
"Tolong.. Biarkan aku bernafas dengan lega. Biarkan aku hidup tenang, lepaskan aku.. Alpha, Tolong.. Lepaskan saja aku."
"Apa kau benar-benar ingin aku pergi? apa kau ingin aku benar-benar melepaskanmu?" Tanya Alpha dengan suara yang terdengar bergetar, bahkan langsung di balas anggukan tampa ragu oleh Starla, meskipun di dalam hatinya merasakan sesak. Di kepalkan tangannya dengan sangat keras, berusaha untuk menahan rasa sakit dan air mata yang sepertinya sebentar lagi akan menetes.
"Pergilah.. Aku ingin kau benar-benar pergi dari hidupku" Ucap Starla perlahan yang membuat tubuh Alpha seketika membeku. Matanya seketika berkaca dengan nafas yang seolah tercekik, kenyataan jika hatinya telah di patahkan oleh Starla membuatnya sulit untuk menerima semuanya. Dengan perlahan Alpha menghirup udara dan kembali menghembuskannya ke udara.
"Baiklah.. Aku pergi.. Kau tidak akan melihatku lagi." Ucap Alpha perlahan dan langsung melangkah meninggalkan Starla yang sudah menitikkan air matanya. Hatinya hancur seketika saat melihat Alpha melangkah meninggalkannya. Sebesar apapun rasa cintanya kepada Alpha saat ini, namun entah mengapa, rasa takut yang teramat besar seolah mengalahkan semuanya. Rasa trauma yang pernah di alaminya sampai membuatnya kehilangan Ibunya dan semua yang ia miliki benar-benar membuat dirinya tidak mempunyai keberanian lagi untuk melangkah di samping Alpha. Mengikuti langkah Alpha dan mempercayakan hatinya kepada Alpha.
* * * * *
20 menit berlalu, nampak keluarga Elfredo terlihat meninggalkan Mansion menuju ke sebuah Restoran Mewah yang sudah mereka pesan terlebih dahulu. Dan di sana sudah nampak kedua sosok wanita yang berbeda usia namun terlihat begitu anggun dengan balutan dress indah yang membuat keduanya begitu anggun, dan sungguh pemandangan yang menyenangkan kala melihat kedua wanita yang tengah duduk nyaman dengan obrolan ringan yang membuat mereka sesekali saling melempar tawa.
"Selamat malam Nyonya Cullen," Sapa Tuan Fridell sambil mengulurkan tangannya saat ia dan putranya Lucas sampai di meja Nyonya Carolyn dan Emery.
"Selamat malam Tuan Fridell.. Lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda?" Tanya Nyonya Carolyn yang langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Tuan Fridell juga Lucas yang langsung membungkuk memberikan hormat. Begitu juga dengan Emery yang membalas sapaan Keluarga Elfredo.
Suasana canggung seketika di rasakan oleh Emery dan Lucas saat mereka duduk bersama di satu meja yang sama. Meskipun di antara mereka ada Nyonya Carolyn dan juga Tuan Fridell. Namun suasana masih terasa sangat begitu berbeda bagi Emery yang saat ini tengah merasa gugup saat tatapan Lucas terus tertuju padanya. Tatapan yang begitu tajam, hingga membuatnya jadi mengingat satu sosok yang juga memiliki tatapan yang sama. dan sosok Alpha kembali hadir di pikiran Emery, sosok yang juga memiliki tatapan tajam, meskipun pria yang masih menatapnya saat ini tidak berwajah dingin dan kaku seperti Alpha.
"Apa kabar Emery?" Tanya Tuan Fridell saat pandangannya tertuju kepada Emery yang tengah tersenyum dengan sedikit membungkuk.
"Baik paman Dell," Jawab Emery lembut.
"Perkenalkan ini anak paman, Lucas Elfredo." Balas Tuan Fridell yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lucas yang juga langsung tersenyum saat pandangan matanya kembali tertuju kepada Emery.
"Lucas,"
"Emery."
Ucap keduanya saling menyapa dengan senyum masing-masing.
"Bukankah mereka sangatlah serasi?" Tanya Tuan Fridell seraya menarik nafas lega saat melihat interaksi keduanya yang tidak begitu buruk. Sebab Tuan Fridell masih bisa melihat senyum dari wajah Lucas. Dan kali ini ia benar-benar melihat senyum tulus dari seorang Lucas.
"Ah iya.. Bukankah mereka juga seumuran? jadi wajar jika mereka terlihat serasi." Balas Nyonya Carolyn tersenyum.
"Maaf jika mendadak mengundangmu untuk makan malam bersama Carol. Aku pasti sudah mengganggu kesibukanmu." Ucap Tuan Fridell yang langsung membuka pembicaraan.
"Ah tidak masalah.. Lagi pula sudah sangat lama kita tidak bertemu, dan itu sejak dua tahun lalu. Aku tidak keberatan sedikitpun Fridell, apalagi kali ini kau besama putramu." Balas Nyonya Carolyn yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lucas yang langsung tersenyum dan kembali membungkuk memberikan hormat.
"Yah.. Agar kau bisa mengenal putraku tentu saja, dan sebagai teman lama, aku ingin keluarga Cullen dan Elfredo bisa jadi lebih dekat lagi."
"Tidak masalah Fridell,"
"Baiklah.. Silahkan nikmati makan malamnya." Balas Tuan Fridell mempersilahkan untuk makan saat beberapa pelayan meletakkan berbagai macam menu istimewa untuk makan malam mereka. Hingga 20 menit berlalu, mereka kembali menyantap makanan penutup sebelum acara makan malam mereka berakhir.
"Carol.. Aku ingin menyampaikan keinginanku terlebih dahulu. Apa bisa aku berbicara sekarang?" Tanya Tuan Fridell saat usai menyantap makanan penutupnya, yang spontan langsung membuat ekspresi wajah Lucas menjadi berubah dan terlihat gelisah.
"Ada apa Fridell? Kau nampak serius?"
"Begini. Aku ingin melamar Putrimu Emery untuk menjadi istri Lucas putraku." Ucap Tuan Fridell menyampaikan keinginannya yang sontak membuat Nyonya Carolyn terkejut, terlebih lagi dengan Emery yang bahkan sampai menjatuhkan garpu yang tengah di pegangnya.
"Maksudnya? Apa kau sedang melamar putriku Emery untuk menjadi menantumu?" Tanya Nyonya Carolyn sekali lagi, seolah tidak mempercayai pendengaranya saat ini, namun anggukan Tuan Fridell kali ini cukup membuatnya yakin jika pendengarannya kali ini masih sangat normal dan tidak bermasalah.
"Tepat sekali. Aku ingin menikahkan Lucas dengan putrimu Emery." Balas Tuan Fridell yang membuat suasana di Restaurant ruang VIP tersebut menjadi hening untuk sesaat. Emery yang tiba-tiba terdiam dengan pikirannya, begitupun juga dengan Lucas yang semakin gelisah karena kembali memikirkan Starla.
Dengan perlahan Nyonya Carolyn langsung mengalihkan pandangannya ke arah putrinya Emery yang masih tertunduk dalam diam. Sedang Lucas yang sedari tadi tidak mengeluarkan satu katapun hanya mampu menampakkan senyum tipisnya saat pandangan Nyonya Carolyn tertuju padanya.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang Carol, aku akan memberikan kalian waktu untuk berfikir, terutama Emery." Balas Tuan Fridell yang seolah mengerti dengan pikiran Nyonya Carolyn saat ini, dan kembali memandang Emery yang masih terdiam. Hanya senyum tipis yang terulas dari bibir tipisnya saat ia menyadari jika saat ini Tuan Fridell tengah memandangnya dan mengawasi gerak geriknya yang mulai gelisah.
Lagi lagi hal ini kembali terjadi padaku. Tidak bisakah aku bersama dengan seorang pria yang aku cintai dan mencintaiku. Tuhan.. Jangan lagi, aku mohon.
Batin Emery yang masih mengunyah perlahan cake stowberinya. Sedang Lucas yang sejak tadi menatap Emery hanya bisa mengernyit dengan senyuman yang masih betah ia tunjukan dari sudut bibirnya.
Apa yang sedang ia pikirkan, kenapa dia terlihat sangat lucu, apa dia seorang wanita yang sudah siap untuk memiliki seorang suami? apapun itu.. Aku mohon, gunakan mulutmu untuk menolak perjodohan ini. Aku yakin, kau bukan gadis lemah yang mau menerima apapun yang di berikan padamu. Kecuali jika kau mencintaiku saat pandangan pertama.
Batin Lucas yang masih sibuk mengamati tingkah lucu Emery akhirnya tersentak saat Tuan Fridell menyebut namanya.
"Putraku akan menunggu jawaban dari Emery, bukankah begitu Lucas?" Tanya Tuan Fridell sekali lagi yang membuat Lucas langsung mengangguk tanda setuju. Bahkan tatapan Tuan Fridell yang seolah memberikan Lucas sebuah isyarat agar bersikap baik, cukup membuat Lucas paham jika kali ini Ayahnya tidak ingin ia membuat kekacauan.
"Aku akan menunggunya, sebab dia wanita yang layak untuk di nantikan." Balas Lucas dengan senyumannya yang membuat Emery serasa ingin memuntahkan kembali makanannya yang sudah bejalan menuju tenggorokannya.
Jangan gunakan rayuan gombalmu di sini, dasar anak kurang ajar. Kau terlalu berlebihan.
Batin Tuan Fridell seraya menatap wajah Lucas yang masih tersenyum.
Ada apa Ayah, bukankah ini yang Ayah inginkan? Dengan aku bersikap baik, okey.. Aku akan menunjukan ke pada Ayah, bagaimana caraku bersikap baik. Semoga Ayah tidak menyesal karena sudah memikirkan ide untuk menjodohkanku.
Batin Lucas yang balas menatap sang Ayah.
"Baiklah.. Aku juga perlu menanyakan rencana ini kepada Emery, biar bagaimanapun keputusan ada di tangan Emery." Balas Nyonya Carolyn perlahan setelah ia mengatur perasaannya yang sempat terkejut saat mendengar keinginan Tuan Fridell.
"Iya, jangan sungkan Carol, aku dan Lucas akan memberikan kalian waktu." Balas Tuan Fridell dan kembali melanjutkan perbincangan mereka hingga dua jam berlalu. Hingga keluarga Cullen pun pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Tidak masalah Fridell, senang bertemu denganmu dan juga Lucas." Balas Nyonya Carolyn tersenyum ramah.
"Terimakasih Nyonya Carolyn, Emery, sampai bertemu lagi." Sambung Lucas sedikit membungkuk, saat kedua tamu Ayahnya beranjak pergi menjauh dari hadapannya mereka.
"Aku harap Ayah puas sekarang." Ucap Lucas yang langsung meneguk sebotol air mineralnya hingga tandas dan dengan keras Lucas meremas botol mineral tersebut, seraya membuangnya dengan kasar, bahkan Lucas langsung beranjak dari duduknya tampa menunggu jawaban dari Ayahnya, melangkah pergi meninggalkan Tuan Fridell yang masih duduk di kursinya.
"Apa anda serius untuk menjodohkanku dengan Emery?" Tanya Lucas di tengah perjalan pulang mereka. Lucas yang sedang duduk di belakang kursi kemudi hanya bisa mengumpat kesal dalam hati.
"Apa Ayah terlihat sedang bermain-main sekarang?" Jawab Tuan Fridell yang balik bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan dari Lucas.
"Bukankah Emery sudah pernah menikah sebelumnya?" Tanya Lucas penuh selidik, berharap Ayahnya akan berubah pikiran kali ini dan membatalkan perjodohannya.
"Itu memang benar,"
"Dan anda masih menginginkannya untuk menjadi istriku?" Tanya Lucas lagi seolah tidak percaya dengan jalan pemikiran Tuan Fridell.
"Apa Ayah harus mengulanginya lagi? Dia sudah pernah menikah ataupun belum, itu tidak masalah buat Ayah."
"Memang kapan anda akan mempertimbangkan perasaanku? Kenapa aku harus selalu mendengarkan semua perkataan anda? Apakah aku ini benar-benar anak anda?"
"Haruskah kita berdebat di sini sekarang?" Tanya Tuan Fridell yang langsung membuat Lucas terdiam.
"Ada fakta penting yang harus kau ketahui Lucas, bahwa pria yang pernah menjadi suami Emery adalah orang yang sudah menolakmu juga Perusahaanmu." Ucap Tuan Fridell yang lagi-lagi membuat Lucas terhenyak.
"Maksud anda?"
"Alpha Khandra. Dia adalah pria dari keluarga Berta yang pernah menjadi suami Emery."
"Bahkan aku tidak peduli.."
"Benarkah? Atau memang kau berniat untuk terus mengalah pada pria Berta itu dan membiarkannya mengambil semua yang kau miliki?"
"Apa maksud anda? Emery belum menjadi milikku, memang apa yang sudah ia rebut dariku?"
"Kau cukup mengerti maksud Ayah Lucas, kau anak Ayah yang sangat cerdas, dan Ayah sangat tahu itu."
"Jangan pernah menggunakan pernikahanku sebagai sarana balas dendam anda kepada Siapapun." Ucap Lucas yang membuat Tuan Fridell terbahak.
"Ayah tidak pernah berpikir seperti itu, bukankah kau terlalu rendah menilai tentang Ayahmu? Ayah menginginkan Emery untuk menikah denganmu, karena hanya wanita seperti Emery yang sangat pantas berada di sampingmu."
"Tapi aku tidak menyukainya, bukankah anda hanya akan membuat Emery tersiksa jika dia harus menikah dengan pria yang tidak menginginkannya?"
"Pernikahan tampa cinta tidak selamanya berakhir dengan buruk dan menyedihkan Lucas," Ucap Tuan Fridell perlahan.
"Apakah kata-kata yang barusan saja anda ucapkan adalah pengalaman anda sendiri?" Tanya Lucas yang membuat Tuan Fridell mengernyit.
"Aku bahkan hampir lupa jika anda memiliki cukup banyak istri selain Ibu. Anda juga mempunyai seorang anak yang bahkan sampai sekarang aku tidak mengetahui bagaimana rupa anak anda itu, aku tidak pernah tahu apakah dia seorang pria atau wanita."
"Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan kehidupan Ayah? Bukankah selama ini kau tidak pernah mau tahu tentang kehidupan Ayahmu?" Tanya Tuan Fridell santai.
"Bukannya tidak tertarik dengan kehidupan anda Tuan Fridell Elfredo yang Agung, aku hanya lebih memilih untuk hidup tenang tampa harus mengetahui semua yang akan membuatku sakit. Karena pada akhirnya aku akan kembali mengingat Ibu," Balas Lucas yang kali ini berhasil membuat Tuan Fridell terdiam.
"Siapapun yang bersama Ayah saat ini, ataupun nanti, satu hal yang perlu kau tahu Lucas, hanya Ibumu satu-satunya wanita yang selalu berada di hati Ayah."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Wanita yang sudah berhasil membuat Ibu sakit hati? Dan lebih memilih mengalah dengan rasa sakit demi wanita jalang yang anda pungut di luar saja."
"CUKUP LUCAS," Teriak Tuan Fridell dengan wajah memerah menahan emosinya.
"Bahkan kau tidak akan bernafas seperti sekarang jika tampa bantuannya, jadi jangan pernah mengatainya seperti itu."
"Memang apa yang sudah wanita itu lakukan untukku? Kenapa anda selalu saja membelanya? Dan sampai kapan anda akan terus menyembunyikan anak anda yang lain dariku?"
"Cukup Lucas, kita hentikan pembahasan ini. Bahkan Ayah jadi merindukan kamu yang selalu mengabaikan Ayah dan selalu menolak untuk berbicara dengan Ayah."
"Tsk,"
Mau sampai kapan anda akan menyembunyikan semua rahasia kecil anda padaku.
Batin Lucas yang tiba-tiba merasa geram dengan sikap sang ayah.
"Ayah akan ke Mansion Utama." Ucap Tuan Fridell saat mobil mereka terparkir tepat di dalam halaman Mansion milik Lucas. Bahkan tampa menjawab perkataan dari Tuan Fridell, Lucas dengan suasana hati yang kini tengah di penuhi rasa marah langsung turun dari mobil sang Ayah saat seorang pengawal membukakan pintu untuknya. Dan melangkah masuk ke dalam Mansion tampa memperdulikan ucapan selamat malam dari Tuan Fridell.
"Akan lebih bagus jika dia terus mengabaikanku," Gumam Tuan Fridell yang langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil yang sudah melaju meninggalkan Mansion Lucas menuju ke sebuah Apartemen sederhana milik seorang yang selama ini identitasnya di sembunyikan oleh Tuan Fridell.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.