
Rintik hujan membasahi ranting-ranting pohon mapel yang berjejer di pinggiran taman dekat sebuah Cafe tempat Starla duduk saat ini. Mata coklatnya mengamati butiran bening yang menetes di dedaunan, dan jatuh membasahi rerumputan hijau yang tengah ia pijak sekarang, dengan perlahan Starla mengulurkan tangannya, merasakan air hujan yang dingin menyentuh lembut telapak tangannya.
Bisakah semua perasaan sakit ini hilang seiring berhentinya tetesan hujan, bisakah butiran bening yang mengalir ini membawa semua rasa pedih di hatiku, aku sangat merindukannya..
"Menjauhlah dari sana, air hujan itu bisa membuatmu sakit."
Seketika terdengar suara yang membuat Starla memundurkan langkahnya perlahan. Tertunduk sambil terus mengamati air yang mengalir di bawah kakinya. Sampai akhirnya ia memalingkan tubuhnya dan mendapati sosok Leon yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang di masukan kedalam saku celananya.
"Yoon.. "
"Kau akan terkena flu.. "
Ucap Leon sambil melepas syal yang terlilit di lehernya dan langsung memakaikannya ke leher Starla yang hanya terdiam dengan ekspresi yang terlihat murung. Hanya senyum tipis yang terlihat di sudut bibir Starla saat ini.
"Ada apa?"
Tanya Leon perlahan mendudukan dirinya di sebuah kursi tepat di hadapan Starla, sambil terus mengamati Starla yang masih setia dengan kediamannya, bahkan sudah hampir 10 menit Leon bersamanya, namun belum juga ada kalimat yang keluar dari mulut Starla.
"Star.. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Leon sekali lagi yang hanya di balas anggukan pelan oleh Starla.
"Sampai kapan kau akan terus terdiam? Setidaknya ucapkan satu kata yang membuatku yakin jika kau dalam baik-baik saja." Ucap Leon dengan nada yang mulai meninggi.
"Aku... "
"Ada apa?" Tanya Leon.
"Akan kembali ke Jerman." Jawab Starla perlahan dengan wajah tertunduk.
"Apa?"
"Aku akan pergi,"
"Kau akan pergi atau akan melarikan diri dari masalah?" Tanya Leon yang membuat Starla kembali terdiam.
Mungkin kamu benar Yoon, aku akan melarikan diri, bukankah aku terlihat seperti seorang pengecut sekarang?
"Apa kau benar-benar akan melakukan itu Starla? menjauh dari semua masalah?"
"Tidak, aku... "
"Yah.. Bicaralah Starla,"
"Aku hanya merasa, keputusanku untuk kembali ke tempat ini adalah keputusan yang salah, aku tidak pantas berada di sini," Ucap Starla sekali lagi.
"Kau akan pergi setelah menghancurkan perasaan seseorang?" Tanya Leon yang seketika membuat Starla lagi-lagi terdiam dengan mata berkaca. Hingga pikirannya kembali tertuju kepada Alpha dan perdebatan mereka kemarin.
"Apa dia.. "
"Apa kau benar-benar tidak tahu bagaimana keadaan Alpha sekarang? Bukankah kalian bersama kemarin?" Tanya Leon yang terlihat emosi.
"Aku... "
"Apa kau tidak tahu bagaiamana hancurnya dia saat ini? Bagaimana terlukanya dia? Bahkan dia terlihat seperti pria bodoh dan cengeng yang terus menagis,"
"Yoon... "
"Aku harap kau bisa puas sekarang.. Dan semoga dendammu selama itu bisa terbalaskan dengan terlukanya hati Alpha." Balas Leon yang langsung seketika itu juga membuat Starla tidak bisa berkata-kata lagi, wajahnya nampak memerah dengan bibir yang sedikit bergetar karena menahan tangis.
"Aku tidak... Aku... " Ucap Starla yang kembali tertunduk dengan air mata yang langsung menetes begitu saja dari sudut matanya, tubuhnya bergetar, saat berusaha menahan air matanya.
"Aku minta maaf Yoon... Aku.. Minta maaf... " Ucap Starla seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Starla menagis terseduh, seolah ingin mengeluarkan semua kesedihannya selama ini.
"Aku takut Yoon... Aku takut... Aku takut jika semua akan terulang lagi... Aku benar-benar takut.. Yoon... Apa yang harus aku perbuat... Aku... Hiksss.. " Ucap Starla di sela tangisnya, bahkan beberapa menit telah berlalu, dan Starla masih terus saja menangis, meluapkan rasa sakit di hatinya, hingga satu sentuhan di pundaknya perlahan meredakan tangisnya.
"Yoon.. Bagaimana aku bisa menghilangkan semua rasa takutku... Aku benar-benar tidak tahu... "
"Starla, Alpha adalah pria yang berbeda, dan dia tidak mungkin menyakitimu seperti yang lain, karena dia begitu mencintaimu, kenapa kau masih belum bisa mengerti?" Ucap Leon perlahan.
"Tapi tetap saja, aku masih merasa sangat takut, aku... "
"Aku mengerti, dan aku juga tidak berhak untuk memaksakan perasaanmu, aku hanya ingin kau mengetahui satu hal, tidak semua orang yang kau liat dengan matamu itu sama, aku sangat mengerti dengan rasa traumamu, aku juga tahu bagaimana hancurnya dirimu saat kehilangan seorang Ibu dan semua yang pernah kau miliki, tapi bisakah kau melihat dengan sudut pandang yang berbeda? Bisakah kau hanya melihat cintanya saja?"
"Aku..."
"Maaf, jika aku terlalu banyak bicara Starla." Ucap Leon perlahan, sedang Starla masih tertunduk sambil meremat kuat jemari tangannya. Hingga suasana menjadi hening untuk sesaat, hanya ada suara rintik hujan yang terdengar begitu merdu menyapa indra pendengaran mereka.
"Apa kau akan tetap pergi?" Tanya Leon setelah lama mereka terdiam.
"Hm,"
"Apa kau yakin?"
"............ "
"Jika dengan pergi bisa membuatmu melupakan semua rasa sakitmu, kau bisa pergi kemanapun, tapi apa kau yakin? Kau akan baik-baik saja?" Tanya Leon.
Aku tidak baik-baik saja, karena selama rasa cinta ini masih ada untuk Alpha, maka selama itu pula aku akan selalu merasakan sakit.
"Starla.. Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal, dan aku juga tidak bisa menahanmu agar tidak pergi. Tapi bisakah kau berjanji, jika kau akan baik-baik saja?"
Sungguh.. Dadaku seperti akan meledak.
"Aku akan baik-baik saja," Ucap Starla perlahan.
"Baiklah, pegilah... " Balas Leon datar.
"Yoon.. Maafkan aku, aku... "
"Aku bukan seseorang yang harus mendengar kata maafmu Starla," Ucap Leon dengan nada kecewanya.
"Sampaikan kata maafku untuknya,"
"Apa kau tidak terlalu kejam?"
"Yoon.. Aku mohon.. Aku juga merasakan sakit di sini, dadaku seperti akan meledak, setiap kali memikirkannya perasaanku selalu merasa sakit, bahkan dengan menagis saja itu tidak cukup membuat perasaanku membaik, jadi aku mohon.. Aku mohon Yoon.. Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi meskipun hanya sekedar menatap matanya."
"Aku mengerti." Jawab Leon singkat dan langsung beranjak dan meraih tubuh Starla untuk di dekapnya.
"Jika kau merasa tidak baik, ingatlah.. Aku selalu ada untuk mendengar semuanya, maafkan aku, jika tidak memahami rasa sakitmu, aku hanya ingin semua baik-baik saja." Ucap Leon seraya mengusap punggung Starla yang bergetar.
"Aku masih ingin kau memikirkan perasaan Alpha sekali lagi," Bisik Leon sebelum melepaskan dekapannya, dan langsung beranjak meninggalkan Starla yang masih berdiri menatap ke arah Leon yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.
Aku terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.
Starla kembali melemparkan pandangannya ke arah jejeran pohon maple yang terlihat semakin indah saat dedaunannya yang basah terkena sinar matahari yang kembali muncul saat hujan mereda.
* * * * *
Dengan perasaan yang di penuhi ke kalutan, Starla terus melangkahkan kakinya di atas trotoar jalan sambil terus tertunduk, untuk menyembunyikan air matanya yang masih menetes sejak tadi dari beberapa pasang mata yang berpapasan dengannya dan tidak sengaja melihatnya menangis. Bahkan ada pula dari beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan aneh dan kasian, ada juga yang menatap dengan tatapan yang seolah tengah mengejek.
Dalam keadaan seperti ini, jika Starla di haruskan untuk memilih, ia lebih memilih agar tidak ada satupun yang melihatnya, bahkan ia akan merasa lebih nyaman jika semua orang mengabaikan ataupun tidak memperdulikannya, sebab berada di tengah-tengah orang asing membuat Starla sangat tidak nyaman. Dan entah sejak kapan ia merasa sebagai seorang yang tidak pantas untuk berdekatan dengan siapapun, Apalagi di saat ia mulai mendengar suara bisikan dan tawa dari beberapa orang yang melihatnya, membuat Starla semakin merasa dirinya aneh dan semakin mempercepat langkah kakinya, hingga ia merasakan tubuhnya sedikit hilang keseimbangan dan nyaris terjatuh saat tubuhnya tidak sengaja menabrak pejalan kaki lainnya yang juga tengah tertunduk sambil memainkan ponselnya.
"Berhati-hatilah Nona.. " Ucap pria bertubuh tinggi dan tegap sambil menatap tajam ke arah Starla.
"Ma.. Maaf.." Ucap Starla seraya membungkuk sambil memegangi bahunya yang terasa sedikit nyeri akibat berbenturan dengan pria yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan yang kini berubah menjadi lebih mengerikan bagi Starla,
Suara itu.. Aku seperti mengenal suara itu.. Tidak.. Apa dia..
Starla kembali membalikan tubuhnya, mencari sosok pria bertopi hitam juga Hoodie hitam yang ia tabrak tadi, tapi nihil, seolah lenyap seketika, bahkan bayangan pria itu tidak nampak di matanya lagi. Seketika tubuh Starla bergetar dengan keringat dingin yang mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Tidak.. Aku mohon.. Jangan pertemukan aku lagi dengan pria itu lagi.. tidak..Itu bukan dia.. Tidak..
"ARRGGHHH.. TIDAAAKK..." Teriak Starla tampa ia sadari, bahkan air matanya sudah menggenangi wajahnya yang tiba-tiba memucat.
"Honey.. "
Seru Lucas yang langsung meraih tubuh Starla yang tengah duduk dengan posisi berjongkok di tengah trotor sambil menutupi kedua telinganya. Hingga tubuh Starla tenggelam di dalam pelukan Lucas yang kini tengah memeluknya dengan sangat erat. Starla menagis dengan sangat keras sambil terus menutupi telinganya, membenamkan wajahnya di dada lebar Lucas, yang membuat Lucas seketika merasa khawatir saat melihat Starla yang terlihat sangat ketakutan.
"Honey.. Ada apa? Kau nampak tidak baik," Tanya Lucas yang semakin erat memeluk tubuh Starla yang masih bergetar.
"Aku takut.. Aku mohon.. Jauhkan dia dariku.. Aku mohon.. Aaargghhh... Tolong aku... AARRGGHHH..." Ucap Starla terbata yang kembali berteriak dengan sangat kencang sambil terus menggelengkan kepalanya.
"Starla.. Kau aman sekarang, tenanglah.. Aku di sini." Bisik Lucas perlahan seraya mengelus kepala Starla yang perlahan mulai tenang.
"Honey are you okay?" Tanya Lucas sekali lagi yang sontak membuat Starla tersadar dan langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat wajah Lucas yang tengah menatapnya ndengan sorot mata yang di penuhi dengan kekhawatiran.
"Kau.. "
Dengan reflek Starla mendorong tubuh Lucas yang masih memeluknya hingga tubuh Lucas sedikit terhuyung ke belakang.
"Menjauh dariku," Ucap Starla seketika dan langsung melangkah pergi meninggalkan Lucas yang langsung mengejarnya.
"Honey.. Tunggu.. " Seru Lucas yang kembali meraih lengan Starla hingga membuat langkah kaki Starla terhenti.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Lucas yang masih terlihat khawatir.
"Apa maksudmu?"
"Kau terlihat nampak ketakutan Starla, kau bahkan menagis, sebenarnya ada apa?" Tanya Lucas yang masih terus memegangi pergelangan tangan Starla yang sedang berusaha untuk melepaskan diri.
"Aku baik-baik saja. Lepaskan aku."
"Aku tidak percaya, kau nampak kacau Starla,"
"Lepas... " Balas Starla dengan sekuat tenaga menepis tangan Lucas.
"Berhenti menyentuhku," Sambung Starla kembali melangkahkan kakinya, berharap Lucas akan tetap diam di tempatnya, namun ia salah, sebab lagi-lagi Lucas mengejarnya dan kembali mencengkram tangannya dengan sangat kuat.
"Lepaskan aku Lucas, kau menyakitiku." Seru Starla.
"Aku tidak akan melepaskanmu, setidaknya sampai perasaanmu merasa tenang, lihatlah dirimu, wajahmu bahkan terlihat sangat pucat sekarang."
"Tapi aku baik-baik saja,"
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil Starla dan ikut aku." Ucap Lucas sambil menarik lengan Starla menuju mobilnya, memasukan Starla ke dalam mobil dan menguncinya di dalam sana.
"Tenangkan dulu dirimu. Setelah itu kau boleh pergi." Ucap Lucas yang duduk di depan kemudi sambil menatap Starla yang balik menatapnya dengan tatapan dingin yang penuh dengan kebencian.
"Dulu aku tidak pernah melihat tatapan itu, apa kau benar-benar sangat membenciku Starla?"
Benar.. Aku membencimu, sangat membencimu.
"Aku mengerti, setidaknya kau masih mau berada di sini, itu sudah cukup membuatku bahagia,"
Tapi tidak denganku Lucas, aku sama sekali tidak bahagia saat berada di sampingmu.
"Maafkan aku, selama ini aku belum memiminta maaf dengan cara yang benar padamu, maaf, sekali lagi maafkan aku."
Terlambat.. Semuanya sudah terlambat Lucas, seharusnya kau tahu itu.
"Tetaplah diam jika itu bisa membuatmu lebih baik, tapi aku ingin kau mendengarku. Kau menghilang begitu saja, tampa meninggalkan satu pesan pun padaku, bahkan kau pergi tampa mendengarkan penjelasan dariku, kau pergi sebelum aku meminta maaf dan pengampunanmu, apa kau tahu.. Aku nyaris gila saat itu," Ucap Lucas perlahan sambil terus menatap Starla yang masih terdiam sejak tadi, dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Apa aku boleh pergi sekarang?" Tanya Starla yang akhirnya mengeluarkan suara tampa menatap Lucas sedikitpun.
"Starla.. Saat itu..."
"Hentikan.."
"Aku benar-benar tidak berniat melakukannya pada wanita lain, dan itu bukan kehendakku."
"Aku tidak perduli, kita tidak perlu membahasnya lagi." Balas Starla.
"Tapi kau harus tahu, jika aku di jebak pada saat itu."
"........... "
"Ada yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, dan apa kau tahu, jika siang itu aku sedang menunggumu? Aku bahkan meminta Asisten Ayah menghubungimu untuk menjemputku, tapi kau tidak datang.. Di kamar itu.. Aku melihatmu, aku melihat wajahmu, aku merasa sedang memelukmu, aku... "
"Aku tidak pernah menerima telfon darimu pada saat itu. Aku hanya menerima telfon dari seseorang di keesokan harinya."
"Aku tahu," Balas Lucas "Sebab mereka sama sekali tidak menghubungimu sesuai perintahku,"
"Tapi kenapa?"
"Sebab mereka sudah merencanakan itu sejak awal, menjebakku agar bisa tidur dengan wanita lain." Ucap Lucas yang sontak membuat Starla terkejut.
"Apa Ayahmu?"
"Hm.."
"Tsk, pria terhormat dari keluarga Elfredo ternyata bisa juga melakukan hal kotor seperti itu." Balas Starla yang membuat Lucas tersenyum tipis.
"Setidaknya aku bisa lega sekarang, karena kau sudah tahu kebenarannya, setidaknya di matamu aku bukanlah pria brengsek lagi yang hobi berganti pasangan seperti apa yang sudah kau pikirkan selama ini."
"......... "
"Dan soal Ibumu,"
"Aku tidak mau mendengarnya,"
"Ibumu yang..."
"CUKUP.." Teriak Starla sambil menutupi kedua telinganya dengan sangat rapat.
"Starla.. "
"Kalian pembunuh Ibuku.. Kalian membunuhnya, kalian berbohong padaku," Balas Starla dengan mata yang mulai berkaca.
"Starla.. Bisakah kau mendengarkanku dulu?"
"Tidak, cukup. Keluarkan aku dari sini," Ucap Starla yang terus mengedor kaca mobil Lucas, mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci.
"Baiklah.. Kau akan keluar dari sini sebelum kau tahu, jika Ibumu lah yang menolak dilakukannya operasi." Ucap Lucas yang langsung menghentikan pergerakan tangan Starla, bersamaan dengan tatapan tajamnya langsung mengarah ke arah Lucas.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.