I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
EXTRA CHAPTER.



...PERJUANGAN ALPHA. ...


* Flashback.


"All... "


"Riry.. Maaf.. Jika aku memintamu untuk bertemu di tempat ini."


"Tidak masalah All," Jawab Emery yang langsung duduk tepat di hadapan Alpha yang seketika merasakan ada sesuatu yang aneh pada jantungnya yang sejak tadi terus berdebar. Emery dengan dress merah mudanya membuat Alpha tidak memalingkan pandangannya sedikitpun, mata elangnya menatap dengan tatapan hangat penuh kasih, tatapan yang tidak pernah di lihat Emery selama ini, tatapan yang membuat hati Emery menghangat.


Sejak kapan ia terlihat sangat berbeda, apa karena aku yang tidak pernah memperhatikannya selama ini, jadi aku tidak pernah menyadari, betapa anggun dan cantiknya Emery. Alpha.. kau sangat bodoh,


"Aku memesan Cake strawberry untukmu," Ucap Alpha yang langsung menyodorkan sebuah Cake Strawberry ke arah Emery, untuk menutupi rasa gugupnya saat berhadapan dengan Emery yang langsung tersenyum.


"Ada apa? Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Alpha saat melihat Emery yang sejak tadi tidak menyentuh Cake pesanannya tersebut.


"Maaf.. Tapi aku tidak begitu menyukai Strawberry,"


Astaga.. Dasar bodoh, kenapa aku tidak mengetahuinya jika dia alergi strawberry. Alpha.. Kau benar-benar pria yang sangat buruk. Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentangmu. Aku aku merasa sangat menyesal sekarang.


"Ah, maaf.. Aku fikir.. Kau menyukainya, baiklah Aku akan menggantikan dengan... "


"Tidak perlu All... " Jawab Emery yang langsung memegangi tangan Alpha saat akan memanggil seorang pelayan Cafe.


"Tapi kau kan tidak menyukainya,"


"Tidak masalah All.. Aku akan memakannya,"


"Tidak," Balas Alpha yang langsung menjauhkan Cake tersebut dari hadapan Emery.


"Ry.. Bisakah kau mengatakan apa saja yang tidak kau sukai? dan apa yang kau sukai? Aku.. Aku benar-benar ingin mengetahuinya, sebab aku tidak mau membuat kesalahan lagi."


"Selain Strawberry, aku menyukai semuanya All.. "


"Termasuk aku?" Tanya Alpha.


"Ha? Iya.. Maksud aku.. " Jawab Emery yang tersipu dengan wajah yang memerah. Dan pemandangan itu cukup membuat jantung Alpha kembali berdebar dengan sangat kencang.


"Riry.. Bagaimana keadaanmu selama ini? maksudku, selama kita berpisah.. Apa kau merasakan kesulitan? maaf.. jika menanyakan hal ini."


"Tidak masalah All, jika kau ingin mengetahuinya, tapi... Aku tidak punya hal yang indah untuk di ceritakan."


"Apa kau benar-benar kesulitan? dan selama bersamaku, Maaf.. Aku.. "


"All.. Semuanya sudah berakhir, dan ada baiknya kita tidak mengungkitnya lagi." Ucap Emery perlahan.


"Tapi aku benar-benar ingin mengetahuinya, bagaimana sakit dan terlukanya dirimu."


"Apa dengan mengetahuinya bisa membuatmu lega? Aku bahkan tidak ingin kita mengingatnya lagi, sebab, di masalalu kita dulu, ada kenangan pahit dan menyakitkan, baik dirimu dan juga aku."


"Aku tahu... Aku hanya ingin mengetahui seberapa sakitnya dirimu, dan aku... Ingin menebus semuanya, aku ingin merasakan sakitmu dan..."


"All.. Bukan itu yang aku harapkan darimu, aku mohon.. jangan ada lagi yang tersiksa di antara kita, kita sekarang sudah memiliki kebahagiaan, dan... "


"Apa kau sudah bahagia sekarang?"


".......... "


"Riry.. Jawab aku. Apa kau sudah memiliki kebahagiaanmu?"


"All.. Sejak bertemu denganmu lagi, aku sudah bahagia, dan... "


"Daniel.. Apa dia benar-benar sudah menggantikan posisi ku?" Tanya Alpha dengan tatapan tajamnya, tatapan penuh harap agar Emery tidak mengucapkan kata 'Iya' 'Benar' atau pun anggukan.


"......... "


"Riry... Bisakah kau menjawab pertanyaanku?" Tanya Alpha. "Aku bahkan tidak ingin kau selalu bersamanya."


"Bisa kau memberitahu alasannya? kenapa?"


"Karena aku.. Masih menginginkanmu Riry.."


"Apa kau yakin?"


"Apa maksudmu? Tentu saja aku sangat yakin."


"All... bukankah kau sudah mencintai gadis lain? Gadis yang di rumah sakit saat itu, dia kan? gadis yang membuatmu menagis saat itu?"


"Aku... "


"All... sebaiknya kau berfikir sekali lagi, yakini perasaanmu, cukup.. kita sudah pernah melakukan kesalahan sekali. Dan aku tidak mau lagi, kita melakukan kesalahan yang sama."


"Riry.. "


"Dengarkan aku All.. Mungkin saat ini kau sedang bingung, aku bisa mengerti jika kau mengatakan masih menginginkanku, dan takut kehilanganku, mungkin juga itu perasaan yang wajar karena kita sudah saling memafkan, tapi... jika semua perasaan itu hadir karena cinta. Aku tidak yakin, dan aku sama sekali tidak percaya. Maaf... "


"Riry.. Bisakah kau mendengar ku?"


"All.. Sampai sekarang aku masih merasa takut, untuk mengharapkan lebih darimu sungguh aku tidak memiliki keberanian untuk itu."


"Riry.. "


"Sebaiknya kita pulang saja, aku cukup lelah hari ini."


"Maaf.. Baiklah, aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu.... "


Bahkan tampa menyelesaikan kata-katanya, Alpha langsung beranjak dari duduknya dan menarik Lengan Emery, menggandeng bahkan merangkul pinggang ramping Emery yang hanya terdiam dan pasrah saat menerima perlakuan Alpha. Bahkan tampa mereka sadari jika mereka berdua sudah jadi pusat perhatian semua orang yang tengah berada di Cafe tersebut.


"All.. Bukankah ini terlalu berlebihan, aku..."


"Diam dan biarkan aku merangkulmu seperti ini,"


"Tapi... "


"Aku suka melakukannya. Bisakah kau menurut saja? Aku tidak ingin orang-orang melihatmu seperti itu, apalagi beberapa pria di sana, rasanya aku ingin membunuh mereka satu-persatu." Balas Alpha yang kembali melayangkan pandangannya ke arah sekelompok pria bersetelan Jas yang tengah menikmati Coffee mereka. Hingga pandangan mereka bergeser saat mata elang Alpha yang tajam beradu dengan mata mereka.


Hingga 30 menit kemudian, mobil Alpha sudah terparkir di depan kediaman Emery, keheningan seketika menemani mereka, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka, hanya debaran jantung yang terdengar di antara mereka.


"Terimakasih, sudah mau menemaniku." Ucap Alpha memecahkan keheningan di antara mereka.


"Iya All.. Selamat tinggal.. "


"Tunggu."


Serga Alpha dengan perlahan seraya meraih tangan Emery. Menggenggamnya erat, dan tangan satunya lagi membelai rambut Emery, puas bermain dengan rambut panjang Emery, telapak tangan Alpha kembali mengelus pipi Emery yang sudah merona, dan perlahan membawa telapak tangan Emery untuk menyentuh dadanya.


"Apa kau bisa merasakannya?" Tanya Alpha perlahan saat ia menempelkan telapak tangan Emery di dadanya, dan merasakan betapa kuat debaran jantung Alpha saat ini.


"Sebenarnya aku lelah, terus menahan diri seperti ini, sekuat apapun aku meyakinkan diriku jika aku tidak menginginkanmu, sekuat apapun aku menghindari perasaanku yang datang begitu tiba-tiba, namun itu begitu sulit Emery, semakin hari aku bahkan semakin memikirkanmu, aku lelah dengan perasaanku yang sulit untuk berkompromi, aku lelah jika terus membohongi hatiku, dan sekarang, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tahu, jika aku memang sangat menginginkanmu sejak saat itu, aku bahkan sudah memiliki rasa takut kehilangan, aku tahu kau juga tidak akan mempercayainya dengan mudah, tapi inilah kenyataannya Ry, aku.. Aku mencintaimu. Sungguh... Aku ingin kembali memilikimu."


"All... "


"Dan... Aku ingin melihat, apakah kau juga merasakan hal yang sama." Ucap Alpha yang kembali menangkup wajah Emery dan menatapnya dengan tatapan hangat.


"All.. Apa yang.. "


Kalimat Emery terhenti saat Alpha tiba-tiba mendekatkan wajahnya, hingga hanya berjarak beberapa centi saja.


"Izinkan aku menciummu," Bisik Alpha perlahan dengan raut wajah penuh permohonan, bahkan tatapan matanya tidak bergeser sedikitpun dari wajah Emery yang memerah.


"Hanya sekali ini saja, aku ingin mengetahui, apakah kau masih merasakan perasaan yang sama."


Ucap Alpha yang memiringkan kepalanya dan langsung menempelkan bibirnya lembut ke bibir Emery yang langsung memejam. Dengan lembut Alpha mengusap kedua belah pipi Emery yang tengah merasakan kelembutan dan kehangatan yang di berikan oleh Alpha, bahkan tampa di sadari Emery jika ia sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Alpha yang masih menciumnya. Hingga ciuman mereka berakhir. Dengan lembut Alpha mengusap bibir merah Emery, kembali mengusap wajahnya dan membelai rambut panjangnya.


"Terimakasih Emery, karena sudah mengizinkanku untuk menciummu," Bisik Alpha sambil berusaha mengatur nafasnya.


"Dan, maaf... " Ucap Alpha perlahan.


"Untuk apa?"


"Karena aku masih menginginkannya,"


Bisik Alpha yang kembali mengecup bibir Emery, bahkan sebelum Emery menjawabnya, Emery hanya bisa pasrah sambil menerima sentuhan-sentuhan yang di berikan Alpha, sentuhan yang jujur membuatnya terhanyut dan melupakan semuanya, sentuhan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini, hingga akhirnya ia tersadar dengan nafas yang sudah menipis, bahkan Alpha tidak memberikannya ruang untuk menghirup oksigen. Dengan perlahan Emery menepuk-nepuk punggung Alpha, hingga membuat Pria Berta itu sadar jika Emery butuh oksigen.


"Maaf... Aku tidak bisa mengontrol diriku," Ucap Alpha dengan suara beratnya sambil menundukkan kepalanya seraya mencengkram rambutnya kuat.


"Aku harus masuk sekarang." Balas Emery yang langsung keluar dari mobil Alpha.


"Tunggu," Serga Alpha sebelum Emery melangkah pergi meninggalkannya.


"Ada apa All?"


"Apa kau marah padaku?"


"........ "


"Maaf... Aku benar-benar tidak bisa mengontrolnya, maafkan aku."


"Aku mengerti, Pulanglah... " Jawab Emery tersenyum dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alpha yang terlihat sangat menyesal.


Dengan keras Alpha menghantam roda kemudinya, mencengkram rambutnya kuat, sambil menempelkan dahinya di roda kemudi.


Seharusnya kau bisa mengontrol dirimu, dasar bodoh, kau bahkan membuatnya hampir kehabisan nafas Alpha.. Dan lihatlah, apa yang sudah kau lakukan. Dasar bodoh...


Umpat Alpha yang tengah sibuk memaki dirinya sendiri. Dan dengan berat hati, Alpha melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Emery sebelum ia memandang ke arah balkon kamar Emery yang masih tertutup tirai.


* * * * *


Dengan mata yang masih sedikit mengantuk, Alpha beranjak dari tempat tidurnya dan terus berjalan menuruni anak tangga sambil merapikan rambutnya yang terlihat cukup berantakan. Bahkan matanya belum terbuka dengan sempurna saat ia sudah berdiri di ujung anak tangga dan mendengar suara obrolan dengan suara yang tidak asing baginya.


"Selamat siang Alpha... "


"Si.... Siang Emery... aku... Aissshh... " Dengan cepat Alpha membalikkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang masih nampak kusut dan langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Kau... Kenapa berlari seperti itu? Siapa yang mengejarmu?"


"Kenapa tidak mengatakan padaku jika Emery ada di bawah? dan Ibu? kapan Ibu kembali dari Jerman?" Tanya Alpha sambil mengacak pinggang.


"Cih, jadi sekarang kau merasa malu jika Emery melihat wajah jelekmu itu?"


"Diam kau sialan... " Umpat Alpha yang tiba-tiba mengingat ciuman antara dirinya dan Emery tempo hari yang membuat wajahnya bersemu merah.


"Apa kau baik-baik saja? Ada apa dengan wajahmu? Semalam aku dan Dareen yang menjemput Bibi Aleen di Bandara, dan saat Bibi sampai kau sudah tidur, jadi maaf jika tidak memberitahu mu terlebih dahulu. Tapi.. Aku masih penasaran, kemana saja kau semalam?" Tanya Leon saat melihat wajah Alpha yang tiba-tiba memerah.


"Apa kau sengaja mengerjaiku? Aiissshh.."


Dengan langkah lebar, Alpha meninggalkan Leon dan kembali masuk kedalam kamarnya alih-alih menjawab pertanyaan Leon. Sedangkan Leon hanya bisa tersenyum puas saat berhasil mengerjai Alpha.


Sedang di lantai dasar ruang keluarga, nampak Nyonya Caroline dan Nyonya Aleen tengah berbincang. Sedang Emery yang mendengarkan hanya terdiam, sambil menyimak, hingga pada satu pembahasan yang tiba-tiba membuat Emery gelisah.


"Caroline... Maaf jika membahas masalah ini sekarang, tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Emery." Ucap Nyonya Emery di sela obrolan mereka.


"Tentu saja Aleen, kau bisa menanyakan apa saja."


"Emery.. Bagaimana perasaanmu terhadap Putra Ibu, Alpha?" Tanya Nyonya Aleen yang sesaat membuat Emery terdiam.


"Aku.."


"Ibu ingin kau jujur," Ucap Nyonya Aleen seraya menggenggam telapak tangan Emery.


"Maaf, sebenarnya Ibu juga tidak ingin membahas masalah ini sekarang, tapi... Mendengar perubahan sikap Alpha akhir-akhir ini yang tidak seperti biasanya membuat Ibu khawatir, bahkan Leon juga mengatakan jika Alpha selalu menyendiri dengan wajah yang terlihat sedih, dan itu karena All sering memikirkanmu."


"........... "


"Mungkin Alpha masih merasa bingung dengan perasaannya saat ini," Sambung Nyonya Caroline.


"Iya, bisa jadi, tapi kali ini Alpha terlihat jauh berbeda. Jadi, Ibu hanya ingin mengatakan, jika kau masih menginginkan All, Ibu ingin kau bisa membuka hatimu untuknya, dan memberikan dia satu kesempatan lagi, Ibu akan sangat berterimakasih padamu Emery. Tapi.. Jika memang kau sudah tidak menginginkannya lagi, Ibu akan berusaha untuk meyakinkan All agar ia melupakan perasaannya, dan Ibu akan membawanya kembali ke Jerman."


"Ibu... Bisakah Ibu Aleen memberikan saya waktu untuk berfikir?" Tanya Emery perlahan.


"Tentu saja sayang, Ibu akan menunggu."


"Dan Ibu juga berharap kali ini kau bisa mengambil keputusan yang tepat." Sambung Nyonya Caroline seraya mengusap rambut Emery, Nyonya Caroline yang sudah paham dengan perasaan Emery hanya bisa menarik nafas dalam sambil terus menatap wajah Emery yang di penuhi dengan kebimbangan.


Ibu tahu, jika kau masih sangat menginginkan Alpha.. Ibu menyerah Emery, semoga kau bisa mengambil keputusan yang benar kali ini. Dan apapun keputusanmu, siapapun yang kau pilih untuk mendampingimu, Ibu akan menerimanya. Ibu hanya ingin kau bahagia.


Hingga jam menunjukan pukul 12 siang, Mansion Alpha kembali terlihat sepi, sebab keluarga Cullen sudah meninggalkan tempat tersebut. Dengan perasaan kecewa Alpha melangkah ke arah sofa ruang tengah dan langsung merebahkan tubuhnya di sana sambil melipat tangannya ke bawah kepalanya untuk di jadikan bantal.


"All... "


"Iya Ibu.. "


"Sepertinya kau harus berusaha lebih keras lagi, jika ingin mendapatkan kembali Emery,"


"Aku tau Bu," Balas Alpha yang langsung membenarkan posisinya.


"Emery masih belum mempercayaiku," Lanjut Alpha dengan raut wajah yang di penuhi oleh kekhawatiran.


"Itu hal yang wajar All, dan kau hanya perlu bersabar."


"Sampai kapan Bu?"


"Sampai Emery benar-benar percaya jika kau mencintainya dan ingin kembali bersamanya."


"Aku tahu, aku akan berusaha untuk melakukan semuanya, tapi.."


"Ada apa All?"


"Bagaimana jika Emery tetap tidak mau menerimaku? Bukan hanya Emery, bahkan Bibi Carol juga tidak menerima perasaanku terhadap Emery."


"All.. Ibu paham dengan kecemasanmu, dan, apapun yang akan terjadi nanti, jawaban apapun yang Emery berikan padamu, Ibu harap kau bisa menerimanya dengan ikhlas."


"Tapi, aku tidak yakin bisa menerima semuanya, aku.... "


"All... "


"Aku sungguh menginginkan Emery." Gumam Alpha perlahan, bahkan tampa mendengar jawaban dari Ibunya, Alpha langsung beranjak dari duduknya, dan terus melangkah keluar. Hingga tidak berselang lama mobil Alpha terdengar meninggalkan garasi Mansionnya.


Dengan sorot mata yang terlihat menakutkan Alpha terus memandang kedepan. Hatinya yang tiba-tiba di penuhi luka hanya bisa terdiam dengan tangan yang mengepal saat melihat pemandangan yang tidak biasa di hadapannya. Dimana ia dapat dengan jelas melihat saat Kang Daniel tengah memeluk erat tubuh Emery yang terlihat nampak menagis di pelukan Kang Daniel.


Apa kau benar-benar merasakan sakit sekarang? Apa aku sudah menyakitimu hingga kau kembali menangis? tapi kenapa? Kenapa harus Daniel.. Kau membuatku gila Emery.. Sungguh.. Kau membuatku benar-benar gila sekarang.


Dengan cepat, Alpha menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi, melintasi jalan raya tampa mempedulikan beberapa teriakan dan makian dari pengemudi lain yang merasa terganggu dan takut dengan kecepatan mobilnya yang sudah melampaui batas kecepatan rata-rata. Alpha terus mengemudi seperti orang yang kesetanan, hati dan pikirannya yang sudah di penuhi rasa amarah dan kecemburuan membuatnya terlihat seperti seorang depresi yang sama sekali tidak memikirkan jika kecepatan mobil yang ia kendarai bisa saja mengakibatkan kecelakaan dan berakhir fatal. Hingga mobil tersebut berhenti di sebuah Club malam, yang di sana sudah berjejer beberapa wanita berpakaian seksi dengan senyuman menggoda, tatapan mereka seketika tertuju kepada sosok Alpha yang bisa di katakan sosok pria yang nyaris sempurna mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang yang sudah mengetahui keluarga bermarga Berta.


"Selamat malam Tuan Berta, Kami akan..."


"Jangan menyentuhku." Jawab Alpha datar dengan sorot mata yang terlihat dingin dan menakutkan.


"Ah, maaf Tuan, Aku hanya.. "


"Menjauhlah.. Selagi aku masih bersikap baik." Balas Alpha kepada salah satu wanita yang hendak menyentuhnya.


Dengan langkah melebar, Alpha berjalan memasuki Club tersebut, menuju sebuah counter dan mulai memesan segelas minuman berjenis The Winston Cocktail kepada bartender dan mulai meneguk nya, bahkan hingga 3 jam berlalu, Alpha masih betah di sana, meski ia sudah menghabiskan beberapa gelas minuman dan membuatnya mabuk. Menyadari jika ia sudah tidak mampu untuk melanjutkan minum lagi sebab kepalanya sudah terasa berat, Alpha beranjak perlahan hingga akhirnya tubuhnya terjatuh karena tidak bisa menahan keseimbangannya.


"Maaf Tuan Khandra, anda sudah sangat mabuk sekarang, saya akan menghubungi..."


"Tidak perlu... Saya bisa... Pulang sendiri.." Jawab Alpha yang langsung menepis tangan karyawan bartender tersebut.


"Jangan menyentuhku... Tidak ada yang boleh... Menyentuhku, apa kau mengerti... Hanya Riry yang boleh menyentuhku.. Menjauh dariku... " Lanjut Alpha yang tengah berusaha untuk berjalan sendiri.


"Tuan Khandra, berhati-hatilah, anda akan terjatuh jika.... "


"LEPASKAN... JANGAN MENYENTUHKU... APA KAU MEMANG SELALU MENYENTUH ORANG SEENAKNYA?" Amuk Alpha yang kehilangan kendali, pikirannya kembali tertuju kepada Emery yang tengah berada di dalam pelukan Kang Daniel. Bahkan dengan amarah yang sudah tidak terkontrol lagi Alpha membanting beberapa meja yang berada di dalam ruangan tersebut dan membuat keributan, hingga membuat sebagian pelanggan yang tidak menerima perbuatan Alpha menjadi marah.


"Jaga sikap anda Tuan... "


"Apa kau... BERANINYA KAU MENUJUKKU BANGSAT.. " Teriak Alpha yang langsung melepaskan satu pukulan ke arah salah seorang pengunjung Club malam tersebut, hingga perkelahianpun tidak dapat di hindari lagi.


Hingga setengah jam berlalu, Alpha bisa merasakan saat tubuhnya tengah di pegangi oleh seseorang, bahkan membawanya keluar dari Club tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang ternyata mendapatkan panggilan telfon dari Bartender tersebut untuk menjemput Alpha yang sudah mabuk berat bahkan kehilangan kendali.


"Dia... Beraninya dia memeluk wanitaku.. Beraninya dia menyentuh.. Wanitaku... "


"Alpha... Sebenarnya apa yang terjadi? kau bahkan membuat onar di Club tersebut."


"Diam kau... Aku... Aku akan membunuh mereka semua... "


"Baiklah... Baiklah.. Kau bisa membunuh siapapun sesukamu, tapi tidak sekarang, karena kita harus pulang untuk merawat lukamu."


"Tidak... Aku mau bertemu Riry..."


"All... Ini sudah sangat larut, tolonglah jangan buat ulah lagi, kita pulang sekarang."


"TIDAAAK... BAWAH AKU SEKARANG BRENGSEK... AKU MAU MELIHAT RIRY.... " Teriak Alpha yang langsung beranjak dan berusaha mengambil kendali roda kemudi yang tengah di pegang Leon.


"Yaaaakkk... Kita akan mati jika kau terus bergerak seperti itu, Baiklah... Aku akan membawamu kesana, dan aku harap Emery tidak melihatmu dalam keadaan seperti itu." Omel Leon yang langsung memutar kemudi dan kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Emery.


"Yoon.. Ada apa dengannya?" Tanya Emery yang langsung kluar rumah saat mendapatkan panggilan telfon dari Leon yang sengaja menghubunginya.


"Entahlah.. Saat aku menjemputnya di sebuah Club malam, dia sudah dalam keadaan seperti ini."


"All.. Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi seperti ini?" Tanya Emery perlahan sambil memegangi pundak Alpha yang masih tertunduk dalam posisi jongkok di depan teras rumah Emery.


"Riry... Tidakah kau tahu, jika aku... Aku sangat cemburu... Dia... Kenapa kau membiarkan dia memelukmu... Kenapa... "


"All... Apa maksudmu?"


"Dia... Dia memelukmu, dan itu membuatku.. Membuatku gila.. Aku.. Aku tidak rela jika kau.. kau di sentuh oleh pria lain Riry... "


"All... Maafkan aku, Maafkan aku... " Ucap Emery seraya mengusap punggung Alpha yang tiba-tiba terisak.


"Aku tida rela... Sungguh... Kau adalah miliki Emery Cullen... Aku tidak ingin ada pria lain menyentuhmu... Aku mohon... Jangan lakukan ini lagi... Jangan biarkan orang lain memelukmu... Aku bisa gila... Aku Mohon... Riry.. " Ucap Alpha yang langsung bersujut, kepalanya mematuk lantai dengan tubuh yang bergetar.


"All... Aku mohon jangan lakukan ini... "


"Tolong... Balas aku... Lakukan apapun yang bisa membuatmu merasa lebih baik... Balas semua perbuatanku dulu Riry... Tapi aku mohon... Jangan membuatku gila karena cemburu... Aku tidak bisa... Karena aku mencintaimu.. Riry.. Aku mencintaimu.."


Pengakuan Alpha yang membuat Emery terisak, sebab setelah sekian lama Emery menanti kata itu, akhirnya malam ini ia bisa mendengarnya, mendengar kata cinta dari Alpha.


Aku juga mencintaimu Alpha..


Alpha yang sudah tidak sadarkan diri membuat Emery semakin panik, dengan cepat Leon meraih tubuh Alpha dan memapahnya.


"Emery... Istrahlah, aku akan membawanya pulang."


"Yoon... Tolong jaga dia, dan lukanya."


"Iya, aku akan menjaganya, tenanglah, dan.... Bisakah kau mempertimbangkan perasaan Alpha? Dia sangat tulus sekarang, Aku tau ini berat buat kalian berdua, terutama untukmu, tapi. Kalian masih bisa bersatu, jika kau mempercayai Alpha." Ucap Leon yang langsung melangkah menuju mobil dan memasukkan tubuh Alpha, hinggap dalam hitungan detik saja mobil Alphard hitam Alpha sudah melaju dengan kencang.


* * * * *


* KEDIAMAN EMERY CULLEN.


"Will you marry me?"


"Yes, I want to marry you."


Kata hangat yang masih terngiang di telinga Alpha saat ia kembali melamar Emery, bahkan sudah beberapa jari berlalu, kata itu masih terasa sangat membahagiakan hingga sampai saat ini, Saat di mana ia kembali mengucapkan janji suci kepada Emery yang disaksikan masing-masing keluarga besar Berta juga keluarga besar Cullen. Hingga sampai saatnya Alpha Khandra Berta dan Emery Cullen di nyatakan sah sebagai sepasang suami-istri. Meski tidak mudah untuk melewati semuanya, namun dengan keteguhan dan kesabaran seorang Alpha akhirnya ia berhasil meyakinkan keluarga Cullen, jika Emery adalah wanita yang pilih, wanita yang ia inginkan, dan wanita yang ia cintai.


...* * * * * ...


...TO BE CONTINUED. ...