I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Hilangnya Emery. * HOSPITAL.



Emery merapatkan pantatnya di pinggiran ranjang pansiennya. Tatapannya jauh menerawang keluar jendela kamarnya.


Bayangan wanita yang sudah hampir di lupakan bagaimana raut wajahnya itu kembali terlintas dipikirannya, setelah sekian lama ia hampir melupakan kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama, sosok yang selalu mengusap air matanya, mendengar semua keluh kesahnya, yang selalu ikut tertawa bersamanya.


Selama ini Emery terlalu sibuk mencintai suaminya, sibuk menyakiti dirinya sendiri, dan menagis seorang diri. Menjalani rumah tangga yang bahkan sampai melupakan sosok yang telah membuatnya ingin menjalani semua penderitaan selama ini. Hanya agar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya, juga keinginan sang Ayah yang saat itu selalu menyakinkannya akan ada kebahagian setelah pernikahan. Bahkan hal bodoh yang ia lakukan berakhir dengan dirinya yang hampir merenggang nyawa.


"Ibu,"


Gumam Emery perlahan, menarik nafas dalam, mencoba memejam agar lebih mengingat lagi bagaimana rupa sang ibu yang sudah puluhan tahun ini meninggalkan dirinya sendirian.


Apa ini belum cukup Bu? Selama ini Aku sudah menjalani hari hari seperti yang ibu jalani dulu, ternyata begini rasanya, perasaan inikah yang selalu ibu rasakan dulu? Mencintai Ayah yang tidak pernah mencintai ibu.


Emery menarik nafas dalam, senyum tipis tersungging di bibirnya yang masih nampak lebam akibat pukulan Ayahnya.


Setidaknya anak ibu ini sudah merasakan apa yang ibu rasakan dulu, menjalani hari hari yang sulit sendirian. Ibu tidak perlu sedih sekarang, meskipun aku merasa sebagai wanita yang bodoh karena terus bertahan bersamanya. Tapi semuanya akan berakhir, aku akan mengakhirinya dan melakukan hal yang seperti ibu lakukan.


Emery merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, mencoba melepas lelah dan rasa sakitnya, berharap bisa terlelap hanya untuk malam ini saja dan melupakan semua hal yang membuatnya sesak.


Bibi Areta, terimakasih atas semuanya.. semoga hidup Bibi Areta lebih bahagia lagi, saat lepas dari semuanya, aku harap kehidupan Bibi selanjutnya akan tenang, tampa ada beban yang membuat hidup Bibi menderita. Maafkan aku.. selama ini sudah banyak membuat Bibi khawatir. Aku menyayangimu Bi.


Tatapan nanar Emery tertuju pada sosok Areta yang sudah terlelap di atas sofa, nampak jelas terlihat wajah yang lelah di sana.


Ibu.. apa Ibu baik-baik saja?


Emery memejam dengan perasaan kalutnya, masa di saat Ibunya yang selalu menghabiskan harinya dengan pertengkaran bersama ayahnya kembali hadir di dalam pikirannya, hingga kenangan masa dulu seolah membawanya kembali, dimana saat itu ia hanya bisa menangis di pojokan kamar tidurnya saat mendengar suara tangis dan teriakkan keras sang Ayah, tidak jarang juga ia mendengar suara barang barang yang di hancurkan Ayahnya hanya untuk meluapkan kemarahannya.


* FLASHBACK.


"Sudah sekian lama Chris, kenapa kamu masih belum bisa melupakan wanita itu, padahal sedikitpun dia tidak pernah mencintaimu." Ucap Carolyn dengan tangisnya.


"TUTUP MULUTMU." Teriak Chris geram.


"Aku sudah memberikanmu segalanya, kau meminta anak dariku pun sudah aku berikan, padahal kau tau, kondisiku saat itu tidak memungkinkan untuk memiliki seorang anak, perusahaan Ayah sudah jatuh di tanganmu, apalagi sekarang? Tidak bisakah kau hanya mencintaiku Kris? Mencintai kedua anak kita?" Tanya Carolyn dengan suara bergetar.


"Sayangnya aku tidak bisa mencintaimu, pernikahan kita bukan keinginanku, apa kau lupa? Bagaimana ayahmu sangat menginginkanmu untuk menikah denganku? Dan kau dengan bodohnya menyetujui pernikahan konyol ini dan membuatku kehilangan wanita yang aku cintai, setidaknya ayahmu cukup pengertian karena dengan senang hati ia menyerahkan CALL KORP padaku."


"Cih.. Kau hanya pria menyedihkan Kris, wanita itu meninggalkan mu karena dia mencintai pria lain."


"AKU BILANG TUTUP MULUTMU."


PLAAK.. PLAAK


Terdengar suara tamparan keras bersamaan dengan jeritan sang Ibu. Wanita yang di nikahi Ayahnya hanya karena Ibunya adalah anak tunggal dari keluarga Cullen juga kakeknya yang memiliki perusahaan besar Call KORP yang berkembang sangat pesat di kota ini dan juga di beberapa kota lainnya. Meskipun ayahnya sudah berhasil menguasai perusahaan tersebut, sedikitpun ayahnya tidak pernah mencintai Ibunya yang sangat tulus mencintainya.


"Ibu.. "


Panggil Emery perlahan saat ia menemukan Ibunya yang tengah duduk termenung di sebuah kursi di taman belakang rumahnya. Emery merangkul tubuh ringkih Ibunya dan di peluknya erat, hingga air mata Emery ikut menetes saat mendengar isakkan Ibunya saat itu.


"Jangan menangis Nak, cukup Ibu yang merasakan ini, anak Ibu cukup merasakan bahagia saja, Ibu tidak mau melihat anak Ibu menangis." Ucap Carolyn sembari mengusap rambut panjang Emery yang masih memeluknya erat.


"Maafkan aku Ibu, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Ibu."


"Jangan minta maaf sayang, masalah Ibu saat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak Ibu, dan dengan berada di sisi Ibu sambil memeluk Ibu seperti sekarang ini sudah sangat membuat Ibu bahagia."


"Ibu.. Apa sesakit itu?" Tanya Emery perlahan.


"Sayang.. Ibu baik-baik saja."


"Tidak, Ibu sudah cukup banyak menderita. Ibu sudah banyak menangis, kenapa Ibu masih tetap bertahan?"


"Ibu bertahan karena Ibu masih punya kamu dan El,"


"Tidak, Ibu bertahan dan rela melakukan semuanya karena Ibu terlalu bergantung pada Ayah, Apakah Ibu sangat mencintai Ayah?"


"Iya, Ibu sangat mencintai Ayahmu."


"Tapi kenapa Bu? Kenapa tetap bertahan di sisi Ayah? Meskipun Ibu selalu menderita? Meski Ibu selalu menangis? Dan meskipun Ayah tidak.... "


"Tidak mencintai Ibu, Ibu tau.. Suatu saat nanti, disaat kau sudah mulai mencintai seseorang, kau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu sekarang,"


"Ibu... aku sangat menyayangi Ibu, Emery ingin merasakan apa yang Ibu rasakan saat ini." Ucap Emery yang semakin erat memeluk sang Ibu.


"Tidak Nak, jangan.. Ibu tidak ingin kau merasakan hal yang sama, menikahlah dengan pria yang mencintaimu, bukan pria yang kau cintai, sebab jika pria itu mencintaimu, dia tidak akan pernah menyakitimu, ataupun meninggalkan mu, apa kau mengerti Nak?"


"Ibu... "


"Ibu ingin kau selalu menyayangi Ayahmu, dengarkan apa kata katanya, Menurut lah pada Ayahmu, biar bagaimanapun dia adalah Ayahmu, seperti adikmu yang selalu menurut dengan apa yang di katakan Ayah."


"Tapi Ibu.. Aku bukan Elard,"


"Ibu tau sayang, anggap saja ini permohonan Ibu, hanya kau yang bisa membantu ibu untuk merawat Ayahmu."


"Ibu.. "


"Berjanjilah sayang."


"Aku janji Ibu."


"Terimakasih sayang."


Dengan sangat erat Emery memeluk tubuh Ibunya yang tengah mengusap punggungnya pelan, usapan yang sangat lembut dan mampu membuatnya tenang.


"Ibu.. "


Emery bergumam, hingga ia tiba-tiba tersentak dan tersadar dari lamunan panjangnya. Kenangan masa lalu bersama Ibunya kembali di ingatnya dengan sangat jelas.


Ibu di mana? aku sangat merindukan Ibu, apa Ibu Baik baik saja sekarang? aku ingin mencari Ibu, bisakah Ibu menungguku sebentar lagi?


Emery memejamkan matanya, mengusap air matanya dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


* * * * *


"All.."


Sapa Dokter Wil sembari menyentuh pundak Alpha yang tengah duduk termenung di sebuah sofa lobi rumah sakit seorang diri, hanya ada dua bodyguard yang tengah berdiri di sampingnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Dokter Wilfreed sembari mendudukkan dirinya di sofa.


"Tidak ada,"


"Aku mengenal mu sudah sangat lama All, tidak mungkin kau terus duduk termenung di sini tampa memikirkan apapun, apa mungkin semua ini ada hubungannya dengan gadis itu?" Tanya Wilfreed yang sebenarnya sudah mengetahui pikiran Alpha saat ini.


"Hmm.. "


"Ada apa dengan gadis itu?"


"Aku sangat menghawatirkan gadis itu Wil, aku selalu memikirkannya, apa dia akan baik+baik saja," Ucap Alpha yang terlihat sangat khawatir.


"All.. Sebelum aku melanjutkan perkataanku, aku angin bertanya sesuatu padamu," Balas Dokter Wilfreed dengan tatapan serius yang di balas anggukan oleh Alpha.


"Pertanyaan Apa?"


"Apa kau menyukai gadis itu?" Tanya Dokter Wilfreed yang membuat Alpha bungkam untuk beberapa menit, seolah sedang mencari cari jawaban untuk pertanyaan Sahabatnya itu dan juga untuk menanyakan kepada dirinya sendiri, apa benar ia menyukai gadis itu. Gadis yang pernah menyelamatkan nyawanya, yang bahkan tidak butuh waktu lama sudah menarik perhatiannya, malah sekarang sudah membuatnya merasakan takut akan kehilangan gadis itu. Namun ia sendiri belum mengerti dengan perasaan yang di rasakannya saat ini.


"Iya, aku menyukainya, tapi.. "


"Tapi?"


"Aku ingin melindunginya, tapi bukan untuk memilikinya." Jawab Alpha.


"Apa? Apakah itu sesuatu hal yang aneh?" Tanya Alpha mengernyit.


"Tidak sama sekali."


"Lalu apa yang salah denganku, perasaan apa ini, aku bahkan sangat sedih bila melihat gadis itu sekarang, aku ketakutan, aku tidak ingin dia di sakiti atau di sentuh oleh siapapun, kata Dareen aku sudah jatuh cinta pada gadis itu, tapi.. Aku rasa tidak seperti itu, jantungku tidak pernah berdebar saat bersama gadis itu seperti apa yang di katakan Dareen dan buku bodohnya itu." Balas Alpha yang membuat Dokter Wilfreed menyunggingkan bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman kecil saat mendengarkan ucapan polos dari sang presdir BRT GRUP yang terkenal itu.


"Kau menyayangi gadis itu sebagai seorang adik, bukan sebagai seorang wanita." Terang Dokter Wilfreed yang semakin membuat Alpha bingung.


"Adik?" Tanya Alpha sedikit memiringkan kepalanya dengan alis yang menyatu.


"Iyaa.. Apa aku salah? Coba kau pikirkan lagi, perasaanmu bukan seperti seorang pria yang menyayangi seorang wanita, tapi seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya." Timpal Dokter Wilfreed yang membuat Alpha akhirnya mengangguk, seolah membenarkan perkataan Dokter Wilfreed.


"Kau benar Wil, adik. Yah selama ini aku selalu ingin melindunginya."


"Yang membuatku bingung sekarang, siapa gadis itu, gadis yang bisa membuatmu jadi seperti ini? Selain dia yang kebetulan pernah menyelamatkan hidupmu, bukankah tidak ada hubungan apa apa lagi di antara kalian?" Tanya Dokter Wilfreed yang masih merasa bingung.


"Yah kau benar, itulah yang tidak aku mengerti sampai saat ini Wil, dia hanyalah seorang gadis biasa yang pernah menolongku, bahkan bertemu dengannya hanya sekali, tapi perasaanku... "


"Yah, itu memang terlalu sukar jika harus di jelaskan, tapi aku bisa memahami perasaanmu sekarang."


"tapi kenapa aku justru merasa takut sekarang." Balas Alpha yang kembali terlihat murung.


"Apa yang kau takutkan?" Tanya Dokter Wilfreed perlahan.


"Kris,"


"Aku mengerti, pria itu tidak akan berhenti sampai keinginannya terwujud."


"Aku akan mengikuti semua permainan yang di mainkan oleh manusia biadap itu, tapi.. "


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Dokter Wilfreed.


"Bantu aku melindunginya Wil, nyawanya akan terancam jika ia terus berada di sampingku," Jawab Alpha dengan segala kecemasannya.


"Lalu apa rencanamu?"


"Lindungi dia untukku Wil, jika dia sadar dan terbangun dari komanya, maukah kau membawanya ke tempat yang jauh? Aku akan menghancurkan manusia biadab itu."


"Baiklah, aku akan membantumu All, tapi apa gadis itu benar-benar tidak punya keluarga lagi?" Tanya Dokter Wilfreed.


"Dia mempunyai seorang Ibu, tapi sejak gadis itu terbaring di rumah sakit, Ibunya tiba-tiba menghilang, aku sudah memerintah kan semua orang ku untuk mencarinya, tapi belum ada kabar sampai saat ini. Aku hanya khawatir akan satu hal,"


"Apa kau pernah bertemu dengan Ibunya?"


"Tidak sekalipun, yang aku tau Ibunya menderita PTSD sejak lama."


"Lalu bagaimana caramu untuk mencarinya?"


"Aku hanya mengandalkan informasi yang sedikit dari gadis itu, bahkan orang-orang ku sudah mencarinya ke Thailand."


"Thailand?"


"Hmm.. Asal gadis itu dari Thailand."


"Lalu?" Tanya Dokter Wilfreed.


"Nihil.. Mereka belum menemukannya."


"Memang sulit untukĀ  menemukan seseorang dengan data yang kurang lengkap All."


"Hal ini yang membuatku khawatir."


"Apa kau mencurigai seseorang?"


"Yah.. Kau tau sendiri kan, hanya dia yang bisa melakukan hal seperti itu." Jawab Alpha menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil memejam.


"Lalu bagaimana dengan istrimu?" Tanya dokter Wilfreed perlahan yang sontak merubah ekspresi wajah Alpha menjadi terlihat sinis.


"Tsk, istri? Kau jangan membuat moodku rusak Wil dengan menyebutkan nama istri di hadapanku,"


"Maaf, tapi biar bagaimanapun dia adalah istrimu, sebesar apapun kebencianmu padanya, itu tidak akan merubah status kalian sebagai sepasang suami istri All,"


"Yah aku tau, dan sebentar lagi aku akan membuatnya menyerah dan pergi menjauh dari hidupku, meski penderitanya selama 5 tahun ini belum cukup untuk membayar dosa dosa ayahnya."


"All, dia tidak tahu menahu soal dendam dan masa lalu di antara keluargamu dan ayahnya. Bukankah kau terlalu kejam?" Ucap Dokter Wilfreed yang berusaha untuk menenangkan hati Alpha, mencoba mencairkan es yang sudah lama membeku di dalam hati Alpha.


"Kejam? Dia pantas mendapatkan itu Wil, pada saat itu aku juga tidak tahu menahu soal masalah Ayah dan bajingan itu, tapi lihat, aku juga turut menderita atas perbuatan ayahnya. Bukankah itu adil?"


"Hah.."


"Aku tau dengan apa yang aku lakukan Wil, kau cukup membantuku untuk menjauhkan gadis itu dari jangkauan Kris." Lanjut Alpha.


"Iya, kita tunggu gadis itu sadar dulu."


"Baiklah, terimakasih Wil,"


"Hmm.. "


Jawab Dokter Wilfreed seraya menepuk-nepuk pundak Alpha. Ia sangat mengerti dengan kondisi sahabatnya saat ini sebab sedikit banyak Dokter Wilfreed juga mengetahui masalah yang tengah mereka hadapi saat ini.


"Dokter Wil, Tuan Muda, maaf.. Gadis itu.." Seru Dareen yang tiba-tiba mengejutkan mereka.


"Ada apa/apa yang terjadi?" Jawab Kenzie dan Dokter Wilfreed secara bersamaan.


"Gadis itu akhirnya sadar." Ucap Dareen.


"Apa?/baiklah." Balas Alpha dan Dokter Wilfreed yang langsung beranjak dari duduk mereka dan langsung melangkah meninggalkan lobby menuju ke lift lantai 10 ruang VVIP.


Dengan langkah yang semakin di percepat, Dokter Wilfreed berjalan memasuki ruangan Edrea yang masih di jaga ketat oleh beberapa bodyguard Alpha. Sedang Alpha tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan ruang inap Emery saat netranya melihat sosok Areta yang tengah terisak di dalam sana. kening pria itu nampak mengeryit, sebab ia paham jika telah terjadi sesuatu di sana. Alpha hanya memasang senyum smirknya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Edrea, namun belum jauh Alpha melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar suara Areta yang memanggilnya. Hingga membuat langkah kakinya terhenti.


"Tuan Besar.. "


Panggil Areta sekali lagi sambil berlari kecil dengan tangisnya menghampiri Alpha yang masih berdiri membelakangi Areta, bahkan tidak memalingkan tubuhnya sedikitpun meskipun hanya untuk sekedar melihat Areta yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Ada apa?" Tanya Alpha yang masih dalam posisinya.


"Nyonya.. "


Kalimat Areta terhenti, dan kembali melangkah mendekati Alpha yang masih berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana slimfitnya.


"Nyonya menghilangkan Tuan,"


Lanjut Areta yang sudah berdiri tepat di hadapan Alpha yang masih dengan ekspresi datarnya. Tidak ada respon sedikitpun dari Alpha, bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah, masih tetap datar dengan sorotan mata tajam, hingga akhirnya terlihat ia menaikan sudut bibirnya keatas.


"Bukankah sudah seharusnya dia menghilang?" Balas Alpha dengan nada rendah dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Areta.


"Tu.. Tuan.. "


Panggil Areta yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Alpha yang terus melangkah memasuki ruangan Edrea dengan langkah lebarnya.


Wanita itu hanya pasrah sambil melihat punggung Alpha yang hanya dalam hitungan detik sudah menghilang di balik pintu.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.