I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Elard dan Edrea.



"Si.. Siapa kamu?" Tanya Edrea yang terlihat nampak ketakutan hingga tubuhnya bergetar.


"Tenanglah.. Aku tidak akan menyakitimu." Balas Elard yang masih mengawasi ke sekelilingnya.


"Mana mungkin aku bisa tenang, kau menarikku paksa dan membawaku ke sini, toilet? Apa maksudmu, dasar mesum." Balas Edrea yang langsung memukul lengan kekar Elard berkali kali, sedang yang di pukul hanya pasrah dan sedikit meringis saat menerima amukan dari Edrea.


"Hei hentikan, tanganmu bisa sakit jika terus memukul ku seperti itu," Ucap Elard yang kembali memegang pergelangan tangan Edrea yang spontan langsung menarik tangannya dan sedikit memundurkan langkahnya untuk membuat jarak.


"Tsk, jelaskan sekarang, apa maksud kamu menarikku paksa? Apa kau mengenalku?" Tanya Edrea yang masih dengan nafas tersengal.


"Tentu saja aku mengenalmu." Jawab Elard santai dengan senyumnya, yang membuat Edrea mengernyit.


"Benarkah?"


"Tsk, aku bercanda, ini pertemuan pertama kita." Ucap Elard tersenyum lebar.


PLAAK..


"Auuwww.. Sakiit.. " Jerit Elard saat Edrea kembali menepuk lengannya dengan sangat keras.


Padahal aku sudah berharap jika dia seorang teman dari masa laluku yang bisa membantuku untuk mengingat semuanya.


"Aku harus menemukan kakakku, jika tidak dia akan khawatir jika tidak menemukanku." Ucap Edrea dengan ekspresi yang terlihat panik.


"Kau di sini tidak sendiri?" Tanya Elard mengernyit.


"Tentu saja tidak, aku bersama kakakku, dan lihat apa yang akan kakakku lakukan jika tau kau membawaku kesini seenaknya." Jawab Edrea terlihat kesal saat kembali menatap wajah Elard.


"Maaf.. Aku hanya.. " Balas Elard yang langsung menghentikan kalimatnya sambil memegangi tengkuk lehernya.


Hanya ingin melindungimu. Elard.


"Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Elard perlahan.


"Apa itu penting sekarang?"


"Hmm.. Aku tidak akan menanyakan itu jika tidak penting, tantu saja itu sangat penting bagiku."


"Tsk, aku Shareen, Shareen Berta."


"Shareen Berta? Jadi kau adik Alpha Khandra Berta?" Tanya Elard terkejut.


"Kau mengenal kak Alpha?" Tanya Edrea mengernyitkan keningnya, alih alih menjawab pertanyaan Elard, sedang Elard hanya terdiam sambil terus menatap wajah Edrea.


Apa si pria kaku itu punya adik? Seingatku dia anak tunggal di keluarga Berta.


Batin Elard yang masih larut dalam pikirannya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau mengenal kakakku?" Tanya Edrea sekali lagi yang langsung membuyarkan lamunan Elard.


"Hmm.. Cukup kenal." Jawab Elard mengangguk.


"Benarkah?"


"Hm.. Tapi sebaiknya kau tidak mengatakan ke pada kakakmu jika kau bertemu denganku hari ini." Balas Elard.


"Tentu saja tidak akan aku beri tahu, kakak kan tidak... " Kalimat Edrea menggantung dengan mata melebar.


Tidak tau jika aku dan kak Wil keluar, astaga kak Wil..


Batin Edrea yang tiba tiba terlihat panik.


"Hei ada apa?" Tanya Elard saat melihat kepanikan Edrea.


"Kakak pasti sudah mencariku, ini semua karena kamu." Balas Edrea yang langsung beranjak pergi meninggalkan Elard yang masih mematung dengan senyum indahnya.


"Panggil aku Elard, itu namaku." Seru Elard yang membuat Edrea menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuhnya ke arah Elard yang masih melambai.


"Elard?


"Hmm.. Senang bertemu denganmu Shareen, semoga kita bisa bertemu lagi."


Ucap Elard masih melambaikan tangannya dengan senyum yang nampak manis di wajahnya. Sedang Edrea hanya mengangguk membalas senyum Elard dan kembali melangkahkan kakinya menjauhi Elard yang masih mengamatinya dengan perasaan was was. Hingga akhirnya ia merasa lega saat melihat sosok yang tengah berlari menghampiri Edrea.


"Tunggu, katanya dia disini bersama kakaknya si pria kaku Alpha, tapi kenapa pria itu? Sudah jelas itu bukan si Alpha, siapa dia? Kekasihnya?" Gumam Elard yang terlihat kesal sambil terus mengamati Edrea yang tangannya langsung di genggam oleh Dokter Wilfreed, hingga gadis itu berlalu dan menghilang dari pandangannya.


"Ah sial, apakah pria pucat itu pacarnya?"


Gumam Elard yang juga melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Setidaknya ia bisa bernafas lega, sebab gadis itu aman sekarang, hingga ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan entah mengapa, pikirannya tiba-tiba merasa kacau dan marah.


"Apa karena gadis itu adik dari Alpha, hingga ayah menargetkannya? Apa segitu bencinya ayah kepada Alpha, tapi apa salah gadis itu sebenarnya? bukankah ayah sudah sangat keterlaluan?" Elard terus bergumam sambil mencengkram keras kemudinya.


"Tidak.. Tidak akan aku biarkan orang-orang ayah menyentuh gadis itu, aku akan melindungi gadis itu.


Sementara di dalam sebuah mobil yang tengah melaju, nampak Edrea yang masih tertunduk dalam sambil meremas jari jari tangannya, bahkan Edrea tidak bergeming sedikit pun saat ia mengetahui jika saat ini Dokter Wilfreed sedang memperhatikan gerak geriknya lewat lirikan mata tajam itu yang seperti terlihat sedang kesal.


Astaga apa yang harus aku lakukan, sepertinya kak Wil marah, ah.. aku jadi sesak nafas, bagaimana jika kak Alpha mengetahuinya, apa kak Alpha akan seseram Kak Wil saat sedang marah?


Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Dokter Wilfreed berdehem dan membuat Edrea semakin tertunduk.


"Dari mana saja kamu? Apa kau tau aku sangat panik saat tau kau menghilang begitu saja tadi?" Tanya Dokter Wilfreed membuka pembicaraan.


"Ma.. Maaf, tadi... "


"Bagaimana jika seandainya tadi aku tidak menemukanmu, akan semarah apa kakakmu jika dia mengetahuinya,"


"Iya.. Maaf, aku hanya... " Jawab Edrea terbata.


"Lain kali seharusnya izin dulu kalau mau kemana mana, kakakmu itu sangat mengerikan jika sedang marah, mulutnya lebih tajam dari pisau operasiku jika dia sudah mulai mengomel, asal kau tau." Omel Dokter Wilfreed.


Apa bedanya dengan kak Wil, Edrea.


"Aku hanya khawatir kau tersesat, dan terjadi apa apa, biar bagaimanapun aku yang bertanggung jawab atas dirimu untuk saat ini." Lanjut Dokter Wilfreed sambil terus fokus pada kemudinya, sedang Edrea hanya bisa terdiam sambil memautkan bibirnya saat mendengar omelan Dokter tampan tersebut.


"Maaf kak, tadi aku tidak sengaja berjalan jauh karena keasyikan mengamati ikan ikan di.... "


"Ikan? Kamu.. "


Dokter Wilfreed menarik nafas dalam sambil memijat tengkuk lehernya yang sejak tadi menegang. Sedang Edrea hanya menampakkan senyum lebarnya yang membuat Dokter Wilfreed menggeleng pelan.


"Sebaiknya kita bergegas pulang, sebelum Alpha sampai kerumah, dia akan sangat marah jika tidak mendapatimu di rumah saat dia pulang." Balas Dokter Wilfreed menambah kecepatan laju mobilnya.


"Iya kak, maaf.. jika aku merepotkan kak Wil." Ucap Edrea merasa menyesal.


"Iya kak, tapi.. "


"Ada apa?" Tanya Dokter Wilfreed melihat Edrea sekilas.


"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Edrea terlihat ragu.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kak Alpha memang selalu overprotective seperti itu?" Balas Edrea yang membuat Dokter Wilfreed terdiam sejenak.


Aku sendiri bahkan baru menyadari jika All memiliki sikap overprotective yang begitu berlebihan.


"Hmm, kamu benar, Alpha seorang yang overprotective, dan itulah tabiat dari kakakmu." Jawab Dokter Wilfreed.


"Tapi kenapa?" Tanya Edrea sekali lagi yang sepertinya belum puas dengan jawaban dari Dokter Wilfreed.


"Tentu saja karena All sangat menyayangi dan ingin melindungimu sebagai adiknya."


"Aku tahu, tapi.. Bukankah itu terlalu berlebihan?" Gumam Edrea jika kembali mengingat betapa ketatnya peraturan yang di terapkan oleh Alpha untuknya, bahkan ia tidak pernah mendapatkan izin sekalipun untuk keluar Panthouse tampa di dampingi Alpha ataupun Bodyguard, bahkan Edrea nyaris tidak pernah melakukan apapun sendrian, sebab semua sudah di lakukan oleh pelayan yang di tugaskan Alpha untuk menjaga dan melayani Edrea.


"Bahkan aku tidak bisa melakukan apapun, selain makan, mandi, dan bernafas." Lanjut Edrea lagi.


Yah, Alpha melakukan itu karena banyak yang mengincarmu di luar sana selain dia juga merasa bersalah sebab kau terluka sampai kehilangan ingatanmu karena dia. Wilfreed.


"Aku kan juga bosan kalau mesti seharian di rumah terus kak." Kelu Edrea.


"Iya aku tau, tapi yang kakakmu lakukan itu demi kebaikanmu." Ucap Dokter Wilfreed.


"Iyaa.. Oh iya kak, mengenai kecelakaan itu, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Edrea lagi.


"Maksudmu? Kecelakaan apa?"


"Kecelakaan mobil yang aku alami hingga membuat aku kehilangan ingatan sendiri."


Jadi itu yang Alpha katakan tentang hilangnya ingatan gadis ini.


"Sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya, sebab kondisimu saat ini belum bisa memikirkan hal hal berat seperti itu, kepalamu bisa sakit nanti." Jawab Dokter Wilfreed.


"Aku tidak khawatir jika sakit, sebab aku bersama Kak Wil sekarang, Kak Wil kan seorang Dokter yang siaga." Goda Edrea terkekeh sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tsk, jadi seperti itu?" Balas Dokter Wilfreed menggeleng dengan senyumnya yang terlihat begitu menawan. Dan tidak bisa di pungkiri jika dokter Wilfreed adalah seorang pria yang memiliki wajah yang cukup tampan dengan senyuman yang rupawan, senyum yang bisa menarik tiap kaum hawa yang melihatnya, meskipun untuk mendapatkan hati seorang Wilfreed adalah hal yang sulit.


Hingga 25 menit berlalu, mobil mereka pun sudah terparkir di dalam garasi Panthouse Alpha. Dan Dokterr Wilfreed akhirnya bisa bernafas lega, sebab belum ada mobil Alpha yang terparkir di sana. Dengan bergegas mereka berdua masuk ke dalam Panthouse sebelum Alpha benar-benar mendapati mereka sedang berada di luar.


* * * * *


* MANSION CHRIS CULLEN.


GUBRAAK..


Tuan Chris menendang meja yang berada di hadapannya dengan sangat keras, hingga semua benda yang berada di atas meja tersebut ikut berhamburan.


"APA MAKSUDMU GAGAL?" Tanya Tuan Chris dengan nada meninggi.


"Gadis itu di bawah lari dan di sembunyikan oleh Tuan muda Elard." Jawab salah satu bodyguard Tuan Chris yang tadi berada di taman untuk mengikuti Tuan muda mereka.


"Apa? El?" Tanya Tuan Chris mengernyit.


Kenapa anak itu jadi ikut campur dengan urusanku, apa dia mengenal jalang itu? Sialan.. Sebaiknya kau jangan coba coba mencari masalah Elard.


"Iya Tuan, jadi kami kesulitan untuk menangkap gadis itu, dan sepertinya gadis itu tidak sendirian, dia temanin oleh Dokter Wilfreed."


"Wilfreed Maximilian? Begitu rupanya, apa Dokter itu sedang berusaha membantu anak sialan itu? cih.. sungguh suatu persahabatan yang menyentuh." Sindir Tuan Chris dengan smirknya.


"Yang jelas saat ini Dokter Wilfreed selalu bersama Tuan Alpha." Balas Kang Daniel.


"Menarik, apa perlu kita singkirkan Dokter itu juga?" Tanya Tuan Chris dengan senyum smirk yang masih menempel di wajah dinginnya. Hingga netranya menangkap sosok Elard yang baru masuk dari pintu depan dan langsung melangkah menuju kamarnya tampa menyapa sedikitpun seperti kebiasaannya.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Tuan Chris yang langsung menghentikan langkah kaki Elard.


"Cari angin." Jawab Elard yang masih terdiam di tempatnya.


"Benarkah? Apa kau bersenang-senang hari ini?" Tanya Tuan Chris yang masih menampakkan senyum mengerikannya.


"Maksud Ayah?" Tanya Elard menyatukan keningnya sambil menatap ayahnya dengan tatapan tajamnya, begitupun dengan Tuan Chris yang juga balas menatap putranya dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya.


Elard sempat melihat kekacauan di sana, dengan meja yang masih dalam posisi terbalik dan juga beberapa benda yang nampak berserakan di lantai.


Apa Ayah sudah mengetahui jika tadi aku sempat menyelamatkan gadis itu dari kejaran bodyguardnya? Elard.


"Ayah harap kau tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri El, ingat tujuanmu datang kemari, dan seharusnya kau tetap patuh pada ayah, apa kau mengerti?" Lanjut Tuan Chris dengan nada yang penuh ancaman, meskipun terlihat jelas Tuan Chris sedang tersenyum saat ini, namun Elard tahu, jika ayahnya sedang merasa sangat marah saat ini.


Tidak akan aku biarkan Ayah, dan jika ini menyangkut soal gadis itu, maka akan menjadi urusanku sekarang, aku akan melindungi gadis itu Ayah, meskipun aku harus menentang Ayah. Elard.


"Kenapa kau diam saja Elard? Ayah rasa pendengaranmu masih sangat baik, dan satu lagi, jika urusanmu sudah selesai di sini, sebaiknya kau kembali ke Kanada." Ucap Tuan Chris yang kali ini terlihat nampak serius.


Tatapan Elard semakin tajam menatap ayahnya, bahkan ia tidak bisa berkata kata lagi, Elard hanya bisa terdiam dan berusaha bersikap tenang.


"Iya Ayah, aku minta maaf." Balasnya singkat.


"Bagus, Ayah tahu kau adalah anak ayah yang tidak akan pernah membangkang dan akan selalu menuruti semua perintah ayah." Balas Tuan Chris yang hanya di balas anggukan perlahan oleh Elard yang kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan langsung menuju ke kamarnya.


"Saya yakin, Tuan muda tidak akan pernah mengecewakan anda Tuan," Lanjut Kang Daniel.


"Tapi kenapa aku selalu merasakan hal yang lain dari anak itu."


"Iya Tuan, saya mengerti, mungkin saja itu pengaruh umur Tuan muda yang semakin dewasa, begitupun juga dengan pemikirannya yang juga ikut berubah, tapi saya yakin, Tuan muda masih sama seperti yang dulu, mencintai dan menghormati anda."


"Semoga saja. Aku hanya tidak mengharapkan Elard seperti Emery. menentangku seenaknya."


"Iya Tuan, saya mengerti perasaan Anda." Jawab Kang Daniel yang kembali merasakan kegelisahan di hatinya, saat kembali mengingat Emery, bahkan ada rasa sedih di sudut hatinya sebab sampai saat ini ia masih belum mengetahui keberadaan dan kabar dari Emery, sosok yang sudah sejak lama ada di dalam hatinya. Bahkan sebelum Emery mengenal Alpha Khandra, Kang Daniel sudah terlebih dahulu mencintai Emery dalam diam.


"Ahkk sial.. " Umpat Tuan Chris yang membuat Kang Daniel terkejut.


"Tuan, Anda baik baik saja?" Tanya Kang Daniel saat melihat Tuan Chris mencengkram keras rambutnya sendiri.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.