
"Aku menginginkan Emery."
"You're crazy Jackob! Aku rasa Emery tidak ada hubungannya dengan urusanmu," balas Daniel dengan ekspresi wajah yang seketika berubah gelap.
"Ya, aku rasa kau benar. Tapi aku harus bagaimana? Aku menginginkan Emery, bahkan sejak dulu."
"Perkelahian kalian hanya karena salah paham Jackob, kau tidak harus menargetkan Emery, karena itu tidak akan mungkin. Alpha tidak akan membiarkanmu, aku rasa kau sudah mendengar penyebab kematian Tuan Chris beberapa tahun lalu, itu akan menjadi pertimbanganmu, bahwa Alpha bukanlah orang sembarangan."
"Brothers, sepertinya kau tidak hanya mengenal keluarga Berta, kau juga terlihat melindungi keluarga tersebut, aku jadi penasaran."
"Bukankah sudah aku katakan Jackob, aku pernah menjadi pengawal pribadi Tuan Chris, bahkan sampai sekarang pun aku masih memiliki tanggung jawab atas mereka. Alpha adalah suami dari Emery. Jika kau mengusiknya, itu sama saja kau mengusikku. Kau tahu artinya itu Jackob Sean," balas Daniel menatap tajam, perkataannya sangat jelas mengartikan jika Emery masih dalam lindungannya. Dan Jackob Sean tidak di perbolehkan untuk menjadikan mereka targetnya lagi.
Untuk sesaat Jackob Sean terdiam, dan tak berkomentar apa pun. Ia tidak bisa mengabaikan peringatan Daniel, sebab biar bagaimanapun Fridell Elfredo adalah kakak tertua di family mereka. Dan sudah seharusnya Jackob Sean menghargai ataupun patuh kepada putera pertama dari Fridell Elfredo. Meski itu bertentangan dengan keinginannya.
"Baiklah," angguk Jackob Sean setelah berfikir beberapa saat. "Kali ini aku akan melepaskannya, tapi. Aku tidak yakin jika keluarga Berta akan kembali berbuat masalah denganku," sambungnya.
"Aku akan pastikan itu."
"Kau akan menjadikan dirimu jaminan, Brothers?" tanya Jackob Sean kembali mengernyit. Menatap Daniel yang nampak serius, bahkan terlihat jelas dari ekspresi wajahnya saat ini.
"Ya, tentu saja. Jika kau memang membutuhkan jaminan," balas Daniel terlihat tak main-main. Bahkan ekspresi wajahnya masih belum berubah.
"Baiklah," balas Jackob Sean mengangguk pelan, dan langsung meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Tinggalkan lokasi pengintaian,"
Perintah Jackob Sean kepada seseorang di ujung sambungan sambil menatap Daniel.
"Membatalkan misi begitu saja? Anda berubah pikiran? Bahkan kita sudah melihat target."
"Anggap saja demikian. Keluarga Berta bukan target kita lagi."
Jackob Sean memutuskan panggilan telfon.
"Malam ini puluhan kontainer berisi barang impor yang di kirim dari paris milik BRT GROUP akan tiba di pelabuhan dalam waktu tiga puluh menit lagi. Akan menyenangkan jika aku bisa bermain dengan Alpha saat ini. Namun, sepertinya aku sudah mendapatkan jaminan yang setimpal."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku memiliki berpuluh-puluh ton barang untuk di kirim ke Braga. Kau tahu, sangat sulit untuk meloloskan barang jenis itu di sana tanpa memiliki koneksi yang bagus."
"Lalu?"
"Kau bisa membantuku untuk mengirim barang tersebut. Jaringanmu sangat luas. Dan itu akan memudahkanmu."
"Kau tahu aku tidak melakukan pekerjaan seperti itu Jackob."
"Tapi kau akan melakukannya untukku, Brothers. Mengingat kau adalah jaminan keluarga Berta saat ini," balas Jackob Sean sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk tangannya. "Kita akan melakukannya malam ini, dan aku akan melupakan masalah yang sudah terjadi dengan keluarga Berta. Bagaimana, Brothers?"
"Baiklah. Aku akan membantumu, ini yang terakhir Jackob. Dan ingat satu hal, aku tidak ingin mendengar ada masalah antara keluarga Berta dan Almero," tegas Daniel yang langsung di balas anggukan oleh Jackob Sean.
"Kau bisa mempercayaiku, Brothers."
"Baiklah, kita akan melakukannya sekarang. Lebih cepat lebih baik," balas Daniel beranjak dari duduknya dan melangkah pergi, di susul Jackob Sean yang kembali menghubungi seseorang.
"Kita akan ke gudang, beberapa orangku sudah menunggu di sana," ucap Jackob Sean yang hanya di balas anggukan oleh Daniel.
Hingga dalam beberapa detik saja, mobil yang di kendarai Jackob Sean sudah melaju meninggalkan tempat tersebut. Menyusul mobil Daniel.
Emery sudah terlelap di dalam pelukan sang suami yang saat ini masih melamun sambil menatap wajah sang istri yang memejam. Pertemuannya dengan Jackob Sean beberapa jam lalu kembali terlintas di pikirannya. Rasa marah masih saja menyelimuti hatinya, kala kalimat Jackob Sean yang mengatakan jika menginginkan istrinya sungguh membuat amarahnya memuncak.
Alpha tidak habis fikir, jika keluarga sang istri ternyata tergabung dalam Almero family. Bahkan sangat dekat, hingga seorang Jackob Sean saja terlihat sangat mengenal Emery, istrinya. Apa mereka saling kenal sebelumnya? Atau bahkan pernah bertemu sebelumnya? Pikir Alpha semakin gelisah.
Hingga kejadian beberapa puluh tahun lalu kembali terlintas di ingatannya, selain urusan cinta, sebenarnya apa motif utama Chris Cullen sampai menghabisi nyawa ayahnya. Bukankah mereka bersahabat? Lalu mengapa Chris Cullen tega membunuh sahabatnya sendiri. Apa karena keluarganya terlibat dengan mafia?
Pikiran Alpha semakin tak karuan. Axel nampak mengenal Jackob Sean, bahkan cukup banyak mengetahui soal Almero family. Selama ini Alpha memang jarang berhubungan dengan kakak sesepunya Axel Delano, selain pria itu menetap di Swiss, ayah dari Axel juga tidak menetap di Verona. Joe Lucchese menatap di Irlandia beberapa puluh tahun lalu sebelum ayahnya terbunuh, dan tinggal terpisah dengan kakanya Adley Berta.
Dan bukan hal yang tidak mungkin jika Alpha tidak begitu mengetahui tentang semua yang berhubungan dengan Axel. Namun, sejak ia terlibat masalah bodoh dengan Jackob Sean, dan Axel yang turut membantu, bahkan rencana mereka seratus persen berhasil tanpa kendala apa pun membuat Alpha sedikit penasaran hingga yakin jika Axel memiliki hubungan dengan Almero family. Meski ia berharap jika ia salah kali ini. Sebab jika memang benar, secara tidak langsung ia juga termasuk dalam komplotan tersebut. Sebab biar bagaimanapun ayah Axel, Joe Lucchese adalah kakak kandung dari ayahnya sendiri. Jadi tidak menutup kemungkinan jika ia juga salah satu kelompok mafia seperti mereka.
Alpha menghela nafas panjang. Melepaskan pelukannya dengan perlahan dari tubuh Emery yang masih pulas. Menutupi seluruh tubuh sang istri dengan selimut tebal sebelum beranjak dari sana, sebelum melangkah keluar kamar menuju ruang tengah. Yang di sana sudah terlihat Axel, Darren, dan Leon yang sudah menunggu.
"Maaf menunggu lama," ucap Alpha yang langsung duduk di sofa tunggal.
"Kau terlihat kebingungan, bagaimana pertemuanmu dengan Jackob Sean?" tanya Axel.
"Semua berjalan dengan lancar."
"Apa tidak ada tawaran atau kesepakan di antara kalian?"
"Tentu saja ada. Si bodoh itu menginginkan hal yang tidak mungkin," balas Alpha yang membuat Axel dan Leon mengernyit.
"Apa yang dia inginkan?" tanya Leon.
"Emery."
"What?"
"Ya, dia menginginkan Emery," ulang Alpha kembali merasakan kesal.
"Lalu?"
"Apa kau pikir aku akan membiarkannya?"
"Ah, baiklah. Aku sudah bisa menebaknya. Aku hanya khawatir kau tidak bisa menahan emosi dan melubangi kening mereka, maka kita akan di serang oleh sekelompok mafia dari segala penjuru," balas Leon.
"Tidak semudah itu," timpal Axel hingga membuat Alpha mengernyit, semakin curiga dengan adik sepupunya tersebut. Seolah ia sedang berdiri di antara kelompok atau sindikat yang siap melindungi nyawanya.
"Axel," panggil Alpha masih menatap Axel Delano tajam.
"Ya, ada apa?"
"Apa selama ini paman Joe tidak pernah menginjakkan kaki di Verona?"
"Tidak. Sepertinya ayah lebih nyaman di Irlandia, meski sempat menetap di Manhattan selama lima tahun, dan kembali ke Irlandia hingga sekarang."
"Manhattan?"
Alis Alpha terlihat mengernyit. Ia tahu kota tersebut. Distrik yang cukup terkenal di penuhi oleh gangster, dan di kuasai oleh keluarga Osvaldo.
Alpha pernah sekali mendengar Osvaldo family, saat kasus pembunuhan anak perempuannya yang sampai saat ini kasusnya belum terpecahkan. Bahkan kasus beberapa tahun lalu itu sempat memenuhi media masa, hingga orang awam pun mengetahui masalah tersebut. Tak terkecuali dirinya.
"Apa mungkin, paman Joe mengenal salah satu anggota dari Almero family?"
***