I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Rumah sakit. * HOSPITAL.



Tubuh Starla terbaring lemas di atas tempat tidurnya, dengan kondisi yang belum sadarkan diri sejak 5 jam lalu, dan hal itu cukup mebuat Leon khawatir, yang sejak tadi tidak pernah meninggalkan ruang inap Starla sedikitpun dan tetap duduk di samping gadis itu.


"Selamat siang Tuan muda Leon,"


Sapa Dokter Arven Arion seraya menghampiri Leon yang langsung berdiri menyambut Dokter tersebut, Arven adalah Dokter yang saat ini bertugas sebagai Dokter pribadi keluarga Berta pengganti Dokter Wilfreed untuk sementara waktu.


"Bagaimana Dokter Arven, apa dia baik-baik saja?"


"Keadaan Nona ini tidak baik, jika saya boleh tahu, sudah berapa hari Nona ini tidak makan ataupun minum?" Tanya Dokter Arven.


"Sejak tiga hari yang lalu, itu yang aku tahu Dokter."


"Saya rasa bukan hanya tiga hari Tuan Leon, sebab dehidrasi yang Nona muda alami saat ini membuatnya mengalami gangguan fungsi ginjal dan batu ginjal." Ucap Dokter Arven yang membuat Leon terkejut.


"Apa separah itu Dokter?"


"Yah, dan dehidrasi ini mengakibatkan kerusakan otot dan gangguan pencernaan, bahkan dalam kasus yang ekstrim, dehidrasi yang Nona muda alami ini dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran, dan bahkan bisa lebih dari itu." Jelas Dokter Arven yang cukup membuat Leon syok, bahkan jika ia terlambat sedikit saja, mungkin keadaan Starla akan jauh lebih buruk dari ini.


"Tapi kenapa ia belum sadarkan diri juga Dokter?" Tanya Leon merasa cemas.


"Saya sengaja membuatnya tertidur, sebab saya rasa Nona muda ini tidak pernah tertidur dengan lelap dan nyaman selama beberapa hari, bahkan kadang ia mungkin tidak tidur semalam."


"Iya Dokter, sebab hanya dia yang benar-benar bisa melakukan hal bodoh seperti ini." Balas Leon yang kembali mengalihkan pandangannya ke arah Starla, menatapnya yang kini masih terlelap.


"Baiklah Tuan muda, Mungkin seharusnya anda juga beristirahat, tidak perlu cemas, sebab Nona muda akan terbangun malam nanti, setelah efek obat tidurnya habis. Dan Tuan muda masih memiliki waktu 5 jam untuk beristirahat." Ucap Dokter Arven.


"Baiklah.. Bisakah Dokter menugaskan beberapa perawat untuk menjaganya sementara aku tidak berada di sini? mungkin tidak akan lama." Tanya Leon yang langsung di balas anggukkan setuju oleh Dokter Arven.


"Tentu saja Tuan muda, anda tidak perlu khawatir, saya akan menugaskan beberapa perawat untuk memantau kondisi Nona muda." Jawab Dokter Arven sedikit membungkuk.


"Terimakasih Dokter, sebab aku tidak ingin mendapatkan masalah baru lagi gara-gara sudah lalai menjaga gadis ini." Balas Leon saat ingatannya tiba-tiba tertuju kepada Alpha.


"Maksud anda?"


"Gadis ini orang terdekat Alpha," Ucap Leon.


"Benarkah? Jadi Nona muda ini?"


"Hmm.. Dugaan anda sangat tepat Dokter Arven." Balas Leon seraya mengangguk perlahan sambil mengacungkan jempolnya.


"Ah iya Tuan, saya akan menjaga Nona muda dengan sangat baik."


"Hmm.. Sebaiknya anda melakukannya dengan baik, dan aku rasa anda pasti sudah tahu bagaimana sikap teman anda dan tempramennya itu kan," Balas Leon tersenyum sambil mengangguk, sebelum akhirnya Dokter Arven melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut.


Sedang Leon yang masih di sana kembali menghampiri tempat tidur Starla sambil menatap wajah terlelap itu dengan sangat lekat.


"Kau sudah terlalu banyak menderita Star, dan entah apalagi yang akan kau temui nantinya, kenapa aku sangat cemas sekarang, bukankah kau sangat membenci seorang pria kaya? Sedang kau sendiri tidak menyadari jika telah mencintai seorang pria kaya raya." Ucap Leon sambil menggenggam telapak tangan Starla.


"Aku harap suatu saat nanti perasaan cintamu kepada Alpha tidak akan pernah berubah, saat kau mengetahui semuanya, siapa sebenarnya seorang Alpha Khandra, bahkan ia pernah bertemu dengan pria yang dulu pernah kau cintai. Bukankah ini sangat kebetulan?" Lanjut Leon yang terus berbicara di samping Starla.


"Aku ingin semua baik-baik saja, tidak melihatmu terluka lagi adalah harapanku terbesarku Star, namun sekarang kau malah membuatku sangat cemas. Jadi aku mohon, jangan pernah sakit lagi."


Ucap Leon sekali lagi. Mungkin hal yang wajar jika Leon sangat peduli dan menyayangi Starla, sebab selain sahabat yang sangat dekat, Leon juga merasa senasib dengan Starla yang pernah merasakan sakitnya kehilangan dan di tinggalkan oleh sosok Ibu yang mereka sayangi. Dan itulah kesamaan yang membuat mereka dekat dan saling mengerti satu sama lainnya.


"Aku akan pulang sebentar, dan kau tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja, tidak akan ada orang akan menemukanmu apalagi menyakitimu di sini." Bisik Leon yang perlahan beranjak dari duduknya sambil merapikan selimut Starla sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan ruang VIP tersebut, sebelum ia menelfon dua orang Bodyguard Alpha untuk menjaga kamar Starla.


* * * * *


* MANSION ALPHA KHANDRA.


"Selamat sore Tuan Alpha, Tuan Dareen."


Sapa salah seorang kepala pelayan di Mansion tersebut sambil membungkuk memberi hormat pada Sang pemilik Mansion dan juga Asistennya yang baru saja memasuki ruangan tersebut. Sambil melonggarkan dasinya, Alpha mendudukkan tubuh lelahnya di sebuah Sofa untuk mengamankan dirinya. Sebab akhir-akhir ini jadwal pertemuan Alpha bersama beberapa klien semakin padat, ia juga harus bolak-balik keluar kota untuk mengadakan pertemuan penting dengan beberapa investor, hingga membuatnya memiliki waktu istirahat yang sedikit di waktu malam dan itu cukup membuat Alpha kelelahan.


"Dareen, apa kau tahu kenapa Leon tiba-tiba meminta Bodyguard?" Tanya Alpha saat memeriksa ponselnya dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Leon juga beberapa pesan notifikasi yang baru di bukanya.


"Tidak Tuan, Leon tidak mengatakan alasannya, ia hanya meminta dua orang bodyguard untuk menemaninya, itu saja." Jawab Dareen.


"Ha? Ada apa dengan dirinya? Sebelumnya dia tidak pernah setuju  jika ada bodyguard atau pengawal yang menemaninya, tapi sekarang, kenapa tiba-tiba?" Balas Alpha merasa heran.


"Maaf Tuan, saya juga tidak mengetahui alasan Leon melakukan itu, mungkin saat ini ia benar-benar sedang membutuhkan Bodyguard."


"Tsk, sejak kapan? Dia bahkan jauh lebih bisa melindungi dirinya sendiri tampa bantuan bodyguard, mana ada orang yang bisa mencelakainya, kecuali orang itu sudah tidak menyayangi nyawanya lagi." Balas Alpha kembali meletakkan ponselnya.


"Ah benar juga, saya hampir lupa."


"Jangan tertipu dengan sifat humoris dan senyum manis Leon, dia bahkan sangat menakutkan dan bisa membunuh seseorang dengan sangat mudah jika dia dalam keadaan marah." Balas Alpha yang sudah benar-benar paham dengan tabiat sepupunya itu.


"Tapi Tuan, terakhir saya mendapatkan informasi dari salah satu bodyguard yang bersama Leon mengatakan jika saat ini ia sedang berada di salah satu rumah sakit milik keluarga Berta." Ucap Dareen yang sontak membuat Alpha terkejut.


"Apa? Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa Leon baik-baik saja?" Tanya Alpha yang tiba-tiba terlihat panik dengan keadaan Leon, di tambah lagi sejak pagi tadi ia tidak melihat keberadaan sepupunya itu. Bahkan kekhawatiran Alpha semakin bertambah saat ia tidak bisa menghubungi ponsel Leon saat ini.


"Di mana anak ini? apa yang sedang ia lakukan, kenapa aku tidak bisa menghubunginya, sialan..." Umpat Alpha yang terus menghubungi ponsel Leon yang lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban dari Leon.


"Aku akan membunuhnya, berani-beraninya dia mengabaikan terlfonku," Ucap Alpha yang terdengar sangat khawatir.


"Tenanglah Tuan, Leon bukanlah pria yang harus anda khawatirkan secara berlebihan seperti ini." Balas Dareen mencoba menenangkan Alpha.


"Aku hanya tidak menginginkan Leon berbuat ulah."


"Saya yakin, Tuan Leon tidak akan melakukan hal seperti itu, lagi pula dia juga tidak berani melakukan hal yang akan membuat anda marah."


"Hubungi pengawal kita, dan cari keberadaan Leon sekarang juga." Perintah Alpha yang langsung beranjak dari duduknya sebelum akhirnya ia kembali menarik nafas lega saat melihat Leon yang baru saja tiba dan langsung melangkah ke arahnya dengan senyuman khasnya yang membuat Alpha lega sekaligus kesal. Hingga tampa sadar ia melempar sebuah bantal sofa ke arah Leon sebelum pria tinggi itu mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Yaakk bocah sialan, ada apa dengan ponselmu? Kenapa sangat susah untuk menghubungi mu? Kemana saja kau seharian?" Semprot Alpha yang langsung menghujani Leon dengan berbagai macam pertanyaan, bahkan sebelum Leon mendaratkan tubuh lelahnya di sofa. Dan Alpha yang terkenal sebagai seorang pria yang irit bicara akan kehilang predikat tersebut jika sudah berhadapan dengan Leon.


"Ponselku lowbat, maaf jika membuatmu khawatir, aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah hari ini." Jawab Leon yang masih mengusap telinganya yang terasa panas dengan pertanyaan Alpha.


"Lelah? Apa saja yang sudah kau lakukan? Kau bahkan terlihat sangat berantakan dan bau." Balas Alpha yang masih terus mengoceh. Bahkan ia sudah terlihat seperti seorang Ibu yang sedang memarahi anaknya sekarang.


"Aiisshh... Kenapa aku tiba-tiba saja merindukan Bibi Aleen yang selalu membuat telingaku merasa nyaman." Kelu Leon pasrah.


"Tentu saja, kau sangat cerewet." Gumam Leon namun sangat terdengar jelas di telinga Alpha.


"Dasar,"


PLAAKK..


"AAUUWW.... YAAKK... Kenapa kau memukulku? " Teriak Leon sambil mengusap kepalanya yang terkena telapak tangan Alpha.


Sedang Dareen yang menyaksikan kedua pria dewasa yang bertingkah layaknya seperti seorang anak kecil hanya bisa menahan tawa sambil menggeleng pelan. Bahkan Dareen lebih memilih diam untuk menghindari masalah.


"Tunggu, di mana kedua bodyguard yang tadi bersamamu?" Tanya Alpha lagi, saat ia tidak melihat kedua bodyguardnya bersama Leon.


"Rumah sakit."


"Apa? Siapa yang sedang berada di rumah sakit? Jangan bilang jika kau berbuat ulah lagi, dan membuat orang terluka parah."


"Tidak, yah meskipun aku sangat ingin melakukannya." Balas Leon yang langsung melindungi kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.


"Apa? Kau.."


PLAAKK..


"YAAAKK..SAKIT... BERHENTI MEMUKUL KEPALAKU. Apa kau berniat membuatku kehilangan ingatanku? Aku meminta kedua bodyguard itu untuk menjaga Starla yang sekarang terbaring di rumah sakit." Ucap Leon yang sepertinya tidak berhasil menghindari pukulan Alpha, dan lagi-lagi ia harus mengusap pangkal kepalanya yang kembali terkena pukulan dari Alpha, namun kali ini ekspresi dan reaksi Alpha tiba-tiba berubah saat mendengar nama Starla yang keluar dari mulut Leon.


"Starla? Maksudmu gadis bunga itu sedang berada di sini?" Tanya Alpha.


"Hmm.. Dan dia sedang sakit sekarang."


"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?" Protes Alpha yang hanya bisa membuat Leon melongo, Alpha seakan lupa jika sejak Leon pulang, ia bahkan tidak di beri kesempatan untuk berbicara sebab harus mendengar omelan Alpha terlebih dulu.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Alpha perlahan dengan wajah yang terlihat khawatir, meskipun Leon tahu jika saat ini Alpha sedang berusaha keras untuk menutupinya, dan hal itu cukup membuat Leon yakin jika Alpha juga sebenarnya sangat perduli terhadap Starla, meskipun ia belum mengetahui perasaan seperti apa yang di rasakan Alpha selama ini kepada Starla.


"Untuk saat ini dia masih baik-baik saja, tapi aku tidak tahu jika ia keluar dari rumah sakit nanti. Apakah dia akan baik-baik saja atau justru sebaliknya." Jawab Leon yang membuat Alpha semakin khawatir.


"Maksudmu? Apa separah itu?" Tanya Alpha.


"Yah, bisa di katakan seperti itu. Bukankah kau sendiri sudah mengetahui jika Starla bisa saja mendapat banyak masalah kedepannya jika dia masih berada di tempat ini." Jawab Leon yang kembali mengingatkan Alpha tentang masa lalu Starla dulu.


"Seharusnya dia baik-baik saja, bukankah ini sudah lama berlalu, bahkan mereka sudah berpisah. Dan jika ia masih merasa tidak aman untuk berada di sini, kenapa ia harus memaksakan diri?" Balas Alpha.


"Kau serius dengan ucapanmu barusan? Apa kau benar-benar tidak tahu alasan Starla untuk datang ke sini?" Tanya Leon mengernyit.


"Memang apa lagi alasannya?" Jawab Alpha yang membuat Leon sedikit kesal dengan sikap masa bodoh Alpha.


"Yah, gadis bodoh itu memang selalu melakukan tindakan yang selalu membuatnya dalam masalah." Balas Leon yang sebenarnya sangat tidak ingin berdebat dengan Alpha, dan ia hanya akan mengikuti alur dan menunggu hingga Alpha benar-benar tahu jika Starla melakukan semua hal bodoh itu demi Alpha, sebab Leon juga sadar jika tidak semudah itu untuk membuat hati Alpha luluh, hati yang sudah berapa tahun mengeras seperti batu cadas.


"Tapi sekarang dia baik-baik saja kan?" Tanya Alpha yang untuk kesekian kalinya.


"Berhenti bertanya dan lihatlah sendiri keadaannya," Tanya Leon merasa jengah.


"Tapi aku masih harus menemui seorang klien sore ini untuk makan malam." Balas Alpha sambil melihat jam tangannya.


"Baiklah, aku mengerti. biar aku yang menjaganya, tapi aku butuh istrahat dan tidur sebentar." Ucap Leon yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Alpha dan Dareen yang masih berada di ruang tengah.


"Apa anda benar-benar tidak ingin menemuinya?" Tanya Dareen yang langsung membuyarkan lamunan Alpha yang kini pikirannya sedang tertuju kepada Starla. Mungkin ia berbohong bila mengatakan jika ia tidak mengkhawatirkan Starla ataupun tidak merindukan gadis itu. Sebab kenyataannya saat ini adalah Alpha sangat merindukan Starla dan mengkhawatirkan kondisi Starla saat ini.


"Tuan Muda,"


"Ah, iya.. Aku.. "


"Sebaiknya Tuan mengunjunginya, saya akan mencancel pertemuan anda bersama klien malam ini." Ucap Dareen.


"Entahlah.. Aku butuh istrahat, aku lelah, selama kedua bodyguard kita masih berada di sana untuk menjaganya, aku tidak merasa khawatir."


"Apa anda yakin? Sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu." tanya Dareen saat ia melihat ekspresi yang tidak biasa dari Alpha.


"Aku hanya berfikir, mungkin dia kesini untuk menemui orang lain."


"Maksud anda?"


"Pria yang pernah sangat ia cintai berada di sini, mungkin itu alasannya kenapa ia bisa berada di sini sekarang." Balas Alpha yang sepertinya tengah merasakan gelisah, perasaannya sedikit terganggu saat ini. Jika mengingat cerita dari adik sepupunya Leon bagaimana masa lalu Starla dulu, ia bisa menyimpulkan seberapa besar rasa cinta Starla kepada mantan tunangannya itu. Alpha akan mengikuti versinya sendiri yang selalu merasa jika sulit untuk melupakan seseorang yang pernah sangat di cintai. Dan pemikirannya itulah yang membuat Alpha mengambil kesimpulannya sendiri tentang Starla tampa menyadari fakta yang ada jika saat ini dirinya lah satu-satunya yang di cintai oleh Starla, dan juga dirinyalah yang menjadi alasan Starla untuk menginjakkan kaki di tempat yang pernah ia tinggalkan selama 10 tahun ini. Tempat yang menciptakan banyak luka untuk Starla.


"Apa Tuan yakin dengan hal itu? Bisa saja anda salah,"


"Dan jika memang itu benar? Bukankah aku hanya akan menjadi batu penghalang buat mereka?" Tanya Alpha merasa cemas.


"Tuan muda, kenapa anda tiba-tiba berfikir negatif sekarang? Sungguh tidak seperti diri anda."


"Itulah alasannya aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan, terlalu banyak perasaan yang harus di pertimbangkan, ini rumit, bahkan kita kadang merasakan perasaan sakit yang susah untuk di obati oleh apapun juga. Entah perasaan seperti apa ini?"


Ternyata anda sudah mencintai gadis itu, meskipun anda tidak menyadarinya, itulah perasaan cinta yang selama ini belum pernah anda rasakan Tuan.


Batin Dareen yang sebenarnya jauh dari lubuk hatinya, ia merasakan kebahagiaan, sebab Alpha sudah memiliki perasaan suka kepada seorang wanita, meskipun ia sendiri belum menyadarinya.


"Setidaknya temui dia Tuan muda."


"Apa aku perlu melakukan itu?"


"Yah, tapi saya juga tidak punya hak untuk memaksa Anda jika memang anda belum siap untuk menemuinya."


"Aku lelah.."


Ucap Alpha yang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, tempat yang di mana ia akan temukan ketenangan, sebab ruangan tersebut adalah tempat yang akan selalu membuatnya merasa lebih baik.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.