I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kembali terjebak



Alpha nampak mengernyit, mencoba mengingat sosok yang membuat wajahnya babak belur, dan ia juga lupa separah apa luka pria itu. Entahlah, Alpha benar-benar lupa dengan insiden itu. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah pertemuannya dengan Daniel. Selebihnya ia benar-benar tidak tau, bahkan pernah berlutut dan menangis di hadapan Emery pun ia lupa. Dan ketika tersadar esok harinya, ia hanya mendapati wajahnya yang lebam, tubuh yang terasa remuk, juga cek yang harus ia tanda tangani untuk ganti rugi.


"Jadi pria itu?"


"Ya, pria yang berdebat bahkan sempat berkelahi dengan Anda malam itu, dia Jackob Sean," timpal Darren.


"Oh, lalu?" 


"Sepertinya pria itu sedikit terganggu atas perkelahian kalian malam itu, entah apa maksudnya hadir dengan identitas palsu di acara pernikahanmu," sambung Axel.


"Tidak menutup kemungkinan ia ingin melihat semua keluarga Berta, atau mungkin hanya ingin memastikan siapa diri Anda, yang sudah berani mengganggunya. Ini masih ansumsi saya, dan semoga saja ia hanya tersesat," balas Akirra.


"Tersesat dengan menggunakan identitas palsu, aku rasa itu tidak masuk akal," sambung Leon.


"Yang tepatnya menggali informasi lebih dalam lagi tentang keluarga Berta. Melihat secara langsung, dan sengaja menampakkan diri, sebagai peringatan jika kita sedang di awasi. Atau yang lebih jelasnya, ia ingin mengingatkan agar kita berhati-hati. Itulah cara kerja mereka," timpal Darren.


"Sedikit pun aku tidak merasa takut dengan mereka. Pria itu bisa menemuiku dan menyelesaikan masalah kita dengan cara yang ia inginkan, aku akan mengikuti semua keinginannya. Selama mereka tidak mengusik keluargaku. Atau tidak menyentuh mereka seujung kuku," balas Alpha.


"Sayangnya saya sudah tidak menemukan jejak Jackob dan asistennya Rikkard di Verona, kemungkinan besar ia sudah kembali ke negaranya, atau mungkin ke wilayah lain yang jauh dari Verona," sambung Darren.


"Lalu menurutmu, apa tujuannya menggunkan identitas palsu dan menerobos ke Castel dan tidak menemuiku?" tanya Alpha.


"Seperti yang saya katakan, ia hanya ingin memberikan satu peringatan kepada kita." 


"Shiit! Kembali berurusan dengan mafia, aku sungguh muak," umpat Alpha kembali menyenderkan tubuhnya.


"Kau pikir siapa yang memulainya? Kau dan kebiasaan mabukmu yang menakutkan," sahut Leon yang tak bisa di bantah oleh Alpha.


Bahkan ia berharap bisa hidup tenang, menjauhi semua masalah yang bersangkutan dengan kriminalitas. Ia hanya ingin hidup tenang bersama sang istri dan keluarganya, membuka lembaran baru, dan menjalani hidup normal seperti biasa. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan siapa pun lagi sekarang. Namun, sekarang karena ulah bodohnya, ia malah memancing para mafia untuk datang padanya. Mengintai keluarga, bahkan tidak menutup kemungkinan, memburu keluarganya.


Alpha terlihat cemas memikirkan keluarganya, ada beberapa orang yang harus ia lindungi, ia benar-benar tidak ingin mereka menjadi sasaran empuk dari pihak-pihak yang seharusnya hanya berurusan dengannya saja.


"Sebaiknya Anda tidak perlu memikirkan hal ini, kita bisa menempu jalan damai, dengan berbicara langsung kepada Jackob jika memang ia kembali muncul," saran Darren.


"Damai? Maksudnya? Apa aku harus meminta maaf?"


"Kesepakatan, mereka selalu butuh itu, Tuan." 


"Ya, kau bisa mengaturnya." 


"Kita hanya harus menunggu, Jackob akan kembali jika ia benar-benar merasa Anda harus bertanggung jawab atas kejadian yang merugikannya. Dan jika ia meminta pertanggung jawaban berupa materi, mungkin Anda yang akan memutuskannya," 


"Lalu bagaimana dengan rencana bulan madumu?" tanya Leon.


"Sepertinya aku harus menundanya." 


"Kenapa?" 


"Sepertinya aku harus tetap di sini untuk menunggu si begundal itu."


"Lalu alasan apa yang akan kau berikan kepada istrimu?" 


"Aku masih akan memikirkannya, menurutmu apa yang harus aku katakan?"


"Yang jelas kau tak mungkin mengatakan kepada istrimu jika kau sedang menunggu Jackob Sean, putera seorang mafia yang pernah kau ajak duel dan menghancurkan klub Axel, sebelum kau datang menemuinya di rumah dengan wajah babak belur sambil memohon dan menangis seperti pria depresi?" balas Leon panjang lebar yang membuat Darren, Akirra, Augusto dan Axel mengarahkan pandangan ke arah Alpha yang juga terlihat terkejut.


"Si berengsek ini. Kapan aku melakukan itu?" tanya Alpha terlihat bingung, dan mulai memaksakan otaknya untuk mengingat kejadian malam itu, semua nampak samar, ia mulai mengingat, saat di mana ia bersimpuh, entah apa yang ia ucapkan saat itu, dan apa saja yang Emery katakan padanya. Ia menangis di hadapan wanita itu.


Alpha menarik nafas panjang sambil memijat tengkuk lehernya. Leon tidak berbohong, bahkan ia ingat saat Leon memapahnya keluar dari klub Axel, dan yah, ia juga sempat mendorong tubuh Axel. Oh sial, ternyata ia benar-benar membuat banyak masalah malam itu, dan semua yang berada di dalam ruangan ini mengetahuinya.


Alpha memejam sambil terus mengutuk dirinya sendiri, Emery bahkan tidak pernah menceritakan kejadian itu padanya, apa itu terlalu memalukan? Pikir Alpha berdecak hingga berulang kali.


"Haruskah aku menceritakan detailnya, di mana kau terus menangis di hadapan Emery untuk meminta maaf? Kau bahkan meminta Emery untuk menghukummu, dan ...."


"Tutup saja mulutmu sialan! Jika kau tak ingin aku merobeknya," potong Alpha, kembali membuka matanya, dan mendapati tatapan mereka yang masih tertuju padanya. "Ahh, sial," umpatnya bergumam.


Yang mereka tahu, Alpha adalah pria berhati dingin, seseorang yang tidak memiliki berperasaan, tidak simpatik dan acuh tak acuh terhadap masalah dan emosi orang lain. Ia juga tidak hangat, tidak responstif, atau dingin secara psikologis.


Masalalu lalu yang buruk dan menyakitkan benar-benar merubah sikap Alpha, bahkan ketika hatinya merasa tersakiti, ia akan menjadi penurun emosionalnya ketitik beku. Bahkan ia tidak peduli jika orang lain memiliki alasan yang bagus untuk apa yang mereka lakukan, sebab Alpha akan benar-benar akan mengabaikannya. Menutup diri dan menunggu sampai segala hal terasa lebih ramah untuk dirinya sendiri.


Dan seperti itulah Alpha di mata mereka. Namun, ada yang berbeda sekarang, bahkan sejak tiga tahun lalu, sikap Alpha mulai terlihat berbeda, akan tetapi mereka tidak menyangka akan benar-benar berubah seperti sekarang. Entah apa yang sudah merubah majikan mereka hingga menjadi sosok hangat seperti sekarang. Hingga mereka jadi berfikir, jika sikap dingin Alpha hanyalah mekanisme sebagai pertahanan. Dan emosionallah yang membuat ia bersikap dingin.


"Apa?!" 


Satu pertanyaan dari Alpha yang membuat mereka mengalihkan pandangan kesegala arah, bahkan Darren hanya bisa menatap ujung sepatunya, dan Akirra yang mengusap usap pinggiran sofa. Sedang Augusto dan Axel memilih menatap keluar jendela yang sudah nampak gelap, saat matahari mulai menghilang. 


Hanya Leon yang masih menatap kearah Alpha yang kedapatan gugup karena merasa malu. Seandainya saja malam itu Darren yang menjemputnya, mungkin kejadian tersebut tidak akan terungkap hingga sekarang. Darren sangat pandai dalam hal menyimpan rahasia. Berbeda dengan Leon yang memiliki mulut tak berfilter, terang-terangan dan menyebalkan.


***