
"Tuan.. "
"Ada apa? Apa kau membawa kabar baik untukku?" Tanya Tuan Chris sambil terus menghisap rokoknya.
"Gadis itu masih terbaring koma di rumah sakit, dan Xuan.. "
"Ada apa?"
"Nyawanya tidak bisa di selamatkan lagi."
PRAANKK..
Tuan Chris melemparkan gelasnya yang berisi Wine ke atas lantai keramik, hingga membuat gelas tersebut hancur berkeping-keping.
"Maaf Tuan.. Kita memiliki kabar buruk." Ucap Kang Daniel perlahan.
"Kau tahu kan, jika aku tidak pernah suka mendengar kabar buruk?" Tanya Tuan Chris dengan emosinya yang mulai meninggi.
"Iya Tuan, tapi kali ini dari Perusahaan. "
"Apa?"
"Perusahaan kita mengalami penurunan saham sangat drastis, dan.. "
"Dan?"
"Seluruh investor telah menarik saham mereka." Lanjut Kang Daniel.
"APA?"
"CALL KORP mengalami kebangkrutan, dan... "
"SIALAAANN... ELARD DI MANA ANAK ITU SEKARANG?" Teriak Tuan Chris beranjak dari duduknyayang secara membabi buta membanting sebuah meja yang berada di hadapannya.
"Tenanglah Tuan."
"KAU MENYURUHKU UNTUK TENANG SEKARANG, DI SAAT PERUSAHAANKU MENGALAMI KEBANGKRUTAN?"
"Maaf Tuan,"
"AARRGGHHH SIALAN.. AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA." Teriak Tuan Chris dan kembali menghancurkan semua barang barang yang ada di hadapannya hingga tidak tersisa satupun, bahkan koleksi Winenya yang berjejer rapi di mini bar tempatnya sekarang pun tidak luput dari amukan Tuan Chris, semuanya hancur tampa sisa sedikitpun.
"Di mana anak itu?" Tanya Tuan Chris.
"Sejak gadis itu koma di rumah sakit, Tuan muda sudah tidak terlihat lagi sejak hari itu." Jawab Kang Daniel.
"Apa? cari anak itu segera." Perintah Tuan Chris sambil mengacak pinggang dengan nafas yang terlihat memburu karena amarahnya yang sudah memuncak.
"Baik Tuan." Balas Kang Daniel yang langsung melangkah pergi.
Persiapkan dirimu anak sialan, sebentar lagi aku pastikan kau akan menyusul Ayahmu ke neraka. Aku bersumpah akan membunuhmu.
Batin Tuan Chris sembari meraih sepucuk pistol yang terletak di atas nakasnya lalu di selipkan kedalam jasnya. Tuan Chris melangkah masuk kedalam ruang kerjanya, mendekati sebuah pigura yang di baliknya terdapat tombol untuk membuka satu pintu rahasia.
Tuan Chris melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang masih sangat terawat. Ruangan yang selalu tertutup bahkan tidak seorang pun yang pernah menginjakkan kaki mereka di ruangan tersebut. Ruangan yang selama beberapa tahun ini di huni oleh wanita yang sangat di cintainya. Dengan langkah kaki yang terlihat bergetar Tuan Chris mendekati pigura yang sudah menemani hari harinya selama beberapa tahun ini. Perlahan di sentuhnya foto tersebut dengan mata yang mulai berkaca.
Kenapa kau belum juga kembali Aleen, aku sudah sangat merindukanmu, aku mohon kembalilah.. Aku masih menunggumu, menunggu anakku, anak kita. Apa dia baik baik saja sekarang? Kenapa kau membawa anak kita pergi bersamamu Aleen.. Kenapa?
Tuan Chris mengusap seluruh pigura tersebut hingga terlihat sangat bersih. Perlahan di raihnya pigura tersebut untuk di peluknya dengan sangat erat.
"Maafkan aku sayang, jika akuĀ membuatmu menangis lagi, aku terpaksa akan membunuh anakmu, anak kalian berdua, anak yang tidak seharusnya ada, anak itu sudah sangat menyusahkan ku."
Tuan Chris terus memeluk pigura tersebut dengan senyuman yang menghiasi wajah dinginnya. Wajah yang di penuhi dendam dan amarah.
* FLASHBACK.
"Han, bagaimana keadaannya?"
Tanya Tuan Chris kepada Dokter pribadinya Hanenda Elfredo usai memeriksa Nyonya Aleen.
"Chris.. Nyonya Aleen sedang mengandung sekarang, dan usia kandungnya sudah menginjak empat minggu." Ucap Dokter Hanenda yang sontak membuat Tuan Chirs tersenyum bahagia.
"Benarkah? jadi.. Saat ini Aleen tengah mengandung? mengandung anakku?" Tanya Tuan Chris yang terlihat sangat bahagia.
"Benar, dan aku sarankan agar kau bisa menjaga kandungan Nyonya Aleen dengan baik, mengingat kondisi Nyonya Aleen saat ini yang tidak memungkinkan untuk menjaga kandungannya sendiri."
"Iya Han, aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik. Tapi.. "
"Ada apa Chris?"
"Apa keadaan Aleen saat ini tidak akan memperngaruhi kandungannya?"
"Tidak, kau tenang saja. Selama Nyonya Aleen tidak melakukan pergerakan yang dapat membahayakan janinnya, semua akan baik-baik saja Chris, dan itu sudah tugasmu untuk menjaganya." Jelas Dokter Hanenda yang hanya di balas anggukan oleh Tuan Chris.
"Hari ini kemenakanku tiba di Korea, aku sendiri yang akan menjemputnya." Lanjut Dokter Hanenda.
"Maksudmu, anak dari Fredell?" Tanya Tuan Chris.
"Benar.. Yah meskipun umurnya masih terbilang mudah, tapi anak itu memiliki otak yang cerdas juga memiliki banyak keterampilan yang kau butuhkan, dia juga anak yang penuh tanggung jawab. Dan didikan Ayahnya tidak akan membuatmu kecewa." Jawab Dokter Hanenda yang membuat Tuan Chris mengangguk.
"Aku sudah menyerahkan semua data-data pribadi tentang dirimu juga semua yang bersangkutan dengan pekerjaanmu untuk di pelajarinya, dan tugas dasar sebagai sebagai seorang Asisten. Adapun yang kurang, kau bisa melakukannya sendiri." Balas Dokter Hanenda sembari menyerahkan sebuah map berwarna biru kepada Tuan Chris.
"Ini adalah data lengkap dari Asisten barumu." Lanjut Dokter Hanenda dan langsung di terima oleh Tuan Chris untuk di bacanya.
"Kang Daniel Elfredo? Dia anak yang cukup cerdas." Ucap Tuan Chris saat tengah membaca data-data pribadi Asisten barunya.
"Jadi dia anak tunggal dari istri kedua Fredell?"
"Hm.. " Jawab Dokter Hanenda singkat sambil mengangguk.
"Jadi bagaimana kabar Fredell sekarang? apakah bisnisnya berjalan dengan lancar?" Tanya Tuan Chris yang masih membaca data pribadi Asisten barunya.
"Kau tau sendiri kan, Pekerjaan seorang Mafia besar tidak selalu berjalan lancar." Jawab Dokter Hanenda.
"Yah.. aku tahu, dan itu sebabnya sekarang kau lebih memilih untuk menjadi seorang Dokter di bandingkan dengan mengikuti jejak kakakmu sebagai seorang Mafia."
"Kau yang lebih tahu kan?" Ucap Dokter Hanenda sembari menepuk-nepuk pundak Tuan Chirs.
"Yah.. Sungguh keluarga Elfredo yang unik." Balas Tuan Chris menggeleng sambil meletakkan map tersebut di atas nakas.
"Baiklah.. Aku harus pergi, dan malam ini juga Kang Daniel akan langsung ke Mansion." Ucap Dokter Hanenda yang langsung melangkah pergi saat pengawal Tuan Chris sudah berdiri tepat di pintu masuk untuk mengantarkannya keluar.
Perlahan Tuan Chris menghampiri tempat tidur yang di sana tengah terbaring sosok yang tengah terbungkus selimut dengan wajah cantik yang terlihat pucat. Dengan lembut Tuan Chris mengusap rambut wanita tersebut, seraya mengecup dahi itu dengan penuh kasih.
"Kau dengar kan sayang, jika saat ini di dalam tubuhmu ada janin yang sedang tumbuh, yah.. ada anak kita di sini." Ucap Tuan Chris sambil mengusap lembut perut rata Aleen yang terbungkus selimut.
"Apa kau tahu, jika saat ini aku merasa sangat bahagia, aku akan selalu menjagamu, menjaga kalian dengan nyawaku," Lanjut Tuan Chris dengan senyumnya.
"Aku mencintaimu Aleen, sangat mencintaimu." Bisik Tuan Chris sambil membaringkan tubuhnya tepat di samping Aleen, dan langsung memeluk tubuh yang tengah tertidur pulas itu dengan erat.
Hingga dua jam berlalu, Tuan Chris yang tengah terbaring di atas tempat tidur terbangun dari lamunannya, sembari membalikan tubuhnya untuk mencari sosok Aleen di sampingnya, namun ia tidak melihat siapapun di sampingnya. Mimpi yang serasa nyata membuat Tuan Chris prustasi, dengan perlahan di usapnya bantal yang terletak di sampingnya, bantal yang dulu sering di gunakan oleh Aleen.
"Aku sangat merindukanmu Aleen, merindukan anak kita." Bisik Tuan Chris dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
* * * * *
* KEDIAMAN NYONYA CAROLYN.
"Emery.. Emery..."
Teriak Nyonya Carolyn dari balik pintu sambil terus mengetuk pintu kamar putrinya.
"Ada apa Bu?" Tanya Emery saat membuka pintu kamarnya, bahkan Emery sempat terkejut saat mendapati Nyonya Carolyn yang dalam keadaan panik.
"Adikmu.. Apa kau tidak melihatnya?" Tanya Nyonya Carolyn yang membuat Emery mengernyitkan keningnya.
"Elard? dia di sini?" Tanya Emery sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang terjangkau oleh mata coklatnya.
"Astaga.. Kemana anak itu pergi, seharusnya dia istrahat total dulu saat ini." Ucap Nyonya Carolyn semakin panik dengan mata yang mulai berkaca.
"Ibu tenanglah.. Sebenarnya ada apa?"
Tanya Emery kebingungan yang sepertinya tidak tahu apa apa soal kejadian semalam. Sedang Nyonya Carolyn sudah menitikan air matanya sambil meremat jari jari tangannya.
"Ibu, ada apa sebenarnya?" Tanya Emery sekali lagi sambil mencengkram kedua sisi bahu ibunya yang sudah bergetar.
"Terjadi sesuatu dengan adikmu, semalam ia kesini dengan keadaan penuh luka, tapi sekarang ia menghilang, bahkan ia tidak membawa mobilnya. kemana dia, dia sedang terluka saat ini, Ibu takut terjadi sesuatu padanya." Jawab Nyonya Carolyn yang semakin terisak.
"Apa? Elard terluka? tapi kenapa Bu? bukankah kemarin dia baik baik saja?"
"Ayahmu, dia... "
"Ada apa dengan Ayah?" Tanya Emery yang langsung terlihat ketakutan saat mendengar Nyonya Carolyn menyebutkan Ayahnya.
Aku mohon.. jangan lagi Ayah..
"Dia telah melukai kekasih Elard."
"Apa?" Mata Emery melebar saat mendengar perkataan Ibunya. Bahkan air matanya sudah menitik tampa ia sadari.
"Entah bagaimana perasaan Elard saat ini, Tuhan, lindungi putraku," Ucap Nyonya Carolyn semakin terisak.
"Apalagi yang Ayah inginkan? kenapa harus gadis itu?" Tanya Emery dengan suara seraknya.
"Karena gadis itu adik dari Alpha."
"Apa? Edrea? Tapi bukankah.. " Kalimat Emery menggantung.
"Ibu masih belum memastikan hal itu, entah gadis itu Edrea atau bukan." Balas Nyonya Carolyn seraya mengusap air matanya.
"Tunggu.. Seingat ku dulu, aku pernah melihat seorang gadis yang di rawat di sebuah rumah sakit yang sama denganku, gadis itu mengalami koma pada saat itu, dan Alpha yang selalu menjaga gadis itu, apa mungkin.. "
"Emery, apa kau yakin?" Tanya Nyonya Carolyn sambil menggenggam telapak tangan Emery.
"Aku yakin Bu, bisa jadi gadis itu adalah Edrea." Jawab Emery.
"Sepertinya Ibu harus menemui gadis itu untuk memastikannya, Ibu juga sangat khawatir Elard akan kembali ke rumah sakit itu untuk menemui gadis itu." Balas Nyonya Carolyn yang langsung bergegas.
"Emery, bisa kah kau mebantu Ibu untuk menjaga Nyonya Aleen? Sepertinya Nyonya Aleen sudah kembali pulih." Ucap Nyonya Carolyn saat ingatannya tiba-tiba tertuju kepada Nyonya Aleen.
"Maksud ibu? Nyonya Aleen sudah sembuh? Sejak kapan?" Tanya Emery yang lagi-lagi di kejutkan oleh berita tentang Nyonya Aleen.
"Ibu akan menceritakannya nanti, tapi Ibu minta jangan biarkan Nyonya Aleen untuk meninggalkan rumah." Balas Nyonya Carolyn yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah kamar Nyonya Aleen yang masih tertutup rapat.
"Ba.. Baik Bu." Balas Emery yang terlihat nampak khawatir saat melihat Ibunya yang langsung berlari keluar rumah dan menuju mobilnya, hingga tidak berselang lama mobil Nyonya Carolyn sudah menghilang dari pandangan Emery.
Apa lagi yang Ayah perbuat? Kenapa harus Elard, bukankah Elard adalah anak yang selalu Ayah jaga dan Ayah sayangi? Tapi kenapa Ayah sendiri yang membuatnya terluka. Apa sebenarnya yang Ayah inginkan..
Batin Emery yang masih berdiri di depan pintu ruang tamu dengan tatapan berkabut. Perasaan takut kini menyelimuti hatinya, mengingat hancurnya perasaan Elard saat ini sungguh membuatnya sedih. Sebab kehilangan sosok yang sangat di sayangi adalah halnyang paling menyakitkan, dan Emery tidak ingin jika adiknya Elard merasakan hal yang sama, seperti apa yang sudah di rasakannya juga Ibunya.
"Nak.. "
Suara lembut tiba-tiba terdengar menyapa pendengaran Emery yang langsung membalikkan tubuhnya.
"Nyonya Aleen, anda sudah bangun?" Tanya Emery yang langsung menghampiri Nyonya Aleen.
"Kamu.. "
"Saya Emery Cullen, anak Nyonya Carolyn." Ucap Emery yang sepertinya sudah paham dengan apa yang akan di tanyakan Nyonya Aleen padanya.
"Jadi kau putri Carolyn?" Tanya Nyonya Aleen yang terus menatap wajah Emery.
Saya adalah menantu anda. Istri dari putra anda All.
"Di mana Ibumu?" Tanya Nyonya Aleen perlahan saat ia tidak melihat sosok Nyonya Carolyn di manapun.
"Ibu sedang keluar sebentar, dan akan kembali tidak lama lagi." Jawab Emery sembari menuntut Nyonya Aleen untuk duduk ke sebuah sofa.
"Apa dia sedang menjemput All?" Tanya Nyonya Aleen yang seketika membuat Emery terdiam untuk sesaat.
"Iya, jadi Ibu meminta Nyonya untuk menunggunya." Jawab Emery perlahan.
"Bagaimana kabar All selama ini? apa dia baik-baik saja? dia pasti sudah tumbuh dewasa sekarang, dia pasti sudah menjadi pria yang tampan seperti Ayahnya, apakah dia sudah menikah sekarang? Aku sangat merindukannya." Ucap Nyonya Aleen dengan senyuman yang terkembang di bibirnya, meski saat ini matanya tengah di penuhi oleh air mata.
Yah, dia sudah tumbuh menjadi pria yang sangat tampan sekarang.
"Tuan All baik-baik saja sekarang, dan dia juga sudah berubah menjadi pria yang sangat tampan." Balas Emery dengan senyumnya.
"Benarkah? Apa kau mengenal All ku?" Tanya Nyonya Aleen sembari menatap wajah Emery.
Sangat mengenalnya, aku bahkan sangat mencintai putra anda,
"Iya, aku cukup mengenal Tuan Alpha, dia pria yang baik, dan semua orang mengenalnya."
"Benarkah?"
"Iya.. Alpha adalah seorang Presdir yang sangat terkenal di kalangan manapun. Nyonya Aleen pasti bangga karena memiliki putra seperti Tuan All,"
"Apa dia sudah menikah?" Tanya Nyonya Aleen yang lagi-lagi hanya bisa membuat Emery terdiam dengan perasaan sakit.
"Bagaimana kamu Nyonya Aleen sarapan dulu? aku akan membuatkan sarapan yang spesial untuk anda." Ucap Emery berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah.. Maaf jika merepotkan mu Emery,"
"Tidak sama sekali Nyonya, Aku justru bahagia karena bisa melakukan hal ini untuk anda."
"Kau wanita yang sangat baik dan manis Emery." Balas Nyonya Aleen seraya membelai rambut Emery.
"Kau seperti Ibumu, kalian berdua adalah wanita yang sangat baik." Puji Nyonya Aleen dengan senyumannya.
"Terimakasih Nyonya.. Tapi, bisakah aku meminta sesuatu dari anda?" Tanya Emery yang nampak terlihat ragu.
"Katakanlah.. "
"Bisakah aku memeluk anda sebentar saja? maaf.. " Ucap Emery yang langsung membuat Nyonya Aleen tersenyum lebar.
"Lakukanlah.. Kau bahkan bisa memelukku kapan saja jika kau mau," Balas Nyonya Aleen lembut sembari mengulurkan tangannya, hingga tidak menunggu lama, Emery sudah menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan hangat Nyonya Aleen.
Sungguh anda memiliki pelukan yang hangat, pelukan yang sudah sangat dirindukan oleh All, maafkan keluarga kami yang sudah menghancurkan keluarga Nyonya, Sekali lagi maafkan kami..
* * * * *
* TO BE CONTINUED.