
"Anda bisa beristirahat, Tuan. Aku yang menemani para tamu di sini," ucap Darren yang langsung di balas senyum oleh Alpha, seolah sang asisten itu baru saja mengeluarkan dirinya dari penjara bawah tanah yang sudah mengurungnya selama bertahun-tahun.
Tanpa Alpha sadari jika saat ini Darren sedang berusaha menyuruh pria itu untuk pergi dari ruangan tersebut dan membawa Emery. Sebab ia mulai merasa jika ada salah satu penyusup yang berhasil masuk ke dalam Castel.
"Betapa aku menyayangimu, Darren," ucap Alpha tersenyum lebar sambil mengedipkan mata, membalikkan tubuh memutari Leon dan langsung melangkah menghampiri Emery, meraih tangan pengantinnya dan melangkah pergi meninggalkan keramaian secara sembunyi-sembunyi. Berkendara dengan mobil yang di hiasi kembang menuju ke kediaman Berta yang juga sudah menyiapkan semua keperluan untuk menyambut mereka.
"Apa mereka baru saja mengabaikan para tamu?" tanya Leon yang hanya di balas senyum oleh Darren, tak terkecuali Akirra dan juga Augusto.
Hingga beberapa menit sebelum Darren terlihat melangkah menghampirimu Axel, terlihat berbisik bahkan langsung di balas anggukan oleh pria itu.
"Axel, sepertinya kita kedatangan tamu tak di undang."
Darren meneguk red wine-nya. Tanpa mengalihkan pandangannya, bahkan terus berbincang layaknya sedang membahas soal bisnis seperti biasa.
"Ya, aku bisa melihatnya."
"Siapa dia?"
"Jackob Sean Almero."
Alis Darren mengernyit, merasa asing dengan nama tersebut. Namun, bisa sedikir mengingat nama belakang pria yang sejak tadi juga sedang mengawasi mereka.
"Pria yang terlibat perkelahian dengan Alpha malam itu, tepatnya mereka berdua yang sudah menghancurkan tempatku," sambung Axel dengan nada candaan, nampak tertawa natural. Tanpa mereka sadari jika sosok yang mereka bahas saat ini sudah meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku seperti pernah mendengar nama 'Almero'."
"Hmm, mungkin kau akan tahu nantinya. Dan, tetap waspada, Darren. Dia bukan pria sembarangan," balas Axel yang hanya di balas anggukan oleh Darren. Kembali mengalihkan pandangannya ke arah Akirra yang bahkan langsung menghampirinya.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Ikuti mobil Tuan Alpha, tapi jangan sampai ia mengetahuinya," ucap Darren yang langsung di balas anggukan oleh Akkira sebelum berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Seharusnya Tuan Alpha tidak menyuruh Akirra untuk tetap tinggal di sini," sambung Darren nampak khawatir.
"Apa ada masalah serius?" tanya Augusto saat menyadari kegelisahan Darren.
"Kita kedatangan tamu tak di undang, sebaiknya kalian terus waspada, Augusto. Awasi Nyonya besar," perintah Darren sebelum terlihat menghubungi seseorang dengan alat earpiece yang selalu di gunakannya.
Sedang di tempat yang berbeda. Tepatnya di kediaman Alpha.
"Kau bisa kembali ke mansion sekarang, Varela. Tugasmu sudah selesai," perintah Alpha kepada sang pelayan Mansion utamanya untuk pulang.
Varela adalah kepala pelayan yang bertanggung jawab atas semua yang bersangkutan dengan keperluan di dalam kediaman pribadi yang baru milik Alpha, baik dari makanan, dan semua kebutuhan keduanya. Namun, hanya untuk hari itu saja. Sebab mulai dari sekarang hingga seterusnya, Alpha bersama sang istri akan menghabiskan sisa hidup mereka di rumah tersebut. Rumah mewah yang di bangun oleh Alpha untuk sang istri.
"Baik, Tuan, Nyonya," balas Varela sedikit membungkuk, sambil mengulas senyum bahagia saat melihat Alpha yang masih menggendong tubuh istrinya masuk kedalam lift menuju lantai dua kamar mereka yang sudah Varela persiapkan.
Dan benar saja, selera Varela cukup membuat keduanya sangat bahagia, bahkan mereka langsung di suguhi oleh suasana kamar yang romantis dengan dipenuhi oleh taburan kelopak bunga mawar merah di atas tempat tidur berukuran big size yang di tutupi seprai berwarna putih, juga tirai tipis translucen yang menjuntai ke lantai, dengan pencahayaan lampu kuning dan lilin di sudut ruangan semakin menambah suasana romantis, lengkap dengan aroma segar dari mawar yang memenuhi ruangan tersebut. Di sana juga sudah bersedia beberapa buah-buahan, sampanye dan juga coklat.
"Aku menyukai suasana seperti ini. Sepertinya aku akan betah dan tak mengizinkanmu untuk keluar kamar," ucap Alpha di telinga Emery, hingga membuat wanita itu merinding dan semakin gugup. Mengingat first night dirinya bersama Alpha sungguh menimbulkan debaran jantung yang membuat Alpha tersenyum.
"Ada apa my Cherry? Kau bahkan terlihat gugup sekarang," tanya Alpha menatap intens. Dan sejak kapan pria itu memiliki sisi romantis hingga menamainya dengan sebutan yang terdengar manis.
"A-aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit gugup," balas Emery secara terus terang hingga membuat Alpha semakin melebarkan senyum sebelum mengecup bibir istrinya sekilas.
Melangkah perlahan menuju tempat tidur mereka dan menurunkan tubuh Emery di sana, menatapnya lekat wajah wanita itu yang entah mengapa semakin terlihat sangat cantik, bahkan nampak bersinar dengan mata kecoklatan yang indah.
"Kita akan melakukannya secara perlahan, kau tidak perlu gugup. Aku tidak akan menyakitimu."
"Haruskah aku percaya padamu?" tanya Emery sedang sekarang ia bisa melihat tatapan mata Alpha yang sangat ingin menelannya saat itu juga.
"Oh ayolah, my cherry. Aku sudah lama menginginkanmu," jujur Alpha tak bisa berbohong.
Emery mengulas senyum sambil mengusap rambut suaminya yang sedikit membungkuk padanya. Sebelum ia mendapatkan satu kecupan hangat di dahi.
"Ya. Aku tahu ...."
"Dan kau bisa melepaskan gaun ini, nampaknya kau kesulitan," potong Alpha yang langsung membalikkan tubuh istrinya hingga menghadap cermin, dan ia yang mulai membantu menurunkan resleting gaun itu dengan perlahan.
Emery menatap bayangan wajah sang suami lewat pantulan kaca. Wajah yang tak pernah berubah sedikit pun, bahkan semakin terlihat tampan. Dan ia tak bisa memungkiri itu, ia bahkan terus jatuh cinta, lagi dan lagi kepada suaminya yang kini balas menatapnya lewat pantulan cermin sambil terus berfikir, bagaimana cara pria itu menolak semua para wanita yang tergila-gila pada suaminya, ia yakin ada puluhan wanita yang berharap jadi kekasih dari pria yang saat ini tengah merusuh di punggungnya.
"Anda nampak antusias Tuan,"
***