I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Sosok Albern Almero



"Kau bisa memberitahuku jika menginginkan nyawa Dhruv. Gabriella bisa menghabisinya untukmu, atau mungkin kau sendiri yang akan menghabisinya," tawar Albern Axton yang membuat Keano merinding. Ditambah lagi saat mendengar nama 'Gabriella' yang jelas seorang wanita dan terdengar bisa menghabisi nyawa siapa pun.


Keano yang notabennya adalah seorang pria biasa yang berhati lembut, kalem, cinta kedamain, dan begitu perduli kepada siapapun, sungguh sulit untuk berada di tengah obrolan-obrolan tersebut.


"Selamat siang tuan Albern," sapa seorang pria sedikit membungkuk, pria yang baru saja Keano lihat beberapa menit lalu, pria yang menyambut mereka saat baru saja tiba.


"Ada apa Frankie?"


"Saya baru saja mendapatkan kabar dari tuan muda Jackob, misi selesai dan saatnya mengeksekusi," ucap Frankie.


"Lalu?"


"Nona Gabriella yang akan melakukannya," jawab Frankie yang hanya di balas anggukan pelan oleh Albern Axton.


"Apa puterimu benar-benar bisa melakukannya?" tanya Fridell meneguk winenya.


"Ya, dia yang selalu meminta. Dan kau tahu permintaannya kali ini?" 


Fridell mengernyitkan alis, begitu juga dengan Keano yang jelas memasang telinga untuk mendengar, seberapa gila dan berbahayanya seorang gadis yang bernama 'Gabrielle' itu.


"Dia menginginkan puteramu, Daniel," sambung Albern Axton yang membuat Fridell tersenyum tipis, berbeda dengan Keano yang cukup terkejut.


Puteri dari seorang mafia menginginkan Daniel kakaknya. Bahkan ia sedikit keberatan untuk itu, sebab berfikir jika sang kakak berhak mendapatkan wanita yang lebih baik, meski ia tidak pernah mengatakan jika puteri dari Albern Axton yang bernama Gabriella itu wanita yang buruk. Namun, saat mendengar percakapan antara Frankie dan Albern Axton tentang eksekusi dan semacamnya, ia yakin jika pekerjaan gadis tersebut tidak jauh beda dari Jackob Albern Axton ayahnya.


"Apa kebetulan Gabriella pernah melihat Daniel?" tanya Fridell menyipit, tak yakin jika mereka pernah bertemu.


Mengingat saat terakhir mereka berpisah di usia Daniel yang masih menginjak 6 tahun dan Gabriella Almero 2 tahun. Bahkan ia tak yakin jika Daniel masih mengingat puteri Albern Axton yang dulu memang sudah sangat menempel pada Daniel puteranya.


"Tentu saja, Gabriella pernah menjadi penguntit beberapa bulan ini saat di Verona, hingga membuat Jackob sedikit kewalahan," balas Albern Axton terbahak. Begitu juga dengan Fridell, sedang Keano hanya menampakkan senyum kecil hingga kembali menarik perhatian dari Albern Axton. "Aku sangat menyukai puteramu Fridell, sering-sering lah ajak kemari jika kau senggang," sambungnya masih menatap Keano dengan senyumnya.


"Ya, tentu saja. Selama Lucas masih terbaring koma, dan Daniel yang masih memiliki banyak urusan di Verona. Ken yang akan terus mendampingiku."


DEG!


Mendadak perasaan Keano menjadi tak enak. Apa itu artinya secara tidak langsung ayahnya akan mengajaknya masuk dalam dunia hitamnya?


Hingga percakapan mereka terhenti saat satu sosok dengan jaket kulit hitam mengkilap, dan juga celana jeans penuh sobekan hingga ke atas paha, lengkap dengan sepatu boot tinggi tengah memasuki ruangan tersebut. Bahkan ikut duduk tepat disamping Albern Axton, dan langsung membuka topi yang sejak tadi menutupi kepalanya, hingga rambut panjang blonde terurai. Gadis berwajah cantik dengan bola mata berwarna biru cerah, hidung mancung dengan bibir sedikit tebal nampak sensual, kini duduk dengan senyum manis di wajahnya.


"Selamat siang uncle Fridell," sapa sang gadis nampak berbinar.


"Selamat siang Gabriella."


Dia Gabriella? Seoarang anak remaja?  Tanya Keano dalam hati, masih tak percaya saat melihat sosok Gabriella di hadapannya yang hanyalah seorang gadis remaja yang nampak berumuran belasan tahun.


"Dia?" 


Pandangan Gabriella sesaat tertuju ke arah Keano.


"Puteraku," jawab Fridell saat mendapati Gabriella memandangi Keano yang langsung mengangguk pelan.


"Hai, kau pria yang nampak gagah, kita bisa berburuh bersama nanti, aku akan mengajarimu, dan aku bisa melindungimu," ucap Gabriella menopang dagu di atas meja sambil mengedipkan mata kearah Keano yang langsung skot jantung.


Yang benar saja, kenapa harus aku yang kau lindungi, apa aku seorang anak kecil? 


Keano terlihat menarik nafas dalam sebelum mengulas senyum.


"Briel, jaga sikapmu," tegur Albern Axton.


"Oh baiklah Dad, Keano pria yang manis, aku menyukainya," balas Gabriella semakin melebarkan senyum. "Oh iya, uncle. Di mana kak Daniel? Apa ia belum pulang juga? Ah, aku sudah merindukannya," keluh Gabriella seketika murung saat mengalihkan atensinya ke arah Fridell.


"Daniel masih di Verona, mungkin sebentar lagi ia kembali."


"Perlukah aku menjemputnya?" tawar Gabriella.


"Oh come on Dad, aku sangat merindukan kak Daaniel, Daddy tahu itu," sahut Gabriella sedikit cemberut. Memautkan bibir di depan sang Ayah, bahkan langsung menyenderkan kepala ke lengan sang ayah yang hanya menggeleng pelan.


Apa dia benar seorang mafia? Tanya Keano membatin. Nampak tak percaya saat melihat kelakuan manis dari Gabriella yang lebih terlihat seperti kucing anggora.


"Kau akan bertemu dengan pria pujaanmu nanti, ada saatnya," balas Albern Axton mengusap rambut blonde sang putri. "Bagaimana buruanmu?" sambungnya lagi.


"Aku sudah melubangi kening mereka satu persatu," balas Gabriella mengeluarkan senjata berjenis G2 combat kal dari balik jaketnya dan langsung di letakan ke atas meja.


Dia memang seorang mafia, bahkan seperti serigala.


Keano bergidik ngeri saat melihat senyum di wajah Gabriella yang sepertinya sangat bahagia usai melubangi kepala manusia, bahkan Gabriella lebih terlihat seperti psikopat.


"Baiklah, aku akan keterbatasan, ada paket yang harus aku periksa," sambung Gabriella yang spertinya punya jam terbang tinggi,


"Bawah Frankie bersamamu," balas Albern Axton yang langsung di balas anggukan oleh Gabriella.


"Selamat tinggal uncle, aku akan mengunjungi new Orleans jika kak Daniel sudah di sana," pamit Gabriella beranjak. "Sampai jumpa lagi tuan ...."


"Keano, dia adik Daniel," sambung Albern Axton tersenyum saat memperkenalkan Keano kepada sang puteri.


"Oh, kakak ipar, sampai bertemu di New Orleans," balas Gabriella kembali mengedipkan mata, meraih pistol untuk di selipkan ke punggungnya dan kembali memakai topinya sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka.


***


Pukul 23:30,  di kediaman Elfredo.


Mereka meninggalkan perkebunan anggur milik Albern Axton menuju new Orleans. Kembali ke kediaman Elfredo.


Keano berjalan menuju pantry, saat yakini sang ibu asuh masih beraktifitas di jam sekian, saat ia mendengar suara dentingan piring yang saling beradu, begitu juga dengan suara air mengalir dari keran wastafel. Dan benar saja, Darmaya masih bergelut dengan cucian piring di sana.


"Kau kembali, Nak?" sambut Darmaya tanpa berpaling. Namun, cukup tau jika yang menarik kursi hingga menimbulkan suara derittan di lantai adalah Keano puteranya.


"Selamat malam, Bibi May," balas Keano nampak lemas.


"Ada apa, Nak? Kau terlihat tak bersemangat," tanya Darmaya saat berpaling dan mendapati wajah murung Keano yang masih duduk menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" sambungnya mengusap telapak tangan di apron sebelum membukanya, dan langsung menghampiri Keano, menarik kursi dan duduk di tepat di hadapan pria itu.


"Apa ibu mengenal tuan Albern Axton?" tanya Keano yang langsung di balas keryittan oleh Darmaya.


"Apa kalian baru saja ke perkebunan anggur?" balas Darmaya dengan satu pertanyaan.


"Ya."


"Lalu?"


"Kami bertemu tuan Albern, dan juga puterinya Gabriella."


"Dan apa yang membuatmu muram sekarang?" 


"Apa ibu dan tuan Albern berteman baik?"  


Darmaya terdiam tak menjawab, dan hanya menatap wajah Keano yang semakin penasaran.


"Bibi May, bisakah Bibi menjawabku?"


Mungkin saatnya Ken mengetahui semua kisah rumit yang terjadi di antara ketiganya. Lagi pula Ken sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya, bahkan sangat dewasa.


"Tuan Albern adalah pria yang di cintai oleh ibumu," jawab Darmaya, meski Keano tidak begitu terkejut saat mendengar hal tersebut. Sebab ia lebih penasaran, mengapa harus Fridell yang menikahi ibunya saat itu, bukanlah Albern Axton.


"Apa mereka saling mencintai?" 


***