
"Shareen.. Bangunlah, ini kakak, apa kau tidak merindukan kakak?"
Ucap Alpha seraya mengusap pucuk kepala Edrea yang masih terbalut perban. Air mata Alpha terus menetes kali melihat kondisi Edrea saat ini, suatu kondisi yang hanya memeiliki satu persen untuk hidup. Meskipun demikin, namun Alpha menolak untuk menerima kenyataan jika Edrea memang sudah tidak bisa bangun lagi, meskipun alat Ventilator masih menunjukan garis yang sedikit bergelombang dengan suara pelan.
"Shareen, maafkan kakak.. Bisakah kau memberikan kakak satu kesempatan lagi, agar kakak bisa melindungimu lagi? kakak mohon.. bangunlah.. maafkan kakak, karena kakak sudah lalai menjagamu, kakak gagal melindungimu, kakak tidak memenuhi janji kakak untuk tetap menjaga dengan baik, sekali maafkan kakak, bangunlah.. Agar kau bisa menghukum kakak, kakak janji, akan membawamu ke tempat yang kau inginkan, kemanapun itu, kakak akan membawamu pergi jauh dari sini. Shareen.. Bangunlah.."
Ucap Alpha yang semakin erat menggenggam tangan Edrea yang bahkan tidak bergerak sedikitpun, hanya ada air mata yang menitik dari sudut mata Edrea yang masih memejamkan matanya. Dengan perasaan hancur, Alpha mengusap air mata dari wajah Edrea dengan isakannya, isakan yang terdengar pilu. Bahkan Alpha sudah tidak mampu lagi menahan kesedihannya, ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan orang yang ia sayangi lagi.
"Kakak sangat menyayangimu.. kakak mohon.. jangan tinggalkan kakak sendiri lagi.. Shareen.. "
Alpha hanya bisa menangis sambil menggenggam telapak tangan Shareen yang saat ini sudah di penuhi oleh air matanya. Dan hal itu cukup membuat Dokter Wilfreed dan Dareen yang melihatnya ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Sebab mereka sudah sangat paham betapa sakitnya perasaan Alpha saat ini.
"Aku bahkan tidak pernah melihatnya seperti ini," Ucap Dareen yang hanya bisa menarik nafas dalam saat melihat keadaan Alpha sekarang.
"Aku tahu.." Balas Dokter Wilfreed mengangguk pelan.
"Dokter Will.. Bagaimana kondisi Nona Shareen sebenarnya?" Tanya Dareen yang membuat Dokter Wilfreed hanya bisa terdiam sambil terus menatap ke arah Alpha.
"Apa sudah tidak ada harapan lagi?" Tanya Dareen lagi, sedang Dokter Wilfreed masih terdiam.
"Kita hanya bisa berdoa untuk saat ini, aku akan melihat kondisi Nona Shareen, bisakah kau menenangkan Alpha?"
"Baiklah.. "
Jawab Dareen mengangguk. Sedang Dokter Wilfreed langsung melangkah masuk ke dalam Edrea.
"All, biarkan aku memeriksa kondisi Nona Shareen," Ucap Dokter Wilfreed sambil menghampiri Alpha yang masih terisak di pinggiran tempat tidur Edrea.
"Wil.. Bisakah kau membangunkannya untukku?" Tanya Alpha dengan suara seraknya.
"All.. Aku akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap Dokter Wilfreed seraya menepuk-nepuk perlahan pundak Alpha.
"Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan untuknya Wil, kerahkan semua kemampuanmu untuknya." Balas Alpha yang langsung melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
Alpha yang terlihat nampak berantakan langsung mendudukkan dirinya di atas kursi, sedang Dareen yang sejak tadi menunggu di luar hanya bisa terdiam sambil melangkah ke arah Alpha, menyentuh pundak Alpha untuk menguatkannya. Hingga beberapa menit berlalu, nampak terlihat beberapa perawat dengan langkah yang sedikit berlari menghampiri memasuki kamar inap Edrea. Dan hal itu menandakan jika saat ini kondisi Edrea memburuk.
"Apa yang terjadi... Shareen.. " Ucap Alpha yang terlihat panik berdiri di depan pintu yang sudah tertutup rapat.
"Tenanglah Tuan muda, Dokter Wil sedang bersama Nona Shareen sekarang, dan dia akan baik baik saja." Ucap Dareen yang berusaha menenangkan Alpha yang sudah sangat panik.
"Bagaimana aku bisa tenang sekarang, bahkan Shareen sudah tidak merespon apapun lagi sekarang, kau lihat sendiri kan tadi, dia sudah tidak merespon apapun." Balas Alpha seraya mengusap wajahnya dengan sangat kasar, wajah yang terlihat sangat kelelahan sebab sudah sejak semalam Alpha belum juga memejamkan matanya sedetikpun. Ia terus menunggu Edrea di dalam ruangan dan tidak meninggalkannya sedikitpun.
Sedang di ujung ruangan yang tidak jauh dari tempat Alpha sekarang, nampak Elard yang masih terdiam di balik sudut tembok rumah sakit, tertunduk dengan tubuh yang bergetar sambil memegang sepucuk pistol di tangannya. Sudah hampir tujuh jam Elard terus berdiri di sana, berharap ada kabar yang mengatakan jika Edrea baik baik saja, ia hanya ingin mendengar kabar bahwa gadis yang sangat di cintainya itu sudah melewati masa kritisnya, membuka matanya, dan kembali tersenyum seperti hari hari kemarin. Namum sedari tadi ia tidak juga mendengar kabar baik apapun selain kondisi Edrea yang semakin memburuk. Bahkan tubuhnya sudah menolak cairan infus lagi.
Apa kau akan benar-benar pergi meninggalkan aku? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu menemaniku? kita akan selalu bersamakan? tapi kenapa kau belum bangun juga? aku sudah sangat merindukanmu.
Elard masih terdiam di sana, sampai akhirnya netranya menangkap sosok Ibunya yang tengah berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa. Dengan cepat Elard menyelipkan pistolnya yang sedari tadi di pegangnya di balik jaket yang di kenakannya. Bahkan saat ini Ia bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Ibunya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Elard.. Tidak seharusnya kau berada di sini sekarang, kau terluka cukup parah saat ini, Ibu akan membawamu menemui Dokter...."
"Tidak perlu, aku baik baik saja Ibu, Aku hanya merindukan Shareen, aku ingin menemaninya di sini." Ucap Elard perlahan dengan pandangan yang masih tertuju ke arah pintu kamar ICU.
"Berhentilah bersikap keras kepala Elard, Ibu tahu kau sedang berusaha menahan sakit sekarang." Balas Nyonya Carolyn seraya mengusap wajah Elard yang terlihat pucat pasi.
"Semua akan baik baik saja." Lanjut Nyonya Carolyn.
"Tidak, Shareen dalam kondisi sekarat Bu, dia sedang tidak baik baik saja, sakitku sekarang ini tidak lebih parah dari sakit Shareen sekarang." Balas Elard seraya mencengkram kedua bahu Ibunya dengan sangat keras sambil mengguncang tubuh Ibunya yang hanya terdiam dengan air mata yang mulai menetes di wajahnya.
"Tenanglah Elard.. Ibu mohon, jangan menyiksa dirimu seperti ini." Pinta Nyonya Carolyn dengan isakannya.
"Aku takut.. Aku takut dia tidak bisa bangun lagi.. Dia sangat kesakitan di sana Bu, dia sendirian di sana.. "
"Ibu tahu Elard."
"Ibu.. Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Elard tertunduk, tubuhnya merosot ke bawah sambil mencengkram keras rambutnya.
"Elard, Ibu akan melihat kondisi Shareen untukmu, Ibu mohon tetaplah di sini, bisakah kau mendengar Ibu untuk kali ini saja?" Tanya Nyonya Carolyn seraya mengusap rambut Elard yang masih tertunduk dengan anggukannya sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Dengan keras ia mengepalkan tangannya, hingga terlihat buku bukunya memutih.
Sedang Nyonya Carolyn terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang ICU yang jaraknya tidak jaauh dari tempat Elard duduk saat ini. Dengan perasaan takut dan gelisah yang sudah bercampur aduk di hatinya, Nyonya Carolyn terus melangkah sambil berusaha menekankan perasaan takutnya. Apalagi di saat netranya tertuju pada saat sosok yang sedang duduk di sebuah kursi sambil tertunduk tepat di depan pintu ICU yang sangat di jaga ketat oleh beberapa pengawal. Nyonya Carolyn kembali menghentikan langkahnya, menatap Alpha dari jarak beberapa meter dengan mata yang mulai berkaca.
"All.. "
Panggil Nyonya Carolyn yang sontak membuat Alpha mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Wajah Alpha terlihat bingung saat melihat sosok wanita yang baru saja memanggil namanya tersebut. Hingga selang beberapa menit Nyonya Carolyn akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Alpha yang masih terdiam menatapnya dengan tatapan tajam.
Namun saat kaki Nyonya Carolyn akan kembali melangkah tiba tiba pandangannya tertuju pada satu sosok yang tengah terbaring di ruang ICU, yang seketika itu juga membuat nafas Nyonya Carolyn seolah tercekik, dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya.
"Rea. "
Gumam Nyonya Carolyn yang terdengar jelas di telinga Alpha, hingga sontak membuat pria itu terperanjat kaget.
"Dari mana anda mengetahui nama gadis itu?" Tanya Alpha mengernyit.
"Karena saya mengenalnya."
"Apa? Siapa anda sebenarnya?" Tanya Alpha dengan tatapannya yang semakin tajam, hingga membuat Nyonya Carolyn terdiam untuk sesaat sambil mengatur nafasnya.
"Saya Carolyn,"
"Saya Ibu dari Emery dan Elard." Ucap Nyonya Carolyn perlahan yang sontak membuat Alpha terkejut yang dengan reflek langsung beranjak dari duduknya dan mulai mendekati Nyonya Carolyn yang masih mematung di depan ruangan ICU.
"Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Alpha yang tengah berusaha keras menahan amarahnya.
"Tenanglah All, saya hanya ingin memastikan jika gadis itu adalah Edrea, ternyata memang benar, dan dia adalah Edrea."
"Apa hubungan anda dengan Edrea saya? Apa anda akan membunuhnya juga seperti apa yang di lakukan oleh suami anda?" Sindir Alpha dengan tatapan mata yang tidak berubah sama sekali, dingin dan sangat menakutkan.
"All.. Tidak bisakah kau tenang?" Pinta Nyonya Carolyn perlahan.
"Pergi, saya tidak ingin melihat keluarga Cullen berada di sini."
"All.. Saya mohon.. Dengarkan saya dulu, apa kau tahu, jika gadis yang sedang terbaring di sana sekarang adalah adik kandungmu, anak yang lahir dari rahim ibumu."
"Ap.. Apa?
"Yah, dia adalah Adik kandungmu."
Tubuh Alpha seketika kaku, ia masih sulit mencerna perkataan Nyonya Carolyn yang mulai meneteskan air matanya.
"Edrea adalah adikmu, anak dari Ibumu Nyonya Aleen." Lanjut Nyonya Carolyn, sedang Alpha masih terdiam dengan tubuh yang bergetar.
"Apa anda sedang mempermainkan saya sekarang? haruskah saya mempercayai anda? Ibuku sudah meninggal dunia 26 tahun lalu."
"Tidak All, Ibumu masih hidup, Ibumu berada di sini, selama ini dia selalu berada di dekatmu tampa kau sadari."
Air mata Alpha kembali menetes tampa ia sadari.
"BERHENTI MEMPERMAINKAN SAYA.."
"Apa saya terlihat sedang bermain-main sekarang? Tidak All, bahkan kali ini saya sangat serius." Balas Nyonya Carolyn yang masih berusaha bersikap tenang dengan kemarahan Alpha saat ini."
"Lalu Siapa? SIAPA AYAH SHAREEN?"
Teriak Alpha yang memenuhi ruangan rumah sakit tersebut. Sementara Nyonya Carolyn kembali terdiam, lidahnya serasa keluh, bahkan untuk menyebut dua kata saja sangat terasa sulit sekarang.
"SIAPA AYAH SHAREEN?" Tanya Alpha sekali lagi dengan nada yang semakin meninggi.
"Chris Cullen."
Seolah terkena beban berpuluh-puluh ton di atas kepalanya, Alpha menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah tidak ingin menerima kenyataan saat ini. Meskipun ia tahu, jika apa yang di dengarnya sekarang adalah kebenarannya.
Tidak... Tidak... Ini tidak nyata.. Tidak..
Alpha terus menggelengkan kepalanya, seolah tidak ingin menerima perkataan Nyonya Carolyn.
"Ibumu, Nyonya Kinandita Aleen Berta masih hidup, dia masih hidup All."
Nafas Alpha seolah berhenti, tiba-tiba saja ia merasakan sesak, air matanya kembali mengalir dari sudut matanya, hingga pandangannya kembali tertuju kepada sosok Edrea yang masih terbaring di sana. Ia bahkan sudah merasakannya sejak awal saat pertama kali melihat Edrea, ia yang selalu bingung dengan perasaannya dan keinginannya yang selalu ingin menyayangi dan melindungi Edrea ternyata mempunyai alasan. Dan sampai saat ini, akhirnya semua pertanyaan yang sudah lama tersimpan di dalam hatinya terjawab sudah.
Harusnya kakak memelukmu sekarang, Shareen.. Kau dengar? aku adalah kakakmu yang sebenarnya, kali ini kakak tidak sedang mebohongimu, kakak mohon.. Bangunlah..
"AARRGGHHH..."
Teriak Alpha sambil terus menjambak rambutnya dengan air mata yang seolah tidak ada habisnya.
Sementara Di sudut ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruangan ICU, air mata Elard sudah membasahi wajah pucatnya saat ia mendengar semua perkataan Ibunya barusan. Kenyataan yang bahkan lebih menyakitkan lagi baginya, kenyataan bahwa selama ini ia sudah mencintai adiknya sendiri sungguh sulit untuk di terimanya. Bahkan untuk berlaripun ia sudah bisa mampu lagi, rasa cintanya yang teramat besar untuk Edrea sudah tidak mampu di hilangkannya lagi.
Dengan mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, Elard langsung berdiri dan kembali menyeret langkahnya untuk menghampiri Ibunya sambil berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang membuatnya semakin melemah. Hingga Dokter Wilfreed tiba-tiba keluar dari ruangan UGD dengan wajah yang nampak panik.
"All.. "
Panggil Dokter Wilfreed yang sudah berdiri tepat di hadapan Alpha.
"Ada apa? Bagaimana keadaan Shareen? dia baik-baik saja kan?" Tanya Alpha yang sudah terlihat ketakutan, sedang Dokter Wilfreed hanya terdiam untuk sesaat sambil menarik nafas dalam.
"Jantungnya masih berdenyut, tapi batang otak Nona Shareen sudah mati."
Alpha terperanjat dengan air mata yang lagi lagi menetes membasahi wajahnya. tubuhnya merosot kebawah sambil terus terisak. Begitupun dengan Nyonya Carolyn yang langsung menangis pilu.
Sedangkan Elard yang mendengar perkataan Dokter Wilfreed hanya bisa terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, tidak ada tangisan ataupun air mata di sana.
Nyonya Carolyn meraih tubuh Elard untuk di peluknya erat, hingga beberapa detik kemudian Nyonya Carolyn terperanjat dengan tubuh bergetar saat suara tebakan terdengar sangat jelas di telinganya.
DOORR..
Elard meraih sepucuk pistol dari dalam saku jasnya dan langsung mengarahkan ke kepalanya sendiri. Hingga sedetik kemudian tubuh Elard lunglai dengan darah yang mengalir kental di samping pelipisnya.
"Tidak.. Elard.. Bangun Nak.. Elard.. Tidaaakkk... "
Jerit Nyonya Carolyn seraya memeluk tubuh Elard yang sudah tidak bernyawa lagi, bersamaan dengan suara pendeteksi yang terhubung di jantung Edrea, hanya ada satu suara yang terdengar di ruangan tersebut, suara datar yang menandakan detak jantung Edrea telah berhenti.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.