I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Peringatan untuk Elard.



Sambil besenandung kecil Elard terus menginjak pedal gas mobilnya melintasi jalan kota yang masih nampak terlihat ramai. Namun tiba-tiba saja dengan cepat Elard menginjak rem mobilnya, hingga mobil sport itu berhenti dan mengeluarkan suara decitan yang lumayan nyaring. Netranya terus mengikuti kedua sosok yang tengah berjalan beriringan dengan langkah yang nampak tegesa gesa.


"Ibu.. Kakak.."


Gumam Elard yang seketika mematung, bibirnya tiba-tiba berasa keluh, untuk sesaat ia terdiam di sana dengan perasaan yang tidak menentu, ada rasa rindu yang teramat besar di hatinya, rasa sedih, kecewa juga bahagia, hingga tampa ia sadari jika kedua sosok itu hampir menghilang dari pandangannya.


"IBUUUU.... "


Teriak Elard dengan sangat keras dan langsung keluar dari mobilnya sambil sedikit berlari melewati kerumunan orang yang sedang berjalan di atas trotoar jalan.


"IIBUUUUU.... "


Elard kembali meneriakkan nama ibunya, hingga wanita yang sedang berjalan di tengah kerumunan orang menghentikan langkahnya.


"IBUU.. "


Elard menghentikan langkahnya, nafasnya tersengal akibat berlari, sambil membungkuk memegangi kedua lututnya untuk menopang tubuhnya yang sudah di penuhi keringat. Sementara wanita di hadapannya hanya bisa mematung dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut matanya.


"Anak Ibu El.. Elard kau kah itu nak?"


Nyonya Carolyn melangkah perlahan mendekati Elard yang sudah berdiri tegak dengan nafas yang masih memburu.


"Ibu.. Aku merindukanmu."


Seru Elard yang langsung melangkahkan kakinya mendekati sosok yang masih terpaku dia hadapannya, dengan perlahan Elard meraih tubuh itu, mengusap wajah yang sudah di penuhi dengan air mata, dan langsung memeluk Ibunya dengan sangat erat. Air mata Elard itu menitik tidak terbendung lagi saat Nyonya Carolyn mengusap rambutnya dengan isakkannya.


"Maafkan ibu.. Maafkan ibu Elard, maaf... Ibu bersalah padamu." Ucap Nyonya Carolyn di sela tangisnya. Sedang Emery yang sedari tadi berdiri di sana hanya tersenyum dengan air mata yang sudah sejak tadi membasahi wajahnya.


"Ternyata ibu masih suka berjalan dengan sangat cepat, Aku hampir tidak bisa mengejar Ibu." Balas Elard seraya menangkup wajah ibunya, dan kembali di peluknya erat seakan tidak ingin melepas sosok yang sangat di rindukannya itu.


"Maafkan ibu nak, maaf... "


"Berhentilah minta maaf, ibu tidak salah apa apa." Balas Elard mengusap air mata ibunya.


"Dan kau, wanita cantik yang berdiri di sana, apa yang sedang kau lakukan? Tidakkah kau merindukan adikmu ini?"


Tanya Elard saat pandangannya tertuju kepada kakaknya Emery sambil menunjukkan senyuman khasnya, hingga tidak menunggu waktu lama, Emery sudah berada di dalam dekapan Elard.


"Aku sangat merindukan kalian."


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


Dengan wajah yang di genangi air mata, Alpha terus menatap pigura yang berukuran besar yang terpampang dalam ruangan kamarnya. Pigura yang di sana terdapat gambar kedua orang tuanya.


"Ayah.. Ibu.. Aku sangat merindukan kalian."


Gumam kecil yang keluar dari mulut Alpha, tubuhnya bergetar menahan air matanya yang sejak tadi tertahan di sudut mata elangnya.


"Sekarang aku sedang berusaha untuk melindungi seseorang, aku sangat menyayanginya. Meskipun aku sangat takut sekarang, sebab hidup gadis itu tidak akan pernah aman jika terus bersamaku."


Gumam Alpha seraya mengusap wajahnya kasar. Hingga suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya.


"Kakak.. Apa aku boleh masuk?"


Teriakan Edrea dari luar yang membuat Alpha bergegas mengusap sisa air mata di wajahnya.


"Masuklah.. "


Balas Alpha yang tidak menunggu lama, pintu kamarnya sudah terbuka sangat lebar, dan langsung menampakkan senyum manis Edrea dari depan pintu.


"Kemarilah.. "


Panggil Alpha sambil menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Edrea yang langsung menghampirinya dan duduk telat di sampingnya, dan dengan tiba-tiba mata bulat Edrea tertuju pada sebuah pigura berukuran besar yang terpampang tepat di hadapan mereka.


"Foto itu.. Apakah ereka.. "


"Foto Ayah dan Ibu." Jawab Alpha perlahan.


"Ibu... " Edrea terus menatap foto itu tampa berkedip sedikitpun.


"Ahhkk.. Kepalaku kenapa menjadi sangat sakit Kak," Keluh Edrea secara tiba-tiba dan langsung mencengkram keras rambutnya yang sontak membuat Alpha panik.


"Ada apa? Apa kepalamu sakit lagi? Biar kakak panggilkan Dokter Wil segera." Balas Alpha segera meraih ponselnya dan menekan nomor Dokter Wilfreed dalam panggilan cepat.


"Tidak perlu kak, tidak apa-apa, kepalaku hanya sedikit sakit, tapi sudah tidak apa apa." Ucap Edrea yang masih terus menatap wajah Nyonya Aleen yang tersenyum di dalam foto tersebut.


"Tetap saja, kau harus di periksa Shareen, kakak takut jika terjadi apa-apa padamu."


"Iya kak," Balas Edrea pasrah, sambil memasang senyum ke arah Alpha dan kembali menatap foto di hadapannya.


"Ibu.. Kenapa aku sangat merindukannya, wajah itu." Gumam Edrea dengan air mata yang tiba-tiba saja menitik dari sudut matanya.


"Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa itu sakit sekali?" Tanya Alpha panik sambil mengusap air mata yang terus mengalir dari sudut mata Edrea.


"Tidak kak.. Tidak.. Tapi.. Saat melihat wajah Ibu, ada rasa rindu yang teramat besar, sampai dadaku terasa sesak." Jawab Edrea seraya meremat dadanya yang tiba-tiba saja merasa sesak. Dengan cepat Alpha meraih tubuh Edrea dan langsung di dekapnya erat, mengusap punggung itu lembut. Hingga membuat Edrea jauh lebih tenang. Ia akui, pelukan Alpha memang selalu bisa membuatnya tenang.


"Tidak apa apa.. Semua akan baik baik saja." Bisik Alpha sambil terus mengusap punggung Edrea. Hingga 20 menit berlalu, nampak Dokter Wilfreed yang terlihat tergesa-gesa memasuki kamar Alpha.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Nona Shareen?" Tanya Dokter Wilfreed sambil menaikan lengan sweater yang di kenakannya sampai ke atas siku dan langsung menghampiri Alpha yang masih memeluk Edrea yang sepertinya sudah tertidur di pelukan Alpha.


Dengan perlahan Alpha mengangkat tubuh Edrea, menggendongnya dan langsung membawa ke dalam kamarnya. Di rebahkan tubuh Edrea dengan sangat hati hati kemudian di selimutinya sebelum Alpha mematikan lampu kamar dan kembali menutup pintu kamar itu.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Dokter Wilfreed sambil duduk di hadapan Alpha yang masih nampak terlihat khawatir.


"Tadi Shareen tiba-tiba menangis Wil, saat ia menatap foto Ayah dan Ibuku."


"Benarkah?"


"Hmm.. Dan kepalanya juga tiba-tiba sakit dan mulai merasa sesak." Jelas Alpha yang membuat Dokter Wilfreed seketika mengernyit.


"Apa kau yakin, reaksi itu muncul saat melihat foto kedua orang tuamu?" Tanya Dokter Wilfreed sekali lagi.


"Iya aku yakin, bahkan Langsung merasa sesak, sebenarnya ada apa dengan Shareen?" Tanya Alpha semakin merasa khawatir.


"All.. Seseorang yang mengalami amnesia akan bereaksi seperti itu jika melihat sesuatu hal yang berkaitan dengan masa lalunya." Jelas Dokter Wilfreed.


"Jadi maksudmu? Shareen ada hubungannya dengan Ayah atau Ibu?"


"Sepertinya seperti itu, tapi semoga saja itu hanya reaksi biasa." Balas Dokter Wilfreed yang semakin membuat Alpha khawatir. Selama ini Edrea memang belum pernah melihat foto kedua orang tua Alpha sejak ia menginjakkan kaki di Panthouse itu. Dan reaksi Edrea kali ini cukup membuat Alpha khawatir, takut sekaligus gelisah.


"All.. Semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu berfikir terlalu jauh, ingatlah kesehatanmu, aku liat akhir akhir ini kau kurang tidur. Kau bisa jatuh sakit."


"Iya aku tau, berikan aku vitamin mu Wil, aku sepertinya membutuhkan itu sekarang." Balas Alpha seraya memijat tengkuk lehernya.


"Baiklah.. Aku sudah menyiapkannya untukmu." Ucap Dokter Wilfreed seraya meletakan beberapa botol vitamin di atas meja.


"Apa Dareen masih di kantor?" Tanya Dokter Wilfreed saat ia tidak melihat sosok Dareen sejak tadi.


"Hm,"


"Ya sudah, Istrahatlah.. Aku akan kembali kerumah sakit, aku harap kau tidak bergadang lagi malam ini."


"Hm.. Terimakasih Wil," Balas Alpha, sedang Dokter Wilfreed langsung beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan Alpha yang masih menyamankan tubuhnya di atas sofa, memejam sambil memijat keningnya, entah mengapa perasaan gelisah kembali menyelimuti hatinya. Meskipun ia sudah berusaha untuk membuang rasa takut itu, namun tetap saja, ia bahkan semakin gelisah. Hingga 15 menit berlalu, Alpha beranjak dari sofanya, meraih beberapa botol vitamin yang di tinggalkan Dokter Wilfreed untuk di minumnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.


* * * * *


* KEDIAMAN CAROLYN CULLEN.


"Apa ibu dan kakak akan tinggal di sini?"


Tanya Elard sambil terus mengamati seluruh ruangan tersebut.


"Iya.. Untuk sementara Ibu akan tinggal di sini."


"Bukankah rumah ini terlalu kecil? Ibu dan kakak bisa tinggal di Apartemen ku."


"Tidak perlu sayang, rumah ini sudah sangat nyaman buat Ibu."


"Tapi.. Ini terlalu sempit, dan lagi teman Ibu itu.. " Balas Elard sambil mengarahkan pandangannya kearah Nyonya Aleen yang sedang duduk menatap ke arah jendela ruang tengah, di sana juga ada Emery yang tengah duduk untuk menemaninya.


"Ini sudah cukup larut, sebaiknya kau bergegas untuk pulang Nak," Ucap Nyonya Carolyn seraya mengusap rambut Elard lembut.


"Tapi aku masih ingin bersama Ibu, bolehkah malam ini aku bersama Ibu dan kakak?" Tanya Elard memohon.


"Ibu tidak keberatan, tapi.. Ayahmu pasti akan mencarimu, dia akan mengkhawatirkanmu."


"Aiss.. Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada Ibu." Balas Elard merasa kecewa.


"Benarkah? Ada hal menyenangkan apa yang ingin kau ceritakan kepada ibu?"


"Aku sudah memiliki seorang kekasih." Jawab Elard dengan senyumannya.


"Sungguh? Wuaahh.. Ternyata anak Ibu sudah sangat dewasa sekarang, pasti dia gadis yang sangat manis."


"Tentu saja, Shareen gadis yang sangat manis, dia juga gadis yang ceria, tapi.."


"Ada apa? apa ada masalah lain?" Tanya Nyonya Carolyn saat menangkap ekspresi kesedihan di wajah putranya.


Ayah menargetkan Shareen, dan Shareen dalam bahaya sekarang..


"Maksudnya?"


"Kecelakaan dan ka selama beberapa hari membuat Shareen kehilangan ingatannya." Jelas Elard.


"Ah.. Gadis yang malang, jadi namanya Shareen? Sungguh nama yang cantik." Puji Nyonya Carolyn dengan senyumnya.


"Iya Bu, Shareen memang cantik, dan aku sangat mencintainya." Balas Elard dengan tatapan tulusnya.


"Benarkah?" Tanya Nyonya Carolyn tersenyum sambil terus mengusap rambut sebahu Elard yang sudah terlihat sangat berantakan.


"Seharusnya kau mengenalkan gadis itu kepada Ibu."


"Tentu saja, aku akan membawanya kesini untuk menemui Ibu juga kakak." Balas Elard sambil memandang ke arah Emery yang hanya mengangguk dengan senyumnya.


"Ibu sudah tidak sabar untuk menunggu."


"Tunggu saja sampai Ibu melihatnya, pasti Ibu juga akan menyukainya, ya sudah.. Aku pulang sekarang."


"Iya sayang, tapi.. Ayahmu.. "


Nyonya Carolyn menghentikan kalimatnya sambil menatap wajah Elard cemas. Seolah paham dengan maksud Ibunya, Elard langsung memeluk tubuh Ibunya.


"Tenang saja, Ayah tidak akan mengetahui keberadaan Ibu dan kakak di sini, jadi Ibu tidak perlu khawatir,lagi pula aku di sini, dan akan selalu melindungi Ibu dan kak Emery."


"Terima kasih sayang, Ibu terlalu cemas, seharusnya Ibu tidak berada di sini, tapi ada yang perlu Ibu selesaikan di sini, maaf jika Ibu merepotkanmu nak,"


"Tidak seharusnya Ibu berkata seperti itu. Bukankah sudah tugasku untuk mel8ndungi Ibu, lagi pula aku sangat bahagia saat ini, sebab bisa dekat tiga wanita sekaligus, wanita yang sangat aku sayangi dan cintai."


"Berhentilah menggombal, dan pulanglah, Ayah bisa mengirim orang-orangnya untuk mencarimu di seluruh Kota." Timpa Emery sambil melangkah mendekati Elard dan Ibunya.


"Bukankah itu terlalu berlebihan, aku bahkan bukan seorang buronan, tapi.. kak Emery, apa kakak baik-baik saja?" Tanya Elard yang hanya di balas anggukan dan senyum oleh Emery.


"Kakak baik-baik saja." Balas Emery seraya mengusap pucuk kepala Elard.


"Sebaiknya kau pulang, ini sudah sangat larut," Timpal Nyonya Carolyn sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Iya Bu, nanti aku akan menemui Ibu lagi. Aku harap Ibu dan kakak bisa menjaga diri kalian sendiri."


"Iyaa nak, terimakasih, berhati-hati lah."


Balas Nyonya Carolyn melambaikan tangannya ke arah Elard yang tengah melangkah meninggalkan rumahnya.


* * * * *


30 menit berlalu Elard sudah berada di dalam kamarnya. Merebahkan badannya yang nampak kelelahan.


"Kau nampak bahagia hari ini."


Ucap Tuan Chris yang secara tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar Elard, hingga membuatnya tersentak kaget.


"A.. Ayah.. sejak kapan Ayah di sana?" Tanya Elard tergagap.


"Kau terlalu asik melamun hingga tidak menyadari kedatangan Ayah." Balas Tuan Chris sambil melangkah masuk kedalam kamar Elard dan menyamankan dirinya di sofa. Bahkan tatapan tajam Tuan Chris terus tertuju ke arah Elard yang saat ini nampak gelisah di atas tempat tidurnya. Perlahan Elard beringsut turun dari tempat tidurnya dan langsung menghampiri Tuan Chris di sana.


"Ada apa Ayah? Tidak biasanya Ayah menemuiku di disini." Tanya Elard perlahan.


"Apa kau bersenang-senang?"


"Maksud Ayah?"


"Bukankah Ayah sudah memperingatkan mu agar tidak bertindak bodoh?" Ucap Tuan Chris datar.


"Sebenarnya apa maksud Ayah?"


"Tsk, sebenarnya kau sudah paham dengan maksud Ayah, kau tidak bodoh Elard, sekali lagi Ayah peringatkan. Jangan coba coba melakukan hal yang membuat Ayah marah."


"Ayah.. Aku sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi, dan berhentilah mengendalikan ku seperti sebuah robot." Protes Elard.


"Jadi kau berani menentang Ayah sekarang?"


"Bukan seperti itu Ayah, tapi... "


"DIAM!"


Teriak Tuan Chris yang langsung membuat Elard terdiam, sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Kau akan sangat menyesal jika berani menentang Ayah. Dan Ayah bisa memastikan itu Elard, percayalah, kau tidak akan mendapatkan apapun." Ancam Tuan Chris yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggal Elard yang masih terdiam di sana dengan perasaan marahnya.


"ARRGGHH SIAL... "


Teriak Elard yang langsung mengangkat sebuah meja yang berada di hadapannya kemudian di lemparkannya dengan sangat keras hingga membuat meja tersebut hancur ketika beradu dengan lantai keramik.


Dengan keras Elard menjambak rambutnya. Untuk pertama kalinya Elard merasakan takut dengan ancaman sang Ayah yang sebenarnya tidak pernah main main. Ia tau itu bukan sekedar ancaman, tetapi juga peringatan untuk dirinya.


"Shareen,"


Gumam kecil Elard sambil memejam hingga suara getar dari ponselnya menyadarkan dari lamunannya.


Shareen.


"Aku merindukanmu."


Isi notifikasi dari Edrea yang membuat Elard semakin tertekan, perasaannya semakin kalut. Meski ada senyum yang terulas dari bibirnya, namun itu tidak bisa menghilangkan rasa kegelisahannya.


"Haruskah aku membawamu pergi dari sini?" Gumam Elard yang terus menatap pesan dari Edrea.


Elard.


"Aku juga sangat merindukanmu."


^^^Shareen.^^^


^^^"Peluk."^^^


Elard.


"Bisakah kita bertemu besok?"


^^^Shareen.^^^


^^^"Hmm.. aku tidak bisa berjanji, tapi akan mengusahakannya."^^^


Elard.


" Baiklah, aku menunggumu."


^^^Shareen.^^^


^^^"Istrahalah,"^^^


Elard.


"Tapi aku masih ingin mengobrol denganmu Baby,"


^^^Shareen.^^^


^^^"Kita akan melakukannya nanti, ini sudah sangat larut."^^^


Elard.


"Baiklah ╥﹏╥"


^^^Shareen.^^^


^^^"♡´・ᴗ・`♡"^^^


Elard.


"Aku menyayangimu (♡´▽`♡)."


Elard menarik nafas dalam, seharusnya hal ini bisa membuatnya bahagia. Namun entah saat ini hatinya merasakan kegelisahan.


Perlahan Elard merebahkan tubuhnya di sofa, menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya. Ia tidak pernah membayangkan akan jadi serumit ini. Bahkan Ayahnya sudah terang terangan mengancamnya.


Sedang di lantai dasar tepat ruang tengah, nampak Kang Daniel terdiam dengan perasaan was was saat melihat Tuan Chris yang baru turun dari lantai dua, dan langsung menuju sofa untuk duduk.


"Tuan besar, apa yang terjadi?"


Tanya Kang Daniel perlahan saat mendengar suara keributan dari dalam kamar Elard.


"Dia hanya baru menyadari tindakan bodohnya selama ini." Jawab Tuan Chris santai sambil meraih sepucuk pistol yang terletak di atas meja kerjanya.


"Hubungi Xuan," Perintah Tuan Chris dengan tatapan tajam lengkap dengan senyum smirknya.


"Baik Tuan."


* * * * *


* TO BE CONTINUED.