I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kunjungan teman lama



NEW ORLEANS (AMERIKA SERIKAT)


KEDIAMAN ELFREDO


"Selamat siang, tuan Fridell," sapa sang asisten menghampiri. Sedikit berbisik kearah Fridell yang masih duduk di sofa, mengawasi sang putera yang masih tertidur di atas tempat tidurnya dengan Darmaya dan Keano yang menemani.


Hingga semenit kemudian, Fridell terlihat beranjak dari duduknya sambil merapikan jas yang ia kenakan, berjalan menghampiri Darmaya yang sejak tadi mengamati tingkah pria itu yang entah selalu sangat menarik baginya, padahal yang pria itu lakukan hanya berdiri dalam diam sambil menatap wajah sang putera dengan ekspresi yang seperti biasa.


"Darmaya, aku akan keluar sebentar. Dan, Ken akan ikut bersamaku," ucap Fridell yang masih menatap wajah sang putera, berharap Lucas akan segera bangun dan berdebat dengannya, selagi ia sangat kuat sekarang untuk meladeni sikap keras kepalanya.


"Ya, Tuan. Aku akan menjaganya dengan baik," angguk Darmaya mengulas senyum yang selalu terlihat manis.


Sedang Keano yang belum tahu hendak ke mana, ikut beranjak. Berdiri di samping Fridell sebelum mengikuti langkah lebar pria itu menuju keluar kamar yang sudah di rancang khusus sebagai ruang perawatan berfasilitas lengkap untuk Lucas dengan seorang dokter khusus yang juga di tugaskan untuk merawat dan memantau kondisi Lucas.


"Apa kau tidak akan bertanya kepada Ayah akan ke mana kita?" tanya Fridell dalam perjalanan mereka.


"A-aku ...." 


Keano masih terlihat ragu, sebenarnya sudah ingin bertanya sejak tadi. Namun, ia urungkan. Sebab tahu, kemanapun itu, selama bersama Fridell Elfredo, semua akan baik-baik saja.


"Kita akan menemui kerabat lama ayah," ucap Fridell masih dengan posisinya, menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kerabat lama?"


Bukankah semua teman lama ayah adalah gangster atau mafia? 


"Ya, ayah ingin memperkenalkanmu sebagai putera ayah pada mereka semua," balas Fridell.


Bahkan pria itu sudah memikirkannya sebelum mereka kembali ke *New Orleans*, merasa jika itu adalah salah satu cara agar Keano tidak mendapatkan kendala apapun yang akan menyulitkan dirinya, jika semua kortelnya mengetahui sosok Keano. Meskipun Keano sendiri tidak mengharapkan demikian. Terlebih ia juga tak pernah ingin berususan dengan mafia dan yang lainnya seperti Lucas.


Hingga di menit berikutnya saat mobil sedikit melaju dengan lambat, tepat di jalan menuju lokasi sleepy hollow farm yang merupakan perkebunan yang di sana terdapat resort mewah milik keluarga Osvaldo.


"Ada apa?" tanya Fridell saat melihat jejeran mobil mewah di sepanjang jalan menuju resort. Juga pengawalan ketat dari puluhan pria berjas lengkap di sepanjang jalan.


"Hari ini keluarga Osvaldo sedang merayakan acara pernikahan sang putera tunggal, Charles Beall Osvaldo," jawab sang asisten memelankan laju mobilnya.


"Benarkah? Bukankah ini akan menjadi berita yang besar dan menarik?" balas Fridell menopang dagu sambil menyenderkan tubuhnya. Meski terlihat tak tertarik.


Osvaldo family adalah salah satu rival dalam dunia bisnis gelapnya. Meski mereka tidak pernah saling bersinggungan satu sama lain. Ataupun tidak pernah memiliki masalah apapun. Dan Charles Beall Osvaldo adalah putera tunggal dari Hamilton Tranatos, generasi ke tiga dari family Osvaldo, berusia 27 tahun, meskipun di usianya yang bisa di bilang masih sangat muda. Namun, ia sudah tercatat sebagai ketua mafia yang di segani. Mahir melakukan manipulasi bisnis yang di sertai dengan pencucian uang tanpa terlacak. Sindikat Al Osvaldo merupakan imigran asal Italia yang merantau dan menetap di Amerika Serikat. Tepatnya di lower East side 265 east, 10th street Manhattan kota New York. Menguasai Woodstock dan di jadikan lokasi dan aset pribadi bagi Osvaldo family.


Hingga dua jam kemudian mobil mereka nampak memasuki sebuah lahan pertanian anggur, bahkan juga terdapat sebuah pabrik anggur yang cukup besar. Dan mobil terparkir tepat di sebuah bangunan yang lebih terlihat seperti resort yang di kelilingi pepohonan anggur.


Suasana cukup legang di luar, hanya terlihat beberapa orang yang mondar mandir di sana, seperti pekerja pabrik, dan selebihnya hanya bangunan yang nampak kosong tak berpenghuni. Pikir Keano yang sejak tadi mengawasi tempat tersebut, sebelum akhirnya ia di kejutkan oleh beberapa orang berseragam serba hitam yang keluar dari resort tersebut bahkan langsung menyambut mereka dengan hormat.


"Silahkan masuk tuan Fridell," ucap seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan bulu halus yang tumbuh di sekitar graham juga dagunya.


Beberapa barang antik yang bernilai fantastik berjejer di sepanjang ruangan, Sampai netra Keano tertuju pada sosok pria bertubuh tinggi besar, bertampang cukup sangar, yang tengah duduk di kursi single sambil menyilangkan kaki, kedua tangan saling menangkup di atas pangkuan dengan kedua siku yang disangga ke atas dua sisi pembatas kursi, dan sungguh berbeda dari orang-orang di sekitar ruangan tersebut.


Apa dia teman lama ayah? 


Selamat datang Fridell, silakan duduk," sapa salah seorang pria, beranjak dari duduknya untuk menyambut saat Fridell dan Keano sudah berdiri di sana. Sedang sang asisten lebih memilih untuk berada di luar, mengobrol dengan pria bertubuh tinggi di sana.


"Ya, aku memiliki cukup banyak urusan di Verona, kau tahu itu," balas Fridell menyambut pelukan pria tersebut.


"Aku tidak pernah mendapatkan kode darimu, dan aku rasa itu bukanlah hal bisa membuatmu kewalahan, silahkan duduk," Sang pria mempersilakan sebelum alihkan pandangan ke arah Keano.


"Dia puteraku," ucap Fridell, menyadari jika sang teman lama tengah menatap Keano yang kembali membungkuk memberi hormat.


"Selamat sore, Tuan," sapa Keano.


"Puteramu?" tanya sang pria mengernyit, mencoba mengingat. Mungkin ia meluoakan sesuatu. Sebab yang ia tahu, Fridell hanya memiliki dua orang putera. Lucas dan Daniel.


"Ya, dia putera Yuwa Favian," balas Fridell yang membuat sang pria terdiam. Menatap lekat ke arah Keano.


"Silahkan duduk," ucap sang pria kembali mempersilakan, bahkan tatapannya masih tak luput dari wajah Keano yang tiba-tiba merasa canggung. Apa ada yang salah dengannya? Pikir Keano mulai merasa tak nyaman. "Aku bisa melihat sorot mata wanita itu di mata puteramu," sambungnya sebelum mengalihkan pandangannya. Namun, tidak dengan Keano yang kembali berfikir. 


Apa pria itu mengenal ibu? Jika mendengar perkataannya baru saja, sepertinya pria itu sangat mengenal ibu.


"Ken, dia Abern Axton Almero, teman ayah, sekaligus sahabat ibumu," ucap Fridell buyarkan lamunan Keano yang jelas cukup terkejut, meski tak menampakannya. Dan akhirnya ia tahu maksud dari perkataan pria itu yang tak lain adalah Albern yang berasal dari Almero Family.


"Bagaimana dengan Lucas?" tanya Albern Axton membuka tutup botol wine sebelum menuangkannya ke tiga buah gelas crystal sekaligus.


"Masih belum ada perubahan."


"Ternyata Tiar cukup menyulitkanmu."


"Ya. Dan semua sudah berakhir, seharusnya."


"Apa kau yakin?" tanya Albern Axton meletakkan gelasnya di atas meja.


"Aku rasa, meski tidak yakin sepenuhnya." 


"Kau tahu jika puteriku Gabriella pernah melihat Dhruv Auriga di satu tempat? Pria itu sekarat." ucap Albern Axton yang cukup mengejutkan Fridell.


"Sudah kuduga, Dhruv tidak bersama Tiar saat melakukan penyerangan di rumah sakit, ternyata dia di satu tempat. Bahkan aku pikir dia sudah tewas terbakar di dalam gudang waktu itu."


***