I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Cinta Edrea. * MANSION CHRIS CULLEN.



Erald membanting tubuhnya di atas sofa sambil menjulurkan kakinya ke atas sandaran sofa, dengan sesekali menatap layar ponselnya, tidak jarang juga ia berdecak kesal saat operator yang menjawab panggilan telfonnya.


"Aaiiisss... "


Kelu Erald seraya membanting benda pipi tersebut ke atas sofa, hingga Tuan Chris dan Kang Daniel yang secara tidak sengaja melihat tingkah Erald hanya mengeryit bingung dan saling menatap. Sedang Erald yang tidak menyadari kehadiran Tuan Chris masih terus mengumpat dengan segala kata katanya.


"AAARRGGHH.. "


Teriak keras Erald seraya mengusap kasar wajahnya, sambil mengacak-acak rambutnya. Hingga akhirnya ia terperanjat kaget saat melihat Tuan Chris yang sudah berdiri tepat di sampingnya sambil menyedekapkan tangannya di atas dadanya dengan tatapan penuh keheranan. Dengan gugup Erald duduk sambil berdehem, sembari menegakkan tubuhnya dan kembali menarik nafas dalam sambil merapikan rambutnya yang terlihat sangat berantakan.


"Ayolah Ayah berhenti menatapku seperti itu."


Protes Erald yang kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tampa mempedulikan Tuan Chris yang sedari tadi mengamati tingkahnya.


"Kau sakit?" Tanya Tuan Chris mengernyit.


"Hm,"


"Daniel, telfon Dok... "


"Aku tidak perlu Dokter Ayah." Balas Elard dengan nada malas.


"Lalu? Bukankah kau sakit?"


"Aku..  Aisshh.. Ayah tidak akan pernah mengerti, aku sedang kesal sekarang, sebab.... Ah sudahlah... " Balas Elard terlihat prustasi.


"Ayah mana mengerti, Aiss dasar orang tua tidak peka." Gumam Elard yang langsung beranjak meninggalkan Tuan Chris yang masih setia menatap putranya yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Ada apa dengan anak itu?" Tanya Tuan Chris sambil mebuka laptopnya dan menyamankan tubuhnya di sofa.


Mungkin Tuan muda sedang dalam mood yang tidak bagus hari ini Tuan." Jawab Kang Daniel yang sepertinya sudah mengerti dengan kondisi Tuan mudanya saat ini.


"Tsk, apa yang membuat moodnya jadi sangat buruk seperti itu?" Tanya Tuan Chris sedikit khawatir.


"Saya kurang yakin Tuan, mungkin kali ini masalahnya berasal dari wanita." Jawab Kang Daniel.


"Wanita? Apa dia sekarang sedang di tolak oleh seorang wanita? Kenapa dia begitu payah?"


"Iyaa Tuan, sebab dari semalam Tuan muda sudah nampak seperti itu, uring-uringan, dan tidak mau berbicara sedikitpun." Jawab Kang Daniel.


"Apa separah itu? Siapa wanita yang sudah berani menolaknya? Apa wanita itu tidak tau sedang berurusan dengan siapa?"


Gadis yang menjadi target Anda Tuan,


"Ah itu.. Saya tidak mengetahuinya, Tuan muda sedikit tertutup untuk maslah yang satu itu Tuan." Jawab Kang Daniel sambil menuangkan wine ke dalam gelas kristal Tuan Chris yang masih fokus dengan laptopnya dan beberapa dokumen penting yang harus ia tanda tangani.


"Belum ada pergerakan dari BRT GRUP berapa hari ini?" Tanya Tuan Chris mengalihkan topik pembahasan.


"Belum Tuan, justru hal itu yang membuat saya sedikit khawatir Tuan, tidak ada perlawanan dari mereka, seolah menunggu bom waktu yang bisa meledak kapan saja."


"Tsk, kita liat saja, El akan selalu bisa di andalkan, saham dari BRT GRUP Sudah merosot sangat drastis bukan? apalagi yang bisa anak sialan itu lakukan, selain menunggu kehancuran." Balas Tuan Chris dengan senyum smirknya.


Sedang di dalam kamar nampak Elard yang sejak tadi menelantangkan tubuhnya di atas tempat tidur bahkan ia tidak bergeming sedikitpun, di lebarkan kedua kakinya sambil merentangkan kedua tangannya. Seolah sedang menunggu malaikat maut untuk mencabut nyawanya, bahkan dengan kondisinya saat ini, Elard sepertinya sudah sangat rela menyerahkan nyawanya kepada malaikat pencabut nyawa.


"Apa ini rasanya patah hati? Apa aku baru saja di tolak oleh seorang gadis? Kenapa? Apa yang salah denganku? bahkan wajahku tidak begitu jelek, tapi kenapa?"


Gumam Erald yang terus menatap langit langit kamarnya, seolah ia bisa mendapatkan jawabannya di atas sana.


"Ahh sialan.. Kenapa aku mesti menyukai gadis itu? Astaga, bahkan aku tidak bisa melupakannya sekarang, tidak.. Aku perlu ke Dokter.. Dadaku terasa sesak.. "


Dengan perlahan Erald mengelus dadanya, sambil melenguh prustasi, meringkuk hingga suara getar di ponsel yang tadi di lemparnya dan sudah berada jauh di lantai kamarnya terdengar. Dengan kecepatan tinggi Elard merangkak dari tempat tidurnya dan langsung melompat turun ke bawah lantai dengan tangan yang terlebih dulu menghantam lantai keramik, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"AAUUWWW.. "


Jerit Elard menahan sakit di sekitar sikunya yang cukup keras beradu dengan lantai keramik, namun rasa sakit itu sekejap hilang saat melihat isi notifikasi di ponselnya.


Shareen.


"Aku di taman sekarang."


Mata Elard membulat sempurna saat melihat isi notifikasi dari Edrea yang sudah selama 24 jam di tunggunya hingga membuatnya prustasi, dan ketika ia akan beranjak dari posisinya, ponselnya kembali bergetar dan menyusul pesan kedua yang masuk dalam ponselnya.


Shareen.


"Waktumu 20 menit dari sekarang, jika terlambat, aku pulang."


"Apa dia bercanda?"


Seru Elard yang beranjak dari duduknya dan lagi lagi ujung kakinya harus kembali menabrak nakasnya yang terletak di samping tempat tidurnya, dan kali ini benturan itu cukup keras hingga membuat lampu dan jam duduk yang tertata rapi di atas sana jatuh berhamburan ke lantai. Dan lard hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat sambil menarik nafas panjang untuk menahan sakit di area kakinya yang sudah bergetar sejak tadi. dengan cepat ia meraih hoodie yang tersampir di sandaran sofa dan langsung di pakainya sambil berlari kecil menuruni anak tangga.


"Ayah aku keluar sebentar."


Ucap Elard saat melintas di hadapan Tuan Chris dan Kang Daniel yang masih melongo melihatnya, bahkan tampa menunggu jawaban dari Tuan Chris, bayangan Elard sudah menghilang di balik pintu, berganti dengan suara nyaring dari mobil sportnya yang sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi.


"Ikuti dia."


Perintah Tuan Chris dengan nada datar sambil meremas sebuah kertas yang di pagangnya.


"Jika bener dia bertemu dengan gadis itu, aku tidak akan menoleransinya lagi." Lanjut Tuan Chris seraya melemparkan kertas di tangannya sambil meraih gelas berisi wine dan langsung menyesapnya.


* * * * *


Tepat 20 menit kemudian, Elard sudah memarkirkan mobilnya di sisi jalan sebuah taman. Senyumnya melebar saat melihat sosok Edrea yang tengah berdiri di sebrang jalan sambil membenarkan Syal berwarna merah yang melilit di lehernya.


"Apa dia bersama pria pucat itu lagi?"


Gumam Elard sambil terus mengamati ke sekeliling Edrea, hingga akhirnya ia kembali tersenyum lebar saat mengetahui jika Elard hanya seorang diri di sana.


"Kenapa dia makin terlihat manis,"


Gumam Elard yang kembali mencengkram dadanya saat di rasakan jantungnya yang mulai berdebar sangat kencang. Apalagi di saat Edrea tersenyum ketika melihatnya turun dari mobil sambil lambaikan tangannya.


Elard mulai melangkah menyebrangi jalan menghampiri Edrea yang masih berdiri menunggunya, sambil menutupi kepalanya.


"Bagus, kau tepat waktu."


"Dan waktu 20 menitmu itu hampir membuat ujung kakiku remuk." Balas Elard sedikit meringis saat mulai merasakan sakit di kakinya.


"Apa kakimu baik baik saja?" Tanya Edrea sedikit khawatir, saat melihat Elard yang terus meringis.


"Aku baik baik saja, hanya sedikit terbentur, ayo kita kesana." Jawab Elard sambil mengarahkan pandangannya ke arah sebrang jalan, menunjukkan sebuah tempat duduk yang berada di bawah pohon maple sambil meraih dan menggenggam tangan Edrea. Sedang Edrea yang awalnya sedikit terkejut akhirnya menurut dan terus mengikuti langkah Elard dengan senyum di bibirnya.


"Apa itu sakit?" Tanya Edrea saat melihat langkah Elard yang sedikit aneh sejak tadi.


"Tidak apa apa, duduklah." Jawab Elard menggeleng sambil mempersilahkan Edrea untuk duduk di sebuah kursi kayu dekat sebuah danau kecil.


"Ini tempat yang indah, aku menyukainya."


Ucap Edrea sambil menangkup tangannya dan mulai menarik nafas menghirup udara segar di sana secara perlahan dengan wajahnya yang terlihat nampak sangat bahagia.


"Kau menyukainya?" Tanya Elard yang terus menatap wajah Edrea tampa berkedip.


"Hmm.. Aku sangat menyukainya." Jawab Edrea mengangguk kecil dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ayo selalu bertemu di sini." Balas Elard tersenyum sambil terus menatap lekat wajah Edrea, yang membuat wajah Edrea seketika memerah, apalagi saat Elard mulai menggenggam tangannya.


"Tapi aku tidak bisa terus terusan keluar rumah."


"Ada apa? Apa kakakmu melarangmu untuk keluar rumah?"


"Hmm.. "


"Tsk, kau kan bukan anak kecil lagi, bukankah si beruang kutub itu terlalu berlebihan?"


"Tapi kakak punya alasan untuk itu, dia tidak asal melarangku saja, dan kakak bukan seekor beruang." Balas Edrea dengan wajah polosnya yang membuat Elard seketika merasa sesak nafas.


"Hentikan, dia kakakku." Balas Edrea mulai memasang wajah cemberutnya yang membuat Elard mengatupkan bibirnya.


"Kakak hanya takut jika terjadi sesuatu denganku, apalagi ingatanku belum pulih."


"Maksudnya?" Tanya Elard mulai serius, sambil menatap Edrea.


"Baru satu bulan aku tersadar dari koma, kata kak Ken aku baru saja mengalami kecelakaan hingga aku kehilangan ingatanku." Jawab Edrea yang sontak membuat Elard terkejut, yang semakin erat menggenggam telapak tangan Edrea.


Jadi.. Gadis ini kehilangan ingatannya?


"Hei.. Kenapa diam saja?" Tanya Edrea yang langsung membuyarkan lamunan Elard.


"Tidak apa apa, tapi apa kau baik baik saja?"


"Hmm.. Aku baik baik saja, sebab kakak sangat melindungi dan menyayangiku."


Apa manusia se kaku dan sedingin Alpha bisa menyayangi seseorang juga?


Batin Elard seraya mengusap tengkuk lehernya.


"Sebenarnya ada apa? Kau sangat ingin bertemu denganku?" Tanya Edrea yang kembali menatap wajah Elard yang tiba-tiba terbungkam untuk beberapa waktu.


"Aku.. Aku hanya merindukanmu."


Jawab Elard tertunduk. Seolah baru saja menyesali kalimat yang baru saja keluar dengan mulus dari mulutnya.


"Kau? Merindukan ku? Tapi kita.."


"Aku menyukaimu."


Jawab Elard yang seketika membuat Edrea terdiam, sambil menggigit bibirnya. Ia sendiri bahkan tidak bisa membohongi hatinya jika ia memiliki persaan yang sama terhadap Elard, bahkan ia sempat berfikir jika perasaannya saat itu hanyalah perasaan sesaat saja, tetapi ia salah, ia bahkan sering merindukan sosok Elard.


"Aku rasa aku menyukaimu Shareen, entahlah sejak kapan datangnya perasaan ini, yang jelas aku hampir gila saat kemarin kau menolakku, mengabaikan semua pesan dan panggilan telfonku, bahkan kau tidak menghidupkan ponselmu lagi, apa kau tau betapa gelisahnya aku menunggu pesan darimu?" Balas Elard yang terus menatap wajah Edrea.


"Maafkan aku, aku tidak berniat membuatmu merasa gelisah seperti ini, aku hanya... "


"Aku mengerti."


"Sejak saat itu aku juga sering memikirkanmu, aku rasa aku juga sepertinya menyukaimu." Balas Edrea balas menatap Elard yang bahkan sudah sejak tadi menatapnya. Seketika kebahagiaan memenuhi ruang hati Elard, senyum terkembang di bibirnya, dengan tatapan mata hangat saat melihat senyum manis di wajah Edrea.


"Tapi.. "


"Ada apa? Sepertinya ada yang mengganjal hatimu." Tanya Elard kembali menggenggam tangan Edrea yang sejak 5 menit lalu sudah menjadi kekasihnya.


"Kita tidak akan sering untuk bertemu, kau tau kan, kakak tidak mungkin mengizinkanku untuk selalu keluar rumah seperti ini."


"Aku mengerti." Ucap Elard.


Karena orang-orang Ayahku juga mengincarmu, maafkan aku, jika kau mengetahui aku anak dari seorang berdarah dingin seperti Ayah, apa kau masih akan menyukaiku?


Batin Elard yang mulai merasa gelisah, namun berusaha ia tutupi sambil terus mengusap rambut panjang Edrea dengan lembut.


"Tidak masalah jika kakak mu melarangmu untuk keluar rumah, dan mulai saat ini kau hanya boleh berada di luar bila bersamaku, apa kau mengerti?"


"Hmm.. Aku mengerti." Jawab Edrea mengangguk kecil.


"Berjanjilah, jangan pernah keluar rumah seorang diri."


"Iyaa, tapi kenapa kau jadi posesif seperti kakak?" Tanya Edrea yang hanya di balas senyuman oleh Elard.


"Itu karena aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu. Apa kau mengerti?" Jawab Elard perlahan.


"Iyaa.. Aku janji."


Balas Edrea seraya mengacungkan jari kelingkingnya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah ovalnya.


Kenapa dia selalu bertinkah manis seperti ini, apa dia tidak sadar jika jantungku terus berdebar sejak tadi,


Dengan gemas Elard kembali meraih tubuh Edrea untuk di peluknya erat, hingga membuat Edrea sedikit merasakan sesak nafas.


"Hei.. Kau membuatku sesak, ada apa? Kau tidak akan kehilangan aku." Goda Edrea yang justru membuat Elard semakin mempererat pelukannya.


Kenapa aku jadi merasa takut sekarang, kenapa aku menjadi sangat takut untuk melepaskannya dari pelukanku. Aku ingin selalu melindunginya.


"Aku berjanji akan selalu melindungimu." Bisik Elard semakin memperdalam dekapannya, bahkan suaranya terdengar bergetar, dengan mata yang mulai berkaca. Dengan perlahan Elard menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Edrea.


"Ada apa? apa kau baik-baik saja?" Tanya Edrea perlahan sambil menepuk pelan punggung Elard.


"Aku baik-baik saja, aku hanya takut jika aku tidak bisa melindungimu," Jawab Elard dengan suara beratnya, bahkan bayangan sang Ayah sudah memenuhi pikirannya.


"Hmm.. Aku tau, kau akan selalu menjagaku."


"Tapi.. Tunggu sebentar." Elard tiba-tiba melepas pelukannya sambil memegang kedua bahu Edrea erat.


"Siapa pria pucat yang menggenggam tanganmu waktu itu?" Tanya Elard seketika yang sontak membuat Edrea melongo, sampai akhirnya ia tertawa saat melihat ekspresi Elard saat ini.


"Dokter Wilfreed, Dokter pribadi sekaligus sahabat kak Alpha" Jawab Edrea masih tertawa.


"Dokter? Dia? Seorang Dokter?"


"Hm.. Dia Dokter yang hebat. Dan Dokter Wil yang selama ini merawatku."


"Iya aku tau, namanya seperti tidak asing, dia cukup populer." Balas Elard yang nampak sedang berfikir.


"Kak Wil memang cukup populer."


"Yah, berhenti memujinya, kau bisa membuatku cemburu."


"Hei ayolah.. Apa kau cemburu?"


"Tentu saja, dan bisa kah kau memanggilku dengan sebutan yang lebih layak? Aku kan kekasihmu sekarang." Protes Elard yang membuatnya malah terlihat manis.


"Maksudnya? Kau ingin aku panggil dengan sebutan apa?" Tanya Edrea memiringkan kepalanya.


"Suami."


"Yak.. "


"Kenapa? Kau tidak ingin menjadi istriku?"


"Bukankah kau terlalu berlebihan?" Balas Edrea seraya menepuk lengan Elard dengan sangat keras, hingga membuat Elard sedikit meringis sambil mengusap lengannya.


"Sepertinya dulu kau seorang atlit tinju." Balas Elard yang masih mengusap lengannya.


"Yak.. "


"Baiklah.. Maafkan aku." Balas Elard yang kembali memeluk tubuh Edrea, mengecup dahi Edrea lembut sambil mengusap rambut panjang itu.


"Aku akan mengantar mu pulang." Bisik Elard seraya menangkup wajah oval kekasihnya yang hanya mengangguk dengan senyumnya.


Elard beranjak dari duduknya, sambil mengulurkan tangannya kearah Edrea yang langsung menyambut tangannya. Dengan erat di genggamnya tangan itu sambil melangkah menyeberangi jalan menuju mobilnya yang tidak butuh waktu lama langsung melaju dengan kecepatan tinggi.


Tampa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang tengah mengawasi mereka dari jarak jauh, dan itu sudah berlangsung sejak tadi.


Dengan cepat Xuan meraih ponselnya untuk melaporkan semuanya kepada Bos besarnya.


"Halo Tuan besar, Tuan muda barusan mengantarkan gadis itu."


* * * * *


* TO BE CONTINUED.