
Udara pagi dengan cahaya matahari yang masuk menelusup lewat jendela kamar untuk menyapa sang penghuni kamar, sinarnya yang terasa hangat memenuhi ruangan luas dan mewah tersebut. Dan di satu ranjang luas yang terlihat elegan dengan warna merah mudah, nampak sosok Edrea yang masih terbungkus selimut tebal, seolah enggan untuk membuka matanya yang masih sangat berat. Namun cahaya yang menyilaukan itu cukup membuatnya terganggu, hingga terpaksa membuatnya harus membuka kelopak matanya.
Untuk sesaat Edrea terdiam menatap langit-langit kamar yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya, menyapu tiap sudut ruangan dengan mata bulatnya, kamar yang sangat luas dan mewah, itulah yang ada di dalam pikiran Edrea saat ini.
Aku sedang berada di mana sekarang? Ini bukan rumah sakit, ini.
"Kau sudah bangun?"
Pertanyaan seseorang dari balik pintu seketika membuyarkan lamunan Edrea yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar, yang di sana nampak seorang pria tampan bertubuh tinggi putih dengan hanya mengenakan t-shirt berwarna putih dengan celana jeans biru yang sudah berdiri di depan pintu kamar dengan senyum di wajahnya,
Apa memang kakak setampan itu? kenapa tiba-tiba aku jadi merasa insecure, aku jadi penasaran, secantik dan setampan apa Ayah dan Ibu..
"Kakak."
Panggil Edrea yang langsung beranjak dari pembaringannya dan duduk di tepi ranjangnya.
"Kita di mana sekarang?" Tanya Edrea yang kembali mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan setelah puas mengagumi ketampanan Alpha Khandra.
"Tentu saja kita sedang berada di rumah sekarang,"
"Rumah?"
"Hmm.. "
"Rumah Ayah dan Ibu juga?"
"Iya,"
"Lalu di mana mereka?" Tanya Edrea dengan mata berbinar.
"Mereka.. " Alpha nampak berfikir seraya menarik nafas dalam, entah kebohongan apalagi yang harus ia katakan kepada Edrea saat ini.
"Sejak aku terbangun kemarin aku belum melihat mereka, aku penasaran bagaimana rupa Ayah dan Ibu, Ayah pasti seorang pria yang tampan."
"Bagaimana kau tau, jika Ayah adalah pria yang tampan?" Tanya Alpha perlahan.
"Sebab kakak juga memiliki wajah yang tampan, pasti dari Ayah kan?" Tanya Edrea dengan wajah polosnya.
"Hmm benar." Angguk Alpha tersenyum tipis.
Ayah memang seorang pria yang sangat tampan.
Batin Alpha yang kembali mengingat sosok almarhum Ayahnya.
"Dan Ibu pasti sangat cantik, karena aku juga... " Cantik, Kalimat Edrea terhenti saat melihat mata Alpha mulai berkaca.
"Kakak ada apa? Apa aku mengucapkan kata yang salah?" Tanya Edrea panik.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Lalu di mana mereka?"
"Mereka sudah meninggal sejak kau masih kecil."
"Ap..Apa?"
Ekspresi Edrea berubah drastis, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang, berganti dengan wajah yang terlihat murung, entah mengapa perasaan Edrea terasa sangat sakit saat ini.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat wajah mereka sedikitpun." Gumam Edrea lirih.
"Suatu saat kau pasti akan mengingatnya." Jawab Alpha seraya mengusap kepala Edrea yang masih terbalut perban.
"Kakak."
"Iya, ada apa?"
"Apa di dunia ini aku hanya memiliki kakak?" Tanya Edrea perlahan.
"Iyaa.. Kau hanya memiliki kakak sekarang." Jawab Alpha sembari meraih telapak tangan Edrea untuk di genggamnya.
"Kak.. "
"Iyaa,"
"Aku harus memanggil kakak dengan sebutan apa? maaf.. bahkan aku tidak mengingat nama kakak," Ucap Edrea dengan raut wajah yang di penuhi kesedihan, namun justru di balas senyum oleh Alpha.
"Panggil kakak Alpha, Alpha Khandra."
"Kak Alpha?"
"Hmm.."
"Lalu Aku sendiri?" Tanya Edrea lagi seraya memiringkan kepala sambil menunjuk dirinya sendiri, yang sontak membuat Alpha tertawa saat melihat tingkah polos Edrea yang menurutnya sangat terlihat menggemaskan.
Astaga kenapa kakak sangat tampan di saat ia tertawa seperti ini, apakah benar aku adik kandung kakak? kenapa aku jadi merasa keluarga ini sudah memungutku di bawah kolom jembatan lalu mengadopsiku dan.. Astaga apa yang aku pikirkan, aku juga terlihat cantik.
"Kenapa kau sangat lucu," Ucap Alpha yang masih tersenyum.
"Ha?" Tanya Edrea melongo saat Alpha kembali mengusap kepalanya.
Dan kakak juga terlihat sangat manis.
"Sharren, Sharren Berta." Balas Alpha.
"Sharren?" Tanya Edrea yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.
"Hmm, itu nama kamu. Baiklah, ini sudah waktunya sarapan, sebentar lagi Dokter Wil akan memeriksa kondisimu hari ini."
"Iya kak.. " Jawab Edrea yang kini sudah berganti nama, dan bukan tampa alasan Alpha melakukan itu, dia hanya ingin melindungi Edrea. Untuk sesaat Alpha mengamati wajah Edrea yang seketika murung.
"Ada apa?"
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa sampai kehilangan ingatanku?" Tanya Edrea perlahan sambil menatap wajah Alpha yang masih terdiam.
Untuk sesaat Alpha terdiam, ia hanya takut Edrea akan kembali mengalami sakit kepala atau mimisan jika memaksakan otaknya untuk berfikir seperti kemarin, namun jika membiarkan Edrea terus berfikir tentang apa yang sudah terjadi dengannya dan juga ingatannya yang tiba-tiba saja hilang juga sangat berbahaya. Alpha kembali menarik nafas dalam. perlahan ia menatap wajah Edrea seraya menangkup wajah yang terlihat polos itu.
"Kau mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah sampai akhirnya kau kehilangan ingatanmu." Jawab Alpha.
"Benarkah? Tapi kenapa... "
"Kita makan dulu, kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol." Sela Alpha yang membuat Edrea menghentikan kalimatnya dan langsung mengangguk setuju.
"Iya kak." Balas Edrea tersenyum sambil menggandeng tangan Alpha keluar dari kamar, menuju ruang tengah yang di sana sudah menunggu Dareen dan Dokter Wilfreed untuk sarapan bersama.
Mata Edrea juga tertuju pada beberapa pengawal berseragam serba hitam yang tengah berjejer di tiap pintu, juga beberapa bodyguard yang sempat ia liat di rumah sakit saat ia sadarkan diri.
Orang seperti apa kakak sebenarnya? Apa kakak orang yang sangat penting?
Batin Edrea yang kembali mengalihkan pandangannya ke arah Alpha, menatap wajah Alpha dari samping, wajah tampan yang selalu ia kagumi.
Fiks, aku pasti anak pungut, bahkan wajahku tidak semenarik kakak.
Langkah merekapun terhenti di ujung tangga. Alpha sempat merasakan saat Edrea mengeratkan pegangan tangannya ketika melihat beberapa orang asing di hadapan mereka.
"Selamat pagi Nona Re... " Kalimat Dareen terhenti saat melihat wajah Alpha yang tengah melotot kearahnya, bahkan ia bisa melihat saat Alpha mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan satu menit kemudian nampak pesan notifikasi masuk ke ponsel Dareen dan Dokter Wilfreed secara bersamaan. Hingga pandangan Dareen dan Dokter Wilfreed kembali tertuju kepada Alpha.
"Baca."
"Panggil dia Sharren."
Isi notifikasi dari ponsel mereka yang dikirim oleh Alpha dan membuat mereka mengangguk secara bersamaan.
"Silahkan di makan sarapannya Nona Sharren," Ucap Dokter Wilfreed tersenyum, yang hanya di balas anggukan dan senyuman oleh Edrea.
Mereka pun mulai dengan sarapannya tampa ada suara satupun, hingga 15 menit berlalu mereka selesai dengan sarapannya dan kembali ke ruang tengah.
Edrea yang sedari tadi terdiam sambil mengamati kedua orang pria tampan yang nampak asing baginya. Seolah mengetahui isi pikiran Edrea, Alpha mulai memperkenalkan Dokter Wilfreed dan Dareen pada Edrea.
"Sharren, dia Dareen, asisten pribadi kakak." Ucap Alpha seraya mengalihkan pandangannya ke arah Dareen yang langsung tersenyum sambil mengangguk pelan, yang juga di balas senyum oleh Edrea.
"Dan dia Dokter Wilfreed, dan Dokter Wil yang akan mengawasi dan mengontrol kesehatan mu, sampai kau benar-benar pulih." Lanjut Alpha kembali mengarahkan pandangannya ke arah Dokter Wilfreed yang tengah menyiapkan perban dan beberapa obat lainnya. Saat melihat Edrea yang tengah menatapnya, Dokter Wilfreed hanya tersenyum dengan anggukannya.
Dengan telaten Dokter Wilfreed mulai membuka perban yang membaluti kepala Edrea, memeriksa luka di kepalanya yang sudah mulai mengering, lalu kembali di olesinya dengan obat.
"Bagaimana lukanya Wil?" Tanya Alpha.
"Sudah sedikit membaik, tinggal tunggu beberapa hari lagi untuk pulih." Jawab Dokter Wilfreed yang masih fokus membaluti kepala Edrea dengan perban.
"Kapan dia akan sembuh total?" Tanya Alpha yang terlihat sedikit khawatir.
"Dua minggu lagi, jika Nona Sharren tidak melakukan aktivitas berat selama pemulihan."
Memangnya aktifitas berat apa yang bisa aku lakukan di sini? Edrea.
"Lalu bagaimana dengan ingatanku Dokter?" Tanya Edrea yang sontak membuat Alpha terdiam, mereka bertiga saling menatap satu sama lain hingga beberapa menit hingga akhirnya Dokter Wilfreed tersenyum.
"Sabar, tidak lama lagi ingatan Nona Sharren akan kembali." Ucap Dokter Wilfreed.
"Benarkah?"
"Iya Nona,"
"Kak Alpha.. Sebentar lagi Sharren akan mengingat semuanya, Sharren tidak sabar ingin mengingat wajah Ayah dan Ibu." Ucap Edrea tersenyum.
"Iyaa.. Kakak juga tidak sabar." Balas Alpha mengangguk dengan senyum yang sebenarnya dalam hatinya merasakan gelisah dan takut.
Menyadari perubahan ekspresi dari Alpha, Dokter Wilfreed kemudian beranjak dari duduknya lalu menghampiri Alpha yang sedang duduk di sofa single dengan perasaan gelisah.
"Tenanglah.. Semua akan Baik baik saja."
Ucap Dokter Wilfreed yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.
* * * * *
* MANSION CHRIS CULLEN.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan di mana Alpha menyembunyikan gadis itu?"
"Belum Tuan, tapi Xuan sudah mendapatkan lokasi wilayah yang kemungkinan besar Tuan Alpha menyembunyikan gadis itu, sebab di wilayah tersebut terdapat beberapa Panthouse milik keluarga Berta." Jawab Kang Daniel yang di balas anggukan oleh Tuan Chris.
"Bagus, terus cari gadis itu, dan berikan foto ini pada orang-orangmu, aku yakin sebagian dari mereka belum ada yang pernah melihat gadis ini." Balas Tuan Chris meletakkan beberapa foto di atas meja.
"Bagaimana dengan El, dia tidak bertanya macam macam kan soal kakaknya?" Tanya Tuan Chris lagi.
"Tidak Tuan,"
"Lalu di mana anak itu sekarang?"
"Sejak tadi pagi Tuan Muda Elard keluar, katanya mau mencari udara segar."
"Apa dia membawa bodyguard?" Tanya Tuan Chris.
"Tidak Tuan, dia tidak ingin di temani oleh siapapun."
"Dasar anak itu, tidak pernah berubah sedikitpun."
"Iyaa Tuan, sepertinya Tuan Muda tidak..... "
"Selamat sore Ayah."
Sapa Elard yang Langsung membuat Kang Daniel menghentikan kalimatnya saat melihat anak dari presdirnya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Dari mana saja kamu?" Tanya Tuan Chris.
"Cari angin."
"Tsk, kenapa tidak membawa bodyguard?"
"Tidak perlu, aku bukan anak kecil yang harus di awasi terus." Jawab Elard yang semakin menyamankan tubuhnya.
"Yang bilang kau anak kecil siapa? Itu demi keselamatanmu." Balas Tuan Chris lagi.
"Aku Baik baik saja Ayah, aku juga tidak punya musuh di sini, jadi tidak ada yang akan mengincar untuk mencelakai ku"
Kecuali kalau mereka mengetahui jika aku adalah anakmu.
"Meskipun begitu kau juga harus tetap waspada. Kau tidak pernah tau, kapan saja orang bisa mencelakai kita." Timpal Tuan Chris.
"Baik... Baik.. " Balas Elard mengangguk pelan untuk menenangkan hati ayahnya, hingga sesaat netranya tertuju pada beberapa lembar foto yang tergeletak di atas meja.
"Sepertinya wine ini enak, aku akan membawanya kekamar, bolehkan Ayah?"
Tanya Elard yang langsung mengambil sebuah botol wine yang berada di atas meja dan beranjak dari duduknya dan pergi.
Elard mengunci pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tangan kirinya ia jadikan bantal kepalanya sambil terus menatap selembar foto yang tadi di ambilnya secara diam-diam.
"Gadis yang manis, kenapa Ayah mengincarmu untuk di jadikan targetnya? Apa yang sudah kau lakukan?" Ucap Elard yang terus menatap foto Edrea.
Elard yang sudah mengetahui sifat dan cara sang Ayah yang akan menyingkirkan orang-orang yang di anggap musuh atau bisa merugikan bisnis dan perusahaannya, hanya bisa menggeleng pelan. Meskipun ia mengetahui sekejam dan sesadis apa Ayahnya, ia tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegah sang Ayah, namun juga tidak berniat untuk ikut campur dan terjun langsung dengan urusan dan pekerjaan Ayahnya. Namun saat ini ada sedikit kekhawatiran saat memikirkan gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak tadi.
Hingga perhatiannya kembali tertuju kepada Emery yang sudah membuatnya berkeliling selama berjam-jam hanya untuk mencari keberadaan sang kakak saat ini.
Kakak.. Kau di mana sebenarnya? Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tetap tidak menemukanmu, aku tau kau tidak sedang bersama Ibu sekarang seperti apa yang di katakan Ayah.
Batin Elard yang tiba-tiba merasa cemas. Sebenarnya ia sudah mengetahui semua tentang pernikahan juga kehidupan Emery selama ini dari Areta pelayan pribadi Ibu mereka dulu yang kini menjadi pelayan pribadi Emery kakaknya, meskipun Ayahnya menyembunyikan semua darinya, namun ia selalu mendapatkan informasi dari Emery. Sejak Ibu mereka meninggalkan rumah dan meninggalkan mereka semua, ia langsung di kirim oleh Tuan Chris ke Kanada, melanjutkan sekolah di sana selama 13 tahun. Dan sejak saat itu, ia tidak pernah lagi mendengar kabar dari Ibunya, bahkan Tuan Chris tiba-tiba melarang mereka untuk mengingat apa lagi mencari keberadaan Ibu mereka. Bahkan Tuan Chris mengatakan jika Ibu mereka sudah meninggal dunia.
Merasa ada yang janggal dari Emery yang sudah tidak pernah menghubunginya lagi, Elard menjadi sedikit khawatir, sebab yang ia tau Emery dalam keadaan baik-baik saja saat terakhir ia berkunjung ke Kanada untuk menemui Elard 7 tahun lalu. Karena merasa aneh, Elard mencoba menghubungi Areta tampa sepengetahuan Tuan Chris dan juga kakaknya Emery. Dan sejak saat itu ia mulai mengetahui semuanya. Dan semua cerita yang Elard dengar dari Areta tentu saja membuatnya sangat marah kepada Tuan Chris, namun ia belum bisa berbuat apa-apa untuk saat itu. Ia hanya berusaha untuk bersabar sambil Mencoba menunggu penjelasan dari Tuan Chris yang ia pikir pasti punya alasannya sendiri hingga menutupi semua masalah perjodohan hingga pernikahan itu padanya.
Namun sepertinya Elard salah besar, sebab sampai saat ini pun Tuan Chris tidak pernah berniat untuk menceritakan semuanya, sampai kemarin malam pun di mana dengan tidak sengaja mendengar percakapan sang ayah yang memberi perintah agar Kang Daniel tidak memberitahu soal pernikahan Emery.
Masalah ini justru membuat Elard semakin geram. Di tambah saat ia mengetahui pernikahan Emery yang tidak berjalan baik. Apalagi saat mendengar informasi terakhir dari Areta tentang menghilangnya Emery, hingga memutuskan Elard untuk meninggalkan Kanada pada saat itu juga, sebab ia sudah sangat mengkhawatirkan kakaknya. Hingga membuat kebenciannya kepada Alpha semakin besar.
Awas saja kau Alpha, aku akan memberimu pelajaran, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada perusahaan mu, kau akan menyesalinya karena telah Menyia-nyiakan Emery.
Batin Elard semakin geram. Meskipun ia juga belum mengetahui tentang masa lalu seorang Alpha Khandra dan Ayahnya. Yang ia tau Alpha Khandra hanyalah seorang yang angkuh, dingin, kasar, dan kaku. Itulah alasan Elard tidak menyukai Alpha apalagi sampai menjadi suami kakak yang sangat di sayanginya. Hingga matanya kembali tertuju pada foto yang masih di pegangnya.
Dan kau gadis kecil, semoga orang-orang Ayahku tidak menemukanmu, aku harap bisa menemukanmu terlebih dulu, agar aku bisa melindungimu.
Batin Elard yang dengan gemas langsung menciumi foto Edrea dan perlahan meletakkan foto itu di dalam laci nakasnya sebelum ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.