I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Air mata Elard. * HOSPITAL.



Peluru panas yang di lepaskan Alpha menembus dinding rumah sakit saat Dareen dengan sigap mencengkram tangan Alpha dan lansung mengarahkan tangan yang sedang memegangi pistol itu ke arah dinding tepat di atas kepala Elard.


"Jangan Tuan muda, saya mohon."


Pintah Dareen yang masih mencengkram kuat tangan Alpha yang sudah di penuhi rasa amarah, wajah Alpha bahkan terlihat memerah dengan urat di lehernya yang mulai nampak saat grahamnya saling menyatu.


"BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA.. " Teriak Alpha yang seolah sudah kehilangan akal sehatnya.


"Tidak Tuan muda, jangan nodai tangan anda dengan darahnya, Tuan muda.. Saya mohon tenanglah, Nona Shareen sedang membutuhkan Anda sekarang, dia akan sedih jika melihat anda seperti ini." Pinta Dareen dengan nada memohon, bahkan tangannya masih mencengkram lengan Alpha.


"AARRHHHGG... Ingat baik-baik, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu kepada Shareen, aku akan benar benar membunuhmu. Aku bersumpah." Ucap Alpha yang langsung melangkah meninggalkan Elard yang masih terbaring di lantai dengan luka memar di seluruh tubuh dan wajahnya.


Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit, namun kali ini bukan hanya di seluruh tubuhnya, tapi di hatinya saat mengetahui satu fakta mengerikan jika ayahnya lah yang telah membunuh kedua orang tua Alpha.


"AAAARRRRGGHH.. "


Teriak Elard sambil mencengkram dadanya yang terasa sangat sesak, nafasnya seolah akan berhenti. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang sudah di penuhi dengan darah.


"Aku anak dari seorang pembunuh.. Aku anak seorang pembunuh.. Tidak.. " Gumam Elard menggeleng sambil menjambak rambutnya sendiri.


"TIDDAAAKKK... AARRGGHHH..."


Elard terus berteriak sambil menelantangkan tubuhnya di lantai dingin rumah sakit. Ia terus menangis berharap semua yang di dengarnya hanya ilusi, hanya mimpi dan tidak nyata, namun suara Alpha yang meneriakkan jika Ayahnya lah yang telah membunuh orang tua Alpha sangat teringat jelas dan melekat di pikirannya. Secara membabi buta Elard memukuli dadanya sendiri, menampar wajahnya dan terus berteriak.


Dengan sekuat tenaga Elard beranjak, menyeret kakinya dan terus berjalan hingga langkahnya terhenti di depan pintu ICU yang masih tertutup rapat sejak 3 jam tadi, nertanya menangkap sosok Edrea yang terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa alat yang menempel di wajah dan tubuhnya untuk membantunya agar tetap bernafas.


"Kenapa kau masih berada di sini? Pergi.. PERGI.. " Teriak Alpha saat mendapati Elard yang masih berdiri di pintu masuk ruang ICU


"Aku mohon.. Biarkan aku tetap disini.. Aku ingin menemani Shareen ku," Pinta Elard dengan penuh permohonan.


"Tsk, dan kau pikir aku akan membiarkan itu? Sebaiknya kau bergegas meninggalkan tempat ini, sebelum peluru ini benar benar bersarang di kepalamu." Ucap Alpha dengan tatapan tajamnya. Bahkan ia sudah kembali meraih pistolnya yang terselip di punggungnya.


"Alpha.. Aku mohon.. "


"Kau tidak berhak berada di sini, pergilah, selagi aku masih bisa menahan kesabaranku."


"Tapi aku tidak bisa meninggalkannya di sini."


"PERGIII... "


Teriak Alpha kembali mengacungkan pistolnya ke arah Elard, dengan cepat Dareen memegangi bahu Alpha yang terlihat naik turun karena menahan emosi.


Dengan langkah terseok Elard meninggalkan tempat tersebut dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya, hingga bayangannya menghilang di balik dinding rumah sakit.


"Tuan muda tenanglah."


"Mana mungkin aku bisa tenang sekarang, lihatlah Shareen kembali terbaring koma di sana, dan Wil belum kembali sejak tadi." Balas Alpha dengan matanya yang terlihat berkaca, kekhawatiran tergurat jelas di wajahnya saat ini.


"Dokter Wil akan baik baik saja Tuan, dia membawa beberapa pengawal juga bodyguard kita."


"Tapi tetap saja aku tidak bisa tenang, dia bahkan belum menghubungi ku sejak tadi, ARRGGHH.. DI MANA DIA SEBENARNYA.. " Teriak Alpha prustasi sambil mencengkram kuat rambutnya. Tidak hentinya Alpha mengusap wajahnya, kekhawatirannya terhadap Dokter Wilfreed dan Edrea membuatnya seperti orang gila saat ini.


"Tuan muda.. Lihatlah, Dokter Wil baik baik saja." Ucap Dareen saat melihat sosok Dokter Wilfreed yang tengah berjalan menuju ke arah mereka dengan beberapa pengawal dan bodyguard, meskipun jumlah pengawal sudah berkurang.


Alpha menarik nafas dalam sambil mengacak pinggang, mendongakkan kepalanya ke atas berusaha menahan air matanya saat melihat wajah Dokter Wilfreed yang nampak terluka dengan beberapa goresan di sana, juga bahu kirinya yang terlilit kain juga di penuhi darah. Alpha tau itu adalah luka tembak meski Dokter Wilfreed mengatakan jika ia baik baik saja.


"Ayolah aku baik baik saja, ini hanya luka tembak." Ucap Dokter Wilfreed yang berusaha menenangkan Alpha yang nampak terlihat sangat khawatir.


"Maafkan aku Wil.. Maafkan aku.. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa apa dengan mu." Balas Alpha dengan suara bergetarnya.


"Kau tidak akan kehilangan aku All.. "


Balas Dokter Wilfreed terkekeh bersamaan dengan ringisan saat berusaha menahan rasa sakit di bahunya, bahkan darah segar mulai menetes dari bahunya yang justru membuat Alpha semakin khawatir.


"Wil, luka itu..


"Aku tidak apa-apa All, bagaimana keadaannya?" Tanya Dokter Wilfreed saat melihat ruang ICU yang di tempati Edrea saat ini, Alpha hanya menggeleng pelan dengan mata yang kembali berkaca. Sedang Dokter Wilfreed hanya menarik nafas panjang sambil memejam, ia sangat tahu jika semuanya dalam kondisi buruk saat ini.


"Kita kehilangan beberapa pengawal, mereka tertembak." Ucap Dokter Wilfreed lagi.


"Lalu, orang yang melukai Shareen?" Tanya Alpha.


"Dia orang Tuan Chris, orang yang sama yang pernah menganiaya Nona Shareen dulu."


Alpha kembali menarik nafas dalam, guratan emosi dan marah terlihat jelas di wajahnya.


"Aku sudah melumpuhkannya, mungkin dalam waktu yang lama dia tidak akan terbangun, jika tidak di tangani oleh Dokter profesional, di pastikan dia akan mengalami koma permanen namun jika dia tidak beruntung, dia akan mati." Jelas Dokter Wilfreed.


"Terimakasih Wil, sekarang obati dulu lukamu, Shareen membutuhkan mu saat ini."


"Baiklah.. Sebaiknya kau tenang." Ucap Dokter Wilfreed sembari menepuk-nepuk pundak Alpha.


"Hmm.. "


Balas Alpha mengangguk lesu sambil duduk di jejeran kursi depan kamar ICU.


"Dareen."


"Iya Tuan,"


"Lakukan sekarang juga, buat CALL KORP hancur tampa sisa."


"Baiklah Tuan muda."


* * * * *


* KEDIAMAN CAROLYN CULLEN.


Pukul 02:00 malam Nyonya Carolyn di kejutkan oleh suara gedoran pintu yang sangat keras di luar sana. Dengan sangat hati hati Nyonya Carolyn beringsut turun dari tempat tidurnya dan langsung melangkahkan kakinya menuju keluar kamar, sebelum ia mengunci kamar Nyonya Aleen dari luar.


Nyonya Carolyn membuka sedikit tirai yang menutup jendela tersebut untuk memeriksa tamu yang sejak tadi sudah menggedor gedor pintu rumahnya secara terus menerus. Tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat sosok Elard yang sedang duduk di teras rumahnya sambil mendekap kedua lututnya dengan wajah yang di tenggelamkan di antara kedua lututnya. Dengan cepat Nyonya Carolyn membuka pintu rumahnya dan meraih tubuh putranya yang masih di penuhi air mata.


"Ibu.. "


"El.. Elard.. Apa yang terjadi denganmu?"


Tanya Nyonya Carolyn seraya menangkup wajah Elard yang terlihat babak belur. Air mata wanita itu seketika menetes saat memeluk tubuh anaknya yang terasa dingin.


"Ibu.. Dia... Dia... "


"Elard, ada apa Nak, sebenarnya apa yang terjadi denganmu, dan luka luka ini.."


Tanpa menunggu jawaban dari Elard, Nyonya Carolyn langsung meraih tubuh anaknya yang kesusahan untuk berdiri untuk di papahnya menuju sofa ruang tengah rumahnya.


"Elard.. Berhentilah menangis, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Nyonya Carolyn sambil membuka kemeja yang di kenakan Elard, kemeja putih yang sudah di penuhi dengan darah Edrea juga darahnya sendiri. Dengan sedikit berlari Nyonya Carolyn mengambil air hangat dan handuk kecil juga kotak p3k.


"Tu.. Tulang rusukmu patah.. "


Gumam Nyonya Carolyn yang terlihat sangat syok saat memeriksa semua bagian tubuh Elard, tidak hanya itu, mata Nyonya Carolyn kembali melebar saat melihat seluruh tubuh anaknya yang memar kebiruan hampir di seluruh tubuhnya. Air mata wanita itu terus mengalir, di saat melihat Elard yang hanya terdiam dengan air mata yang terus menerus menetes dari sudut matanya yang sudah nampak sembab.


"Ibu.. "


Panggil Elard yang akhirnya bersuara, mata sembabnya menatap ibunya yang masih mengobati luka lukanya.


"Apa benar, Ayah yang telah membunuh Tuan Adley?"


"Ibu.. Apa benar begitu?"


"Elard.. "


"Jawab ibu.. "


Tita Elard yang semenit kemudian langsung menggeleng pelan saat melihat anggukan pelan Ibunya yang langsung membenarkan pertanyaannya. Tubuh Elard seketika kaku, nafasnya terasa tercekik saat itu juga, dan dengan kasar ia mengusap wajahnya.


"Ternyata benar, aku anak dari seorang pembunuh.. Hahahahaha.. Aku anak dari seorang pembunuh Chris Cullen... Hahahahah.."


Elard tertawa terbahak dengan air matanya, sambil mencengkram kuat rambutnya.


"Elard.. "


"Kenapa.. Kenapa aku harus memiliki Ayah seperti dia.. Takdir macam apa ini Ibu? Kenapa mesti dia yang menjadi Ayahku.. KENAPA?" Teriak Elard dengan sangat keras.


"Dia.. Dia bahkan membuat gadis yang sangat aku cintai terbaring koma di rumah sakit."


"Koma? Shareen?" Tanya Nyonya Carolyn dengan mata berkaca.


"Orang-orang suruhan Ayah menembak Shareen Bu, dan sekarang Shareen terbaring koma di rumah sakit." Jawab Elard mulai menagis sambil memegangi tulang rusuknya yang terlihat mulai membengkak.


"Elard sayang.. Tenanglah.. "


"Bagaimana aku bisa Bu, aku bahkan tidak di perbolehkan untuk berada di sana, hanya untuk melihat Shareen ku saja tidak bisa, Bagaimana aku akan tenang sekarang.. " Balas Elard, perlahan Nyonya Carolyn meraih tubuh Elard untuk di peluknya, sambil mengusap punggung Elard yang di penuhi luka lebam.


"Bahkan Alpha tidak mengizinkanku untuk berada di sana."


"Alpha? Alpha Khandra.. Maksudnya?"


"Shareen adik Alpha Bu,"


Mendengar perkataan Elard membuat Nyonya Carolyn melepaskan pelukannya.


"Apa? Adik Alpha Khandra Berta?" Tanya Nyonya Carolyn mengernyit.


Apa Alpha sudah mengetahui keberadaan adiknya? Tapi.. Shareen..


"El.. Dari mana kau mengetahui jika Shareen itu adik dari Alpha? Bukankah kau mengatakan jika Shareen sedang menderita amnesia? Tidak... Shareen gadis seperti apa Elard? Bisakah ibu melihatnya?" Tanya Nyonya Carolyn sembari menatap wajah Elard serius.


"Ada apa ibu?


"Ibu hanya merasa... Bisakah Ibu melihat Shareen?" Tanya Nyonya Carolyn sekali lagi.


Jika benar Shareen adalah Edrea, berarti secara tidak langsung Alpha sudah menemukan adiknya, tapi bagaimana ia bisa tahu jika Edrea adalah adiknya.


Batin nyonya Carolyn yang sekarang nampak kebingungan, dan mulai merasa takut.


"Alpha bahkan tidak mengizinkanku untuk berada di sana Bu, ini semua memang salahku.. Aku yang membuat Shareen tertembak, seandainya saja aku tidak menyuruhnya untuk keluar hari itu, aku.. "


"Elard jangan menyalahkan dirimu sendiri."


"Tapi ini memang salahku, sebap sudah mencintai orang terdekat Alpha, juga orang yang sangat di benci Ayah, aku yang telah menyebabkan Shareen terluka."


"Tidak sayang.. Ini bukan salahmu." Balas Nyonya Carolyn kembali memeluk tubuh erat Elard, berusaha menenangkan putranya. Hingga suara gedoran pintu dari kamar Nyonya Aleen mengejutkan mereka.


"All.. All... Alpha anakku... "


Jerit Nyonya Aleen yang sontak mengejutkan Nyonya Carolyn, dengan cepat ia beranjak dari duduknya dan langsung membuka pintu kamar Nyonya Aleen yang tengah menangis sambil memanggil nama Alpha anaknya.


"Aleen tenanglah.. "


Ucap Nyonya Carolyn sembari memeluk tubuh Nyonya Aleen yang terus menagis, sepertinya Nyonya Aleen telah mendengar pembicaraan antara dirinya dan Elard, dan yang lebih mengejutkan lagi Nyonya Aleen tiba-tiba memberikan respon di luar dugaan. Nyonya Aleen yang sudah menderita PTSD sejak puluhan tahun yang bahkan sejak saat itu sudah tidak pernah berbicara lagi kini bisa memanggil nama anaknya Alpha berulang kali.


"Carolyn.. Mana anakku, mana Alpha.. Apa dia di sini?"


Tanya Nyonya Aleen, hingga membuat Nyonya Carolyn terperangah saat melihat respon Nyonya Aleen, bahkan tampa ia sadarinya, air matanya sudah menitik membasahi wajahnya.


"Aleen, tenanglah.. "


"Mana All.. Aku mohon, aku ingin bertemu anakku."


"Iya.. Pasti, aku akan membawanya untuk mu, tapi tidak sekarang, sebaiknya kau istrahat dulu." Balas Nyonya Carolyn seraya mengusap punggung Nyonya Aleen yang masih terisak, menuntunnya kembali ke kamar dan merebahkan tubuh Nyonya Aleen di atas tempat tidur.


"Tidurlah.. Saat kau bangun nanti, aku pastikan, All sudah berada di sini." Ucap Nyonya Carolyn meyakinkan.


"Berjanjilah Carol, berjanjilah kau akan membawa Allku."


"Aku berjanji Aleen," Balas Nyonya Carolyn tersenyum sambil menyelimuti Nyonya Aleen. Sedang Elard yang masih duduk di sofa nampak kelihatan syok saat melihat semua yang baru saja terjadi di depan matanya. Hingga Nyonya Carolyn keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat gelisah.


"Ibu.. "


"Dia ibu dari Alpha."


Ucap Nyonya Carolyn tampa menunggu pertanyaan dari Elard yang ia yakin pasti akan menanyakan tentang wanita yang baru saja di lihatnya, sebab selama ini Elard memang tidak pernah melihat bagaimana rupa kedua orang tua Alpha. Dan benar saja, jawaban Nyonya Carolyn kembali membuat Elard terkejut.


"Bukankah kedua orang tua Alpha sudah... "


"Ceritanya sangat panjang, dan... " Kalimat Nyonya Carolyn terhenti, nampak tergurat keraguan di wajahnya saat melihat wajah Elard.


"Ada apa ibu?"


"Ibu takut, kau akan semakin membenci Ayahmu jika mengetahui cerita yang sebenarnya." Ucap Nyonya Carolyn perlahan sambil menggenggam tangan Elard yang masih di penuhi darah yang sudah mengering.


"Saat mengetahui pelaku pembunuhan keluarga Berta adalah Ayah, aku sudah sangat membencinya, bahkan tidak ada lagi yang tersisa." Balas Elard seraya meringkuk di atas sofa, mencoba menutup matanya yang sudah sangat sembap.


"Elard.. "


"Aku tidak apa-apa Bu."


Balas Elard dengan suara seraknya, yang masih dalam posisinya. Bahkan ia enggan menatap wajah Ibunya yang saat ini tengah mengusap rambutnya. Elard hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengannya, menutupi kesedihan serta kekecewaannya, juga air matanya.


"Elard.. "


"Bisakah aku sendiri Bu, aku lelah.. Sangat lelah." Ucap Elard dengan suara seraknya.


"Baiklah.. Istrahatlah, semua akan baik baik saja."


"Benarkah? Apa semua akan baik baik saja seperti dulu?" Tanya Elard dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Elard, percayalah pada Ibu, semua akan baik baik saja." Balas Nyonya Carolyn terus membelai rambut putranya yang sudah memejam.


Ada luka yang teramat besar di hati Nyonya Carolyn saat ini, hatinya terasa hancur saat melihat kedua anaknya menderita seperti sekarang. Bahkan ia mulai menyalahkan dirinya sendiri, dan berfikir seandainya waktu itu ia tidak mengikuti keinginan orang tuanya untuk menerima perjodohan itu, mungkin sampai sekarang kehidupannya tidak akan di penuhi luka meskipun ia hanya sendiri. Tidak akan ada darah dan air mata di kehidupannya. Tidak akan melahirkan dua orang anak yang akhirnya mendapatkan penderitaan.


Maafkan Ibu karena sudah menghadirkan kalian di dunia ini, seandainya Ibu tidak mengikuti perasaan Ibu. Seandainya Ibu tidak mencintai orang yang salah, semua pasti akan baik baik saja. Tapi, Ibu juga sangat bersyukur atas pernikahan ini, sebab Ibu telah di berikan harta yang paling berharga, dan kalian adalah harta Ibu yang paling berharga. Sekali lagi maafkan Ibu..


"Ibu menyayangimu Elard, semua akan baik-baik saja, percaya pada ibu." Bisik Nyonya Carolyn sambil mengusap air mata yang menetes dari sudut mata Elard yang sudah tertidur.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.