
"Kau sudah bangun?"
Tanya Alpha perlahan dengan senyum yang terulas di bibirnya saat melihat Starla yang tengah mencoba membuka matanya setelah 2 jam lamanya Alpha menunggunya untuk bangun. Bahkan tampa menunggu jawaban dari Starla yang masih terbungkam, Alpha yang sejak tadi menunggu Starla di sebuah sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Starla langsung beranjak dari duduknya sebelum menutup layar laptopnya dan langsung menghampiri Starla yang masih mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Ka.. Kau di sini?"
Tanya Starla perlahan dengan suara seraknya yang nyaris tidak terdengar, namun posisi Alpha yang sekarang tengah duduk di sampingnya membuat suara serak Starla sekarang terdengar cukup jelas di telinganya.
"Hmm.. Kau liat sendiri kan? Aku di sini."
Jawab Alpha seraya tersenyum, dan senyum manis itu justru membuat Starla menitikkan air mata, perasaan bahagia tidak mampu ia sembunyikan, saat pertama kali membuka mata, dan senyum manis Alpha yang pertama kali ia lihat, senyum manis seorang pria yang sangat di cintainya.
"Hei, kau menagis? Apa ada yang sakit?"
Tanya Alpha sedikit panik saat melihat air mata yang terus menetes dari sudut mata Starla, meskipun gadis itu sudah menggeleng atas pertanyaan Alpha, namun tetap saja, pria itu masih terlihat khawatir.
"Berhentilah menangis," Ucap Alpha sambil mengusap sisa air mata yang membasahi wajah pucat Starla.
"Apa Leon yang memberitahu anda, jika aku di sini?" Tanya Starla dengan suara seraknya.
"Hmm.. Maaf jika aku terlambat mengetahuinya. Aku bahkan tidak tahu, jika kau sedang sakit dan di rawat di sini." Jawab Alpha.
Tidak.. Saya rasa anda tidak terlambat, justru anda orang yang pertama kali aku lihat saat membuka mata, dan apakah anda tahu, jika ini adalah hal yang paling membahagiakan saat aku terbangun dari tidurku.
"Tidak apa-apa, sebab orang yang pertama kali aku lihat saat terbangun dari tidur adalah anda." Balas Starla dengan senyuman di bibirnya.
"Aku senang jika bisa membuatmu tersenyum di saat seperti ini. Cepatlah sembuh." Balas Alpha sambil mengusap pucuk kepala Starla.
Satu sentuhan lembut yang tampa Alpha sadari, jika sentuhan kecilnya itu sungguh membuat Starla sangat bahagia saat ini, sebab sudah mendapatkan perlakuan hangat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dari seorang pria seperti Alpha. Bahkan Starla tidak pernah menyadarinya jika dirinya sudah masuk ke dalam hati Alpha, hati yang selama ini kosong, dan Starla adalah gadis pertama yang berhasil membuat Alpha takluk. Meskipun mereka masih belum menyadari jika mereka memang saling membutuhkan satu sama lainnya.
"Istrahatlah.. Aku akan menemanimu di sini," Ucap Alpha seraya menggenggam telapak tangan Starla.
"Tapi.. Aku takut.. " Saat bangun nanti, kau tidak di sini.
"Ada apa?" Tanya Alpha perlahan.
"Apa anda akan tetap di sini?"
"Iya, aku akan menunggumu di sini." dan tidak akan meninggalkanmu lagi, aku janji.
"Terimakasih Tuan Khandra,"
"Alpha," Ucap Alpha sambil mencondongkan wajahnya tepat di hadapan Starla, hingga hanya menyisahkan jarak beberapa inci saja di antara mereka.
"Maaf.."
"Panggil aku Alpha.. " Bisik Alpha yang sontak membuat Starla seketika gugup.
"Hm," Balas Starla mengangguk pelan dengan nafas yang tercekik, sebab ia dapat dengan jelas merasakan hembusan nafas beraroma Mint dari Alpha yang tengah berbisik di telinganya.
"Tidurlah.. " Ucap Alpha dengan senyum di sudut bibirnya saat melihat wajah gugup Starla.
Dengan perlahan Alpha menutupi seluruh tubuh Starla dengan selimut, mengatur suhu AC di ruangan tersebut, dan kembali menyamankan dirinya di sofa, saat melihat Starla yang sudah memejamkan matanya. Alpha kembali membuka laptopnyandan kembali bekerja, dengan pandangan yang sesekali tertuju kepada Starla yang sudah terlelap.
Sedang di sebuah lobi rumah sakit yang saat itu tidak begitu ramai, nampak terlihat sosok pria dengan langkah tergesa yang juga di ikuti oleh Asisten dan kedua bodyguardnya yang selalu menemaninya menuju lift lantai dua, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Aku sedang menuju ke sana sekarang, bisakah kau memberi tahu Ayah agar bersabar?"
Ucap pria itu sedikit menekankan suaranya yang terdengar saat panik saat ini, dan langsung mematikan sambungan telfonnya sambil menunggu lift berhenti ke lantai 3 tepat kamar VIP tempat Ayahnya di rawat sekarang.
Ting..
Hingga suara lift terdengar menandakan jika ia sudah berada di lantai 3. Dan dengan sedikit terburu-buru, pria itu kembali melangkahkan kakinya keluar lift yang di susul Asisten dan bodyguardnya di belakang sambil terus menatap layar ponselnya hingga tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang dan ponsel yang sejak tadi berada di dalam genggamannya terpental saat tubuhnya tidak sengaja menabrak tubuh tinggi tegap yang lain.
"Aaisshh sial.. Apa kau tidak punya mata?"
Umpat pria tersebut yang tidak lain adalah Lucas Elfredo kepada sang pemilik tubuh tinggi berwajah dingin yang juga tengah memasang ekspresi datar.
"Dan bagaimana dengan anda? Apa sekarang mata Anda sudah berpindah di kaki anda sekarang? Hingga orang sebesar diriku tidak tampak di mata anda?" Balas Pria itu dengan tatapan yang tidak kalah dinginnya.
"Brengsek, kau terlalu banyak bicara, kau sudah bosan hidup? Kau tidak tahu siapa aku?" Bentak pria tersebut yang sepertinya sudah sersulut oleh rasa amarah, dengan tatapan tajam ia kembali menatap wajah yang kini sedang menampakkan smirknya, hingga membuatnya semakin geram.
"Cih, siapapun anda, itu tidak penting bagiku, sebab di mataku anda tidak lebih dari seorang bocah bertemperamen buruk yang sangat menyebalkan."
"Sialan, kau.. "
"Tuan Lucas, tahan emosi anda, ingat, Tuan besar sedang menunggu anda sekarang" Bisik pria yang sejak tadi tengah berdiri di sampingnya yang tidak lain adalah Asistennya sendiri.
"Tapi pria brengsek ini harus di beri pelajaran, dia terlalu lancang," Balas Lucas Elfredo yang sepertinya masih belum terima dengan perkataan pria yang masih berdiri di hadapannya, bahkan ancaman dan tatapan membunuh dari kedua bodyguard Lucas yang sudah maju selangkah tidak membuat pria bertubuh tinggi putih itu mundur, bahkan pria yang tidak lain adalah Leon itu kembali menampakkan senyum smirknya, namun siapa yang tahu jika kedua tangannya yang masing-masing ia masukkan kedalam saku Hoodie yang ia kenakan kini terkepal dengan sangat erat, seolah tengah menahan emosi yang kapan saja bisa meledak.
"Tuan Lucas, kontrol emosi Anda, ingat tujuan Anda datang kemari." Ucap Asisten Lucas Elfredo, dan hanya ia satu-satunya yang saat ini masih menampakkan tatapan teduh sambil terus berusaha menekan amarah Presdirnya.
"Urusan kita belum selesai."
Ucap Lucas Elfredo yang akhirnya mendengarkan perkataan Asistennya dan langsung melangkah pergi, bahkan dengan sengaja menabrak bahu Leon hingga membuat tubuh Leon sedikit terhuyung kebelakang. Sungguh suatu hal yang benar-benar menguji kesabaran Leon yang hanya bisa menarik nafas dalam, sebab saat ini pikirannya masih cukup jernih dan masih mampu menekan emosinya. Hingga pada akhirnya pikirannya tiba-tiba tertuju kepada Starla.
"Akh sial.. "
Umpat Leon yang langsung berlari menuju ruangan VIP, perasaannya tiba-tiba panik saat mengingat Lucas Elfredo yang saat ini tengah berada di rumah sakit dan lantai yang sama dengan Starla. Dan pada akhirnya Leon bisa bernafas dengan lega, saat melihat Starla yang tengah terlelap dengan telapak tangan yang tengah berada di dalam genggaman Alpha yang saat ini sedang membaca buku sambil menunggu dan menemani Starla.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Alpha saat melihat Leon yang tengah berdiri di depan pintu sambil memegangi perutnya dengan nafas yang tersengal juga keringat yang membasahi dahinya.
"Aku.. Aku tidak.. Apa.. Apahh.. " Jawab Leon dengan nafas yang masih memburu, hingga membuat Alpha mengernyitkan kening bingung.
"Apa kau berlari dari Mansion ke sini?"
Tanya Alpha lagi saat melihat Leon melangkah ke arah sofa yang berada tidak jauh dari posisi duduk Alpha saat ini, dan tidak menunggu lama ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa sebelum ia menghabiskan sebotol air mineral yang di ambilnya dari kulkas ruangan tersebut.
"Kau tidak meninggalkan Star sedikitpun kan?" Tanya Leon saat nafasnya sudah kembali normal.
"Tidak, sejak tadi aku di sini? Ada apa? Kau nampak terlihat khawatir." Tanya Alpha dengan suara pelan.
"Sebaiknya kita tidak meninggalkannya sendiri di sini."
Jawab Leon yang terlihat serius dengan tatapan mata yang kembali tertuju kepada Starla, sedang Alpha yang sepertinya sudah paham dengan apa yang di maksud oleh Leon perlahan melepaskan genggaman tangan Starla, dan merapikan selimut Starla sebelum akhirnya ia melangkah menghampiri Leon di sofa.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Alpha yang bahkan lebih terlihat khawatir, sedang Leon hanya terdiam sambil memikirkan sebuah jawaban untuk pertanyaan Alpha saat ini.
Tanya Alpha yang mulai nampak emosi, hingga membuat Leon kembali berfikir jika ada baiknya ia tidak mengatakan kepada Alpha, siapa yang baru saja ia lihat lima menit lalu, dan siapa pria yang pernah menjadi tunangan Starla. Sebab jika ia melihat dari tempramen Alpha, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahunya. Dan ia hanya perlu menjaga Starla dari jangkauan Lucas Elfredo yang saat ini bahkan sedang berada di sekitar mereka, meskipun mereka belum menyadarinya.
"Bisakah kau bersikap lebih tenang?" Tanya Leon sedikit berbisik.
"Bagaimana aku bisa tenang jika mengetahui ada hal yang akan membahayakan Starla sekarang."
Balas Alpha dengan nada suara yang mulai meninggi, hingga akhirnya ia kembali menekan emosinya saat melihat Leon yang melemparkan pandangannya ke arah Starla yang masih terlelap di tempat tidurnya.
"Kontrol emosimu, semua akan baik-baik saja jika kita terus menjaganya." Ucap Leon.
"Kenapa kau begitu yakin? dan sebenarnya siapa orang-orang itu?" Tanya Alpha yang tengah berusaha menahan emosinya.
"Aku sangat yakin, bahkan aku yang akan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir, kau percaya padaku kan?" Tanya Leon yang hanya di balas anggukan oleh Alpha yang sepenuhnya mempercayai Leon.
"All.."
"Hm.. "
"Yang aku lihat, kau nampak sangat mengkhawatirkan Star, apa kau sudah mulai menyukainya?" Tanya Leon mencoba untuk meyakini dugaannya selama ini.
"Aku hanya tidak ingin dia terluka," Jawab Alpha yang jauh dari pertanyaan Leon.
"Apa kau yakin hanya itu?"
"Aku.. Aku butuh Udara segar." Jawab Alpha yang langsung beranjak dari duduknya, melangkah meninggalkan Leon yang masih melongo saat mendengar jawaban dari Alpha atas pertanyaannya barusan.
"Tolong jaga Starla sebentar." Pinta Alpha saat ia kembali menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Starla.
"Aku akan segera kembali." Ucapnya lagi dan akhirnya benar-benar pergi, hingga bayangannya menghilang dari balik pintu.
"Sepertinya dugaanku benar, kau mencintai gadis bodoh itu," Gumam Leon tersenyum sambil sedikit menggeleng, sebelum akhirnya ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa sebelum ia memeriksa keadaan Starla.
* * * * *
Sedang di ruang terpisah yang juga di ruangan VIP nampak terlihat beberapa pria berseragam serba hitam yang bertubuh tinggi dan kekar sedang berjaga di depan pintu pasien yang di dalam ruangan tersebut tengah terbaring sosok pria paru baya dengan infus yang masih menempel di punggung tangannya.
"Bagaimana perasaan Anda? Apa sudah lebih baik?"
Tanya Lucas kepada sang pasien yang tidak lain adalah Ayahnya Tuan Fredell Elfredo. Seorang sosok yang cukup berkuasa dan terkenal, bahkan saat ini pun tidak ada yang tidak mengenal keluarga Elfredo yang cukup di segani. Sebab Tuan Fredell adalah salah seorang mafia yang mengoperasikan sebuah jaringan berskala dunia dalam bidang pelacuran dan pemasokkan para "hostess" Dan "penghibur" Kerumah bordil. Selain itu Tuan Fredell juga bergerak di dalam bidang pencucian uang dalam skala besar, penyelundupan senjata, penculikan, juga pembunuhan.
"Bagaimana keadaan Perusahaanmu? Apakah semua berjalan lancar?"
"Tentu saja."
"Lalu, bagaimana dengan Perusahaan BRT GRUP apa kau sudah berhasil?"
"Belum." Jawab Lucas singkat.
"Apa kau butuh bantuan Ayah?"
"Tidak, terimakasih, aku akan mengatasi masalahku sendiri."
"Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?" Tanya Tuan Fredell seraya menatap putranya.
"Tentu saja, aku cukup meyakinkan Presdirnya saja." Jawab Lucas.
"Sebaiknya jangan terlalu lama. Dan ingat, Ayah akan siap membantumu jika kau membutuhkan Ayah,"
"Iya, sekarang bukan saatnya memikirkan Perusahaanku, pikirkan kesehatan Anda terlebih dahulu, agar cepat pulih."
"Tsk, kau memperdulikan Ayah sekarang? Biasanya kau selalu cuek dan tidak mau tahu tentang hal yang bersangkutan dengan Ayah."
"Sudahlah, apa kita harus mulai berdebat lagi?"
"Ayah hanya mengatakan hal yang sebenarnya, apa kata-kata Ayah ada yang salah?"
"Hentikan, sebaiknya aku kembali ke Perusahaan sekarang, banyak yang harus aku kerjakan." Ucap Lucas sedikit kesal dan langsung beranjak dari duduknya.
"Apa kau akan menghindari Ayah lagi? Sepertinya kau masih sangat marah kepada Ayah." Balas Tuan Fredell saat melihat Lucas yang tengah bersiap untuk pergi.
"Jika aku marah, tidak mungkin aku berada di sini sekarang kan?"
Sangkal Lucas tampa menatap wajah sang Ayah.
"Matamu tidak bisa berbohong Lucas, kau anak Ayah, jadi Ayah sangat tahu itu."
"Aku tidak marah, aku hanya merasa kecewa kepada Ayah." Jawab Lucas.
"Bahkan ini sudah 10 tahun berlalu, jangan katakan jika kau masih memikirkan gadis miskin itu."
"Meski sudah 10 tahun berlalu, tapi bagiku itu baru kemarin, dan aku akan selalu memikirkannya, sebab sampai detik ini aku belum pernah melupakannya, maaf jika membuat Anda kecewa." Balas Lucas yang langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum kalimat sang Ayah membuat langkahnya terhenti.
"Ayah akan berusaha untuk membuatmu melupakan gadis itu, dan Ayah harap kau tidak melakukan hal bodoh lagi." Ucap Tuan Fredell lantang.
"Aku tidak akan pernah melupakan Starla, sekeras apapun Anda menyuruhku untuk melupakannya." Balas Lucas menatap Ayahnya tajam.
"Ternyata kau masih keras kepala Lucas, haruskah Ayah melenyapkan gadis itu agar kau bisa melupakan dan berhenti memikirkannya?" Tanya Tuan Fredell penuh ancaman.
"Dan aku akan melindunginya, meskipun itu dengan nyawaku sendiri. Sudah cukup aku merasakan sakit saat kehilangan dia,"
"LUCAS.. "
"Aku mohon, aku tidak akan pernah bahagia jika tidak bersama Starla."
"TUTUP MULUTMU."
"Tuan Fredell, tenanglah.. "
Ucap Asisten Tuan Fredell, dan langsung memberikan Lucas sebuah isyarat agar meninggalkan kamar Ayahnya sebelum pria itu benar-benar naik pitan dan dapat memicu penyakit jantungnya kambuh. Hingga tidak menunggu lama Lucas langsung menarik gagang pintu kamar tersebut dan langsung meninggalkan Ayahnya yang sedang berusaha menekan emosinya.
Sejak 10 tahun terakhir ini hubungan Lucas dengan sang Ayah memang sangat buruk, kekecewaan Lucas atas tindakan sang Ayah membuatnya sangat marah, meskipun ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menghindari dan memutuskan komunikasi kepada sang Ayah sebagai bentuk protes kepada Ayahnya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.