
* KEDIAMAN CAROLYN CULLEN.
Dengan sedikit terburu-buru, Areta berjalan menuju lantai dua, hingga langkahnya berhenti tepat di depan kamar Nyonya Carolyn yang masih tertutup rapat. Dengan perlahan Areta mengetuk pintu itu berkali-kali, hingga terdengar suara Knop bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"Ada apa Areta?" Tanya Nyonya Carolyn yang langsung keluar dari kamarnya.
"Dibawah.. Ada Tuan Fridell."
"Tuan Fridell?"
"Iya Nyonya." Jawab Areta mengangguk pelan, bersamaan dengan diamnya Nyonya Carolyn yang bahkan mulai merasa gelisah, kala mengingat jawaban yang akan ia berikan kepada Tuan Fridell atas lamaran Tuan Fridell kepada Emery saat itu.
"Nyonya Carol.. " Panggil Areta yang sontak mengejutkan Nyonya Carolyn yang tengah melamun.
"Iya Areta.."
"Nyonya baik-baik saja? Anda nampak terlihat gelisah," Tanya Areta yang bisa langsung menangkap kegelisahan yang tergambar jelas di wajah Nyonya Carolyn.
"Aku hanya sedikit khawatir Reta, pasti kedatangan Tuan Fridell kali ini untuk membicarakan masalah lamaran kepada Emery waktu itu."
"Nyonya tidak perlu cemas, apapun jawaban Nyonya, saya yakin, Tuan Fridell pasti akan menerimanya."
"Aku harap juga seperti itu Reta, Baiklah.. Aku akan menemuinya. Terimakasih Areta,"
"Iya Nyonya,"
"Oh iya.. Raeta, di mana Emery... "
"Dia sedang bersantai di taman belakang sekarang, bersama Tuan Daniel."
"Bisakah kau membantuku untuk memanggil mereka berdua?" Tanya Nyonya Carolyn.
"Tentu saja Nyonya,"
"Terimakasih Reta," Ucap Nyonya Carolyn yang langsung melangkah menuju ruang tamu yang di sana nampak Tuan Fridell yang tengah duduk sambil menyilangkan kakinya menunggu sang pemilik rumah.
"Selamat siang Fridell," Sapa Nyonya Carolyn yang langsung melangkah menghampiri Tuan Fridell.
"Siang Carol, maaf jika kembali mengganggu aktifitasmu,"
"Tidak sama sekali Fridell," Jawab Nyonya Carolyn tersenyum dan langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi tepat di hadapan Tuan Fridell.
"Maaf jika anda menunggu lama,"
"Tidak masalah Carol, aku.. "
"Selamat siang paman Dell," Sapa Emery yang tiba-tiba muncul dari arah luar dengan senyum manis yang selalu terukir di bibirnya, berbeda halnya dengan Kang Daniel yang tiba-tiba mematung saat tatapan matanya beradu dengan Tuan Fridell yang tidak kalah terkejutnya.
"Daniel.. Emery.. Silahkan duduk, sapa Tuan Fridell," Ucap Nyonya Carolyn yang langsung mempersilahkan Emery dan Kang Daniel untuk duduk.
Sedang Kang Daniel yang sejak tadi terdiam dengan wajah yang tertunduk tidak luput dari tatapan Tuan Fridell. Hingga keduanya saling berhadapan di tempat duduk yang sama, yang hanya berjarak beberapa meter saja, Tuan Fridell masih belum melepaskan pandangannya, bahkan semakin lekat menatap Kang Daniel yang semakin tidak berkutik, bahkan hanya untuk menatap wajah Tuan Fridell saja, ia enggan.
"Fridell, dia pengawal pribadi keluarga Cullen, sekaligus Asisten pribadi saya, Kang Daniel." Ucap Nyonya Carolyn yang seolah paham dengan tatapan Tuan Fridell yang terus tertuju kearah Kang Daniel.
"Pengawal pribadi?" Tanya Tuan Fridell mengernyit.
"Benar, sejak dulu, Daniel sudah mengikuti keluarga Cullen." Jawab Nyonya Carolyn mengangguk sambil mengalihkan pandangannya ke arah Kang Daniel.
"Selamat siang Tuan Fridell," Sapa Kang Daniel sedikit membungkuk.
Suasana canggung sangat terasa di antara Tuan Fridell dan Kang Daniel, meskipun kedua wanita yang tengah bersama mereka di dalam ruangan yang sama tidak menyadarinya. Namun sungguh suasana sekarang membuat Kang Daniel sangat tidak nyaman. Rasa bersalah kepada sang Ayah membuat Kang Daniel semakin gelisah hingga sentuhan tangan Emery yang menggenggam telapak tangannya membuat Kang Daniel sedikit tersentak.
"Ada apa?" Tanya Emery dengan sedikit berbisik, meski hanya di balas gelenggeleng pelan oleh Kang Daniel seraya memberi isyarat jika ia baik-baik saja.
"Baiklah.. Aku rasa kau sudah tahu, maksud kedatangan saya kemari Carol," Ucap Tuan Fridell tampa basa basi.
"Iya, maaf.. Jika membuatmu menunggu. Tapi.. "
"Ada apa Carol? Apakah aku perlu menanyakan hal ini langsung kepada putrimu Emery?" Tanya Tuan Fridell yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Emery.
"Maaf Paman Dell, saya.. Saya belum bisa menerima lamaran anak paman. Saya.. Belum memikirkan untuk menikah lagi." Jawab Emery seraya menatap wajah Tuan Fridell sebelum akhirnya ia kembali tertunduk. Bahkan dengan refleks Emery kembali meraih tangan Kang Daniel untuk di genggamnya erat, lebih erat dari sebelumnya sehingga membuat Tuan Fridell yang tidak sengaja melihat hal tersebut sedikit mengernyit dengan nafas yang di tarik sedalam mungkin.
Jangan bilang jika dia alsanmu untuk menjadi pengawal keluarga Cullen lagi Daniel. Karena Ayah tidak akan pernah membiarkannya.
"Apa kau sudah memiliki pilihanmu sendiri?" Tanya Tuan Fridell sambil mengatur perasaannya, dan kembali menatap lekat wajah Kang Daniel, meskipun pertanyaan itu di tujukan oleh Emery.
"Maaf.. Paman Dell benar, saya sudah memiliki seseorang," Jawab Emery tampa ragu. Bahkan Nyonya Carolyn yang mendengar pernyataan Emery yang ia anggap sangat jujur sedikit membuatnya terkejut. Sebab, Emery bukanlah type wanita yang akan mengatakan perasaannya secara blak-blakan, apalagi mengatakan jika dia sedang jatuh cinta kepada seseorang. Begitupula dengan Kang Daniel yang hanya bisa menarik nafas dalam dengan pikiran yang kembali tertuju kepada Alpha Khandra, satu-satunya pria yang akan selalu ada di dalam hati Emery.
"Baiklah.. Paman senang jika kau jujur dan tidak menyembunyikan perasaanmu, meskipun Paman kecewa atas penolakan ini." Balas Tuan Fridell dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Maaf Fridell.. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini keputusan Emery sendiri. Sekali lagi saya minta maaf, karena sudah mengecewakanmu." Ucap Nyonya Carolyn yang merasa tidak enak saat melihat ekspresi Tuan Fridell yang tiba-tiba berubah.
"Tidak masalah Carol, saya juga tidak mungkin memaksakan kehendak Emery Tapi.. Apa paman boleh menanyakan sesuatu?" Tanya Tuan Fridell yang kembali menatap Emery.
"Silahkan paman." Jawab Emery kembali merasa was-was.
"Siapa seseorang itu?" Tanya Tuan Fridell lagi dengan pandangan yang di tujukan ke arah Kang Daniel.
Jangan bilang jika pria itu adalah Daniel.
Untuk sesaat Emery terdiam, semakin erat menggenggam tangan Kang Daniel.
Bahkan aku sendiri tidak mengetahui, apa perasaan ini benar-benar perasaan cinta atau tidak. Yang aku tahu, aku selalu merasa nyaman saat berada di sisinya, dan sangat merindukannya jika ia jauh.. Aku tidak tahu, perasaan seperti apa ini.
"Maaf.. Saya, tidak bisa menjawabnya." Jawab Emery yang hanya di balas anggukan pelan oleh Tuan Fridell.
"Sekali lagi maaf Fridell, sungguh saya merasa tidak enak sekarang." Balas Nyonya Carolyn.
"Kau sudah mengucapkan maaf berulang kali Carolyn, bahkan saya yang merasa tidak nyaman sekarang, mungkin saya yang sedikit terlambat."
"Sepertinya begitu."
"Baiklah.. Sepertinya saya harus kembali lain waktu," Ucap Tuan Fridell yang langsung beranjak dari duduknya. Begitu pula dengan ketiganya yang juga ikut berdiri.
"Dan, Pengawal pribadimu.." Tatapan Tuan Fridell kembali tertuju kepada kang Daniel.
"Kelihatannya dia pria yang cukup bertanggung jawab." Lanjut Tuan Fridell yang di balas senyum oleh Nyonya Fridell.
"Kau benar Fridell, Daniel pria yang penuh dengan tanggung jawab, dan saya sangat bersyukur, karena Daniel tidak pernah meninggalkan keluarga Cullen. Kau tahu kan, dia adalah orang kepercayaan Ayah Emery"
"Iya, saya tahu." Balas Tuan Fridell. "Baiklah.. Selamat siang Carolyn. Saya masih berharap, semoga kita masih bisa jadi besan." Lanjut Tuan Fridell tersenyum. Begitupun dengan Nyonya Carolyn dan Emery yang juga ikut tersenyum sampai bayangan Tuan Fridell menghilang dari pandangan mereka.
"Daniel.. " Panggil Nyonya Carolyn saat kembali ke ruang tamu usai mengantarkan Tuan Fridell.
"Ada apa? Sejak tadi Ibu perhatikan kau nampak tegang? Apa ada sesuatu?" Lanjut Nyonya Carolyn yang kembali duduk di samping Kang Daniel dan Emery.
"Tidak, saya hanya.. "
"Apa kau mengenal paman Fridell?" Tanya Emery yang sontak membuat Kang Daniel terdiam.
Sangat mengenalnya, karena dia adalah Ayahku.
"Saya hanya sedang memikirkan beberapa pekerjaan, maaf jika membuat Ibu merasa tidak nyaman." Balas Kang Daniel.
"Tentu saja tidak, Ibu hanya merasa khawatir. Sebab kau terlihat berbeda dan tidak seperti biasanya." Ucap Nyonya Carolyn yang ternyata sejak tadi sudah memperhatikan gerak-gerik Kang Daniel.
"Maaf.. "
"Apa mungkin kau merasa tegang dengan jawaban yang akan aku berikan kepada paman Fridell?" Tanya Emery dengan nada candaan yang justru membuat Kang Daniel menjadi gugup.
"Ah itu tidak benar.. Aku.. "
"Emery.. Berhenti menggoda Daniel." Tegur Nyonya Carolyn saat melihat wajah Kang Daniel yang tiba-tiba merona.
"Berhentilah menggodaku, kau bahkan membuatku malu." Ucap Kang Daniel.
"Entahlah.. Tapi aku tidak bisa berhenti untuk melakukannya," Balas Emery dengan cengiran.
"Baiklah, lakukan sesukamu, lagi pula aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu saat ini."
"Hei, kebahagiaan apa yang kau maksud?" Tanya Emery.
"Bukankah kau sangat bahagia saat ini? Dan itu sangat terlihat jelas di wajahmu." Balas Kang Daniel kembali menatap wajah Emery yang masih tersenyum.
"Mungkin.. "
"Apa yang membuatmu sebahagia ini?" Tanya Kang Daniel perlahan.
"Belum lama ini aku bertemu Alpha." Jawab Emery dengan senyum yang membuat Kang Daniel ikut tersenyum namun sebenarnya senyum itu hanya untuk menutupi rasa sakitnya.
"Benarkah?"
"Hm, tapi aku merasa sedih,"
"Why?"
"Karena Alpha tidak merasa bahagia saat ini. Entahlah.. Melihatnya seperti sekarang membuatku justru menjadi sedih."
"Apa kau mengkhawatirkannya?"
"Hm, aku hanya tidak bisa jika terus melihatnya bersedih." Jawab Emery yang kembali terlihat murung.
"Dia akan baik-baik saja, yang aku tahu dia seorang pria yang tidak mudah jatuh, apalagi bersedih sampai berlarut-larut. Bukankah kau juga tahu itu. Jadi berhenti mencemaskannya, dan membuat hatimu sedih."
"Kau benar, aku yakin, jika Alpha pasti bisa mengatasinya." Balas Emery seraya menarik nafas dalam. Dan lagi-lagi, Kang Daniel kembali mengucapkan kata-kata yang mampu menenangkan hati Emery. Sesedih dan sekalut apapun perasaan Emery, hanya Kang Daniel yang bisa membuatnya jauh lebih tenang. Dan satu hal yang tampa di sadari oleh Kang Daniel, jika saat ini perasaan dan perhatian Emery telah tertuju padanya. Begitupun dengan Emery yang baru menyadari, jika pria yang ia butuhkan selama ini adalah Kang Daniel. Sebab hanya berada di samping pria bertubuh tinggi itu Emery bisa merasakan begitu di cintai. Dan perasaan itulah yang Emery inginkan selama ini.
Entah sampai kapan kau akan menyadarinya Daniel, jika kaulah pria yang kembali merebut hatiku.
* * * * *
* HOSPITAL.
Dengan perlahan Alpha menata beberapa kembang di dalam sebuah vas crystal yang berada di atas nakas samping tempat tidur Starla. Aroma bunga mawar putih menyeruak dan memenuhi ruangan inap tersebut.
Sudah hampir satu minggu Starla terbaring di sana dalam keadaan koma, dan sejak itu juga Starla meninggalkan aktifitasnya di Perusahaan dan lebih memilih menyibukkan dirinya untuk menjaga Starla di rumah sakit, menemaninya dengan beberapa cerita, membawakanya kembang mawar putih, dan memutarkan lagu yang menjadi favorite Starla. Hal yang selalu Alpha lakukan tampa merasa bosan sedikitpun. Meski setiap saat kesedihan dan kekhawatiran selalu menyelimuti hatinya, sebab sampai saat ini kondisi Starla tidak menunjukan perubahan sedikitpun. Starla masih betah memejam, meskipun kata rindu dan maaf selalu di ucapkan Alpha tiap saat kala ia tengah berada di samping Starla. Kata-kata itu bahkan tidak membuat Starla bergeming sedikitpun.
"Alpha.. Ini sudah hampir seminggu, sebaiknya kau pulang untuk beristirahat. Kau akan sakit jika terus bertahan di sini." Ucap Leon yang saat itu datang untuk mengunjungi Starla.
"Aku akan terus menjaganya Yoon.. Aku tidak akan meninggalkan Starla sedetikpun, setidaknya sampai ia terbangun." Jawab Alpha yang masih menggenggam telapak tangan Starla.
"Tapi kau tidak perlu melakukannya sendiri All, kau juga butuh istrahat."
"Aku tahu.."
"Maka istrahatlah.. Aku tidak sanggup jika harus menjaga Starla dan juga dirimu secara bersamaan jika kau tiba-tiba terbaring koma karena kelelahan."
"Yoon.."
"Ada apa? Apa kau akan memukul kepalaku lagi? Jika di ingat lagi sudah sangat lama kau tidak memukulku." Goda Leon saat melihat tatapan Alpha tertuju padanya.
"Hentikan.. Aku bisa saja memukulmu sekarang jika kau yang memintanya, tapi untuk sekarang ini, aku sedang tidak ingin melakukannya."
"Ada apa? Apa kau sudah sadar jika terus memukulku kau akan..."
"Aku yang menyebabkan Starla melakukan ini semua." Sela Alpha yang langsung membuat Leon mengernyit. Bahkan dengan cepat ia berusaha mencerna kalimat Alpha.
"Maksudmu?"
"Dia melihatku malam itu, melihatku yang tengah bersama Emery."
"Apa? Tapi itu bukan satu hal serius yang membuat Starla sampai nekat melukai dirinya sendiri kan? Jika hanya sekedar melihatmu bersama Emery."
"Kami berciuman."
"What?" Tanya Leon saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Alpha, ia bahkan nampak terkejut. Mungkin untuk hal ciuman sudah sangat biasa bagi Leon, namun yang membuatnya terkejut adalah seorang Alpha Khandra yang tiba-tiba mau melakukan hal yang Leon yakin jika selama ini Alpha tidak pernah melakukannya adalah hal yang cukup mengejutkan. Di tambah lagi Alpha melakukannya dengan Emery, wanita yang pernah sangat Alpha benci meskipun pernah Alpha nikahi.
"Aku.. Tidak tahu, kenapa Starla bisa berada di sana pada malam itu, yang jelas semua yang terjadi karena kesalahanku,"
"Kenapa kau jadi menyalakan dirimu sendiri?" Tanya Leon yang tidak terima dengan sikap Alpha.
"Seharusnya aku tidak melakukannya, aku..."
"Apa salahnya dengan berciuman? Bahkan kau bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman, kau seorang pria dewasa yang bebas, dan bukan salahmu jika Starla ada di sana pada malam itu dan melihat semuanya." Balas Leon,
"Tapi tetap saja, semua ini karena aku."
"Alpha Khandra.. Kenapa kau selalu menyalahkan dirimu sendiri atas semua hal buruk yang terjadi kepada Starla? Padahal belum tentu semua itu karena dirimu."
"Karena aku mencintainya," Jawab Alpha.
"Apa?" Tanya Leon mengernyit.
"Aku masih mencintainya, dan benar-benar tidak ingin ia terluka, apalagi terluka karena aku." Jawab Alpha.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Dan bagaimana dengan keputusan yang sudah kau buat?"
"Semua akan tetap berjalan sesuai dengan rencanaku, tidak akan ada yang berubah Yoon."
"Okey, lalu bagaimana dengan Starla? Bagaimana dengan cintamu?"
"Aku bisa menyimpannya sendiri, perasaan ini, cukup aku saja yang tahu, aku akan tetap bahagia meskipun harus mencintainya dalam diam. Dan aku sudah terbiasa untuk itu."
"All.. Kau seharusnya tidak melakukan hal itu. Jika kalian bisa bersama, kenapa kau harus memilih jalan yang lain dan melakukan hal yang.... "
"Yoon.. Mencintainya bukan berarti harus memilikinya, apalagi jika cintaku membuatnya merasa terbelenggu. Aku tidak se egois itu. Dan untuk sekarang, selagi aku masih bisa berada di sisinya dan menjaganya, aku akan melakukannya." Ucap Alpha yang membuat Leon tidak memiliki kata-kata apapun lagi untuk di ucapkan. Ia lebih memilih diam, dan mencoba memahami perasaan Alpha saat ini.
"Apapun keputusanmu.. Selama bisa membuatmu merasa bahagia.. "
"Sepertinya aku tidak akan pernah merasa bahagia Yoon, kebahagiaanku hanya Starla. Dan adapun suatu saat kita di haruskan untuk saling menjauh, akun tidak akan pernah menyesal, sebab aku sudah pernah merasakan bahagia bersama, meskipun itu sangat singkat. Setidaknya aku pernah tersenyum karenanya, pernah bahagia dan tertawa bersamanya."
"Baiklah.. Aku mengerti. Lalu bagaimana dengan Emery?
"Emery sudah memiliki hidupnya sendiri, mungkin ciuman yang pernah terjadi malam itu hanyalah bentuk emosi dari kita berdua, sebab kita tidak merasakan perasaan apa-apa."
"Apa kau yakin? Jika kau yang tidak merasakan apapun, aku sangat percaya itu. Namun jika Emery yang tidak merasakan apapun, aku kurang yakin akan hal itu."
"Emery sudah memiliki seseorang,"
"Ha?"
"Dia sendiri yang mengatakan hal itu, entah apa tujuannya mengatakan hal itu padaku,"
"Apa? Dia?"
"Hm, bahkan aku sempat berfikir, jika ia sengaja mengatakannya hanya untuk meyakinkan aku agar tidak memikirkan hal-hal buruk tentang dirinya, namun.. Saat aku melihat ketulusan dan kebahagiaan di matanya saat mengatakan hal tersebut, aku jadi yakin. Jika dia benar-benar sudah melupakan semuanya. Dan jujur.. Aku bahagia, karena telah terlepas dari beban selama ini."
"Baiklah.. Memang sudah seharusnya kalian melupakan semuanya."
"Meskipun tidak sepenuhnya,"
"Yah, aku tahu. Aku sangat mengerti." Ucap Leon seraya menepuk-nepuk pundak Alpha, sebelum pandangannya kembali tertuju kepada Starla.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.