I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Luka lama.



Merah kuning yang membara, itulah warna senja yang terlihat di mata Alpha yang saat ini tengah duduk sendiri, sambil menatap langit sore hari yang terasa begitu menghangatkan, untuk sesaat Alpha merasakan ketenangan, setelah seharian hatinya di gerogoti oleh rasa rindu dan sakit yang datang secara bersamaan. Lama Alpha terdiam di sana hingga sedetik kemudian senja di libas oleh kelam menuju malam.


Bayangan Starla kembali hadir di dalam ingatan Alpha, kenangan indah yang terlintas dan sempat membuatnya tersenyum, namun seketika senyum itu hilang saat menyadari jika ia sudah kehilangan semuanya, Starla tidak lagi berada di sampingnya, dan tidak akan ada kenangan lagi yang tercipta di antara mereka.


"Alpha.. Apa yang anda lakukan di sini?"


Tanya seseorang yang sepertinya baru menyadari keberadaan Alpha yang saat ini tengah duduk sendirian di sebuah taman berbukit yang malam itu tidak begitu ramai. Hanya ada Alpha dan beberapa pengunjung saja yang sepertinya tengah menikmati indahnya suasana di malam ini. Hingga netra Alpha tertuju pada satu sosok yang kini tengah tersenyum ke arahnya, meski jarak mereka tidak begitu dekat, namun Alpha bisa melihat senyum tulus yang terukir dari wajah wanita tersebut.


"Emery.. "


"Apa aku boleh... " Kalimat Emery terhenti dengan netra yang menatap bangku kosong di samping Alpha.


"Silahkan." Ucap Alpha yang langsung menggeserkan tubuhnya saat Emery melangkah mendekatinya dan perlahan duduk di sampingnya.


Untuk beberapa saat suasana kembali hening, Alpha yang masih larut dalam kediamannya membuat Emery sedikit cemas, meskipun ia sangat tahu dengan tabiat mantan suaminya yang memang sulit untuk mulai berbicara, dan membuka obrolan, namun kali ini ada yang berbeda dari Alpha, Emery dapat menangkap ekspresi yang di penuhi dengan kesedihan di sana, lingkaran mata yang terlihat menghitam dengan wajah yang terlihat lesu, sudah sangat jelas terlihat jika saat ini Alpha tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Alpha.. Apa semua baik-baik saja? Maaf, jika aku.. "


"Kenapa semua wanita selalu bersikap egois, mereka hanya mau memikirkan perasaan mereka saja yang terluka, tampa memikirkan perasaan orang lain yang juga hancur," Ucap Alpha dengan suara beratnya sambil tertunduk berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


Dan melihat itu semua sontak membuat Emery mulai merasakan sakit, Alpha yang tengah terpuruk sekarang sungguh membuatnya sedih, hingga dengan reflek tangan Emery menyentuh pundak Alpha, hal yang tidak pernah ia lakukan selama 5 tahun pernikahan mereka.


Ternyata kau sudah mulai mencintai wanita lain, tapi kenapa kau merasakan sakit Alpha.. Seharusnya kau bahagia karena ini cinta pertamamu.


"Alpha.. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Emery perlahan.


"Entahlah Emery.. Aku merasa tidak baik, hatiku terasa sesak sekarang,"


"Alpha.. "


Emery yang sudah tidak mampu lagi menahan kesedihannya langsung beranjak dari duduknya dan meraih tubuh Alpha yang masih duduk untuk di peluknya, mengusap punggung lebar itu perlahan sambil menyandarkan kepalanya sendiri di atas kepala Alpha yang kini hanya terdiam di dalam dekapannya.


"Semua akan baik-baik saja," Bisik Emery, yang entah membuat air mata Alpha tiba-tiba menitik dengan sendirinya. Entah mengapa kata-kata itu bisa membuat hatinya sedikit merasa tenang. Bahkan pelukan itu juga bisa membuat dirinya nyaman, namun sebulir kenangan buruk dan menyakitkan bersama Emery kembali berkelebat di pikirannya.


Jika mengingat bagaimana perlakuannya kepada Emery yang saat itu masih menjadi istrinya, bagaimana wanita itu selalu mengeluarkan air matanya, menahan rasa sakit atas perlakuannya, sungguh membuat Alpha merasa semakin sesak, dan bukankah seharusnya Emery tidak bersikap semanis ini padanya, dan seharusnya Emery mengabaikannya dan meninggalkannya saja saat ini, namun kenyataannya sekarang, semua yang Alpha pikirkan tentang Emery sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang terjadi sekarang, dengan tulusnya wanita itu datang memeluknya, mengusap punggungnya dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Sungguh membuat Alpha tidak mampu menahan kesedihannya lagi.


"Emery.. Maaf.."


"Maaf untuk apa?" Tanya Emery yang masih berdiri sambil mendekap tubuh Alpha.


"Selama bersamaku dulu, kau selalu merasakan sakit."


"Aku mengerti, kau juga mempunyai alasan atas sikapmu," Balas Emery perlahan.


"Apa ini karma untukku?" Tanya Alpha.


"Alpha.. Kau tidak melakukan apa-apa, kau...."


"Dulu aku menyakitimu." Sela Alpha, "Dan sekarang, aku merasakan hal sama, dan akhirnya aku mengerti, apa yang kau rasakan saat itu."


"Alpha.. Jangan pernah berkata seperti itu lagi, aku mohon.. " Pinta Emery yang semakin mempererat pelukannya saat ia merasakan tubuh Alpha sedikit bergetar.


"Maafkan aku Emery.. Maaf atas air mata yang dulu selalu kau keluarkan untukku.. Maaf."


"Tidak Alpha.. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf, aku sudah melupakan semuanya. Sungguh.. Aku sudah melupakannya, jadi aku mohon.. Jangan menagis.. "


Ucap Emery dengan air matanya, sembari menangkup wajah Alpha yang sekarang tengah mendongak ke atas menatapnya. Dengan lembut Emery mengusap air mata Alpha yang hanya pasrah menerima perlakuan Emery, bahkan Alpha terus terdiam saat dengan tiba-tiba Emery mengecup dahinya, perlahan menyentuh pipinya dan berakhir dengan kecupan lembut di bibir Alpha yang sudah di basahi oleh air matanya. Lama mereka terlarut dalam suasana di mana bibir mereka yang masih saling menyatu. Emery yang larut dalam kesedihan hatinya disebabkan pria yang di sayanginya tengah merasakan kesedihan, dan Alpha yang ingatannya kembali tertuju kepada gadis yang masih sangat di rindukannya. Hingga pautan bibir mereka terlepas, menyisahkan nafas yang saling memburu, Emery yang nampak gugup saat menyadari jika ia baru saja usai memberikan ciuman pertamanya kepada Alpha yang tidak lain adalah mantan suaminya itu hanya bisa terdiam sambil terus menatap wajah Alpha, begitupula dengan Alpha yang masih mengatur nafasnya sambil mengusap bibirnya yang masih terasa basah dan hangat. Meskipun ia tidak merasakan getaran apapun di tengah ciuman mereka, namun ada rasa gugup yang rasakannya, sebab untuk pertama kalinya Alpha merasakan bibirnya di sentuh oleh seorang wanita. Ciuman singkat yang hanya berlangsung beberapa menit saja namun cukup membuat keduanya merasakan gugup, dan itu terlihat jelas dari tatapan mata mereka masing-masing.


"Ternyata aku salah, jika mengira kau tulus mencintaiku Alpha.."


Gumam Starla di sebrang sana yang saat ini tengah berdiri dengan tubuh bergetar menahan tangis, saat menyaksikan pemandangan di depan matanya, di mana ia dengan jelas melihat Alpha tengah berada di dalam dekapan seorang wanita, bahkan adegan intim di antara mereka berdua yang tidak seharusnya Starla lihat, tidak luput dari pandangan Starla yang saat ini hanya bisa menahan air matanya.


Keputusanku untuk tetap tinggal memang salah, dan aku tidak punya alasan lagi untuk tetap bertahan di sini, pada akhirnya kau akan bersama dengan seseorang yang sederajat denganmu. Alpha.. Semoga kau selalu bahagia, maafkan aku.. Jika selama ini aku sudah banyak menyakitimu.


Starla memalingkan pandangannya, sambil berusaha mengatur nafasnya, dengan tenaga yang tersisa ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut, terus melangkah tampa menghiraukan tatapan aneh dari beberapa pasang mata yang melihatnya tengah menagis. Lagi dan lagi, dia kembali menagis sendiri di tengah orang-orang yang tertawa, dan ini yang kesekian kalinya Starla menjadi menarik perhatian beberapa pejalan kaki karena air matanya. Hingga langkahnya terhenti saat tubuhnya tiba-tiba di dekap oleh seseorang. Bahkan dekapan itu semakin erat kala isakan Starla terdengar semakin keras.


"Apa itu menyakitimu?"


Tanya pria yang kini masih memeluk tubuhnya, meskipun Starla tidak membuka matanya untuk melihat siapa sosok itu, sebab ia tahu, jika saat ini ia tengah berada di dalam pelukan Lucas, dan hal itu cukup membuatnya yakin hanya dengan menghirup aroma tubuh, suara, dan cara pria itu memeluknya. Tidak ada yang berubah sedikitpun.


"Seharusnya kau tidak melihat semuanya,"


"Lepaskan aku Lucas," Pinta Starla dengan suara bergetar.


"Sebelum kau berhenti untuk menagis," Balas Lucas yang masih mendekap tubuh Starla. Hingga beberapa menit berlalu, Lucas sudah tidak mendengar isakan dari Heejin lagi. Dengan perlahan ia melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah Starla lekat.


"Biarkan aku pergi."


"Aku akan menemanimu," Balas Lucas yang langsung mengikuti langkah Starla.


"Cukup Lucas.. Tinggalkan aku sendiri." Perintah Starla saat menyadari jika Lucas masih terus mengikutinya.


"Tapi aku tidak bisa meningggalkanmu dalam keadaan seperti ini Starla."


"Kenapa? Bukankah dulu kau juga meninggalkanku dalam keadaan yang lebih parah dari ini," Balas Starla dengan senyum di sela tangisnya.


"Starla.. "


"Maafkan aku."


"Berhenti meminta maaf Lucas, karena sampai kapanpun aku tidak.... "


"Aku mohon... Jangan ucapkan kalimat itu lagi." Balas Lucas yang langsung memeluk tubuh Starla tampa membiarkan Starla untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Kenapa kau selalu seperti ini Lucas," Gumam Starla pasrah dengan nada suara yang semakin melemah.


"Aku hanya sakit jika selalu melihatmu menagis seperti ini, berhenti membuatku khawatir Starla, bahkan aku selalu mendapatimu tengah menangis sendirian, dan hal itu sungguh membuatku sakit."


"Kau tidak perlu memikirkan perasaanku Lucas,"


"Dan pria itu... Tidak seharusnya kau mengeluarkan air matamu untuknya, kau... "


"Aku mencintainya.. " Balas Starla yang membuat Lucas terdiam dengan seribu jarum yang kini tengah menusuk jantungnya.


Kenapa aku harus mendengar kata itu dari mulutmu Starla. Apa kau sengaja mematahkan hatiku, jika itu memang benar, kau berhasil melakukannya Starla..


"Aku seperti ini karena aku mencintainya Lucas.. "


"Apakah dia juga mencintaimu?" Tanya Lucas yang kini membuat Emery terdiam.


Dia pernah mencintaiku, sebelum aku menyuruhnya pergi, dia pernah mencintaiku, sebelum aku memintanya untuk tidak mencintaiku lagi.


"Apa kau tahu siapa wanita yang tengah bersamanya tadi?" Tanya Lucas yang saat itu langsung mendapatkan tatapan dari Starla.


"Wanita itu adalah mantan istri Alpha, Emery dari keluarga Cullen."


Tubuh Starla tiba-tiba terasa kaku, dengan nafas yang tiba-tiba tercekik, ia merasakan seolah tengah di timpa benda yang sangat berat hingga membuat jantungnya terasa sakit.


"Dan hubungan yang pernah terjadi di antara mereka sangatlah dekat, hingga tidak menutup kemungkinan jika kisah mereka akan terulang lagi, seperti yang kau lihat sekarang." Balas Lucas yang lagi-lagi hanya bisa membuat Starla terbungkam dengan air mata yang lagi-lagi mengalir dari sudut matanya, Starla menangis dalam diam, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain terus melangkah menjauh dari Lucas, bahkan dengan sekuat tenaga Starla terus memaksakan kakinya untuk berlari tampa memperdulikan teriakan Lucas yang juga ikut berlari menyusulnya.


"Starlaaaa.. Tunggu... " Teriak Lucas yang terus mengejar. Bahkan dalam hitungan detik saja ia sudah tidak bisa melihat bayangan Starla lagi di sekitarnya taman tersebut. Meskipun ia sudah berkeliling untuk mencari.


"Starla.. " Gumam Lucas yang masih terus berlari mencari keberadaan Starla.


Sementara di dalam sebuah mobil  Mercedes Benz hitam type V-250 nampak terdengar suara jeritan Starla yang saat ini dalam keadaan tubuh yang di apit dua pria bertubuh kekar. Dan satu pria dengan pakaian serba hitam tengah duduk menyamankan dirinya tepat di hadapan Starla yang masih terisak.


"Si... Siapa kamu?" Tanya Starla yang terus menatap pria yang masih duduk di hadapannya. Pria yang masih menutupi wajahnya dengan sebuah masker dan topi, dan saat melihat Hoodie yang di kenakan pria tersebut, wajah Starla tiba-tiba terlihat pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat dengan air mata yang semakin deras mengalir dari sudut matanya.


"Aku mohon.. Ja.. Jangan sentuh aku.. Menjauh dariku.. " Pinta Starla dengan air matanya saat pria itu melilitkan ujung rambut Starla di jari telunjuknya, bahkan di dekatkan rambut terurai Starla di hidungnya dan menghirupnya dalam. Senyum smirk terukir di bibir pria tersebut, senyum yang tertutupi masker bahkan tidak terlihat oleh siapapun.


"Ternyata kau belum melupakanku manis.." Ucap pria bertopi hitam sersebut yang terus mengusap rambut Starla, bahkan telapak tangannya yang dingin kini menempel sempurna di wajah Starla yang sudah berkeringat karena ketakutan.


"Tidaaakk.. Jauhkan tangan kotormu dari wajahku.. Aku mohon.. Jangan sentuh.. Jangannn... Aaarrgghh... " Teriakan Starla yang tidak terkendali kembali terdengar memenuhi mobil tersebut. Hingga mobil itu berhenti dengan pintu kaca yang langsung terbuka.


Mata Starla membulat sempurna saat netranya tertuju pada sisi kanan tepat di samping mobil yang di sana ada mobil mewah lainnya dengan kaca yang terbuka dan menampakkan sosok yang sangat Starla takuti selama ini.


"Tu.. Tuan Fridell.. " Gumam Starla saat melihat mata tajam Tuan Fridell yang tengah duduk di dalam mobil lainnya sambil menatapnya.


"Ternyata kau cukup berani untuk menginjakkan kakimu di Negara ini lagi," Ucap Tuan Fridell.


"Apa yang anda lakukan, lepaskan saya." Pinta Starla sedikit berontak.


"Apa semua peringatan yang aku berikan tidak cukup mebuatmu mengerti?" Tanya Tuan Fridell yang membuat Starla semakin terisak.


"Jika kau tidak menginginkan kejadian 10 tahun lalu terulang lagi, maka cepat tinggalkan Negara ini tampa sepengetahuan Lucas." Lanjut Tuan Fridell.


"Ti.. Tidak.. Jangan.. Aku mohon.. Jangan... "


"Maka memohonlah... Seperti apa yang Ibu kamu lakukan dulu. Memohon untuk kebahagiaan anaknya dan keselamatan suaminya." Balas Tuan Fridell dengan senyum smirknya.


"Tinggalkan Lucas, karena sebentar lagi Lucas akan menikah, dan jangan pernah mengacaukan kehidupannya lagi."


"Tapi aku tidak pernah.... "


"Cukup, saya tidak ingin mendengar omong kosongmu. Selama beberapa hari ini saya sudah cukup bersabar saat melihatmu terus menempel kepada Lucas. Layaknya seorang jalang, apa kau butuh uang?"


"Aku tidak serendah itu."


"Tsk, kau bahkan sama saja seperti Ayahmu. Apa kau benar-benar akan menentangku?"


"Jangan pernah menyebutkan nama Ayahku lagi."


"Ada apa? kau bahkan begitu menghormati pria kotor itu,"


"Cukup.. Anda tidak tahu apa-apa tentang Ayahku."


"Tsk, kau benar-benar gadis jalang yang tidak tahu apa-apa. Apalagi yang kau ketahui selain menggoda Putraku?"


"Tuan Fridell yang terhormat, Anda tidak berhak sedikitpun untuk berkata seperti itu tentang Ayah saya, dan satu lagi, sekalipun aku tidak pernah punya niat untuk bertemu anak anda. Justru anak anda yang terus memaksa untuk menemuiku, jika anda tidak menginginkan anak anda bertemu denganku, kenapa anda tidak mengikat leher anak anda saja agar dia tidak bisa kemanapun, agar dia selalu berada di bawah kaki anda seperti seekor anjing penurut." Balas Starla yang membuat ekspresi wajah Tuan Fridell berubah gelap. Hingga satu isyarat dari Tuan Fridell langsung  membuat Starla terhempas kearah samping mobil dengan tubuh yang menghantam pintu mobil.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.