia tidak sadarkan diri. Alpha Khandra seolah lenyap, bahkan sedikitpun ia tidak pernah mendengar kabar tentang pria Berta itu lagi, hingga membuat Starla diam-diam selalu menangis dalam diam di tiap malamnya.
Apa ini akhirnya? Apa aku memang harus melupakanmu Alpha? Kau benar-benar pergi, bahkan tampa menungguku dan memberiku kesempatan untuk mengucapkan kata maaf, bukankah seharusnya kita harus saling mengucapkan selamat tinggal?
Air mata Starla kembali menitik, untuk mengikhlaskan semuanya sangatlah sulit dan membuat hati Starla semakin sakit. Dengan perlahan Starla mengusap air matanya, dan kembali merapikan rambutnya saat mendengar suara knop pintu kamar inapnya terbuka, juga suara langkah kaki yang sangat di kenalnya, hingga beberapa detik kemudian, nampak sosok Leon yang tengah melangkah menghampirinya dengan senyuman khas, yang juga di balas oleh Starla.
"Starla.. Apa yang kau pikirkan? Sejak tadi kau terus diam dan melamun, apa kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang langsung mendudukkan dirinya di atas kursi tepat di samping tempat tidur Starla.
"Aku tidak melamun Yoon.." Sangkal Starla.
"Aku sejak tadi memperhatikanmu Starla,"
"Baiklah.. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu Yoon."
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Alpha.. selama aku terbaring koma, apa dia tidak pernah ke sini untuk melihatku?"
"Dia.. "
Bahkan ia selalu menghabiskan waktunya untuk menemanimu di sini.
"Aku mengerti.. Mungkin dia masih enggan bertemu denganku, setelah malam itu. Aku mengerti." Lanjut Starla dengan senyum kecil di ujung bibirnya, namun nampak terlihat jelas tatapan kesedihan terpancar di matanya yang mulai berkaca.
"Starla.. Bisakah kau tidak memikirkan hal lain dulu? Kesehatanmu masih belum pulih sepenuhnya."
"Yoon.. Aku.. Ingin pulang.. "
"Setelah keadaanmu membaik Starla,"
"Aku merasa hampa.. Aku benar-benar sangat merindukannya Yoon, tapi aku..."
"Starla.. Aku mengerti, Alpha pasti akan mengunjungimu, dia hanya sedang sibuk akhir-akhir ini, percayalah.."
"Hm, aku tahu, terimakasih Yoon."
"Untuk apa?" Tanya Leon.
"Untuk semuanya, terimakasih juga, karena selalu menemaniku, sungguh aku berhutang banyak padamu." Jawab Starla dengan senyum tipis di bibirnya.
"Sejak kapan kau jadi sesungkan ini padaku? Tidak seperti dirimu."
"Yoon.. Jika ada yang harus aku ketahui, sebaiknya beri tahu aku, jangan pernah menyembunyikan apapun dariku."
"Starla.."
"Aku sudah berniat untuk melupakan semuanya, apapun itu. Mungkin kau benar, mau sampai kapan aku terus hidup dalam rasa takut, rasa marah dan dendam, toh aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, dan sejauh apapun aku pergi dan menghindar, semua tidak akan akan pernah kembali seperti semula. Meskipun nafasku berhenti, semua tidak akan pernah berubah."
"Apa kau yakin bisa melakukannya?" Tanya Leon perlahan.
"Aku yakin, meskipun masih banyak hal yang tidak aku ketahui di masa laluku. Aku yang tidak pernah mengetahui apa sebenarnya pekerjaan Ayahku selama ini, dan kenapa Ayahku tiba-tiba menghilang, kenapa Ibu menolak untuk hidup sementara ia sendiri tahu jika saat itu aku sangat membutuhkannya, dan kenapa keluarga Elfredo sangat membenci keluarga dan juga diriku. Tapi.. Aku kembali berfikir, aku lebih memilih untuk tidak mengetahui semuanya, karena aku tahu, kenyataan dan kebenaran pasti akan jauh lebih menyakitkan. Dan aku hanya butuh untuk pergi, agar semuanya baik-baik saja kan?"
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
"Yoon.. Bukankah selama ini aku terlalu keras kepala? Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kau teman terbaikku, selain dirimu, memang siapa lagi yang aku punya?" Balas Starla dengan senyumnya sambil meraih telapak tangan Yoon untuk di genggamnya.
"Starla.. Apa kau baik-baik saja?"
"Hm, aku bahkan tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya, maaf.. Selama ini aku sudah sangat merepotkanmu,"
"Berhenti meminta maaf Starla, aku bahagia, karena kau sudah mau melupakan semuanya dan mau kembali hidup normal lagi, sungguh.. Aku sangat senang mendengarnya."
"Dan.. Alpha... Sampaikan permintaan maafku, sekali lagi.. Aku bahagia pernah mengenalnya, aku juga bahagia karena pernah mencintainya, maukah kau menyampaikan ini padanya?"
"Starla.. Apa kau sudah benar-benar tidak ingin bersama Alpha lagi?"
Aku sangat ingin bersamanya, bahkan di sisa hidupku ini, hanya satu yang aku inginkan, aku ingin hidup bersama Alpha..
"Starla.. Jika kau masih mencintainya, kau bisa mengatakan itu padanya."
"Yah, aku memang masih mencintainya, tapi.. Bukan berarti aku harus bersamanya, kita masing-masing memiliki jalan yang berbeda, meskipun Alpha tidak pernah mengatakannya, tapi aku tahu, ini yang terbaik buat aku dan Alpha, aku bisa memahaminya. Dan untuk sekarang ini, aku ingin tidak memikirkan hal lain dulu, sebab aku masih perlu memperbaiki hidup dan perasaanku, mengobati sakit dan traumaku. Dan di saat aku sudah siap untuk semuanya, aku pasti akan kembali."
Meskipun aku tidak tahu mau sampai kapan.
"Apa kau tidak akan menyesalinya?"
"Suatu saat mungkin aku akan menyesali keputusanku sekarang, tapi setidaknya, kita tidak akan saling menyakiti lagi."
"Baiklah.. Aku mengerti." Balas Leon. "Istrahatlah.. Aku akan menemui Dokter Arven untuk menanyakan kapan kau bisa pulang. Dan aku sudah menyiapkan semuanya untukmu Starla, satu Apartemen untuk kau tinggali sementara waktu."
"Terimakasih Yoon.. "
"Hm, istrahatlah.. "
Balas Leon yang langsung beranjak dari duduknya sebelum membantu Starla berbaring dan menyelimuti tubuh ringkih itu. Dan melangkah pergi saat melihat Starla yang sudah memejam.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.