
"Baiklah.. Kau tahu sendiri Lucas, jika Ayah selalu bahagia jika melihatmu menjadi penurut seperti ini."
"......... "
"Bersiaplah.. Kita akan bertemu seseorang teman lama." Ucap Tuan Fridell seraya mengusap punggung putranya yang terlihat bergetar menahan amarahnya.
Dengan perlahan Lucas beranjak dan langsung melangkah masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Tuan Fridell yang masih tersenyum penuh kemenangan sambil kembali menghubungi seseorang.
"Tinggalkan rumah gadis itu, tapi ingat. Tetap awasi pergerakan gadis itu. Apa kalian mengerti?"
Ucap Tuan Fridell yang langsung menutup panggilan telfonnya. Dan kembali menyamankan dirinya di atas sofa.
Sedang Lucas yang sudah hampir gila dengan situasinya saat ini hanya bisa terdiam di bawah guyuran dinginnya air shower. Bahkan sudah satu jam Lucas berdiri di sana. Bayangan masa lalu kembali melintas kala dirinya harus merelakan semua perasaan dan cintanya saat keegoisan seseorang yang selalu mengatakan mencintainya dan menyayanginya, namun dengan tega merebut kebahagiaannya, mengambil semuanya tampa sisa hanya karena kastanya yang berbeda dengan gadis tersebut.
* FLASHBACK.
"Ayah.. Ada apa manggil ku? Bukankah Ayah sedang berada di Amerika?" Tanya Lucas yang langsung duduk di samping Ayahnya.
"Besok Ayah akan berangkat ke Amerika, tapi sebelum itu. Bisakah kau membantu Ayah?"
"Tentu saja Ayah, apa yang bisa aku lakukan buat Ayah.? Jawab Lucas Antusias.
"Bisakah siang ini kau menggantikan Ayah untuk menemui klien Ayah di sebuah Hotel?" Tanya Tuan Fridell yang langsung membuat Lucas terdiam sejenak.
"Siang ini?" Tanya Lucas kembali. Alih-alih menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Iya, siang ini."
Hari ini ulang tahun Starla. Apa yang harus aku lakukan.
"Ada apa lucas?" Tanya Tuan Fridell mengernyit.
"Apa harus siang ini Ayah? Tidak bisakah Keano yang menggantikanku kali ini?"
"Tidak. Ayah ingin kau yang melakukannya Lucas, kau anak Ayah. Jadi kau yang harus melakukannya. Dan Asisten Ayah yang akan menemanimu." Balas Tuan Fridell tegas.
"Baiklah Ayah.. "
"Ayah percaya, kau bisa melakukannya." Balas Tuan Fridell dengan senyumnya.
Kau tidak akan pernah bertemu gadis itu lagi Lucas, sebab ada kejutan besar yang akan menantimu. Maafkan Ayah, tapi ini yang terbaik buatmu dan masa depanmu.
"Bersiaplah.. Asisten Ayah sudah menunggumu di Hotel tersebut."
"Baiklah Ayah.. "
Ucap Lucas yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar meninggalkan Tuan Fridell yang saat itu juga langsung meraih ponselnya yang terletak di dalam saku jasnya dan menghubungi Asistennya.
"Putraku sedang menuju ke sana sekarang, kau sudah mengertikan dengan apa yang harus kau melakukan? Dan wanita itu. Aku harap dia bisa melakukan tugasnya dengan benar. Dan ingat, jangan sampai ada janin yang tertinggal."
Ucap Tuan Fridell di dalam panggilan telfonnya. Dengan senyum menyeringai Tuan Fridell meraih gelas crystal yang berisi Champagne dan langsung di minumnya hingga tandas.
"Selamat siang Tuan besar."
"Hm.. Bagaimana?"
"Asisten Tuan muda Lucas sudah berangkat ke Jerman Tuan besar."
"Bagus. Tugas yang aku berikan kepada Ken akan membuatnya cukup sibuk, Jadi dengan begitu dia tidak akan bersama Lucas untuk sementara waktu." Balas Tuan Fridell dengan seringainnya.
"Dan hubungi gadis itu jika semuanya sudah selesai,"
"Baik Tuan."
Ucap salah satu pengawal Tuan Fridell seraya membungkuk dan langsung melangkah meninggalkan ruangan kerja tersebut.
* * * * *
Sedang di dalam ruangan VIP sebuah restoran Hotel mewah, nampak Lucas yang tengah memegangi kepalanya. Entah mengapa rasa panas dan pusing tiba-tiba menyerangnya.
Ahk.. Sial.. Ada apa denganku, kenapa aku jadi merasa aneh di tubuhku. Aku harus pulang..
"Ada apa Tuan muda?" Tanya Asisten Tuan Fridell sembari memegangi pundak Lucas yang hendak akan berdiri, bahkan tubuhnya sudah di penuhi dengan keringat dingin.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang, ahk.. Bisakah kau menghubungi Starlaku untuk menjemputku di sini?" Pinta Lucas seraya menyodorkan ponselnya kepada Asisten Ayahnya yang langsung mengambil ponsel tersebut, alih-alih melakukan perintah Lucas untuk menghubungi Starla seperti keinginan Lucas, Ia malah menon aktifkan ponsel tersebut tampa sepengetahuan Lucas yang sudah bergetar dengan tubuh yang basah di penuhi oleh keringat akibat obat perangsang dengan dosis besar yang tidak sengaja ia minum.
"Ada apa ini.. Kenapa aku sangat ingin melakukannya, aahkk.. Apa yang salah denganku.. Apa kau yakin minuman itu milikku?" Tanya Lucas dengan nafas yang mulai terengah sambil menatap gelasnya yang berisi red wine.
"Tidak Tuan, saya akan membawa anda untuk beristirahat di kamar, sambil menunggu Nona Starla untuk menjemput anda."
"Apa kau sudah menghubunginya?" Tanya Lucas sekali lagi sambil berusaha untuk berdiri.
"Iya Tuan, dan sebentar lagi Nona Starla akan segera tiba." Jawab Asisten Tuan Fridell yang langsung memapah tubuh Lucas menuju ke dalam kamar sebuah hotel di lantai 20.
Lucas bergerak gelisah sambil meremas selimut tersebut, gairahnya semakin meninggi dengan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh dan otaknya, bahkan ia sudah tidak mampu berfikir jernih lagi, dengan perlahan Lucas membuka kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah.
"Ahk.. Panas... Ada apa denganku..."
Lucas mulai melucuti semua pakeannya sendiri, hingga suara knop pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sesosok wanita stengah telanjang dengan rambut yang sedikit basah tengah berdiri di sana dengan senyuman menggodanya. Aroma bunga yang manis dari parfum wanita tersebut menyapa indra penciuman Lucas yang saat ini sudah tidak bisa berfikiran jernih lagi.
"Honey... Kau sudah datang?" Tanya Lucas yang langsung tersenyum saat melihat sosok wanita yang tengah menghampirinya, tampa ia sadari jika wanita yang di peluknya saat ini bukanlah tunangannya Starla, melainkan wanita lain suruhan Ayahnya.
"Ini aku sayang.. " Bisik wanita itu, seraya mengecup lembut bibir Lucas yang langsung membalas kecupan tersebut dengan penuh gairah.
"Honey.. Ada yang salah denganku.. Aku tiba-tiba merasakan gairah yang teramat besar, dan.. Aku sangat ingin melakukannya denganmu.. Maaf.. Bisakah aku melakukan ini denganmu?" Tanya Lucas terengah dengan nafasnya yang sudah memburu.
"Lakukanlah sayang.. Aku siap melayanimu sampai kau merasa puas." Bisik wanita itu yang dengan perlahan membuka sisa kain yang menutupi tubuhnya.
"Tubuh ini milikmu sayang." Ucap wanita itu berbisik.
"Maafkan aku Honey jika menyakitimu, aku mencintaimu sayang.. " Balas Lucas yang langsung mengungkung tubuh wanita itu, wanita yang ia lihat sebagai Starla. Dan dengan di penuhi gairah, Lucas meluapkan gairahnya, membuat wanita yang tidak di kenalnya sama sekali mendesah kenikmatan semalam akibat permainan panas mereka.
Hingga tiga jam berlalu, satu ketukan pintu yang berasal dari luar kamar mandi menyadarkan Lucas dari lamunan panjangnya. Tubuhnya yang sudah bergetar akibat guyuran air shower membuat wajahnya terlihat pucat.
Dengan langkah perlahan Lucas membuka pintu kamar mandinya dan di sana sudah berdiri Asistennya Keano dengan wajah yang di penuhi kekhawatiran. Dengan cepat Keano mebungkus tubuh Lucas dengan sebuah handuk piyama untuk menghangatkan tubuh Lucas yang terasa dingin.
"Ken.. Apa kau sudah memerintahkan orang kita untuk mengawasi rumah Starla?" Tanya Lucas perlahan.
"Sudah Tuan, dan sepertinya orang-orang suruhan Tuan Besar sudah meninggalkan tempat tersebut."
"Aku hanya takut, mereka melukai Starla."
"Iya Tuan, tapi.. "
"Ada apa Ken?"
"Ini hanya saran dari saya, selama Tuan Lucas menuruti keinginan Tuan Besar, semua akan aman, dan Nona Starla juga akan baik-baik saja."
"Untuk sekarang Tuan tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Tuan Besar, bersabarlah Tuan.. Jika waktunya tiba, saya akan membantu anda untuk membawa Starla jauh dari sini, juga dari jangkauan Ayah anda. Saya sudah menyiapkan sebuah tempat di pulau yang tidak bisa di ketahui oleh siapapun, termasuk Ayah anda sendiri."
"Terimakasih Ken.. "
"Iya Tuan Lucas, sebaiknya anda bergegas, Tuan besar sudah menunggu anda di bawah." Balas Keano yang langsung mengeluarkan sebuah setelan jas lengkap dengan sepatu dan aksesoris lainnya untuk di pakai Presdirnya malam ini.
* * * * *
Guyuran Hujan kembali membasahi kota tersebut, butiran-butiran lembutnya yang turun perlahan membasahi pepohonan yang berjejer rapi di pinggiran halaman sebuah rumah yang terlihat nampak sepi, halaman yang kini sudah di genangi air hujan tempat di mana Alpha tengah berdiri sekarang dengan sebuah payung berwarna hitam di tangannya untuk melindungi tubuhnya agar tidak terkena guyuran hujan yang malam ini turun cukup deras. Lama Alpha berdiri di sana sambil terus mengamati rumah tersebut bahkan sejak satu jam yang lalu. dengan perasaan ragu Alpha kembali melangkah mengetuk pintu rumah tersebut berulang kali, hingga tidak berselang lama nampak knop pintu itu bergerak bersamaan dengan pintu rumah yang sedikit terbuka.
"Starla.. "
Jantung Starla seketika berdetak dengan sangat kencang saat melihat sosok Alpha yang tengah berdiri di depan rumahnya. Sosok yang sebenarnya sangat ia rindukan. Namun hatinya menolak untuk mengakuinya.
"Ada apa?" Tanya Starla yang masih berdiri di balik pintu dengan mata sembap dan wajah yang terlihat pucat.
"Aku merindukanmu." Jawab Alpha yang lagi-lagi membuat Starla sangat ingin memeluk sosok itu, sebab untuk yang pertama kalinya ia mendengar ucapan tulus dari seorang Alpha Khandra yang saat ini tengah mengucapkan kata rindu untuknya.
"Bisakah kita berbicara sebentar saja?" Tanya Alpha lagi yang membuat Starla terdiam sejenak.
"Aku mohon... Aku sangat ingin berbicara denganmu."
"Maaf.. Aku.. "
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanya Alpha yang langsung mendorong pintu yang stengah terbuka itu dan mencengkram pergelangan tangan Starla yang masih terbalut perban seadanya.
"Ada apa dengan lenganmu? Apa dia menyakitimu? Apa dia yang melakukan ini?" Tanya Alpha dengan nada yang terdengar marah bercampur khawatir.
"Lepaskan.. Ini hanya luka gores biasa Alpha."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, siapa yang melakukannya? Lucas? Apa dia menyakitimu?" Tanya Alpha seraya mengangkat lengan Starla.
"Apa maksudmu? Dia... Apa kau?" Tanya Starla mengernyitkan keningnya.
Apa Alpha tahu, jika Lucas pernah ke sini?
"Ikut aku." Ucap Alpha yang langsung menarik lengan Starla.
"Lepaskan aku Alpha.. Kau akan membawaku ke mana?" Tanya Starla merontah saat Alpha mencengkram lengannya.
"Rumah sakit."
"Apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Tentu saja untuk mengobati lukamu."
"Tapi aku tidak membutuhkannya Alpha."
"Kau perlu di obati Starla" Balas Alpha yang masih menarik paksa Starla yang hanya pasrah mengikuti langkah lebar Alpha.
"Ini hanya luka kecil . Ada apa denganmu?" Ucap Starla yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Alpha.
"LEPASKAN AKU ALPHA..." Teriak Starla seketika yang langsung membuat Alpha terkejut dan melepaskan cengkraman tangannya saat Starla menarik tangannya dengan paksa.
"Aku tidak butuh ke rumah sakit Alpha."
"Tapi kau terluka Starla."
"Apa orang kaya seperti kalian memang selalu bersikap seenaknya seperti ini? Selalu memaksakan kehendak orang lain? Memaksa untuk mengikuti kehendak kalian tampa memikirkan perasaan orang lain?" Tanya Starla dengan mata berkaca.
"Starla.. Aku hanya ingin agar lukamu bisa di rawat dengan baik."
"Tapi aku tidak membutuhkannya." Balas Starla yang langsung melangkah pergi meninggalkan Alpha yang masih terdiam.
"Starla.. Tunggu.." Panggil Alpha dan langsung mengejar Starla yang sudah berada di depan pintu rumahnya, bahkan sebelum pintu rumah itu di tutup oleh Starla, dengan cepat Alpha menahan pintu tersebut dengan telapak tangannya.
"Apa kau berencana untuk mematahkan tanganmu sendiri?" Tanya Starla panik saat melihat telapak tangan Alpha yang nampak bergetar saat ujung pintu menghantam tangannya.
"Starla.. Maafkan aku.. " Ucap Alpha yang masih dengan posisinya, bahkan tidak memperdulikan telapak tangannya yang membiru. Sedang Starla hanya terdiam, bahkan tidak berkutik saat Alpha menerobos masuk dan langsung memeluk tubuhnya erat.
"Sebenarnya apa yang telah aku lakukan padamu, kenapa kau sangat ingin melukaiku." Gumam Alpha dengan suaranya yang terdengar bergetar. Hingga membuat Starla seolah tercekik dengan pertanyaan Alpha. Sebab ia sadar jika selama ini tidak ada yang salah dengan Alpha, bahkan bukan kesalahan Alpha pula jika dia terlahir sebagai seorang yang terpandang dan berkasta tinggi. Dirinyalah yang salah karena telah jatuh cinta kepada pria seperti Alpha.
"Kau tidak salah apa-apa, aku yang salah.. bahkan sejak awal pun ini sudah menjadi kesalahanku," Balas Starla yang masih terdiam di dalam dekapan Alpha.
"Tidak Starla... "
"Aku yang salah karena sudah berani mencintaimu Alpha, maafkan aku yang sudah lancang hadir dalam kehidupanmu, dan mengusik ketenanganmu."
"Tapi aku bahagia dengan itu, aku bahagia karena kau sudah mencintaiku Starla, aku bahagia karena kau sudah hadir dalam hidupku. Aku tidak peduli dengan apapun lagi, aku hanya mau dirimu Starla." Balas Alpha yang semakin erat memeluk tubuh Starla.
"Tapi aku tidak merasakan kebahagiaan sama sekali.. " Ucap Starla perlahan, ia bahkan bisa merasakan saat Alpha merenggangkan pelukannya. Dengan perlahan Starla mendorong tubuh Alpha agar menjauh darinya.
"Apa maksud dari perkataanmu Starla?"
"Aku tidak bahagia dengan keadaan seperti ini, cinta ini membuatku sesak dan tercekik, maafkan aku Alpha.. Sekeras apapun aku berfikir, aku tetap merasa jika kau tidak akan mungkin bisa aku gapai dengan tanganku, kau terlalu tinggi, bahkan orang sepertiku sangat sulit untuk mengikuti langkahmu,"
"Starla.. Jangan seperti ini, aku masih tetap Alpha yang dulu, Alpha yang kau kenal, tidak ada yang berubah." Ucap Alpha perlahan seraya mendekati Starla yang malah lebih memilih melangkah mundur untuk menghindari Alpha.
"Aku tetap tidak bisa. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk mencintaimu Alpha, maaf... Aku tidak bisa."
"Tidak Starla.. Aku tidak menginginkan sikapmu yang seperti ini, aku ingin Starku yang dulu, aku mohon.. Jangan seperti ini." Pinta Alpha seraya mencengkram kuat rambutnya.
"Starla.. Aku mohon.. "
"Aku yang memohon sekarang padamu Alpha.. Aku mohon.. Tinggalkan aku, lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita, lupakan semua yang pernah aku lakukan padamu," Ucap Starla perlahan.
"Tapi aku tidak bisa.." Ucap Alpha dengan suara bergetar.
"Aku yakin kau bisa melakukannya Alpha, seiring berjalannya waktu, kau akan melupakan semuanya, kita bahkan tidak sedekat itu,"
Meskipun kita tidak sedekat seperti apa yang kau katakan, t**api aku sudah mencintaimu Starla.
"Pergilah.. "
"Kenapa kau selalu menyuruhku untuk pergi Starla , kenapa kau tidak mengizinkanku untuk tetap tinggal di sampingmu dan menjagamu."
"Karena tempatmu bukan di sini Alpha Khandra, pergilah.. Carilah tempat yang layak untuk kau tujuh, dan aku yakin, kau akan menemukan tempat di mana kau akan merasa nyaman. Percayalah.. Kau akan bahagia meski tidak denganku. Karena aku bukan wanita yang bisa membahagiakanmu."
Tapi rasa nyaman itu hadir saat aku berada di sampingmu Starla, jadi aku mohon.. Jangan menyuruhku untuk pergi, aku takut, jika tidak menemukan jalan untuk kembali saat aku benar-benar pergi.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.