I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Awal musim dingin.



* Jerman Munchen.


11 Januari awal musim dingin di Munchen, nampak terlihat Alpha tengah berdiri menengadahkan kepalanya keatas sambil mengulurkan tangan kanannya kedepan dan membiarkan butiran-butiran lembut dari salju jatuh melebur di telapak tangannya.


2 Tahun berlalu, kehidupan Alpha benar-benar telah banyak berubah, jika di Korea dia adalah seorang presiden Direktur Perusahaan BRT GRUP yang sangat terkenal dengan kekayaannya, berbeda halnya dengan kehidupan Alpha di sini. Sejak meninggalkan Negara kelahirannya, Alpha menanggalkan statusnya sebagai seorang Presiden Direktur perusahaan besar untuk sementara dan hidup sebagai seorang yang biasa di Munchen. Sebagai pemilik sebuah cafe sederhana. Begitupun dengan kesehariannya bersama sang Ibu Nyonya Aleen yang jauh dari kehidupan mewah seperti sebelumnya.


Meskipun demikian, hidup sederhana yang mereka lakukan malah membuat mereka jauh lebih menikmati kehidupan baru juga lebaran baru. Mereka yang sepakat untuk tidak menjalani kehidupan mewah cukup membuat Dareen terkejut, di tambah lagi saat Dareen di perintahkan untuk kembali ke Korea dan membantu Alpha mengambil alih BRT GRUP untuk sementara waktu, di mana saat satu tahun yang lalu Dareen turut ke Jerman untuk menemani Alpha dan Nyonya Aleen.


"Bukankah mereka sangat indah?"


Dengan tiba-tiba terdengar suara lembut menyapa indra pendengaran Alpha yang saat itu masih berdiri dengan posisi menengadahkan kepalanya ke atas tepat di depan cafenya dengan telapak tangan yang sudah di penuhi butiran salju yang lembut.


Alpha mengalihkan pandangannya sesaat untuk mencari arah suara yang sempat mengejutkan itu. Hingga obsidiannya tertuju pada seorang sosok gadis asing bagi Alpha yang tengah berdiri tepat di sampingnya sambil tersenyum seraya ikut menengadahkan kepalanya ke atas dan mengulurkan tangannya kedepan untuk menyambut turunnya butiran salju, bahkan ujung jemarinya sempat menyentuh ujung jari Alpha yang membuat Alpha terdiam, sentuham yang begitu tiba-tiba sempat membuat Alpha terkejut dan dengan reflek menarik tangan dan memasukkannya kedalam saku mantelnya yang tebal. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Alpha, Dengan sorot mata yang terlihat nampak kebingungan, Alpha terus menatap gadis yang masih di sampingnya itu dengan kening menyatu, sedang gadis yang masih betah untuk berdiri di samping Alpha masih setia dengan senyum manisnya dan tangan yang masih terulur ke depan.


Anda nampak sangat mengagumkan Tuan pemilik Cafe.


"Maaf.. "


Ucap Alpha dan langsung melangkah masuk ke dalam cafenya tampa menunggu jawaban dari gadis tersebut yang masih setia menatap punggung Alpha yang perlahan hilang di balik pintu.


"Sampai kapan kau akan terus melihatnya Nona? dia bahkan tidak memperdulikanmu sedikitpun."


Ucap seorang pria yang sontak membuat Starla terbangun dari lamunannya, dan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Starla Galenka adalah seorang gadis pemilik sebuah toko bunga yang letaknya tepat di depan Cafe milik Alpha Khandra. Sekaligus seorang gadis yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi pengagum rahasia seorang pemilik Cafe yang tidak lain adalah Alpha, seorang pria kaku, dingin, tidak banyak bicara, dengan wajah datar, namun mempunyai senyum yang sangat indah. Itulah gambaran sosok Alpha di mata seorang Starla.


Meskipun selama ini ia tidak pernah sekalipun di lirik ataupun di pedulikan oleh Alpha, namun Starla tidak pernah berhenti untuk mengagumi sosok Alpha, meskipun Alpha tidak akan pernah tau jika selama ini diam-diam Starla selalu memperhatikannya, mengamati semua gerak-geriknya, mencari tahu makanan favorit, warna favorit, bahkan hal-hal apa saja yang tidak di sukai oleh Alpha. Bahkan Starla sungguh tidak keberatan jika dirinya harus di sebut sebagai seorang penguntit, sebab ia sendiri sadar jika yang ia lakukan selama ini memang sudah seperti seorang penguntit.


Astaga.. Kenapa kau harus mengganggu ketenanganku pagi ini.


"Bahkan Alpha tidak tau jika kau hidup."


Ucap pria itu lagi yang kembali membuat Starla mengatupkan bibirnya, menatap jengkel pria di hadapannya yang saat ini tengah menertawai kebodohannya.


"Setidaknya aku sudah mendengar suara Tuan Khandra, dan kau tidak tahu betapa indahnya suara itu."


"Kau lupa jika aku bekerja di Cafe itu? Bahkan tiap hari tampa makan pun aku sudah kenyang dengan sendirinya saat mendengar suara Alpha."


"Astaga kau pria yang sangat beruntung di dunia ini Leon, karena bisa selalu mendengar suara Tuan Khandra, dia pria yang seksi, apa dia juga terlihat seksi saat sedang berbicara?"


"Selain penguntit, kau juga ternyata seorang gadis yang mesum yah?"


"Yaakk.. "


"Asal kau tahu, kau akan merasakan panas di seluruh telinga dan kepalamu jika Alpha sudah mulai mengomel."


"Sudah aku duga, dia pria yang seksi."


Balas Starla seraya menangkup wajahnya sambil tersenyum, sedang pria di hadapannya langsung bergidik ngeri sambil menggeleng perlahan dengan raut wajah prihatin.


"Memang apa saja yang di katakan Alpha padamu tadi?" Tanya Leon sedikit penasaran.


"Ha? Itu.. Dia bilang, maaf.. "


"Maaf?"


"Hoo,"


"Hanya kata maaf? Dan kau sudah sesenang itu? Aku rasa kau sudah menghirup terlalu banyak serbuk racun  dari bunga-bunga di toko mu, hingga membuat otakmu sudah tidak bisa berkerja dengan baik lagi." Balas Leon.


"Yaakk.. Selama ini aku tidak pernah mendengar suara Tuan Khandra, dan saat dia mengatakan kata itu rasanya aku... "


"Kau benar-benar tidak tertolong lagi Starla, lupakan Alpha, dia bukanlah pria yang akan mudah tertarik dengan seorang wanita, bahkan selama dua tahun ini satupun tidak ada wanita yang bisa buat Alpha jatuh cinta. Dan kau liat sendirikan wanita-wanita yang selalu mendekati Alpha seperti apa?" Ceramah Leon panjang lebar.


"Yah yah.. Aku tau, cantik, berkelas, dan memiliki tubuh yang indah." Balas Starla kembali tertunduk dengan bahu yang ikut turun sambil menekuk wajahnya.


"Nah.. Di bandingkan dirimu, yang... "


Leon tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya menatap ke arah Starla dari atas kepala hingga ujung kaki gadis itu yang juga ikut menatapnya dengan ekspresi bingung, di tambah lagi saat mata Leon tertuju pada area dada milik Starla yang memang terlihat rata hingga membuat Starla langsung menyilangkan kedua tangan tepat di atas dadanya sambil mengedipkan mata bulatnya berkali-kali.


"Bahkan tidak terlihat, karena begitu kecil," Ucap Leon dengan wajah polosnya.


"Yaaakkk tidak perlu di perjelas."


Teriak Starla seraya menendang betis Leon tepat di tulang kering yang sontak membuat pria bertubuh kurus tinggi itu meringis kesakitan dan langsung mengusap ngusap tulang betisnya yang masih terasa perih.


"Apa kau seekor Kuda? Bahkan tabiatmu juga buruk." Ucap Leon yang masih meringis kesakitan.


"Iisshh.. Kenapa kau sangat menyebalkan, aku tidak mengerti, kenapa Tuan Khandra yang lemah lembut bisa mempunyai teman sepertimu."


"What? Lemah lembut? Tunggu saja sampai kau merasakan tajamnya mulut pangeranmu itu." Seru Leon kesal.


"Tsk"


"AAUUWWW... YAAKKK.. STARLAAAA.... AKU AKAN MEMBUNUHMU..YAAKKK KEMBALI KAU...."


Teriak Leon terus memegang pergelangan kakinya yang lagi-lagi mendapatkan tendangan dari Starla yang sudah berlari menyebrangi jalan menuju Toko bunganya, tampa memperdulikan teriakan pilu dari Leon yang masih mengelus-elus betisnya yang ia yakini pasti sudah membiru.


* * * * *


* CAFE ALFA KHANDRA.


"Apa yang terjadi dengan kakimu?"


Tanya Alpha mengeryitkan keningnya saat melihat Leon yang tengah berjalan sambil menyeret kaki kanannya yang masih terasa ngilu akibat tendangan Starla.


"Ku..kuda liar?" Tanya Alpha mengernyit.


"Hmmm... Dan kau.."


Leon menghentikan kalimatnya, dengan tangan masih menggantung di udara, sedang Alpha hanya melihatnya dengan raut wajah datar seperti biasa.


"bisakah kau lebih peka sedikit saja?" Tanya Leon, yang membuat Alpha semakin bingung.


"Peka? Maksudmu?"


"Apa kau benar-benar tidak tahu jika selama ini ada yang diam-diam memperhatikanmu?"


"Entahlah.. Yang aku tahu selama ini memang banyak kan yang sering memperhatikan kita." Jawab Alpha sekenanya.


"Aiissh... Setidaknya jangan pernah menampakkan senyummu saat berada di depan Cafe, jangan berdiri terlalu lama di sana, jika kau tidak ingin ada seseorang yang mati mendadak karena pesonamu yang aku rasa biasa-biasa saja." Ucap Leon yeng terdengar seperti omelan hingga membuat Alpha semakin bingung.


"Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau yakin kuda itu hanya menendang kakimu?" Tanya Alpha.


"Aku serius.. Bahkan kakiku jadi seperti ini karena kamu." Jawab Leon seraya menunjuk betisnya.


"Apa? Jadi sekarang aku yang salah?"


"Tentu saja." Jawab Leon seraya menarik nafas dalam saat mengingat Starla yang dengan tenaga kuda menendang tulang keringnya tadi.


"Dan gadis itu.. Bisakah kau bersikap ramah padanya sedikit saja?" Lanjut Leon perlahan dengan senyum tipisnya.


"Gadis? Siapa? Terlalu banyak gadis di sekitar cafe ini."


"Aku tahu, tapi... Aisshh sudahlah.. Pria kaku sepertimu tidak akan pernah mengerti.. Membuatku prustasi saja." Balas Leon menggaruk belakang kepalanya sambil menggeleng dan melangkah pergi meninggalkan Alpha yang nampak masa bodoh, sebab ia benar-benar tidak mengerti dengan pembahasan mereka barusan.


Leon Avilas Berta adalah adik sepupu dari Alpha Khandra yang sudah sangat lama tinggal di Jerman. Dia adalah anak dari kakak almarhum Kinandita Aleen Berta, Ibu dari Alpha Khandra yang meninggal dunia 3 tahun lalu, Ibu Leon adalah salah satu korban pembunuhan  yang melibatkan Tuan Chirs saat itu. Dan sejak Alpha kembali ke Jerman Nyonya Aleen langsung meminta Leon untuk tinggal bersama mereka, dengan alasan agar Leon bisa menemani Alpha, juga mengajari Alpha banyak hal, terutama mengajari Alpha tentang cara untuk mendekati wanita, sebab selama ini Nyonya Aleen sudah sangat menginginkan putranya untuk menikah lagi dan memiliki seorang anak.


Namun jika melihat sikap Alpha saat berhadapan dengan seorang wanita seperti apa, membuat Nyonya Aleen mengurungkan niatnya, dan dengan terpaksa angan-angannya untuk memiliki seorang cucu harus musnah, bahkan Nyonya Aleen sudah sangat putus asa. Meskipun Leon juga bukan pria yang cukup berpengalaman dalam hal mendekati wanita, tapi Nyonya Aleen cukup tahu jika Leon juga memiliki banyak teman wanita. Meski Nyonya Aleen tidak merasa heran sebab meskipun Alpha dan Leon adalah sepupu, namun sikap dan tabiat mereka sangat jauh berbeda.


Leon adalah pria yang ceria, murah senyum, ramah, meski sedikit absurd dengan mulut yang sedikit frontal, berbeda dengan Alpha yang selalu bersikap dingin, irit bicara, jarang untuk tersenyum dan selalu memasang wajah datar. Kesamaan mereka hanyalah satu. Mereka di karuniai wajah yang tampan, postur tubuh tinggi dan berkulit putih, dan tidak sedikit pula wanita yang menggilai dan ingin berkencan dengan mereka.


"Kenapa Ibu mesti menyuruh Leon untuk mengajariku, bahkan dia saja tidak mempunyai pacar." Ucap Alpha di sela makan malam mereka sambil terus mengunyah makanannya, sedang Leon yang mendengar Kata-kata Alpha langsung terbatuk karena tiba-tiba tersedak.


"Kau tidak apa-apa?"


Tanya Nyonya Aleen seraya menyodorkan segelas air mineral kepada Leon yang masih menepuk-nepuk dadanya.


"Yaakk.. Setidaknya aku masi mempunyai banyak teman wanita, tidak sepertimu."


Balas Leon yang langsung menunjuk-nunjukan sumpitnya ke arah Alpha saat batuknya mulai mereda. Sedang Alpha hanya membalasnya dengan gelengan pelan sambil terus mengunyah.


"Memang apa hebatnya punya banyak teman wanita?" Ucap Alpha lagi.


"Kau akan tahu nanti jika kau mempunyai teman wanita." Balas Leon dengan senyumnya.


"Sayangnya aku tidak ingin mengetahuinya." Jawab Alpha santai sambil meneguk air mineralnya dan dengan anggun mengusap bibirnya menggunakan tisu.


"Aku sudah selesai." Lanjut Alpha yang langsung beranjak dari duduknya meninggalkan mereka yang masih duduk di meja makan dengan sumpit yang masih di tangan mereka juga tatapan yang terus mengikuti langkah Alpha hingga bayangan Alpha menghilang.


"Saya rasa, Bibi harus melupakan angan-angan Bibi yang ingin menimang cucu." Ucap Leon sambil melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Astaga.. "


Kelu Nyonya Aleen menaruh sumpitnya di atas meja dan langsung memijat dahinya, rasa prustasi nampak tergurat jelas di wajah wanita paru bayangan namun masih kelihatan sangat cantik itu.


"Bibi tenang saja, jangan terlalu di pikirkan, lambat laun juga Alpha pasti akan jatuh cinta dengan seorang gadis." Hibur Leon.


"Kapan? Dengan sikapnya yang seperti itu, kenapa Bibi jadi kurang yakin."


"Yah.. Tunggu waktu saja, sebenarnya sikap dingin Alpha itu dari siapa? Bahkan paman Adley tidak sedingin dan sekaku itu."


"Jangan salah... Sikap kaku Alpha memang dari Ayahnya."


"Apa? Tapi seingat saya dulu paman Adley orang yang ramah dan selalu tersenyum, yah meskipun saat itu saya masih kecil dan tidak mengingat banyak tentang paman Adley."


"Setelah menikah dengan Bibi, Paman Adley memang langsung berubah, tapi sebenarnya sifat dingin dan kaku All sekarang ini memang tidak jauh dari sikap Ayahnya dulu." Balas Nyonya Aleen tersenyum bahagia saat kembali mengingat sosok Almarhum suaminya.


"Saya menyerah Bi, kalau memang seperti itu, menunggu Alpha menikah dulu? Kapan? Bahkan teman wanita satupun ia tidak punya, hanya wanita abnormal yang mau bersama pria sekaku All." Balas Leon sambil meneguk air mineralnya, sedang Nyonya Aleen semakin terlihat prustasi dengan kata-kata Leon barusan.


"Apa ada wanita Abnormal di  sekitar sini, yang normal saja All menolak dan enggan meliriknnya, apalagi yang Abnormal, Leon kamu jangan bercanda."


"Hahahahaha.. Jelas saya hanya bercanda Bi." Balas Leon terbahak sambil terus memegangi perutnya.


"Tapi memang ada gadis Abnormal di sekitar All, gadis berdada rata dan bertenaga kuda." Sambung Leon yang membuat Nyonya Aleen melongo.


"Ap.. Apa?"


"Ahh lupakan Bi, saya hanya bercanda."


Lanjut Leon yang langsung meringis saat mendapat pukulan ringan dari Nyonya Aleen. Entah sudah berapa kali ia mendapat pukulan hari ini hanya karena seorang Alpha Khandra. Ia bahkan mulai mengutuk kakak sepupunya itu yang sekarang sedang mengurung dirinya di ruang kerjanya.


Sebab akan seperti biasa, pada saat malam hari, Alpha akan mulai bekerja, mengecek beberapa file penting dari BRT GRUP yang dikirim oleh Dareen dari Korea.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.