
* HOSPITAL.
Tubuh Alpha terpaku di sebuah kursi depan ruang Operasi yang di dalam sana masih terbaring tubuh Starla dan beberapa Dokter yang tengah menanganinya. Tidak ada satu kalimat yang keluar dari mulutnya, tatapannya terus tertuju pada pintu ruang Operasi yang masih tertutup rapat.
Apa aku harus kehilangan seseorang yang aku sayangi lagi? Ayah, Edrea, Bibi.. Semuanya telah kau ambil dariku, apa sekarang kau akan mengambil Starla lagi dariku? Apa kau benar-benar tidak akan membiarkan aku merasakan kebahagiaan? Kenapa? Kenapa harus Starla..
Alpha terus terdiam dengan tubuh yang semakin bergetar, saat ia berusaha untuk menahan air matanya. Sedang tidak jauh dari tempatnya sekarang nampak Lucas yang juga masih terdiam di sana sambil tertunduk menatap ujung sepatunya, bahkan bajunya yang masih di penuhi darah Starla masih menempel dan tidak di pedulikannya sedikitpun. Hingga dalam waktu beberapa detik saja Lucas kembali menangkap bayangan yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Starla bisa jadi seperti ini!"
Satu kalimat keluar dari mulut Alpha, yang tentu saja, kalimat yang berbentuk seperti pertanyaan tersebut di tujukan untuk Lucas yang masih tertunduk dalam diam.
"Bukankah selama ini kau selalu bersamanya? Kenapa? KENAPA DIA BISA MENJADI SEPERTI SEKARANG?" Teriak Alpha yang tidak bisa lagi menahan amarahnya, bahkan dengan gerakan cepat Alpha meraih tubuh Lucas dan langsung mencengkram kera baju Lucas dengan sangat keras.
"Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri, apa yang sudah kau lakukan padanya," Ucap Lucas dengan tatapan dinginnya.
"Apa?" Tanya Alpha dengan wajah datarnya yang semakin terlihat dingin.
"Tsk, bahkan kau tidak tahu, jika Starla jadi seperti ini karena dirimu."
"Apa maksudmu? APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN? BICARALAH YANG BENAR SEBELUM AKU MEMBUNUHMU BANGSAT."
"KAU YANG MEMBUATNYA JADI SEPERTI INI, KAU MEMATAHKAN HATINYA, DIA MELIHAT SEMUANYA.. SEMUA YANG KALIAN LAKUKAN.. APA KAU BELUM SADAR JUGA?" Balas Lucas yang juga balas mencengkram kera baju Alpha yang masih sangat basah akibat terkena air hujan.
"Apa maksudmu, apa yang sudah Starla... " Alpha menghentikan kalimatnya saat ingatannya kembali tertuju kepada Emery dan beberapa kejadian yang tidak sengaja mereka lakukan beberapa jam lalu.
Tidak mungkin.. Ini tidak seperti apa yang Starla pikirkan..
"Kenapa diam saja? Apa kau sudah tidak memiliki kata-kata lagi sekarang? Jadi aku sarankan SEBAIKNYA KAU PERGI DARI SINI."
"AKU TIDAK AKAN PERGI KEMANAPUN." Balas Alpha seraya mendorong tubuh Lucas yang kembali menghantam pilar bercat putih tersebut.
"BANGSAAAAT... " Teriak Lucas yang langsung menghantam wajah Alpha dengan satu pukulan keras, yang tentu saja langsung di balas oleh Alpha dengan satu tendangan keras, hingga perkelahian merekapun tidak terelakkan, bahkan para perawat yang kebetulan melihat perkelahian dua pria yang sama-sama memiliki wajah tampan tersebut tidak berani menghampiri apalagi untuk melerai.
"HENTIKAN.. Apa yang kalian berdua lakukan? ini rumah sakit, bukan arena boxing."
Serga Leon dan Keano yang datang secara bersamaan dan langsung melerai perkelahian keduanya, yang kini wajah mereka masing-masing sudah memiliki luka memar dan lebam. Meski harus membutuhkan waktu setidaknya beberapa menit untuk membuat keduanya berhenti saling menyerang.
"Alpha.. Hentikan," Seru Leon yang dengan sekuat tenaga mencengkram lengan dan langsung memeluk tubuh Alpha yang sepertinya sudah hilang kendali. Begitupun dengan Lucas yang kini lengannya tengah di cengkram oleh Keano yang saat ini tengah berusaha menenangkan Lucas.
"Lihatlah kalian, apa kalian bocah?" Omel Leon dengan nafas yang masih tidak beraturan karena kelelahan.
"Tuan muda.. Leon.. Apa yang terjadi?" Tanya Dareen yang baru saja tiba dan mendapati Leon dengan nafas yang terengah dan masih memegangi tangan Alpha yang tengah mengusap darah di sudut bibirnya yang membiru.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya baru saja melerai dua pria kesetanan yang sepertinya tengah di rasuki mahluk halus." Jawab Leon sambil menatap Alpha yang masih menatap Lucas dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Starla?" Tanya Leon perlahan saat melihat Alpha yang mulai tenang.
"Starla mencoba membunuh dirinya sendiri." Jawab Alpha dengan wajah yang terlihat memerah.
"Apa? Lagi?" Tanya Leon mengernyit.
"Lagi? Jadi sebelumnya Starla pernah melakukannya?"
"Hm,"
"Apa dia bodoh?"
"Menurutmu dengan masa lalu kelam yang pernah Starla lalui seorang diri akan membuatnya selalu kuat? Dia hanya seorang wanita biasa yang juga memiliki sisi lemah," Balas Leon yang langsung membungkam mulut Alpha yang kembali mengarahkan pandangannya ke arah Lucas yang masih menatapnya dingin.
Hingga setengah jam berlalu, suasana masih terlihat tenang di lantai dasar tepat depan ruang Operasi. Dari ekspresi mereka yang masih menunggu berjalannya Operasi yang sudah berlangsung selama dua jam menandakan jika semua tidak dalam situasi yang tidak baik.
Alpa yang masih tertunduk dalam diamnya hanya bisa terus meremas jari-jari tangannya, bahkan sesekali ia terlihat mengusap wajahnya. Begitupun dengan Lucas yang masih terdiam dengan raut wajah yang di penuhi dengan kesedihan, sampai akhirnya terlihat dua orang sosok berseragam serba hitam yang tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Lucas.
"Maaf Tuan Muda, kami mendapatkan perintah darin Tuan besar untuk membawa anda kembali ke Mansion utama." Ucap salah satu pria yang tidak lain adalah pengawal pribadi Tuan Fridell.
"Aku tidak akan ke mana-mana, sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini." Jawab Lucas yang langsung menolak.
"Maaf Tuan muda, kami tidak bisa pergi tampa anda. Ini perintah langsung dari Tuan besar."
"Apa kau tuli? Aku tidak akan pergi kemanapun." Balas Lucas yang masih bersikeras.
"Tuan muda, sebaiknya anda mengikuti perintah Ayah anda." Ucap Keano sedikit berbisik.
"Tidak Ken.. Aku tidak akan kemanapun. Aku akan tetap di sini menjaga Starla." Balas Lucas dengan wajah dinginnya sambil terus menatap tajam dua pria suruhan Ayahnya.
"Maaf Tuan muda, jika Tuan muda menolak, kami terpaksa harus memaksa anda untuk pulang." Balas salah satu pengawal Tuan Fridell yang langsung mencengkram bahu Lucas.
"Kalian berani memaksaku?" Ucap Lucas yang dengan keras langsung menepis tangan pria suruhan Ayahnya, bahkan mendorongnya.
"Maaf Tuan, ini perintah Tuan besar,"
"Persetan.. " Seru Lucas yang langsung melepaskan pukulan tepat ke wajah pria tersebut, meski pukulannya yang kedua kali berhasil di halau oleh mereka dan langsung mengunci pergerakan Lucas.
"LEPASKAN BANGSAT.. " Teriak Lucas saat kedua pria tersebut mencengkram kedua bahu dan lengan Lucas.
"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN.. LEPASKAN SEKARANG JUGA.. AARRGGHH.. " Teriak Lucas yang kini sulit untuk bergerak, hanya kedua kakinya yang berusaha menendang apa saja, meski yang Lucas lakukan sia-sia, sebab kedua pengawal yang kini tengah memegangi tubuh Lucas bukanlah pengawal sembarang, tetapi pengawal pilihan Tuan Fridell yang sengaja ia kirim untuk membawa Lucas.
"Tuan muda.. Tenanglah," Ucap Keano yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menenangkan Lucas yang masih berusaha untuk melawan.
Sedang Alpha dan Leon yang menyaksikan hal tersebut hanya terdiam mengamati, menatap dengan tatapan tajam, bahkan Leon yang sejak tadi memperhatikan apa yang di lakukan kedua pria tersebut tiba-tiba merasa geram. Hingga akhirnya teriakan dan perlawanan Lucas terhenti saat salah satu dari pria tersebut menempelkan ponsel tepat di telinga Lucas. Dengan wajah yang tiba-tiba berubah gelap, Lucas yang masih mendengar perkataan sang Ayah lewat panggilan telfon tersebut langsung terdiam dengan wajah memerah, bahkan air matanya menitik kala panggilan telfon itu terputus. Keano yang mengetahui jika Lucas baru saja mendengar ancaman dari Tuan Fridell hanya bisa terdiam dengan wajah yang di penuhi kesedihan dan juga kemarahan.
"Lepaskan cengkraman tangan kalian, Tuan muda bukanlah seorang tahanan." Perintah Keano dengan wajah dinginnya.
"Tapi Tuan besar..... "
"MENURUT KALIAN DENGAN KONDISINYA SAAT INI, APA IA AKAN MENOLAK UNTUK MENGIKUTI KALIAN?" Teriak Keano yang tiba-tiba hilang kendali, saat melihat Lucas saat ini yang hanya bisa terdiam dengan air mata yang masih menetes di wajahnya.
"Baik Tuan," Ucap kedua pria tersebut yang langsung melepaskan cengkraman tangan mereka. Keano yang sejak tadi terus menatap Lucas langsung memapah tubuh Presdirnya itu dan menuntunnya untuk berjalan yang juga di susul oleh kedua pengawal Tuan Fridell tersebut.
"Terimakasih karena sudah menjaga Nona muda," Ucap Keano sedikit membungkuk kepada Alpha sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat tersebut setelah melihat anggukan pelan oleh Alpha. Sedang Lucas hanya pasrah dengan wajah yang masih terlihat ketakutan sambil terus menatap ruang Operasi tempat Starla sekarang.
Hingga 12 menit berlalu, Keano kembali dengan ekspresi wajah terlihat sangat serius, pria bertubuh tinggi kekar dan berwajah tidak kalah tampan dengan Presdirnya itu bahkan terlihat sangat terburu-buru. Langkahnya lebar menghampiri Alpha yang sudah berdiri terlebih dahulu saat melihat kedatangan Keano.
"Bisakah anda tidak meninggalkan Nona Starla sendirian?"
"Apapun itu, saya hanya berharap jangan sampai anda lalai kali ini."
"Apa maksud anda meminta saya untuk melakukan hal ini?"
"Sebab saya tidak ingin, Tuan muda kehilangan sosok yang di sayanginya lagi."
"Tsk, dan kenapa mesti aku?" Balas Alpha yang semakin terlihat gelisah namun berusaha di tutupinya dengan senyum smirknya.
"Karena untuk saat ini hanya anda yang bisa menjaganya." Jawab Keano yang seolah tidak memperdulikan tatapan tajam dari Alpha dan langsung beranjak pergi meninggalkan Alpha yang masih menatap punggung Keano dengan penuh kecemasan. Sebab ia sangat tahu, jika saat ini keadaan Starla benar-benar tidak aman. Bahkan sejak Lucas di bawah secara paksa oleh kedua pengawal Tuan Fridell, Alpha sudah merasakan firasat aneh.
"Dareen, hubungi Akirra sekarang juga." Perintah Alpha kepada Dareen yang langsung di balas anggukan oleh Dareen seraya mengambil Ponsel dibalik saku jasnya dan menghubungi Akirra yang masih stay di Mansion.
"Alpha.. " Panggil Leon seraya menatap wajah Alpha yang tiba-tiba terlihat marah bercampur cemas. Bahkan tampa mendengar perkataan dari Alpha pun, pria bertubuh tinggi kurus itu sudah bisa menebak jika keadaan sekarang tidaklah baik.
"Setelah Operasi Starla selesai, langsung pindahkan dia Ke rumah sakit keluarga Berta." Perintah Alpha kepada Leon yang hanya mengangguk pelan.
"Apa seburuk itu?" Tanya Leon perlahan.
"Hm, kau tahu kan sekarang kita sedang berada di rumah sakit milik keluarga Elfredo, tempat di mana Ibu Starla di rawat, aku hanya tidak ingin semua terulang lagi." Ucap Alpha.
"Aku mengerti. dan aku sudah menghubungi Dokter Arven agar menyiapkan semuanya. Sebaiknya kau tenang dulu." Balas Leon saat melihat Alpha yang mulai gelisah dan terus mondar-mandir di depan ruang Operasi yang sudah berlangsung 3 jam tersebut.
"Bagaimana aku bisa tenang, sedang aku tahu jika di dalam sana masih ada Starla yang sedang berjuang untuk hidup. Dia sekarat Yoon.. " Ucap Alpha yang nampak terlihat kacau.
"Alpha.. Starla akan baik-baik saja. Tenanglah.. "
"Aku tidak mempercayai semua orang-orang yang behubungan dengan Elfredo, dan sekarang Starla tengah di tangani oleh adik dari Fridell Elfredo."
"Dokter Hanenda tidak mungkin melakukan kesalahan, dia seorang Dokter. Dan yang aku tahu, Dokter Hanenda sedikitpun tidak pernah mengikuti jalan Tuan Fridell, dia berbeda."
"Aku juga berharap demikin, AARRGGHHH... TAPI KENAPA MEREKA BELUM KELUAR JUGA?" Teriak Alpha yang kelihatan prustasi bahkan dengan keras ia menghantam sebuah pilar dengan kepalan tangannya.
"Alpha... Tenanglah.. "
"Selamat siang Tuan muda." Sapa Akirra yang baru saja datang dengan beberapa pengawal yang lain.
"Awasi ruang Operasi tersebut, jika ada yang mencurigakan cepat laporkan kepadanya," Balas Leon yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alpha yang masih duduk di sebuah kursi depan ruang Operasi sambil tertunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
* * * * *
* MANSION UTAMA.
"LEPASKAN AKU... "
Teriak Lucas sambil melemparkan semua barang-barang yang berada di dalam kamarnya, hingga semuanya menjadi hancur berantakan.
"KEEEEN.... KEEENN... BUKA PINTUNYA AARRHHHHGH.. "
Lucas yang terus berteriak sambil mendobrak pintu kamarnya berkali-kali, membuat Keano yang tengah berada di balik pintu kamar Lucas hanya bisa terdiam dengan wajah memerah menahan amarah. Sedang Tuan Fridell yang juga tengah berada di sana sambil mengamankan dirinya di sebuah sofa masih nampak terlihat lebih tenang.
"Bukankah sudah aku peringatkan, jangan biarkan Lucas menemui gadis itu lagi? Tapi kenapa kau masih membiarkannya Ken?" Tanya Tuan Fridell yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Keano yang masih berlutut di bawah kaki Tuan Fridell.
Keano yang bersimpuh agar Tuan Fridell mau melepaskan Lucas dan tidak mengurungnya di dalam kamar tersebut bahkan tidak di perdulikan oleh Tuan Fridell. Bahkan sudah satu jam Keano terus berlutut, namun tetap saja, hati Tuan Fridell tidak tergerak sedikitpun.
"Maaf.. Saya hanya tidak bisa melihat Tuan Lucas merasakan kesedihan dan rasa bersalah terus menerus,"
"Tsk, dan hanya karena itu kau sampai mengabaikan segala perintahku?"
"Maafkan saya Tuan besar,"
"Seharusnya kau tidak melakukan hal yang bisa membuat saya murka Ken. Apa kau lupa dengan posisimu sekarang?"
"Maaf Tuan besar, jika saya lancang, tapi saya sudah tidak bisa melihat Tuan muda tersiksa lagi, 10 tahun sudah cukup untuknya,"
"Diam kau. Aku tau dengan pa yang harus aku lakukan. Dia putraku sendiri."
"Maaf Tuan besar,"
"Sebaiknya kau bergegas, malam ini penerbangan ke Amerika pukul 10 malam dan aku tidak mau kau terlambat."
"Maksud Tuan besar?"
"Mulai sekarang aku tidak mengizinkanmu lagi untuk menjadi Asisten Lucas." Jawab Tuan Fridell.
"Tidak Tuan, saya mohon.. Jangan lakukan itu. Saya harus bersama Tuan Lucas, dia membutuhkan saya sekarang." Balas Keano memohon.
"Kau tidak bisa merubah keputusanku Ken"
"Tapi Tuan besar.. Saya."
"BERHENTI MEMBANTAHKU KEN." Bentak Tuan Fridell dengan suara kerasnya.
"Maaf Tuan besar,"
"Kau tidak berhak untuk berbicara, apapun alasannya. Kau hanya cukup diam dan dengarkan semua perintah ku, apa kau paham?"
"Kenapa? Apa karena aku hanya seorang anak haram? Anak yang tidak anda harapkan sama sekali?" Jawab Keano dengan mata berkacanya. Bahkan Keano yang sejak tadi tertunduk menatap ujung sepatu Tuan Fridell kini berani mengangkat kepalanya dan menatap wajah Tuan Fridell, wajah sang Ayah tiri yang selama ini tidak pernah menganggapnya sebagai seorang anak.
"Tutup mulutmu."
"Kenapa saya tidak berhak untuk berbicara? Apa karena saya terlalu kotor buat anda?"
"AYAH BILANG DIAM KEN.. " Teriak Tuan Fridell geram.
"Maafkan saya Tuan Besar, saya hanya ingin melindungi adik saya, sudah cukup. Bukankah dia putra yang sangat anda sayangi? Tapi kenapa anda tega membuatnya merasakan sakit seperti sekarang ini?"
"Kau terlalu banyak bicara Ken bahkan sampai melupakan siapa dirimu dan posisimu, seharusnya saat itu aku tidak membiarkanmu tumbuh bersama Lucas, seharusnya kau tumbuh besar di tempat yang jauh,"
"Maafkan saya.. "
* * * * *
* TO BE CONTINUED.