
"Aku tidak ingin Lucas bernasib sama sepertiku, dan kau, jika kau masih ingin tetap berada di keluarga Elfredo, sebaiknya kau turuti perintah ku, jangan mengikuti sifat keras kepala Ibumu, jika kau tidak ingin berakhir sama seperti Ibumu." Balas Tuan Fridell yang langsung beranjak dari duduknya. Meninggalkan Keano yang masih berlutut dengan mata yang sudah di penuhi .
Aku tidak pernah ingin menjadi bagian dari keluarga Elfredo, sebab dari dulu darah Elfredo tidak mengalir di tubuhku, dan jika aku harus memilih, aku lebih memilih untuk hidup jauh dari keluarga Elfredo.
Seketika tubuhnya tiba-tiba terasa kaku, kalimat yang keluar dari mulut Tuan Fridell sungguh membuat nafasnya terasa sesak. Jika mengingat bagaimana Ibunya terbunuh di tangan pria yang tidak lain adalah Ayah kandungnya sendiri cukup membuatnya sakit. Yuwa favian, Ibu Keano adalah salah satu karyawan yang bekerja di salah satu Club malam terbesar milik Tuan Fridell, namun nasib buruk menimpah Yuwa pada saat itu, ia mengalami pelecehan seksual oleh seorang pria kaya yang tidak di kenal. Dan sebagai pemilik Club malam sekaligus orang yang bertanggung jawab atas karyawannya, Tuan Fridell terpaksa menikahi Yuwa yang pada saat itu mengalami depresi dan mengancam untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Bahkan Tuan Fridell terus bersama Yuwa, hingga Keano lahir. Namun hal itu tidak membuat hidup Yuwa bahagia, sebab rasa dendam pada pria yang sudah melecehkannya membuat hidup Yuwa selalu di penuhi dengan rasa kebencian, hingga pada saat itu, Yuwa tidak sengaja bertemu lagi dengan pria yang sudah melecehkannya, Yuwa yang lupa jika ia hanyalah wanita yang lemah dan tidak harusnya menghadapi pria tersebut sendirian akhirnya merenggang nyawa, saat senjata yang ia gunakan untuk membunuh pria tersebut akhirnya mengenai dirinya sendiri. Yuwa meninggalkan Keano yang pada saat itu masih berusia 3 tahun, meninggalkan Keano dalam asuhan kepala pelayan keluarga Elfredo, bahkan tidak seorangpun yang mengetahui tentang keberadaan Keano pada saat itu, hingga sampai saat ini, bahkan Lucas yang sudah bersama Keano sejak umur 5 tahun tidak mengetahui tentang latar belakang Keano.
Dan semua yang sudah di lakukan Tuan Fridell untuk Ibunya mengharuskan Keano mengikuti semua perintah Tuan Fridell untuk membalas budi, dan itulah pesan terakhir dari almarhuma Ibunya, termasuk untuk menjaga Lucas. Namun Keano yang sudah sangat menyayangi Lucas rela melakukan apa saja. Termasuk membantah segala perkataan dan perintah Tuan Fridell yang tidak seharusnya ia lakukan. Bahkan saat ini ia kembali harus mengikuti keinginan Tuan Fridell yang memerintahkannya ke Amerika dan meninggalkan Lucas yang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
* * * * *
* HOSPITAL.
Alpha beranjak dari duduknya dengan sedikit berlari menghampiri Dokter Hanenda yang baru saja keluar dari ruang Operasi. Bahkan Alpha tidak membiarkan Dokter Hanenda melangkah lebih jauh, sebab rasa panik telah membuatnya lupa jika ia sudah mencengkram tangan Dokter Hanenda dengan sangat keras.
"Bagaimana keadaan Starla?" Tanya Alpha.
"Tuan Khandra.. Bisakah anda lebih tenang?" Jawab Dokter Hanenda. "Nona Starla sudah melewati masa kritisnya, namun ia masih belum sadarkan diri, dan kita tidak tahu, sampai kapan Nona Starla akan terbangun. Sebab ada beberapa luka sayatan yang sebagian membuat urat Nona Starla putus." Jelas Dokter Hanenda.
"Apa separah itu?" Tanya Alpha yang langsung melepaskan cengkraman tangannya.
"Masih bisa hidup sampai saat ini saja adalah satu keajaiban buat Nona Starla." Jawab Dokter Hanenda yang membuat Alpha terbungkam seketika.
Bayangan kematian kini mulai menghantui pikirannya, bahkan ia kembali mengingat sosok Adley Ayahnya, juga Edrea yang saat itu pernah terbaring koma hingga nafasnya berhenti.
"Alpha.. "
Leon yang nampak panik langsung menghampiri Alpha yang tubuhnya sudah merosot kebawah, wajahnya memerah menahan tangis hingga membuat tubuhnya bergetar.
"Alpha.. Tenanglah.. Kita bisa membawa Starla sekarang, dia akan di tangani oleh dokter Arven." Ucap Leon lagi yang masih memegang bahu Alpha yang bergetar. Bahkan Alpha terlihat mencengkram rambutnya sendiri. Hingga satu pelukan hangat menenangkan Alpha yang kini mulai menagis.
"Ibu.. " Gumam Alpha saat mendongakkan kepalanya ke atas yang langsung di sambut senyum hangat oleh Nyonya Aleen.
"All.."
Perlahan Nyonya Aleen meraih tubuh putranya untuk di peluknya, membiarkan Alpha melepaskan kesedihannya sesaat, sedang Nyonya Aleen yang sejak tadi menahan tangisnya hanya bisa mengusap lembut rambut putranya seraya menepuk-nepuk punggung yang masih terasa bergetar itu.
"Alpha.. Semua akan baik-baik saja, tenanglah.." Bisik Nyonya Aleen yang hanya di balas anggukan pelan oleh Alpha.
"Leon, Nona Starla sudah siap untuk di pindahkan." Ucap Dareen kepada Leon yang masih terdiam hingga akhirnya ia tersadar saat Dareen menyentuh bahunya.
"Ah, maaf.. Aku tidak mendengarmu." Balas Leon yang langsung beranjak dari duduknya.
"Tidak apa-apa Leon, apa kita akan membawa Nona Starla sekarang?" Tanya Dareen lagi.
"Hm, lebih cepat lebih baik," Jawab Leon yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Alpha yang masih berada di pelukan Nyonya Aleen, Leon yang mengerti dengan kondisi Alpha saat ini hanya bisa menarik nafas dalam dan
langsung menghampiri brankar yang di atasnya nampak tubuh Starla yang masih tidak sadarkan diri.
"Alpha.. Kita bisa pergi sekarang, bisakah kau tenangkan dirimu? Ibu di sini, semua akan baik-baik saja." Bisik Nyonya Aleen saat ia melihat isyarat dari Leon yang tengah memegangi brankar.
Perlahan Alpha beranjak, dengan tangan yang masih di pegang Nyonya Aleen, dan melangkah menghampiri brankar. Dengan lembut Alpha mengusap dahi Starla, dan langsung meraih tubuh itu untuk di gendongnya. Bahkan Leon dan yang lainnya tidak bisa berkomentar apapun lagi, saat Alpha terus melangkah meninggalkan rumah sakit sambil membawah tubuh Starla dalam gendongannya. Mungkin bagi sebagian orang yang melihatnya akan merasa aneh saat melihat Alpha yang lebih memilih menggendong Starla di bandingkan menggunakan brankar, namun bagi yang mengetahui perasaan Alpha terhadap Starla seperti apa, hanya bisa terdiam dan mengikuti langkah lebar Alpha yang langsung menuju mobilnya yang di sana sudah menunggu beberapa pengawalnya.
Hingga 45 menit berlalu, mobil mereka sudah terparkir tepat di depan rumah sakit besar milik keluarga Berta yang di sana sudah berdiri Dokter Arven untuk menyambut kedatangan mereka. Meski beberapa perawat yang tengah membawa brankar terheran-heran sebab Alpha melewati brankar begitu saja tampa meletakkan tubuh Starla di atas sana.
"Tuan Khandra.. Anda bisa meletakkan pasien di sini, saya bisa membantu anda untuk.."
"Sstt.. Sebaiknya kau diam, jika kau tidak ingin di mutasi ke Afrika." Bisik Leon kepada salah seorang perawat pria yang tengah mendorong brankar ke arah Alpha. Hingga perawat tersebut memilih berjalan mundur dan diam di tempatnya dengan wajah pucat saat melihat seringaian Leon.
Aku tidak begitu menyukai kerbau Afrika. Maaf..
Batin perawat tersebut yang langsung mendorong brankar kebelakang. Sedang Alpha dengan langkah lebarnya masih terus berjalan melewati beberapa perawat yang menatapnya dengan tatapan aneh sekaligus kagum. Sebab bisa melihat dengan jelas seorang putra pemilik Rumah sakit tersebut yang sebenarnya hampir tidak pernah mereka lihat secara langsung.
"Silahkan Tuan.. " Ucap Dareen sambil mengarahkan jalan kepada Alpha saat mereka sampai ke lantai dua ruang VIP yang sudah di sediakan oleh Dokter Arven langsung.
"Yoon.. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Alpha?" Tanya Nyonya Aleen perlahan saat keluar dari kamar inap Starla yang di sana masih ada Alpha menunggu seraya menggenggam jemari Starla.
"Bibi Aleen tidak perlu khawatir, Alpha baik-baik saja,"
"Bagaimana Bibi tidak merasa khawatir Yoon, selama ini Bibi tidak pernah melihat All sekacau ini,"
"Karena All sangat mencintai gadis itu, dan gadis itu juga yang sudah membuat anak Bibi menjadi kacau seperti seperti sekarang ini,"
"Siapa gadis itu sebenarnya?" Tanya Nyonya Aleen yang tiba-tiba merasa khawatir, apalagi saat pandangannya kembali tertuju ke dalam kamar yang di sana dengan jelas ia melihat saat Alpha menyandarkan kepala di pinggiran ranjang sambil menggenggam tangan Starla.
"Dia gadis yang sudah menyukai All sejak lama."
"Apa? Dia? Apa mungkin... Dia Starla?" Tanya Nyonya Aleen yang terlihat syok.
"Iya Bibi, dia Starla." Balas Leon mengangguk pelan.
"Dia bahkan menyusul All sampai kesini? Lalu apa yang terjadi dengan gadis itu? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini sekarang?"
"Starla mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri."
"Apa? Tapi kenapaa Yoon? Apa Alpha menyakitinya?" Tanya Nyonya Aleen seraya menutup mulutnya yang sedikit menganga karena terkejut, bahkan ekspresinya terlihat sangat sedih sekarang.
"Tidak, All tidak melakukan apapun,"
Justru Alpha yang terluka.
"Lalu? Kenapa Starla sampai melukai dirinya sendiri Yoon?"
"Entahlah Bi, ada begitu banyak masalah yang di hadapi Starla akhir-akhir ini. Ceritanya sangat panjang jika saya menceritakan semuanya."
"Tapi apa yang di lakukan Starla benar-benar tidak ada hubungannya dengan All kan Yoon?"
"Tidak, Bibi tidak perlu sekhawatir itu." Ucap Leon yang langsung meraih telapak tangan Nyonya Aleen untuk di genggamnya. Berusaha menenangkan hati Nyonya Aleen yang tiba-tiba merasakan kegelisahan.
"Kasian All.. Lagi-lagi dia harus merasakan hal seperti ini." Gumam Nyonya Aleen menarik nafas dalam dengan tatapan yang terus mengarah kepada Alpha yang masih disana.
"Saya juga merasa seprti itu, maaf.. Jika saya tiba-tiba menelfon Bibi. Saya tidak menyangka, Bibi akan datang secepat ini."
"Tidak apa-apa Yoon, justru Bibi akan sangat marah jika kau menyembunyikan semuanya dari Bibi. Bukankah Bibi pernah mengatakan untuk tetap memberi kabar tentang All."
"Astaga.. Bahkan Bibi sampai lupa untuk menanyakan kabarmu Yoon, maafkan Bibi, dan Bibi harap kau baik-baik saja." Balas Nyonya Aleen seraya mengusap kepala Leon dengan senyuman teduhnya.
"Aku sangat baik Bibi, apalagi saat melihat Bibi di sini, saya sudah sangat merindukan Bibi, begitu juga dengan All."
"Hm, Bibi tahu," Ucap Nyonya Aleen seraya mengangguk pelan dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.
"Bagaimana dengan dirimu? Apa kau sudah mendapatkan seorang wanita?" Tanya Nyonya Aleen.
"Sayangnya belum,"
"Kenapa?"
"Em.. Apa Bibi percaya jika wanita Jerman lebih menarik?" Tanya Leon sambil memainkan alisnya.
"Baiklah.. Seleramu memang selalu tinggi." Balas Nyonya Aleen yang kembali mengusap rambut Leon hingga terlihat berantakan.
* * * * *
* MANSION UTAMA.
Lucas dengan tubuh yang sudah lemas masih terbaring di atas tempat tidurnya, Lucas tidak bergeming sedikitpun saat beberapa pelayan Mansion masuk kedalam kamarnya untuk membereskan kekacauan, bahkan kamar tersebut masih sangat berantakan akibat ulahnya sendiri. Bahkan makanan yang di bawah sejak semalam tidak di sentuh sedikitpun oleh Lucas. Hingga membuat salah satu pelayan yang membersihkan kamar tersebut terlihat khawatir.
Kasian Tuan muda, jika Nyonya Davanka melihat ini, Ia pasti akan merasa sangat sedih.
Dengan perlahan ia mengisyaratkan salah satu pelayan yang tengah membawa nampan yang berisi makanan untuk Tuan muda mereka di letakkan di atas nakas.
"Tuan muda.. Makanlah dulu." Ucap pelayan tersebut setelah beberapa menit ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati Lucas yang masih tidak bergeming di atas tempat tidurnya akibat tangannya yang di terborgol.
"Tidak. Tinggalkan aku sendiri." Jawab Lucas dengan suara beratnya.
"Tapi Tuan muda bisa sakit jika tidak makan," Balas pelayan tersebut yang bahkan masih betah di samping Lucas meski tidak di perdulikan oleh Lucas yang lebih milih memejamkan matanya.
"Tuan muda.. "
"Keluarlah.. Dan panggil Ken ke sini."
"Tapi Tuan.. "
"Ada apa?"
"Tuan Ken.. " Untuk sesaat pelayan tersebut terdiam, seolah sedang berfikir harus mengatakan apa kepada Lucas yang masih menunggu jawabannya.
"Apa kau tuli? panggil Ken sekarang juga."
"Tuan Ken berangkat ke Amerika kemari malam."
"Apa?"
"Tuan Ken sudah berangkat ke Amerika.. "
"AARRGGHHH.... " Teriak Lucas prustasi. Bahkan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian Asistennya Keano, yang ia tahu persis jika Tuan Fridell lah yang sudah mengatur semuanya.
Pelayan yang tadinya tengah berdiri di samping Lucas tiba-tiba merasa takut dan langsung berjalan mundur sebelum akhirnya melangkah keluar meninggalkan kamar Lucas yang masih berusaha menarik tangannya yang masih menempel di tiang tempat tidurnya dengan borgol yang masih terkunci. Bahkan tangannya mulai terlihat lecet akibat gesekan benda keras yang melingkar di tangannya.
"Berhenti melukai dirimu sendiri." Ucap Tuan Fridell yang tiba-tiba muncul dan langsung melangkah menghampiri Lucas yang masih berusaha melepaskan tangannya.
"Di mana Ken?" Tanya Lucas dengan tatapan tajamnya.
"Apa sekarang waktunya untuk menanyakan Ken?"
"DIAMANA KEN... KATAKAN DI MANA DIA?" Teriak Lucas dengan wajah yang nampak memerah menahan amarah.
"Berhenti membuat keributan Lucas. Ken tidak akan kembali, jadi mulai sekarang berhenti membuat onar dan turuti perintah Ayah."
"Kenapa anda begitu egois? Apa membuatku kehilangan Ibu itu tidak cukup buat anda? Bahkan sekarang anda berusaha mengambil Ken dariku?"
"Kenapa kau begitu peduli dengan Ken? Dia hanya Asistenmu."
"Ken tidak hanya sekedar seorang Asisten buatku, dia adalah orang yang paling berarti dalam hidupku, dia satu-satunya orang yang mengerti, satu-satunya orang yang mau mendengarku, tidak seperti anda yang begitu egois dan kejam."
"Lucas.. "
"Apalagi yang anda inginkan? Bukankah anda sudah mengambil semuanya dariku? Jadi apalagi yang Ayah ingin ambil dariku? Nyawaku? Aku akan dengan senang hati memberikannya untuk anda. Hidup bersama anda membuatku tercekik, kenapa harus anda yang menjadi Ayahku? Ini sungguh takdir yang buruk." Balas Lucas yang membuat Tuan Fridell terdiam untuk pertama kalinya.
Ada rasa sakit di dalam hati Tuan Fridell saat mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Lucas. Tubuhnya terlihat bergetar menahan amarah juga rasa kesedihan yang membuat Tuan Fridell hanya bisa menarik nafas dalam sambil mengepalkan telapak tangannya dengan sangat kuat.
"Bahkan anda mengancam akan menghilangkan nyawa Starla yang jelas-jelas sudah sekarat di rumah sakit, sejak dulu aku ingin menanyakan ini, sebenarnya di mana letak kesalahan Starla? Dia hanyalah seorang gadis biasa yang mencintai anak anda dengan tulus, dan terlahir sebagai gadis miskin yang tidak mempunyai segalanya bukan kesalahan dia, tapi kenapa? Kenapa... Anda bahkan membuat Ibunya memilih untuk mati, Anda membuat Starla kehilangan semuanya, apakah Anda benar-benar seorang Ayah?" Tanya Lucas dengan air matanya, sedang Tuan Fridell yang masih berdiri tidak jauh dari Lucas yang tengah berbaring sekarang masih setia dengan kediamannya, tidak ada satu kata yang keluar dari mulut Tuan Fridell selain tatapan dingin yang di tunjukan pada Lucas yang sekarang bahkan enggan untuk menatap wajah Tuan Fridell, Lucas lebih memilih memalingkan wajah pucatnya dibandingkan melihat wajah sang Ayah.
"Ayah melakukan semuanya karena Ayah tidak ingin kau seperti Ayah, percayalah.. Ayah seperti ini karena Ayah sangat menyayangimu Lucas." Ucap Tuan Fridell setelah beberapa menit terdiam.
"Tapi tampa anda sadari, selama ini anda sudah menyakiti anak anda sendiri, apa anda tidak menyadari? Atau anda hanya berpura-pura buta,?"
"Ayah juga pernah merasakan kehilangan, dan Ayah juga pernah merasa hampir gila karena rasa sakit itu. Dan Ayah tidak tidak ingin kau mengalaminya."
Tapi aku sudah kehilangan semuanya Ayah..
"Anda salah.. Bahkan aku sudah merasakan rasa sakit dan kehilangan saat Ibu meninggalkanku sendiri. Bahkan rasa itu kembali aku rasakan saat Anda memisahkanku dengan Starla, dan sekarang, Anda juga membuat Ken pergi."
"Mereka bukan satu-satunya orang yang bisa membuatmu bahagia Lucas."
"Tinggalkan aku sendiri," Ucap Lucas yang langsung memejamkan matanya.
"Istrahat lah.." Balas Tuan Fridell yang langsung meninggalkan kamar Lucas. Meninggalkan Lucas yang masih terdiam dengan rasa sakit dan kecewa di hatinya.
"AAARRGGGHH... "
Suara teriakan Lucas bahkan masih terdengar sangat jelas di pendengaran Tuan Fridell yang masih berdiri tepat di depan pintu kamar itu.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.