I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Dilema Lucas. * MANSION ALPHA KHANDRA.



"Aku baik-baik saja,"


Sebelum bertemu denganmu Alpha, apa kau tahu, bahagianya aku sekarang, bahagia karena ternyata selama ini kau hidup dengan sangat baik.


Sedang Kang Daniel yang sejak tadi duduk di samping Emery hanya bisa terdiam dengan senyuman tipis di bibirnya, dan siapa yang tahu, jika hatinya saat ini benar-benar merasakan sakit saat melihat senyum bahagia dari Emery yang tentunya di tujukan oleh Alpha. Senyum yang selama dua tahun terakhir ini nyaris tidak pernah di lihatnya.


Sepertinya kau masih belum bisa melupakannya, apa yang harus aku lakukan sekarang Emery, selama ini aku bahkan tidak bisa membuatmu tersenyum seperti sekarang.


Kang Daniel yang hanya terlarut dalam lamunannya akhirnya tersentak saat tatapan mata Alpha tiba-tiba tertuju padanya, meskipun tatapan Alpha kali ini berbeda dari dua tahun lalu.


"Alpha.. Bagaimana kabar Ibumu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Nyonya Carolyn.


"Ibu baik-baik saja," Jawab Alpha perlahan.


"Apa Ibumu tidak punya rencana untuk kembali ke sini lagi?"


"Yah, Ibu pasti kembali ke sini, tapi tidak sekarang, Ibu masih ingin berlama-lama di sana, sebab saat disana ia merasa selalu dekat dengan Ayah," Jawab Alpha yang sontak membuat ekspresi Emery seketika berubah. Dengan erat ia meremas jari-jari tangannya dengan rasa bersalah yang kembali menghantuinya.


"Emery, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alpha mengernyit saat melihat ekspresi Emery yang tiba-tiba berubah. Begitupun dengan Kang Daniel yang sangat paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Emery sekarang.


"Iya.. Aku baik,"


"Apa kau sakit?" Tanya Kang Daniel perlahan seraya menggenggam telapak tangan Emery yang mulai memerah.


"Aku baik-baik saja Daniel.. " Balas Emery perlahan sambil menatap wajah Kang Daniel yang terlihat nampak khawatir, hingga senyum kecil nampak tergambar di bibir Emery saat membaca isyarat dari Kang Daniel yang seolah mengatakan jika semua baik-baik saja.


"Syukurlah.. "


"Terimakasih Daniel.." Ucap Emery perlahan.


"Hm, Aku akan menunggu di luar," Balas Kang Daniel tersenyum dan langsung beranjak dari duduknya.


"Silahkan.. " Jawab Alpha, lalu di susul oleh Dareen.


"Ada apa? Anda nampak tidak baik," Tanya Emery saat melihat Alpha yang tengah memijat tengkuk lehernya. Tidak bisa Alpha pungkiri jika saat ini perasaan dan hatinya tengah dalam kondisi tidak baik, sebab bayangan Starla masih memenuhi pikirannya, di tambah lagi dengan kejadian tadi hingga membuatnya kembali merasakan amarah dan kegelisahan.


"Aku baik-baik saja, aku hanya..."


Apa sekarang Starla baik-baik saja, apa yang mereka lakukan sekarang, sialan.. Kenapa aku tidak bisa berfikir jernih sekarang,


"Ah, tidak.. Tidak apa-apa." Lanjut Alpha menggeleng pelan sambil memijat tengkuk lehernya.


"Ada apa? Apa ada yang mengganjal pikiran anda?" Tanya Emery sedikit khawatir.


"Tidak, aku hanya merasa tidak enak badan." Jawab Alpha.


"Anda sakit?" Tanya Emery lagi.


"Tidak.."


"Yah sudah.. Seharusnya kau beristirahat, kau nampak tidak sehat." Timpal Nyonya Carolyn.


"Baiklah.. Maaf jika tidak bisa menemani mengobrol lebih lama,"


"Tidak apa-apa Alpha, saya mengerti. Setidaknya Saya lega, jika kau dalam keadaan sehat." Balas Nyonya Carolyn tersenyum.


"Terimakasih Nyonya Carolyn, tolong katakan kepada Ibu, jika aku baik-baik saja." Ucap Alpha yang langsung membuat Nyonya Carolyn tersenyum lebar, sebab Alpha sudah mengetahui jika kedatangan Nyonya Carolyn kali ini atas keinginan Nyonya Aleen.


"Ah iya.. Saya akan menyampaikan ke padanya agar berhenti mengkhawatirkanmu." Ucap Nyonya Carolyn yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.


"Baiklah.. Sepertinya kau butuh beristirahat Alpha, istrahat lah, kami akan pulang sekarang. Maaf karena sudah mengganggu waktumu." Lanjut Nyonya Carolyn yang langsung beranjak dari duduknya dan langsung di susul oleh Emery.


"Tidak masalah, Terimakasih.. "


"Iya, jagalah kesehatanmu Alpha."


"Iya," Balas Alpha singkat sambil sedikit membungkuk saat Nyonya Carolyn melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


"Maaf.. Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" Tanya Emery yang seketika itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Alpha yang masih berdiri memandanginya.


"Ada apa Emery?"


"Jika ada sesuatu yang membuat anda tidak nyaman, jika tidak keberatan anda bisa menceritakan semuanya. Aku siap mendengarnya." Balas Emery dengan senyumnya.


"Apa aku terlihat seperti seorang yang sedang mempunyai banyak masalah?" Tanya Alpha perlahan.


"Hm, maaf.. Tapi aku bisa melihatnya."


Biar bagaimanapun aku pernah hidup bersamamu selama lima tahun Alpha. Dan lima tahun bukanlah waktu yang singkat.


"Maaf.. Aku hanya ingin membantu anda." Ucap Emery menundukkan kepalanya saat melihat Alpha yang hanya terdiam tampa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? Kita teman sekarang, kau bisa memanggil namaku."


"Iya, Alpha.. "


"Terimakasih Emery, maaf jika merepotkanmu, aku hanya.. "


Sedang jatuh cinta kepada seorang wanita yang sekarang berbalik membenciku, dan aku tidak tahu, harus berbuat apa sekarang.


"Alpha.. "


"Mungkin Next time aku akan menghubungimu untuk menemaniku berbincang, apa kau tidak keberatan?" Lanjut Alpha yang langsung di balas senyum dan anggukan oleh Emery.


"Tidak sama sekali Alpha.. Kapanpun itu, aku akan menunggu."


"Terimakasih Emery."


"Iya.. Baiklah, aku pulang sekarang."


"Hm, Berhati-hatilah.. " Ucap Alpha tersenyum dan langsung melangkah meninggalkan ruang tamu saat bayangan Emery sudah menghilang dari pandangannya.


Bahkan Alpha tidak menghiraukan panggilan Leon yang sedang duduk di sebuah sofa ruang tengah. Alpha yang masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci dirinya di sana membuat Leon berubah murung. Ia bahkan memerintahkan pengawalnya agar tidak menerima siapapun yang ingin bertemu dengannya. Leon yang melihat tingkah Alpha hanya bisa terdiam dengan perasaan bersalah atas kejadian siang tadi.


Kau bahkan mengabaikanku bocah. Dan kenapa aku harus terlibat dengan kisah romansa kalian. Sumpah memi apapun, aku akan menghajarmu jika kau terus mengabaikanku bocah sialan.


Umpat Leon sambil terus memasukkan makanan ringan di mulutnya yang sudah terlihat penuh.


* * * * *


Sedang di dalam sebuah rumah sederhana yang saat ini suasananya cukup menegangkan sejak kedatangan Lucas yang membuat Starla terus mengusirnya. Bahkan sebuah pukulan dari Starla yang bertubi-tubi mendarat di dada dan lengan Lucas tidak membuat pria Elfredo itu mundur sedikitpun. Dengan mata yang sudah terlihat berkaca Lucas hanya bisa tertunduk tampa bergerak sedikitpun.


"Tinggalkan aku sendiri Lucas, aku mohon, jangan pernah menemuiku lagi." Ucap Starla seraya mendorong tubuh Lucas yang langsung terhuyung kebelakang.


"Starla.. Aku tidak bisa meninggalkanmu lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi jika suatu saat aku menemukanmu."


"Tapi aku tidak ingin melihatmu lagi Lucas, bahkan bayanganmu pun, aku tidak ingin melihatnya."


"Starla.. Kenapa kau bersikap seperti ini?"


"Karena aku membencimu Lucas, aku membenci keluargamu, aku membenci semua yang ada padamu." Ucap Starla dengan tatapan marahnya.


"Starla.. Aku mohon... Jangan seperti ini... "


"Jadi aku harus bersikap seperti apa? Aku harus bersikap seperti apa pada kalian yang sudah membunuh Ibuku? Bahkan untuk membenci kalian saja itu tidak akan cukup," Tanya Starla dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Starla.. "


"Bahkan dengan membencimu saja tidak akan bisa membayar semua yang telah kalian lakukan kepadaku dan juga Ibuku."


"Tapi bukan aku... "


Bukan aku yang melakukannya, aku bahkan tidak tahu apa-apa, haruskah kau menghabiskan waktumu untuk membenciku Starla, bahkan selama ini aku telah menghabiskan waktuku untuk selalu menunggumu.


"Apapun alasannya Lucas, kau tidak bisa mengembalikan Ibuku padaku."


"Starla.. Maaf.. "


"Starla.. "


"KEMBALIKKAN IBUKU PADAKU, DAN BERHENTI MEMINTA MAAF." Teriak Starla dengan air matanya yang kembali menetes dari sudut matanya.


"Starla.. " Gumam Lucas yang juga menitikkan air mata saat melihat Starla yang kini terisak di hadapannya. Bahkan dengan keras Starla menepis tangan Lucas saat akan menyentuh pundaknya.


"Pergi.. "


"Starla.. Jangan menyuruhku untuk pergi, karena aku tidak akan melakukannya."


"PERGI... PERGILAH LUCAS... "


"Tidak Starla."


"Baiklah... " Ucap Starla yang langsung melangkah menuju dapur dan meraih sebuah pisau di atas meja makannya dan menyayat lengannya hingga mengeluarkan banyak darah.


"Tidak.. Starla, apa yang... "


"PERGI KATAKU." Teriak Starla yang kembali menempelkan pisau tersebut di lengannya.


"Aku mohon... Bunuh aku saja, tapi jangan lukai dirimu sendiri." Pintah Lucas dengan tubuh bergetar dengan isakannya.


"Jika kau tidak ingin melihatku terluka lebih parah lagi, pergilah.. Tinggalkan aku sendiri."


"Starla... "


"Aku tidak akan mengulanginya lagi Lucas, jika kau benar-benar ingin melihat mayatku di sini, maka tinggal lah lebih lama lagi." Ucap Starla yang semakin keras menekan pisau tersebut di lengannya yang sudah tergores akibat gesekan pisau.


"Baiklah.. Baiklah.. Aku akan pergi, tapi aku mohon.. Izinkan aku untuk mengobati lukamu terlebih dahulu sebelum aku pergi." Pinta Lucas yang semakin khawatir saat melihat darah yang semakin banyak menetes dari luka Starla.


"Kau tidak perlu khawatir Tuan Lucas, ini hanya sebuah luka kecil, luka ini tidak sebanding dengan luka yang pernah keluargamu berikan padaku dan Ibuku. Aku bisa mengobati lukaku sendiri tampa bantuan darimu atau dari siapapun." Jawab Starla sinis.


"Starla.. Kenapa kau sangat keras kepala? Yang aku tahu kau adalah Starlaku yang penurut, gadisku yang lemah lembut."


"Starlamu sudah lama mati Lucas. Kau dan keluargamu yang telah membuatku jadi seperti ini. Pergilah." Balas Starla yang langsung melangkah ke arah pintu dan membukanya lebar.


Dengan langkah perlahan Lucas berjalan menuju pintu sambil mengusap sisa air mata di wajahnya. Dan tampa menunggu Lucas meninggalkan teras rumahnya, Starla langsung menutup pintunya dengan keras dan menguncinya.


Alpha..


Batin Starla yang entah mengapa langsung melihat bayangan Alpha di dalam pikirannya saat matanya memejam dengan rasa sakit di tubuh dan hatinya. Ia tidak bisa memungkiri jika saat ini ia sangat merindukan sosok Alpha. Meskipun hatinya berusaha untuk menolak dan membenci pria Berta tersebut, namun tidak dengan pikirannya yang bahkan selalu menghadirkan bayangan Alpha.


Dengan langkah yang terseok Starla berjalan menuju kamarnya dan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang seraya membuka laci meja yang di dalam sana terdapat perban dan juga saleb untuk mengobati lukanya. Bahkan Starla sempat meminum beberapa pil obat penenang untuk menenangkan pikirannya. Dengan perasaan sedih, Starla meringkuk di atas tempat tidurnya seraya memeluk lututnya


Ibu... Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku salah karena sudah mengambil keputusan untuk kembali ke kota ini. Bukankah tidak seharusnya aku kembali..


Dengan mata yang sayu dan sembap, Starla memejamkan matanya dan mulai tertidur.


* * * * *


Sedang di dalam sebuah mobil yang masih melaju dengan kecepatan sedang, nampak Lucas yang masih terdiam dengan mata yang masih terlihat berkabut. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Lucas di sepanjang perjalanan. Hingga mobil mewahnya terparkir didepan Mansionnya yang disana ia sudah di sambut oleh beberapa pengawalnya. Bahkan keningnya sempat mengernyit saat melihat beberapa pengawal sang Ayah yang juga sedang berada di sana.


"Apa dia sedang berada di Mansion?" Tanya Lucas kepada Asistennya Keano.


"Iya Tuan muda, Tuan Fridell langsung ke Mansion saat beliau keluar dari rumah sakit pagi tadi." Jawab Asisten Lucas seraya membukakan pintu mobil untuk Lucas yang langsung turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansionnya yang disana sudah menunggu Tuan Fridell dengan kedua bodyguardnya.


"Dari mana saja kau?" Tanya Tuan Fridell kepada Lucas yang bahkan belum sempat duduk.


"Bertemu klien."


"Apa Ayah harus mempercayaimu?" Tanya Tuan Fridell lagi yang membuat Lucas mengernyit.


"Berhenti menyuruh orang-orang anda untuk mengikutiku. Aku bukan seorang anak kecil yang harus di ikuti setiap saat." Protes Lucas mulai geram.


"Tapi kau sudah mulai pintar membohongi Ayahmu sekarang," Balas Tuan Fridell seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menyilangkan kakinya dan menatap wajah Lucas yang juga tengah menatapnya.


"Ayah harap kau tidak lupa. Jika malam ini kita akan menemui seseorang." Lanjut Tuan Fridell lagi yang membuat Lucas kembali mengernyit.


"Maksud anda? Apalagi yang akan anda rencanakan untukku?" Tanya Lucas.


"Tentu saja Ayah akan merencanakan pernikahanmu."


"Apa?"


"Malam ini kita akan bertemu dengan calon istrimu Lucas,"


"Tuan Fridell.."


"Cukup Lucas, Ayah tidak ingin mendengar apa-apa darimu."


"Yah.. Aku tahu. Aku tidak akan berkata apapun, percuma. Sebab anda tidak akan pernah mendengarkanku, bahkan sejak dulu, seolah keputusanku tidak ada artinya buat anda,"


"Apapun yang kau katakan, Ayah tidak perduli. Karena apa yang Ayah lakukan selama ini demi kebaikanmu Lucas." Balas Tuan Fridell.


"Benarkah? Kebaikan? Kebaikan apa yang bisa anda lihat? Bahkan selama ini aku tidak pernah merasa bahagia dengan hal yang anda lakukan untukku. Jadi kebaikan seperti apa yang anda maksud? Dan kebahagiaan seperti apalagi yang akan anda tunjukkan?"


"Apa kau sedang melakukan protes sekarang?" Tanya Tuan Fridell dengan kening menyatu.


"Tidak. Aku hanya ingin anda sadar, jika selama ini aku tidak pernah bahagia dengan keputusan anda." Ucap Lucas yang membuat Tuan Fridell menampakkan senyum smirknya.


"Suatu saat kau pasti akan mengerti. Dan akan berterimakasih kepada Ayah."


"Yah, aku juga berharap seperti itu. Lakukan apa yang anda inginkan. Tapi untuk kali ini, aku tidak akan mengikuti keinginan anda lagi."


"Benarkah?"


"Apa aku terlihat sedang bercanda? Tidak akan ada pertemuan dan pernikahan. Lupakan ide anda itu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun." Ucap Lucas dengan tegas.


"Apa kau yakin?"


"Aku tidak perlu mengulangi kata-kata ku lagi."


"Oke.. " Ucap Tuan Fridell yang langsung meraih ponsel didalam saku jasnya dan menghubungi seseorang.


"Bawah gadis itu sekarang juga."


Ucap Tuan Fridell sambil menatap wajah Lucas yang sudah terlihat pucat.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Lucas saat melihat wajah Ayahnya yang terlihat nampak serius dengan tatapan penuh dengan ancaman.


"Ayah hanya akan mengucapkan selamat datang kembali, dan mungkin akan sedikit bermain-main dengan gadis itu." Jawab Tuan Fridell dengan satu alisnya yang terangkat ke atas.


"TIDAK... JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA LAGI." Teriak Lucas saat ia menyadari jika sekarang orang-orang suruhan Ayahnya tengan berada di rumah Starla.


"Apa Ayah harus menuruti keinganmu untuk tidak menyentuh gadis itu?"


"AYAH.."


"Setelah sekian lama, kau akhirnya memanggilku dengan sebutan Ayah,"


"LEPASKAN STARLA.."


"Semakin kau berteriak dengan keras di hadapan Ayah, semakin membuat Ayah ingin memberikan pelajaran kepada Gadis itu. Jadi Ayah harap kau bisa menjaga sukapmu Lucas. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menentang atapun melawan Ayah. Dan Ayah bisa menghancurkan gadis itu sekarang juga jika Ayah menginginkannya, apa kau ingin membuktikan perkataan Ayah?" Ancam Tuan Fridell dengan pertanyaan yang membuat Lucas membeku dengan nafas yang seolah tercekik, hingga membuat Lucas beranjak dan langsung bersimpuh di kaki Ayahnya.


"Jangan ganggu dia lagi Ayah, aku mohon.. Cukup Ayah.. " Ucap Lucas di bawah kaki Ayahnya dengan suara yang bergetar.


"Maka lakukanlah semua yang Ayah inginkan, jika kau ingin gadis itu aman."


"Baiklah Ayah.. Aku akan melakukan apapun."


* * * * *


* TO BE CONTINUED.