I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kekhawatiran yang berlebihan



"Apa kau lelah?" bisik Alpha memeluk tubuh istrinya yang masih memejam.


"Cukup lelah." 


"Maaf jika terus membuatmu kelelahan."


"Tak perlu meminta maaf hanya karena masalah ini, All. Karena aku juga menyukainya," balas Emery, membenamkan wajah di dada suaminya dan menyamankan tubuhnya di sana.


"Tidurlah."


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tak akan tidur?" tanya Emery dengan suara beratnya, tak sanggup menahan ngantuk.


"Aku harus mengerjakan sesuatu."


"Kerja?"


"Hmm, aku akan ke ruang kerja sebentar. Ini tidak akan lama." 


"Baiklah," angguk Emery menyamankan tubuhnya di balik selimut tebal yang hangat, bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama, Alpha sudah merasakan nafas yang teratur dari istrinya.


Emery tertidur cukup pulas, bahkan tidak bergerak sedikitpun saat Alpha melepaskan pelukannya, dan kembali menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut, sebelum beranjak dan meraih piyama untuk di pakainya.


"Good night, my Cherry," bisik Alpha sekali lagi, mengecup dahi istrinya sebelum meraih ponsel di atas nakas dan melangkah keluar kamar menuju ruang kerjanya yang di sana masih nampak berantakan. Baju berserakan di mana-mana, bahkan pakain dalam istrinya masih berhamburan di atas sofa dan lantai.


Alpha menyunggingkan senyum sambil memungut satu persatu pakaiannya juga pakaian istrinya dan mengumpulkannya untuk di bawah keluar sekaligus ke pantry untuk mengambil air mineral sambil menekan sebuah nomor di dalam ponsel yang saat ini ia pegang.


"Selamat malam, Tuan Alpha,"


Suara Darren menyambut di ujung panggilan.


"Kau bisa ke sini sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan, kau bisa bersama Axel." 


Alpha kembali melangkah menuju ruang kerja dengan sebotol wiskie di tangannya.


"Tentu saja, aku akan menjemputnya dan kesana sekarang juga." 


"Hmm, da n... jangan sampai Yoon tahu."


"Ya, Tuan."


Panggilan terputus, dan Alpha yang terlihat berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Menyibakkan tirai agar tidak menghalangi pandangannya. Sesekali terlihat menarik nafas panjang sambil terus memijat tengkuk lehernya.


Lama ia berdiri di sana sebelum suara langkah tak asing terdengar olehnya, dan menampakkan sosok Darren dan Axel di sana. Bahkan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut sebelum ia mengetuk dan hanya mendapatkan respon anggukan oleh Alpha yang membalikkan tubuh dan langsung duduk mengintari meja menuju sofa untuk duduk tepat di samping mereka yang terlihat cukup terkejut saat melihat banyak kertas dan barang lainnya yang berserakan di atas lantai. 


Apa telah terjadi sesuatu? Pikir Darren terlihat khawatir.


"Atur pertemuanku dengan Jackob Sean," ucap Alpha tanpa basa basi.


"Maksud Anda?"


"Aku ingin bertemu dengan pria itu untuk menanyakan apa yang ia inginkan," balas Alpha nampak serius.


"Tapi, sepertinya Jackob sudah meninggalkan Verona."


"Aku bisa mencari tahu di mana lokasinya saat ini, jika dia memang belum meninggalkan Italia," sambung Axel.


"Kau bisa melacak lokasinya?" tanya Alpha mengernyit.


"Ya, lewat beberapa orang di klub, sebagian dari mereka cukup mengenal Jackob Sean, mungkin kita bisa mencari informasi dari mereka." 


"Bagus, aku harap secepatnya Axel." 


"Ya. Kau bisa menunggu. Ini tak akan lama."


"Besok?"


"A-apa? Besok? Anda serius?" tanya Darren.


"Aku tidak akan menyuruh kalian datang menemuiku jika hanya untuk bermain-main, aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu pria itu." 


Darren menarik nafas kuat, menatap Axel yang hanya mengangguk terlihat menyanggupi. Dan itu artinya, ia juga harus bekerja keras agar bisa menemukan lokasi Jackob malam ini juga.


"Dan berharap ia belum meninggalkan Italia," sambung Axel.


"Kita akan menemuinya di Philadelphia." 


"Tuan, saya rasa itu bukan ide yang bagus, kita tidak tahu bagaimana kondisi di sana, dan kita juga belum paham orang seperti apa Jackob Sean dan kartelnya."


"Kita datang secara damai, bukan untuk merusuh, aku hanya ingin menanyakan apa tujuannya berada di acara pernikanku, aku rasa dia pasti punya jawaban atas pertanyaanku," 


"Ya, tapi ada baiknya kita menunggu. Anda tidak bisa lagi bertindak sesuka hati sekarang, ada Nyonya Emery yang akan terus memantau Anda tiap saat," balas Darren yang lekas membuat Alpha tersadar. Ia bahkan nyaris lupa jika ada Emery di sampingnya.


Alpha mengurut alis sambil memejam, "Axel, bisakah kau cari tahu keberadaan pria itu malam ini?" tanya Alpha.


"Ya, malam ini mereka akan berkumpul di klub. Aku akan mengusahakannya," balas Axel yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.


"Terima kasih Axel."


"Kau tidak perlu sungkan Alpha." 


"Tuan, Aku sudah mengirimkan laporan pengiriman barang di email Anda, dan Anda bisa memeriksanya langsung. Aku lupa memberitahu Anda. Jika Gianela memundurkan diri dari perusahaan siang ini"


"Alasannya?"


"Seperti yang ia katakan, keluarganya akan pindah ke Irlandia, dan ia akan menikah di sana."


"Ya, kau tinggal mencari penggantinya." 


"Kita bahkan sudah memiliki beberapa kandidat, Tuan. Dan aku tertarik dengan salah satu pendaftar yang bernama Gizelle Feit."


"Apa menurutmu dia bisa menggantikan posisi Gianela?" tanya Alpha masih terlihat ragu. 


Sebab menurutnya sangat susah untuk mendapatkan sekertaris seperti Gianela Swetha. Wanita itu cukup cerdas dan gesit, dan sudah sangat lama menjadi sekretarisnya. Bahkan ia sedikit terkejut saat mendengar Gianela memundurkan diri. Wanita itu bahkan tidak terlihat di acara pernikahannya dua hari yang lalu. Apa wanita itu sudah kembali ke Irlandia? Alpha nampak berfikir dan mempertimbangkan siapa yang akan menggantikan posisi Gianela sebagai sekretarisnya.


"Yang aku lihat dari data-data juga profil yang di kirim. Gizelle Feit memiliki pendidikan setara dengan Gianela Swetha, di Universitas Ludwig Maximilian."


"Ludwig Maximilian?" 


"Ya, Tuan, Anda bisa mewawancarainya langsung, jika Anda memang kurang yakin."


"Tidak perlu, kita butuh sekertaris secepatnya, bukankah kita akan melakukan rapat dewan direksi?"


"Ya." 


"Masukkan Nona Gizelle Feit dalam daftar, dan ia bisa bekerja mulai besok. Aku percaya dengan pilihanmu," Balas Alpha.


"Baiklah," angguk Darren. "Apa ada hal lain lagi, Tuan?" 


"Tidak, kalian hanya perlu memberiku kabar di mana harus bertemu Jackob Sean, sebelum esok hari."


"Tentu, kami akan pulang sekarang," lanjut Axel beranjak, di susul oleh Darren.


"Aku menunggu kabar baik," balas Alpha yang langsung di balas anggukan oleh Axel sebelum melangkah meninggalkan ruang kerja tersebut.


Tinggalkan Alpha yang masih duduk di sana dan meraih sebuah map yang berisi profil dan data lengkap Gizelle Feit, seorang gadis yang akan menjadi sekretarisnya.


Menatap foto berukuran 3×4 tersebut dengan alis mengernyit. Gadis dengan gaya rambut bob, bermata biru, hidung mancung dengan bibir tipis, nampak mirip seperti seorang sosok yang ia kenal sebelumnya. Tak puas menatap foto itu, Alpha kembali membaca profil gadis tersebut. Gizelle Feit Anderson, lahir Tekapo lake 16 Oktober 1987 New Zealand.


"Apa hanya mirip saja?" Alpha bergumam sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja saat membaca semua profil lengkap Gizelle Feit Anderson yang menurutnya sangat mirip dengan Starla.


Namun, saat ia kembali mengamati data-data kedua orang tua Gizelle Feit, Alpha kembali menghilangkan pikirannya tentang Starla yang memang adalah Gizelle Feit Anderson.


"Apa Darren juga sudah menyadari jika gadis ini sangat mirip dengan Starla?" gumam Alpha nampak berfikir sebelum memilih untuk menutup map tersebut saat menyadari jika sudah empat jam ia di ruang kerja, bahkan ia sudah sangat merindukan istrinya sekarang.


Alpha beranjak dengan bergegas, mematikan lampu di ruang kerjanya dan berjalan keluar ruangan menuju kamarnya. Hingga senyum kembali terulas di bibirnya saat mendapati sang istri yang masih terlelap, bahkan dengan posisi yang masih sama saat ia tinggalkan beberapa jam lalu.


Masih tersenyum, Alpha langsung mendekati tempat tidur mereka, membaringkan tubuhnya tepat di samping sang istri yang langsung di peluknya erat di bawah selimut hangat mereka. Bahkan ia bisa merasakan saat Emery sedikit bergerak dan membenamkan wajahnya di dadanya.


***