
Tiga bulan berlalu.
Emery bergelung di dalam selimut tebalnya. Cahaya matahari sudah masuk menyapa di sela jendela yang tertutup tirai tipis menjuntai yang sedikit melambai tertiup angin pagi dari pepohonan pinus, cahaya itu cukup menyilaukan kedua matanya yang masih terpejam. Namun, entah mengapa ia seperti tak punya tenaga untuk bergerak, meskipun hanya membalikkan tubuh untuk menghindari silau tersebut. Bahkan untuk membuka kelopak matanya saja ia enggan, tubuhnya terasa lemas seperti tak memiliki tenaga, hingga rasa pusing di kepala mulai menyerang bersamaan dengan mual yang ia rasakan.
"Oh Tuhan, ada apa denganku?" keluh Emery berusaha membuka kelopak mata sambil mencengkram rambutnya juga mengusap perutnya yang sepertinya tak ingin berkompromi.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Alpha yang sudah berpakaian lengkap dan sepertinya akan siap ke kantor. Perlahan menghampiri sang istri dengan senyum manis seperti biasa.
"Kau akan pergi?" tanya Emery dengan suara terdengar serak, bahkan masih tak bergerak sedikit pun.
"Ya, pekerjaan di kantor cukup menumpuk dan kau tidur cukup nyenyak. Aku tidak tega untuk membangunkanmu," jawab Alpha duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengusap rambut istrinya sebelum mengecup dahi itu lembut.
"Aku merasa ada yang aneh," keluh Emery.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Alpha mulai khawatir, kembali menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri.
"Entahlah, aku hanya merasa ada berbeda dengan tubuhku, sangat sulit untuk menggerakkannya, aku juga sedikit pusing dan ...."
Kalimat Emery terhenti, berganti dengan sesuatu yang di rasa sudah berada di tenggorokannya. Bahkan langsung menutupi mulutnya, saat merasa akan memuntahkan sesuatu.
"Sayang? Kau ...."
Tak mengatakan apa pun, Emery langsung menyibakkan selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya, melompat tutun dari atas tempat tidur sebelum berlari kecil menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel hingga membuat Alpha terkejut bercampur panik dan ikut berlari menuju kemar mandi, semakin panik saat mendapati Emery yang memuntahkan angin secara terus menerus hingga membuat tubuhnya lemas dan tak mampu untuk berdiri lagi.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu?" tanya Alpha melingkarkan lengannya ke pinggang sang istri, sebelum tubuh itu terduduk ke atas lantai kamar mandi.
"Aku merasa buruk, All. Ini sangat menyiksa,"
"Oh Tuhan, ada apa denganmu? Apa ini terasa sakit?" tanya Alpha mengusap sisa air mata di sudut mata Emery sebelum menggendong tubuh yang sudah terlihat lemas itu keluar dari kamar mandi menuju ke tempat tidur dan kembali merebahkannya di atas tempat tidur.
"Aku hanya sangat mual dan merasa pusing," balas Emery memijat dahinya sambil meringis hingga membuat Alpha semakin panik.
"Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa kondisimu," ucap Alpha mengusap sudut bibir istrinya yang basah terkena air saat membersihkannya sisa muntahan di bibirnya, sebelum beranjak dari duduknya hendak pergi. Namun, di urungkan saat Emery memegangi ujung jasnya.
"All,"
"Iya, Sayang. Kau butuh sesuatu? Apa kau sangat sakit?" tanya Alpha lembut dan kembali duduk di pinggiran ranjang sambil mengusap pipi istrinya yang hanya menggeleng pelan.
"Kau tidak perlu memanggil dokter."
Alis Alpha mengernyit, tidak mungkin ia hanya diam saja dan membiarkan istrinya kesakitan tanpa memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya.
"Kau membutuhkan dokter, Sayang. Kau sakit sekarang,"
"Sepertinya aku hamil, All."
"H-hamil? Kau? Hamil?" tanya Alpha tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Bahkan langsung mengalihkan pandangan ke perut sang istri yang masih terbungkus selimut, menggenggam telapak tangan itu dengan erat sambil di kecupnya. "Apa kau yakin? Ada anakku di dalam sini?" sambungnya sekali lagi yang bahkan masih menatap perut istrinya.
"Benar, aku tidak mungkin salah. Kita hanya butuh alat tespeck untuk membuktikannya," angguk Emery nampak yakin, sebab ia merasa jika siklus haidnya mulai tak teratur, bahkan untuk bulan ini ia tidak mendapatkan haidnya. Dan hal itulah yang membuatnya benar-benar yakin jika saat ini ada janin yang tengah tumbuh di dalam rahimnya.
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu, kita akan melihat hasilnya bersama. Setelah itu barulah kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi janinnya," balas Alpha nampak bersemangat dan langsung beranjak sambil melepaskan jas dan dasinya.
"Ke apotek."
"Kau bisa membelinya lain waktu, All. Bukankah kau harus kerja?"
"Tidak, aku bisa meminta tolong Darren untuk meng-handle semuanya di kantor. Aku akan menemanimu," balas Alpha mengusap rambut istrinya yang masih terbaring lemas.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang ...."
"Aku akan tetap di sini. Hingga benar-benar yakin jika kau memang baik-baik saja."
Emery menarik nafas panjang sebelum melepaskannya dengan perlahan. Tak ada gunanya berdebat sekarang. Karena segala ucapan Alpha adalah perintah tak tak bisa di bantah.
"Baiklah."
"Tunggu aku, sebaiknya kau terus di sana dan jangan keluar sendirian. Tetap di sana sampai aku kembali, ini tidak akan lama," balas Alpha yang langsung bergegas. Melangkah pergi meninggalkan kamar. Meninggalkan Emery yang kembali memejam saat rasa pusing mulai menyerangnya.
Mengusap pelan perutnya, berharap bisa mengurangi rasa mualnya. Namun, sepertinya percuma, sebab masih saja merasa mual dan hal tersebut cukup menyiksanya, hingga ia melihat jas suaminya yang tersampir di sana.
Dengan tenaga yang tersisa, Emery kembali turun dari tempat tidurnya, melangkah ke arah sofa untuk mengambil jas tersebut yang secara ajaib langsung menghilangkan mualnya, bahkan tanpa menunggu lama Emery langsung memakainya dan kembali meringkuk di atas sofa dan membenamkan wajahnya di sana. Hingga beberapa menit berlalu, langkah Alpha kembali terdengar menghampirinya yang masih meringkuk di atas sofa sambil menikmati aroma pria itu yang kini sudah menjadi penawar mualnya.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?"
Alpha menggendong tubuh istrinya yang tengah memakai jas miliknya yang nampak longgar di tubuh mungil itu.
"Ada apa dengan jas itu? Kau merasa kedinginan?"
"Tidak, aku hanya merasa jika aromamu bisa membuatku sedikit lebih tenang, bahkan bisa menghilangkan mualku," balas Emery yang bahkan langsung menempelkan wajahnya di dada suaminya.
"Apa benar begitu? Apa kau merasa baikan sekarang?" tanya Alpha, menurunkan tubuh istrinya di pinggiran tempat tidur,
"Hmm, jas ini sungguh membantu."
"Okay, senang mendengarmu merasa lebih baik. Mungkin kau perlu menggunakan ini," balas Alpha membuka kancing kemeja putih yang ia kenakan dan melepaskannya. "Ini jauh lebih nyaman," sambungnya melepaskan jas yang membungkus tubuh Emery. Bahkan melepaskan lingerie yang di kenakan sang istri dan menggantinya dengan kemeja putih miliknya yang kebesaran.
"Ini terasa nyaman."
"Apa kau menyukainya?" tanya Alpha sambil menguncir rambut istrinya.
"Hmm, aku jauh lebih baik sekarang,"
"Syukurlah, sekarang kita tes, aku sudah membeli ini," balas Alpha mengeluarkan alat tespeck.
Kembali menggendongnya tubuh Emery dan mendudukkannya di atas wc duduk. Bahkan Alpha tak meninggalkan sang istri sendirian di sana. Memilih untuk menunggu sampai sang istri usai dengan air seninya juga alat tespeck yang kini di berikan kepada Alpha yang langsung menatap alat tersebut tanpa berkedip, hingga beberapa detik kemudian saat senyum bahagia nampak terlihat di wajah Alpha yang bahkan langsung memeluk tubuh istrinya.
"Aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih, Sayang," bisik Alpha berkaca.
***