
Dengan langkah lebarnya Lucas Elfredo berjalan dengan perasaan yang tengah di penuhi oleh rasa amarah. Bahkan Ia sudah bisa menebak jika pertemuannya kali ini dengan Tuan Fredell Ayahnya sendiri pasti akan berakhir dengan perdebatan yang panjang, dan masa lalu Lucas bersama Starla yang akan selalu menjadi sumber perdebatan mereka. Sebab sampai saat ini Lucas masih belum bisa menerima semua perbuatan yang pernah Tuan Fredell lakukan kepada dirinya dan Starla, meskipun dengan alasan jika semua yang Tuan Fredell lakukan demi kebaikan Lucas, dan wujud dari rasa sayang Tuan Fredell kepada Lucas putra tunggalnya.
"Ken.. Apa kau sudah menyiapkan semua keperluan yang aku minta?" Tanya Lucas kepada Asistennya Keano yang masih mengikuti langkah kakinya.
"Semuanya sudah saya siapkan Tuan muda, dan sesuai dengan permintaan anda, penerbangan pada pukul 7 pagi." Jawab Keano.
"Baiklah, tapi apa kau yakin jika Starla sedang berada di Munchen sekarang?" Tanya Lucas kembali meyakinkan.
"Saya yakin Tuan muda, gadis dalam foto yang di ambil orang-orang suruhan Anda adalah Nona Starla, dan sekarang ini Nona muda sedang bekerja di sebuah toko bunga." Jawab Keano memastikan sambil membuka dan dan memeriksa tablet yang sejak tadi di pegangannya, dan menunjukan beberapa foto Starla yang sedang menata beberapa tangkai bunga di Toko bunganya.
"Toko bunga?" Tanya Lucas sambil melihat foto-foto Starla, bahkan tampa Lucas sadari jika saat ini ia tengah tersenyum sambil terus menatap foto Starla.
"Starla bekerja di sini?"
"Benar Tuan Muda, Nona memiliki sebuah toko bunga."
"Ternyata dia masih sangat menyukai bunga, dia tidak pernah berubah." Gumam lirih Lucas yang kembali mengingat semua kenangannya bersama Starla, kenangan yang di mana di setiap harinya Starla selalu memintanya untuk mengirimkan seratus batang bunga mawar putih yang menjadi bunga favorit Starla. Bahkan hal itu sudah menjadi kebiasaan Lucas, sebab sampai saat ini pun ia masih suka membeli seratus batang mawar putih dan di simpannya begitu saja.
"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" Tanya Keano saat melihat Presdirnya yang tengah memijat pangkal hidungnya, satu pertanyaan yang hanya di balas anggukan oleh Lucas, hingga langkah kaki Keano terhenti, begitu saja saat Lucas menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
"Ada apa Tuan muda?" Tanya Keano.
"Beby.."
Lirih Lucas saat matanya tertuju pada satu kamar VIP yang mereka lewati. Matanya membulat sempurna saat melihat papan nama yang tertera di balik pintu kamar VIP itu, yang di sana sangat jelas tertulis nama "Starla Galenka" Bahkan netra Lucas tidak sengaja menangkap sosok Pasien yang sedang duduk di atas ranjang pasien sambil menyandarkan tubuhnya lewat kaca yang terdapat di pintu VIP tersebut. Meskipun sosok pasien yang sedang berada di dalam sana tidak begitu jelas, sebab ada beberapa orang pengawal yang sedang menjaga pintu kamar tersebut.
"Itu benar Starla kan?" Tanya Lucas dengan jantung yang berdebar, seolah tidak mempercayai penglihatannya saat ini, Lucas kembali menyuruh Asistennya Keano untuk memastikan.
"Benar Tuan, yang berada di dalam ruang inap tersebut adalah Nona Starla, tapi.. Bukankah Nona Starla sedang berada di Jerman sekarang? Apa yang terjadi?" Tanya Keano yang terlihat bingung.
"Aku harus bertemu dengannya Ken." Balas Lucas yang langsung melangkah mendekati pintu kamar tersebut.
"Tunggu Tuan Muda."
Serga Keano dengan reflek langsung memegangi lengan Lucas tengah melangkah untuk mendekati pintu kamar tersebut dan melupakan jika kamar inap itu sekarang sedang di jaga ketat oleh beberapa pengawal.
"Tidak semudah itu Tuan, kamar Nona Starla tengah di jaga ketat sekarang. Dan sepertinya saya mengenal beberapa pengawal tersebut, sepertinya mereka orang Tu....."
"Aku tidak peduli Ken," Sela Lucas tampa membiarkan Keano menyelesaikan kalimatnya.
"Aku harus menemui Starla dan membawanya pulang bersamaku." Lanjut Lucas yang langsung melepaskan pegangan tangan Keano dari lengannya dan kembali berjalan mendekati pintu kamar VIP tersebut yang tentunya langsung di halangi oleh kedua pengawal Alpha.
"Pasien yang sedang berada di dalam kamar ini adalah tunangan saya. Dan kalian tidak punya hak untuk menghalangi saya." Ucap Lucas datar saat langkah kakinya di hentikan oleh kedua pengawal Alpha.
"Kami tidak bisa membiarkan anda masuk tampa perintah Tuan kami, maaf. Silahkan menjauh dari pintu ini." Ucap Akirra salah seorang pengawal Alpha dengan tegas, tampa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri sekarang.
"Apa? Kalian berani memerintahku untuk menjauh?" Tanya Lucas yang mulai terlihat marah.
"Tuan mudah, tenanglah.." Ucap Keano.
"Tidak, aku harus masuk untuk menemui Starla," Bantah Lucas yang dengan keras mendorong salah satu pengawal tersebut hingga tubuh pengawal itu terhuyung kebelakang.
"Apa yang anda lakukan." Seru Akirra yang langsung melangkah dan berdiri tepat di hadapan Lucas yang sudah memegang gagang pintu dengan tatapan tajamnya yang siap untuk melakukan perlawanan.
"Apa yang anda lakukan di sana?"
Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari arah samping, dan sangat jelas jika pertanyaan itu tengah di tujukan oleh Lucas, hingga tangannya yang sedang memegang gagang pintu kamar tersebut terhenti. Bahkan Lucas sedikit terkejut saat melihat sosok dengan tatapan dingin di sana tengah berdiri tidak jauh dari tempat Lucas berdiri saat ini.
Bahkan beberapa pengawal yang tengah berdiri di depan pintu kamar tersebut langsung membungkuk memberi hormat saat pria itu berjalan mendekati mereka, dan hal itu cukup membuat Lucas merasa syok, saat memikirkan hubungan apa yang sebenarnya terjadi antara Starla denga pria bermarga Berta tersebut.
"Alpha Khandra?" Lirih Lucas mengernyit bingung.
"Bukankah tidak sopan jika memasuki kamar orang lain tampa permisi?" Ucap Alpha masih dengan wajah datarnya.
"Benarkah? Dan sayangnya pasien yang tengah terbaring di dalam sana adalah seseorang yang sangat saya kenal." Balas Lucas dengan senyum smirknya.
"Apa?" Tanya Alpha dengan kening menyatu.
"Apa kurang jelas? Apa anda bermaksud menyuruh saya untuk mengulangi kata-kata saya lagi?" Jawab Lucas.
"Ada hubungan apa anda dengan pasien yang sedang berada di kamar ini?" Tanya Alpha.
"Hubungan kami sangat dekat, bahkan lebih dekat dari yang anda ketahui." Jawab Lucas yang membuat Alpha tiba-tiba merasa gelisah, pikirannya kembali tertuju pada kisah masa lalu Starla dan juga semua cerita Leon.
Tidak mungkin.. Tidak mungkin bajingan ini yang sudah menghancurkan hidup Starla,"
Batin Alpha, pikirannya seolah berkecamuk dengan rasa amarah yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya, dengan kedua tangan yang sudah terkepal erat. Tatapan Alpha tiba-tiba berubah, sungguh tatapan yang membuat Dareen yang melihat ekspresi itu menjadi sangat khawatir. Bahkan dengan tatapan dan ekspresi Alpha saat ini, Alpha bisa saja membunuh seseorang.
"All.. "
Panggil Leon yang tiba-tiba keluar dari kamar tersebut dan langsung mendekati Alpha yang masih dengan ekspresi mengerikannya.
"Jadi pria ini ada hubungannya dengan Anda Tuan Alpha? Hahahaha.. Sungguh suatu kebetulan." Ucap Lucas yang langsung terbahak saat melihat Leon yang tengah berdiri di sana, tepat di depan kamar Starla.
"Yoon.. Apakah dia orangnya?" Tanya Alpha yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Leon.
"All, sebaiknya kita bicarakan ma.... "
"JAWAB YOON.. "
Teriak Alpha dengan wajah yang sudah memerah, dan hal inilah yang di takutkan oleh Leon selama ini, reaksi dari Alpha yang mempunyai tempramen buruk. Bahkan Dareen yang melihat reaksi Presdirnya saat ini langsung berjalan mendekatinya.
"Tuan Alpha, sebaiknya anda menjawab pertanyaan saya, ada hubungan apa anda dengan Starla?" Tanya Lucas.
"Haruskah saya menjawab pertanyaan anda yang tidak penting itu?" Jawab Alpha dengan satu pertanyaan yang membuat Lucas merasa geram.
"Tidak penting kata anda? Apa anda benar-benar tidak tahu jika Starla adalah Tunangan saya?" Balas Lucas dengan senyumnya sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya. Sedang Leon yang mendengar pernyataan Lucas langsung merasa sangat marah.
"YAAKK... CUKUP BRENGSEK.. "
Teriak Leon yang sudah nampak emosi. Hingga teriakannya itu membuat para pengawal yang tadinya tengah berdiri di depan kamar tersebut langsung melangkah sedikit mendekati Alpha dan Leon, begitu pula dengan pengawal Lucas yang juga bersiaga di belakang dan samping Tuan Muda mereka.
"KATAKAN APA HUBUNGANMU DENGAN STARLAKU.. " Teriak Lucas.
"LUCAS HENTIKAN.. "
Suara serak Starla terdengar sesaat, yang kini tengah berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang botol infusnya sendiri. Bahkan tubuhnya terlihat bergetar karena rasa dan marah takut saat melihat Lucas.
Panggil Lucas dan Alpha secara bersamaan.
"Aku mohon Lucas, bisa kau pergi dari sini?" Pinta Starla dengan tatapan tajam yang ia tunjukkan ke arah Lucas yang nampak terlihat syok atas reaksi dan sikap kasar Starla padanya.
"Honey, aku mohon.. Aku tidak mau.. "
"Pergilah.. "
Pinta Starla sekali lagi, bahkan tatapan matanya sudah tidak tertuju ke arah Lucas lagi, Starla lebih memilih menundukkan kepalanya sebelum akhirnya menatap ke arah Alpha yang sedari tadi hanya terdiam, sebenarnya Alpha sangat ingin menghampiri Starla saat ini, memeluk tubuh ringkih itu dan mengatakan jika ia akan selalu melindunginya, namum entah mengapa, kaki Alpha tiba-tiba terasa lumpuh, bahkan untuk bergeser sedikitpun ia tidak mampu, ditambah lagi saat Alpha melihat Lucas yang tengah melangkah dengan cepat menghampiri Starla dan langsung memeluk tubuh itu erat.
"Honey, aku sangat merindukanmu." Bisik Lucas, namun tampa ia duga dengan sedikit kasar Starla mendorong dadanya yang menempel di tubuh Starla, hingga tubuh tinggi itu terhuyung kebelakang.
"Honey, ada apa? Apa kau tidak merindukanku?" Tanya Lucas syok, seakan tidak percaya dengan sikap kasar yang di tunjukan Starla barusan, sebab yang ia tahu, selama ini Starla adalah sosok yang sangat lembut dan penurut, namun yang ia lihat saat ini, sungguh membuatnya sangat terkejut.
"Tinggalkan aku sendiri Lucas, aku mohon.. " Ucap Starla dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Tidak Honey, ayo kita pulang bersama, aku akan melindungimu," Ucap Lucas yang masih belum menyerah dengan penolakan Starla padanya, bahkan ia kembali menarik tangan Starla yang lagi-lagi di tepis oleh Starla dengan sangat kasar.
"Tinggalkan aku sendirian, pergilah.. " Pinta Starla dengan suara yang semakin bergetar.
"Tidak Honey, aku... "
"Apa kau tuli?" Seru Leon yang langsung melangkah menghampiri Starla, merangkul bahu Starla yang sedikit bergetar karena menahan rasa takut dan amarah.
"JANGAN COBA MENYENTUHNYA BRENGSEK.. " Teriak Lucas dengan emosinya yang sudah meledak.
"LUCAS.. pergilah.. " Seru Starla.
"Honey, sebenarnya apa hubunganmu dengan mereka? Dan dia.. "
Tanya Lucas yang langsung menunjuk ke arah Alpha yang masih belum mengucapkan satu katapun sejak tadi, hingga akhirnya Alpha yang sudah jengah melihat semua tingkah Lucas langsung melangkah mendekati Starla seraya meraih tangan itu untuk di genggamnya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"TUNGGU.." Teriak Lucas keras dan langsung menghentikan langkah keduanya.
"Anda tidak berhak membawanya pergi." Seru Lucas.
"Jadi menurut Anda, siapa yang lebih berhak atas dirinya?" Balas Alpha yang semakin erat menggenggam tangan Starla.
"Apa anda serius dengan pertanyaan itu? Lepaskan tangan anda. Jangan pernah menyentuhnya." Balas Lucas lagi.
"Lucas, hentikan. Jika kau merasa kau yang paling berhak atas diriku, maka kau salah besar." Ucap Starla.
"Honey.. "
"Kita sudah berakhir Lucas, dan kau tidak punya hak lagi untuk mengatur hidupku." Balas Starla.
"Jadi.. Apa kau akan mengatakan jika dia yang paling berhak atas dirimu? Apa kau benar-benar akan menggantikanku dengannya?" Tanya Lucas dengan wajah yang sudah memerah.
"Cukup Tuan Lucas," Timpal Alpha sedikit menahan emosi. Bahkan ia semakin kuat menggenggam tangan Starla yang semakin bergetar.
"Jangan menagis, aku mohon, jangan menagis di depan pria itu." Bisik Alpha seraya mengusap sudut mata Starla yang mulai berair. Dan melihat hal itu sungguh mebuat Lucas merasa geram.
"Bukankah kau membenci seorang pria kaya yang berkedudukan tinggi sepertiku? Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau menggantikanku dengan dia?" Ucap Lucas dengan suara bergetar menahan amarah, bahkan kedua tangannya sudah terkepal sempurna, hingga mebuat buku-buku jarinya nampak memutih.
"Yah, kau benar, aku membenci semua pria kaya seperti aku membencimu, dan itu tidak akan pernah berubah." Balas Starla yang mebuat Alpha tiba-tiba merasakan kegelisahan. Bahkan ia tidak pernah tahu, jika selama ini Starla sangat membenci orang-orang seperti dirinya, Leon pun tidak pernah mengatakan hal tersebut. Dengan lekat ia menatap wajah Starla yang saat ini sangat terlihat jelas gurat kebencian di matanya. Begitupun dengan Leon yang mulai merasa khawatir saat pandangannya tertuju kepada Alpha yang masih lekat menatap wajah Starla.
"Lalu apa yang kau lakukan dengannya?" Tanya Lucas perlahan sambil mengalihkan pandangannya ke arah Alpha yang masih menatap wajah Starla.
"Apa maksudmu?" Balas Starla dengan kening yang menyatu.
"Pria Berta itu, kenapa kau sangat dekat dengannya sedang kau sendiri sangat membenci pria kaya? Apa yang sudah ia berikan padamu Honey? Katakan... " Jawab Lucas yang membuat tubuh Heejin tiba-tiba membeku, perlahan pandangannya tertuju ke arah Alpha, menatap mata elang itu dalam dengan kening yang menyatu.
"Alpha.. " Gumam Starla yang seolah tidak ingin mempercayai segala perkataan Lucas, namun di saat ia kembali menyadari segala fasilitas yang mulai dari kamar inap VIP, dan semua pengawal yang dua hari ini selalu menjaganya, cukup membuatnya yakin.
"Siapa kau sebenarnya?"
Tanya Starla dengan suara bergetar, sambil menatap wajah Alpha lekat, berharap Alpha akan mengatakan jika ia hanyalah seorang pria biasa pemilik Cafe sederhana di Munchen. Namun keterdiaman Alpha membuat Starla semakin gelisah.
"Alpha.. Aku mohon jawab aku.. Apa benar yang di katakan Lucas?" Tanya Starla dengan air mata yang menetes.
"Starla.. Aku.. "
"Apa benar yang di katakan Lucas?" Tanya Starla selanjutnya yang semakin membuat Alpha merasa tercekik, bahkan ia bisa merasakan saat Starla mulai melonggarkan genggaman tangannya.
"Benar.. "
Jawab Alpha perlahan bersamaan dengan genggaman tangan Starla yang terlepas begitu saja dari tangannya, bahkan Starla perlahan memundurkan langkahnya dan sedikit menjauh dari Alpha. Leon yang mengetahui situasi yang terjadi di antara ketiganya membuatnya langsung beranjak dari tempatnya dan menuju ke arah Alpha yang masih menatap Starla yang sudah terisak.
"Star.. Bisakah kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin?" Tanya Leon yang langsung menghampiri Starla.
"Ini bukan urusan anda," Balas Lucas.
"DIAM KAU.. " Teriak Leon yang langsung melangkah menghampiri Lucas dan melepaskan satu pukulan hingga tepat mengenai wajah Lucas, dan membuat tubuh itu terpental kebelakang.
"Yoon.. Hentikan.. "
Serga Alpha yang langsung menangkap lengan Leon yang sepertinya akan kembali melepaskan tendangan kearah Lucas, dan tentu saja, tubuh terpental Lucas membuat beberapa pengawalnya terkejut dan langsung bergerak cepat untuk membalas perbuatan Leon yang telah melukai Tuan muda mereka. Meski pergerakan cepat itu tidak sampai membuat Leon terluka sebab beberapa pengawal dari Alpha juga sudah mengantisipasi dan langsung bergerak melindungi Tuan muda mereka dengan saling menodongkan senjata masing-masing.
"Sialan.. Beraninya kau menyentuhku keparat, aku akan membunuhmu."
Lucas yang sudah kembali berdiri langsung melangkah kearah Leon dengan telapak tangan terkepal, hingga akhirnya pergerakan terhenti saat Keano memegangi tangannya erat.
"Hentikan Tuan, kita sedang berada di rumah sakit sekarang." Ucas Keano yang sudah berdiri tepat di hadapan Lucas.
"Bukankah itu bagus, itu memudahkanku untuk langsung memasukkan jasad pria itu di kamar mayat." Balas Lucas dengan senyum smirknya.
"Dan aku pastikan kau juga akan menyusulku." Balas Leon yang langsung menampakkan seringaiannya.
Sedang Alpha dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Dareen dan memberikan Asistennya itu isyarat agar membawa Starla dari tempat itu, Sedang Lucas tidak menyadarinya. Sementara Starla yang terlihat masih syok hanya bisa menurut saat Dareen membawanya dengan kedua bodyguard Alpha untuk mengawal mereka.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.