
* HOSPITAL.
Dengan perasaan gelisah Alpha terus berdiri di depan pintu ruangan Operasi sambil menunggu Dokter Hanenda membawa kabar baik untuknya, kabar tentang kondisi Leon yang ia harapkan akan baik-baik saja. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Alpha selain air mata yang terus menitik dari sudut matanya.
"Tuan Alpha, Leon akan baik-baik saja. Percayalah.." Ucap Dareen yang berusaha menenangkan hati Alpha yang sejak tadi sudah di penuhi rasa takut akan kehilangan Leon.
Bahkan Dareen semakin merasa khawatir saat melihat Alpha yang tidak berbicara sedikitpun. Alpha yang biasanya akan berteriak, meluapkan amarahnya, kini berbeda, Alpha hanya terus tertunduk dengan air matanya, meremat tangannya keras, dan terus mengusap wajahnya kasar.
Tidak jauh berbeda Alpha sekarang, saat ini keluarga Elfredo juga tengah merasakan kesedihan sebab putra bungsu dari keluarga Elfredo juga tengah berjuang untuk hidup di ruang operasi yang sama dengan Leon sekarang.
"Ayah.. Tenanglah.. Lucas sudah di tangani oleh Dokter. Percayakan semua pada Dokter," Ucap Kang Daniel.
"Dan kau sendiri? Bagaimana dengan lukamu?"
"Ini hanya luka kecil Ayah, saya tidak apa-apa." Jawab
"Lalu, apa mayat Tiar Galenka sudah di temukan? Seharusnya bajingan itu ikut terbakar di gudang itu kan?" Tanya Tuan Fredell.
"Dia tidak mungkin lolos, sebelumnya dia sudah terluka parah, pisau yang tertancap di tubuhnya tidak akan membuatnya bertahan hidup." Balas Kang Daniel yang masih duduk di samping Tuan Fredell hingga netranya tertuju pada sosok yang tengah melangkah menghampirinya.
"Daniel.. "
Suara Emery tiba-tiba terdengar menyapa indera pendengaran Kang Daniel yang langsung berdiri dan menyambut kedatangan Emery.
"Apa kau baik-baik saja? Lukamu," Tanya Emery yang dengan pandangan yang langsung tertuju ke bahu dan paha Kang Daniel yang sudah terbungkus perban.
"Aku tidak apa-apa, aku masih bisa berdiri dengan benar, sungguh, berhentilah khawatir."
"Syukurlah.. Aku benar-benar terkejut saat mendengar kabar tersebut, aku takut jika kau tidak bisa mengatasinya."
"Semua berjalan baik, mungkin karena keluarga Berta ikut membantu."
"Keluarga Berta? Jadi, Alpha.."
"Hm, jika aku harus menceritakan semuanya, kenapa Alpha bisa berada di sana, itu sangat panjang."
"Tapi.. Apa Alpha baik-baik saja? Dia nampak.. " Pandangan Emery langsung seketika langsung tertuju kepada Alpha yang masih tertunduk dengan air matanya membuat hati Emery terasa sakit. Tiba-tiba saja ia bisa melihat Alpha saat dua tahun lalu, di mana Alpha terlihat sangat hancur dan menangis di depan mayat adiknya Edrea.
"Alpha... " Gumam Emery yang langsung menitikkan air mata.
"Emery.. Ada apa? Kau menangis?" Tanya Kang Daniel yang langsung mengusap air mata Emery.
"Aku.. "
Kang Daniel yang sudah paham dengan air mata Emery langsung menarik nafas dalam, dengan lembut ia mengusap rambut panjang Emery.
"Leon sedang sekarat saat ini."
"Apa? Leon?"
"Iya, kau bisa menemuinya, jika kau merasa khawatir padanya, aku yakin, dia pasti sedang membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya saat ini." Ucap Kang Daniel perlahan.
"Tapi.. "
"Aku tidak apa-apa, aku akan menunggumu disini." Ucap Kang Daniel dengan senyum di bibirnya,
Dengan perlahan Emery melangkah mendekati Alpha yang masih tertunduk, mengusap surai legam itu dengan lembut.
"Semua akan baik-baik saja."
Ucap Emery, yang membuat Alpha semakin terisak, bahkan tampa Alpha sadari, dengan tiba-tiba meraih tubuh Emery dan di bawah dalam pelukannya, pelukan erat yang membuat Alpha semakin terisak.
Kenapa hanya kau yang selalu bisa membuatku selalu merasa lebih baik Emery. Kau Satu-satunya wanita yang selalu menayakan apa aku baik-baik saja. Bahkan pelukanmu selalu bisa membuatku nyaman. Aku mohon.. Jangan membuatku mengambil keputusan yang salah.
"Please don't cry Alpha," Bisik Emery sambil terus mengusap punggung Alpha lembut.
"Aku takut.. Sungguh.. Aku takut kehilangan siapapun lagi Emery, sudah cukup.."
"Alpha... Kau tidak akan kehilangan siapapun lagi sekarang, Leon pasti akan baik-baik saja, dia tidak akan meninggalkanmu, percayalah.."
"Terimakasih Emery, terimakasih sudah membuatku merasa jauh lebih baik."
"Apapun itu Alpha, jadi aku mohon.. do not Cry anymore." Balas Emery semakin erat memeluk tubuh Alpha, tampa menyadari jika ada satu hati yang sudah merasa tersakiti di sana.
Kang Daniel yang sejak tadi memandang Emery yang tengah berada di dalam pelukan Alpha hanya bisa menarik nafas dalam, berusaha menahan perih di hatinya.
Aku tahu kau masih sangat mencintainya Emery, meskipun seribu kali kau mengatakan cinta padaku, tapi aku tahu, pemilik hatimu adalah Alpha, sampai kapanpun, hanya akan ada Alpha di hatimu.
Perlahan Kang Daniel beranjak dari duduknya, menyeret langkahnya menuju ke arah Tuan Fredell yang masih setia menatap pintu ruang operasi. Hingga pria paru baya itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Kang Daniel yang langsung duduk di sampingnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Tuan Fredell saat melihat Kang Daniel tengah memijat sudut matanya sambil memejam.
"Saya hanya sedikit pusing Ayah," Jawab Kang Daniel sambil mengusap wajahnya perlahan.
"Tapi kau menangis Daniel, apa karena dia?" Tanya Tuan Fredell dengan pandangan yang kembali tertuju kepada Emery yang masih berusaha menenangkan Alpha.
"Daniel.. Inilah alasannya kenapa Ayah tidak pernah menginginkan kau berhubungan dengan Putri Chris, kau paham kan? Karena akan ada saatnya di mana kau merasa sakit seperti sekarang ini."
"Sudahlah Ayah, Saya sedang tidak ingin membahas masalah ini. Saya akan keluar sebentar untuk mencari udara segar." Ucap Kang Daniel yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya sambil berusaha mengatur perasaannya. Hingga ia merasakan tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang saat tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang mengenakan pakaian serba putih hingga terlihat seperti seorang Dokter.
"Maaf... " Ucap Kang Daniel sedikit meringis saat bahunya menghantam tubuh tinggi yang langsung meraih tubuh dan mengapit lehernya, bahkan mengunci pergerakan Kang Daniel yang mencoba untuk melepaskan dirinya.
"Apa kau yakin tidak sengaja menabrakku?" Tanya Pria yang berseragam Dokter tersebut yang ternyata adalah Tuan Tiar Galenka yang masih hidup. Bahkan tanpa aba-aba ia langsung mencengkram bahunya Kang Daniel yang masih terbalut perban.
"Aargghh... " Jerit Kang Daniel saat cengkraman Tuan Tiar menembus luka tembaknya dan kembali mengeluarkan darah.
"BRENGSEK.. APA YANG KAU LAKUKAN BIADAP.. " Teriak Tuan Fredell yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Tuan Tiar yang langsung menodongkan sebuah pistol di kepala Kang Daniel.
"Sebaiknya diam di tempatmu Fredell." Ancam Tuan Tiar, namun belum sempat ia menarik pelatuk, tangan gesit Alpha langsung meraih pistol di balik punggungnya dan menembakan pelurunya tepat mengenai tangan Tuan Tiar hingga membuat pistol yang ia gunakan untuk mengancam Kang Daniel terjatuh ke lantai.
"Aargghh... Kau... " Erang Tuan Tiar seraya memegangi telapak tangannya yang terluka.
"Daniel... " Seru Emery yang langsung berlari ke arah Daniel, namun langkahnya terhenti saat Tuan Tiar dengan gerakan cepat mencengkram tangannya dan menodongkan sebuah pisau tepat di lehernya.
"Alpha... " Gumam Emery dengan pandangan yang langsung tertuju ke arah Alpha seolah sedang memohon untuk menyelamatkannya.
"LEPASKAN DIA KEPARAT.." Teriak Alpha dengan raut wajah yang terlihat ketakutan.
"Aku akan melepaskannya, setelah kau menyerahkan dia untukku." Ucap Tuan Tiar dengan seringaiannya saat pandangannya tertuju kearah Kang Daniel yang masih menahan rasa sakit.
"JIKA KAU SAMPAI MELUKAINYA, AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU, LEPASKAN DIA BANGSAAAT JANGAN SAKITI DIA...."
Teriak Alpha dengan air matanya, sambil mengacungkan pistolnya ke arah Tuan Tiar saat melihat darah segar yang mulai menetes dari leher Emery, bahkan Kang Daniel langsung terdiam saat melihat reaksi Alpha yang terlihat sangat panik dan ketakutan, begitu pula dengan Emery yang masih terus menatap wajah Alpha.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat bahagia, sebab bisa melihat air matamu untukku Alpha, bisa melihat rasa takutmu.
"Jangan jadi seorang pengecut. Hadapi aku sekarang." Seru Tuan Fredell yang langsung melepaskan jasnya. "Apa kau memang selalu menggunakan kekuatanmu hanya untuk seorang wanita? Dulu kau melecehkan Yuwa, bahkan sampai membunuhnya, membiarkan istrimu meninggal begitu saja, bahkan berusaha menculik anakmu sendiri demi menghancurkan keluarga Efredo, apa kau kira bisa semudah itu melakukannya? dan sekarang kau kembali mengancam seorang wanita, apa kau seorang pria?"
"DIAM KAU FREDELL, aku tidak akan melakukan ini semua jika kau tidak menghancurkan semua bisnisku, dan sekarang.. Aku benar-benar akan membalasmu."
"CUKUP. Aku akan ikut denganmu, tapi lepaskan dia," Ucap kang Daniel perlahan yang langsung berusaha untuk berdiri.
"APA YANG KAU KATAKAN?" Teriak Tuan Fredell saat mendengar permintaan Kang Daniel.
"Ssstt... Kau terlalu berisik Fredell," Balas Tuan Tiar menyeringai dengan telunjuk yang di tempelkan di ujung bibirnya.
"Baiklah.. Itu pilihan yang bagus," Sambung Tuan Tiar.
Dengan perlahan kang Daniel melangkah mendekati Tuan Tiar dengan kedua tangan yang ia angkat ke atas,
"DANIEL BERHENTI... BERHENTI KATAKU... " Teriak Tuan Fredell
"Daniel.. Jangan.. Jangan lakukan itu, sudah cukup selama ini kau berkorban untukku." Ucap Emery..
"Bukankah sudah aku katakan, aku akan terus melindungimu, tidak perduli dengan siapapun kau nantinya,"
"Cukup dramanya."
Ucap Tuan Tiar, dengan senyum smirknya ia langsung mendorong tubuh Emery dengan kuat, hingga tubuh itu terhuyung kedepan, beruntung Alpha dengan cepat berlari meraih tubuh itu dan langsung di peluknya erat.
"Syukurlah... Kau tidak apa-apa.. Kau tidak apa-apa... " Ucap Alpha semakin erat memeluk tubuh Emery, entah Alpha menyadarinya atau tidak, ia terus mencium wajah Emery, bahkan mengecup luka gores di leher Emery dengan air matanya.
"Alpha.. Aku baik-baik saja, tenanglah.." Bisik Emery perlahan untuk menenangkan perasaan dan menghilang rasa takut Alpha.
Air mata kembali mengalir dari sudut mata Starla yang ternyata sudah sejak tadi berada di sana dan menyaksikan semuanya. Lagi-lagi Starla kembali tertampar oleh kenyataan jika Alpha yang kemarin pernah sangat mencintainya, pernah mengeluarkan air mata untuknya, bahkan memohon agar membiarkan Alpha tetap di sampingnya ternyata sudah tidak ada. Dan ia sadar jika hari ini ia sudah benar-benar kehilangan Alpha.
"Kau terlalu banyak membuang tenagamu Fredell, sebaiknya kau diam, dan lihat apa yang akan aku lakukan pada putramu."
"TIDAK SEMUDAH ITU.. "
Teriak Keano yang tiba-tiba muncul dan langsung melepaskan satu tembakan, hingga peluru panasnya melesat dengan cepat dan bersarang di punggung Tuan Tiar yang langsung memuntahkan darah segar di mulutnya. Bahkan sebelum Tuan Tiar mengayunkan pisaunya ke arah Kang Daniel, dengan cepat Alpha melompat dan melepaskan satu tendangan kearah Tuan Tiar yang sudah tersungkur dan langsung mengunci pergerakannya.
"Kau sungguh membuatku geram Tiar." Ucap Tuan Fredell yang langsung meraih pistol dari tangan Keano dan langsung mengarahkan tepat di kepala Tuan Tiar, menarik pelatuk dan sepersekian detik, timah panas itu sudah bersarang di kepala Tuan Tiar yang saat itu juga langsung tewas di tempat.
"AARRGGGHHH.... "
Teriak Starla saat melihat tubuh Tuan Tiar kaku dengan darah yang keluar dari kepalanya. Dan saat menyadari kehadiran Starla, Alpha langsung berlari dan meraih tubuh Starla yang sudah merosot kebawah, bersimpuh di atas lantai dengan air matanya.
"Sejak kapan kau di sini?" Tanya Alpha yang langsung memeluk tubuh Starla.
"Apa benar.. Dia yang sudah melakukan semuanya?" Tanya Starla seolah tidak percaya dengan kenyataan jika ternyata Ayahnya yang menjadi penyebab kehancurannya.
"Starla it's okay.. "
"Ayahku.. Apa dia orang seperti itu? Dia.. Dia seorang iblis.. Dia bukan Ayahku, Aarrghhh.. Aku membencinya..." Jerit Starla semakin terisak.
"Tenanglah Starla, semua sudah berakhir, semua sudah berakhir. Semua akan baik-baik saja." Ucap Alpha yang terus mengusap punggung Starla hingga membuat gadis itu merasa sedikit tenang, meraihnya untuk berdiri dan menuntunnya kesebuah kursi untuk duduk dan menenangkan perasaannya. Sedang Kang Daniel yang terluka parah, harus kembali di tangani oleh Dokter.
Lama mereka terdiam dalam keheningan, hingga akhirnya perhatian Alpha kembali tertuju kepada Emery.
"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Alpha perlahan sambil menggenggam telapak tangan Emery yang terlihat bergetar.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit perih,"
"Dareen, ambil beberapa obat untukku," Perintah Alpha yang langsung di balas anggukan oleh Dareen yang langsung melangkah pergi meninggalkan Alpha yang tengah duduk di antara Starla dan Emery.
Sungguh pemandangan yang menarik, tapi apapun keputusan anda, aku yakin, itulah yang terbaik untuk anda.
Batin Dareen yang terus melangkah ke ruang perawatan untuk meminta kotak P3K kepada seorang perawat. Hingga beberapa menit ia kembali dan melihat ketiganya masih dengan posisi yang sama, Starla yang masih nampak syok, hanya bisa terdiam dengan kepala yang tertunduk. Bahkan Dareen bisa melihat jika sekarang gadis itu tengah menangis dalam diam saat melihat Alpha yang tengah mengobati luka di leher Emery.
"Apa ini menyakitimu?" Tanya Alpha sambil mengolesi obat di luka Emery, meniupnya saat melihat wajah Emery yang sedikit meringis.
"Terimakasih All"
"Iya sayang,"
Balas Alpha mengangguk sambil mengusap rambut panjang Emery tampa menyadari Jawabannya barusannya membuat hati Starla yang mendengarnya semakin terluka, hingga akhirnya ia melihat Dokter Hanenda yang baru saja keluar dari ruang operasi dan menghampiri Alpha.
"Han.. Bagaimana keadaan Yoon?" Tanya Alpha yang langsung beranjak dari duduknya.
"Tuan Leon berhasil melewati masa kritisnya, dia baik-baik saja," Jawab Dokter Hanenda yang langsung membuat Alpha menarik nafas lega.
"Syukurlah.. Aku pikir aku akan kehilangan dia." Ucap Alpha yang langsung mengusap wajahnya.
"Tapi Tuan.. Anda nampak kacau, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Sebab saya sempat mendengar suara tembakan dari luar, apa terjadi sesuatu yang buruk?" Tanya Dokter Hanenda yang membuat Starla kembali merasakan sesak.
Bahkan sampai mayat Tuan Tiar di angkat dan di bawah ke dalam kamar mayat, Starla tidak melihat atapun mendekati Ayahnya sedikitpun, rasa benci dan amarah membuatnya berpura-pura buta dan tuli, berusaha dengan keras menahan rasa sakit di hatinya, rasa perih, yang membuatnya hatinya benar-benar sekarat.
Bahkan tampa satu kata atau pesan yang keluar dari mulut Starla, ia langsung melangkahkan kakinya, berjalan meninggalkan ruangan tersebut saat usai melihat kondisi Leon dari balik pintu kamar inap. Melihat Alpha yang untuk terakhir kalinya, dan melemparkan sebuah senyum tipis ke arah Emery.
"Bisakah kau menjaganya untukku? Buat dia selalu tersenyum, sebab Alpha sangat manis jika sedang tersenyum. Dan... Bahagiakan dia, sebab dia pantas untuk bahagia."
Ucap Starla terakhir kali kepada Emery sebelum ia benar-benar pergi, menghilang dari semua orang, bahkan Emery benar-benar menghapus jejaknya hingga tidak satupun orang yang mengetahui keberadaannya.
* * * * *
Hingga satu bulan berlalu sejak Leon keluar dari rumah sakit, sedikitpun ia belum mendapatkan kabar dari Starla, hingga membuatnya selalu merasakan kegelisahan di tiap harinya.
"Apa kau masih memikirkannya?"
"Hm, dia menghilang begitu saja, tampa satu pesan sedikitpun." Jawab Leon sambil meneguk bier dinginnya dan kembali merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Di manapun Starla sekarang, aku yakin dia akan baik-baik saja. Karena dia adalah Stara, seorang yang kuat."
"Hm, aku juga percaya itu, lalu..."
"Ada apa?" Tanya Alpha saat ia merasakan tatapan mata Leon tertuju padanya.
"Emery.. Apa yang terjadi dengan kalian? Aku dengar saat ia di ancam oleh Tiar, kau terlihat seperti orang gila,"
"Ha? Tidak terjadi apa-apa, memang apa yang kau harapkan? Kita akan terus seperti ini. Tidak akan ada yang berubah." Jawab Alpha.
"Benarkah, apa kau berharap aku akan percaya dengan ekspresi wajahmu yang nampak terlihat bingung itu?"
"Sudahlah Yoon.. "
"Jangan terus berlari dari perasaanmu Alpha Khandra, sebab sejauh apapun kau berlari dan dengan siapapun kau jatuh cinta, tapi hatimu akan tetap memilih Emery,"
"Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu Yoon?"
"Sebab Emery memiliki cinta yang tulus, perasaan yang tulus padamu, bahkan sejak dulu ia sudah memiliki itu untukmu. Dan aku juga tahu, alasanmu betah dalam kesendirian selama dua tahun ini, meskipun Starla sempat membuatmu jatuh cinta, namun akhirnya hatimu akan tetap tertuju kepada Emery."
"Tapi dia sudah memilih Daniel sekarang. Dan tidak bisa di pungkiri, Daniel memang pria yang tepat untuknya, pria yang tidak akan pernah menyakitinya, dan membuatnya menangis."
"Aku tahu itu, tapi... Jika kali ini kau melepaskannya lagi, sampai kapanpun kau tidak akan pernah memilikinya lagi." Ucap Leon yang langsung membungkam mulut Alpha dengan kenyataan yang membuat Alpha sedikit merasakan kegelisahan.
* * * * *
* KEDIAMAN EMERY.
Emery terdiam dalam lamunannya, angin sore yang terasa dingin menyapa wajah lembutnya yang tengah menengadah memandangi matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Sejak kepergian Kang Daniel di Amerika untuk menemani Lucas menjalani pengobatan akibat luka cidera kepala yang di alaminya, perasaan Emery selalu merasa sepi, ia merasa ada yang hilang, kini sudah tidak ada lagi yang mengisi kekosongan di hari-harinya.
"Berbahagialah Emery, aku tenang sekarang, sebab aku sudah yakin, ada seseorang yang ternyata sangat peduli dan takut kehilanganmu, dan aku percaya, dia bisa menjagamu sepertiku, dan akan selalu menjadi pelindungmu, meskipun kau tidak menyadarinya, tetapi dia sangat menyayangimu."
Kalimat terakhir Kang Daniel yang masih terngiang dalam ingatan Emery sampai saat ini.
Dan pada akhirnya semua orang akan pergi, dan kita akan kembali sendiri.
Dengan perlahan Emery mengusap air matanya, menutupi wajahnya sambil menunduk.
"Aku selalu takut jika harus sendiri.. " Gumam Emery dengan tangisnya.
"Izinkan aku menemani Emery.."
Kalimat permohonan yang terdengar perlahan di pendengaran Emery, suara berat yang terdengar akrab dengan satu sentuhan lembut di bahu bergetarnya, sungguh membuat Emery terkejut saat mendongak ke atas dan langsung di sambut oleh tatapan hangat dari Alpha Khandra.
"All... " Gumam Emery yang masih terus menatap wajah Alpha, wajah yang dulu selalu terlihat datar dengan tatapan dingin kini sudah hilang, berganti dengan wajah yang di penuhi senyum dan juga tatapan hangat.
"Izinkan aku menemanimu, mengisi kekosongan hatimu, tertawa bersama dan menangis bersamamu,"
"Alpha.. "
"Aku ingin kita mengulanginya lagi, aku ingin kesempatan kedua lagi darimu, dan aku mohon... Izinkan aku membayar semua kesalahanku yang sudah membuatmu banyak menangis, dan aku ingin kita rujuk." Ucap Alpha yang langsung bersujut di hadapan Emery yang masih duduk di kursinya.
"Maafkan aku Emery.. " Ucap Alpha menenggelamkan wajahnya di pangkuan Emery dengan air mata yang kembali menetes. Bahkan sentuhan hangat Emery yang mengusap lembut punggungnya membuat Alpha semakin terisak.
"Akan selalu ada kesempatan untukmu Alpha, karena aku mencintaimu,"
Ucap Emery perlahan yang langsung membuat Alpha mendongak ke atas, menatap senyum tulus Emery, juga tatapan mata yang penuh dengan cinta, tatapan mata yang tidak pernah berubah, tatapan mata yang masih sama sejak tujuh tahun.
"Terimakasih Emery, dan aku mohon... Ajari aku cara mencintaimu,"
"Kau hanya perlu berada di sampingmu Alpha,"
"Maka aku akan melakukannya,"
Balas Alpha yang langsung meraih tengkuk leher Emery dan mengecup bibir itu lembut, semakin dalam hingga membuat mereka terlarut dalam suasana sore yang menghangatkan tubuh mereka, juga menghangatkan perasaan mereka.
"Will you marry me?" Tanya Alpha berbisik di telinga Emery.
"Yes, I want to marry you." Jawab Emery mengangguk dan langsung membenamkan wajahnya di dada Alpha yang sudah mendekapnya dengan sangat erat.
...END...
^^^By _Audrey16_^^^