
Pagi kak Alpha, kak Wil, kak Dareen,"
Sapa Edrea yang terlihat sangat ceria di pagi ini dengan senyum manis yang sejak tadi menghiasi wajahnya.
"Pagi/pagi/pagi Nona Shareen."
Jawab mereka secara bersamaan, sambil terus mengamati tingkah laku Edrea yang menurut mereka nampak berbeda.
"Kak,"
"Hmm.. "
"Apa boleh aku keluar sebentar?" Tanya Edrea perlahan yang langsung membuat Alpha menghentikan makannya dan kembali menatap Edrea dengan alis menyatu.
"Bukankah akhir akhir ini kau sering keluar rumah?" Tanya Alpha perlahan.
"Maaf kak," Jawab Edrea mengatupkan bibirnya.
"Shareen.. Bukannya kakak melarangmu untuk keluar rumah, tapi kakak mempunyai alasan untuk melakukan itu, maafkan kakak jika terkesan mengurungmu di dalam rumah, kakak hanya merasa khawatir." Balas Alpha yang masih terus menatap Shareen yang hanya bisa tertunduk sambil memegang erat sendok garpunya.
Aku tidak boleh membuat kak Alpha marah, kak Wil mengatakan jika kak Alpha sangat menakutkan jika sedang marah, astaga.. aku harus bagaimana sekarang..
"Iya kak, aku mengerti, maaf." Jawab Edrea yang masih tertunduk sambil melanjutkan makannya, dan saat melihat ekspresi Edrea yang terlihat sedih membuat Alpha menarik nafas dalam, pandangannya kembali tertuju kepada Dokter Wilfreed dan Dareen secara bergantian yang hanya di balas anggukan pelan oleh Dokter Wilfreed.
"Baiklah, hari inI kakak akan memberikanmu izin, tapi ingat hanya untuk hari ini saja." Ucap Alpha yang langsung membuat Edrea tersenyum sumringah dengan anggukannya yang terlihat antusias.
"Terimakasih kak, aku menyayangimu." Ucap Edrea dengan senyum manis yang masih tergambar di wajahnya.
"Iya, kakak tahu. Dan ingat, kakak hanya memberikan mu waktu tiga jam. Tidak boleh lebih." Balas Alpha yang balas tersenyum sambil menaikkan satu alisnya.
"Tiga jam? tapi.."
"Ada apa? apa tiga jam terlalu lama?" Tanya Alpha.
"Ha?"
Justru waktu itu terlalu singkat kak Alpha..
"Baiklah.. kakak akan menguranginya menjadi... "
"Ah tidak.. Tidak.. baiklah tiga jam." Seru Edrea dengan senyum lebarnya.
Astaga.. Ada apa dengan kakak..
"Bagus. Kedua Bodyguard kakak akan menemanimu."
"Ha? tapi.. Aku tidak membutuhkan Bodyguard kak, aku hanya akan ke taman.. "
Astaga apa lagi sekarang, bukankah semua akan ketahuan jika kedua bodyguard itu mengikutiku? Aish..
"Pergi dengan di temani Bodyguard atau jangan pergi kemanapun?" Tanya Alpha dengan tegas.
Tentu saja ke taman tampa bodyguard jika bisa.
"Ah, iya.. Baiklah.. "
"Kakak hanya akan menyuruh mereka untuk mengawasimu dari jauh, jika kau merasa tidak nyaman." Balas Alpha lagi sambil meneruskan makannya.
"Benarkah?"
"Hm.. "
"Aku menyayangimu kak Alpha," Balas Edrea yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Alpha seraya mengalunkan kedua lengannya ke leher Alpha dari arah belakang.
"Kakak tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri sendiri."
Ucap Edrea seraya mengecup kedua belah pipi Alpha berulang kali, sedang Alpha hanya bisa tersenyum saat mendapatkan kecupan berkali-kali dari Edrea. Dengan lembut Alpha mengusap pucuk kepala Edrea.
"Kakak ingin kau selalu bisa menjaga dirimu sendiri, dan tentu saja, ada kakak juga yang akan selalu melindungimu, kau tahu kan jika kakak sangat menyayangimu."
"Iya kak,"
Balas Edrea semakin mempererat pelukannya.
Aku sangat menyayangi kakak di seumur hidupku, dan itu tidak akan pernah berubah, meskipun aku sudah mendapatkan kembali ingatanku, kakak yang akan selalu aku sayangi. Sebab kakak adalah harta satu-satunya yang aku miliki di dunia ini.
"Baiklah.. aku akan pergi sekarang, sampai bertemu lagi kak Alpha, aku akan cepat kembali." Ucap Edrea yang langsung melepaskan pelukannya.
"Berhati-hatilah,"
"Iya Kak," Balas Edrea yang langsung melangkah meninggalkan ruangan tersebut sambil bersenandung kecil, sebelum akhirnya ia kembali menghentikan langkah kakinya saat sudah berada di depan pintu keluar dan kembali memandang jauh Alpha sambil melambaikan tangannya.
Sampai jumpa lagi kak Alpha, akun sungguh menyayangimu, maaf jika lagi-lagi aku harus merepotkanmu..
Batin Edrea yang langsung melangkah pergi saat usai mendapatkan balasan lambaian tangan dan senyum dari Alpha.
"Wil, ikuti dia, perasaanku merasa tidak enak. Sebenarnya aku sangat ingin menemaninya hari ini, tapi kau tahu kan, ada hal penting yang harus aku kerjakan." Perintah Alpha saat bayangan Edrea sudah menghilang dari balik pintu.
"Ada apa?" Tanya Dokter Wilfreed saat melihat kekhawatiran di wajah Alpha.
"Entahlah.. aku hanya merasa ada sesuatu yang akan terjadi," Jawab Alpha sambil meneguk air mineralnya.
"Kau terlalu berfikir macam-macam All,"
"Tapi tetap saja Wil, perasaanku merasa tidak enak."
"Apa saya perlu menyuruh kedua pengawal lagi untuk menyusul Nona Shareen?" Tanya Dareen.
"Itu ide yang bagus," Jawab Alpha mengangguk.
"Wil, lekaslah.. "
"Baiklah.. "
"Apa kau sudah menyuruh kedua pengawal untuk mengikuti Shareen?" Tanya Alpha lagi.
"Iya Tuan, mereka sudah melihat Nona Shareen yang tengah melangkah menuju taman." Jawab Dareen mengangguk pelan.
"Perintahkan mereka agar terus mengawasinya."
"Maaf Tuan muda, tapi saya lihat sepertinya anda sedikit berlebihan." Ucap Dareen yang memang merasakan jika Alpha bersikap terlalu berlebihan saat ini.
"Benarkah? Apa kau lupa bagaimana pergerakan Chris selama ini? bahkan dia bisa menghabisi seseorang meskipun orang itu sedang berada di dalam rumah, dan sekarang Shareen sedang berada di luar, ingat Dareen, jika Shareen saat ini masih menjadi target Chris." Balas Alpha.
"Iya Tuan, saya mengerti."
"Aku hanya merasa jika akhir akhir ini sepertinya Shareen sedang berhubungan dengan seseorang,"
"Maksud Tuan? Nona Shareen memiliki seorang kekasih?"
"Hmm.. " Jawab Alpha mengangguk dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Bukankah itu hal yang wajar bagi gadis seperti Nona Shareen, dengan umurnya yang sekarang, saya rasa wajar jika Nona Shareen memiliki seorang kekasih." Balas Dareen yang membuat Alpha menarik nafas dalam.
"Jika pria yang menjadi kekasihnya adalah pria yang tepat, aku tidak akan merasa khawatir Dareen, tapi bagaimana jika pria yang berada di sekitarnya adalah seorang yang bisa membahayakan hidupnya." Balas Alpha.
"Semoga saja Nona Shareen tidak mengenal sosok seperti itu Tuan, dan saya rasa Nona Shareen pasti bisa menilanya sendiri kan?"
"Hmm.. aku hanya terlalu mengkhawatirkannya Dareen.. Aku masih belum melupakan bagaimana saat pertama kali orang kita menemukan di tengah jalan dengan tubuh yang penuh luka. Aku bisa gila jika hal itu terjadi lagi." Balas Alpha dengan ingatan yang kbali tertuju pada peristiwa dimana ia mendapatkan Edrea dengan kondisi tubuh yang penuh luka.
"Tuan muda tidak perlu khawatir, orang kita sedang mengawasi Nona Shareen sekarang."
"Dan aku harap mereka melakukannya tugasnya dengan baik, dan tidak melakukan kesalahan."
"Iya Tuan,"
"Baiklah.. Tolong siapkan semua berkas dan dokumen yang harus aku tanda tangani, aku akan menyelesaikannya hari ini juga agar bisa menemani Shareen untuk makan malam di luar seperti permintaannya."
"Baiklah Tuan.. Lalu bagaimana dengan janji temu anda bersama klien malam nanti? apa anda akan membatalkannya?"
"Hm, mungkin kita bisa melakukannya besok, aku tidak mau Shareen kecewa jika aku kembali membatalkan janjiku padanya."
"Tapi Client kita kali ini sangat penting Tuan, dia.. "
"Tidak ada yang lebih penting dari Shareen." Balas Alpha yang masih fokus dengan ponselnya.
"Baiklah.. saya akan mengatur pertemuan ulang anda besok pagi. Dan sepertinya besok jadwal anda cukup padat." Ucap Dareen seraya mengcancel semua jadwal pertemuan Alpha hari ini.
"Tidak masalah, aku hanya ingin kau mengosongkan jadwalku sore ini."
Jawab Dareen sambil meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, sedang Alpha yang langsung beranjak dari duduknya langsung menuju ruangan kerjanya. Lalu di susul oleh Dareen yang juga ikut memasuki ruang kerja Alpha.
Sementara di tempat lain nampak Elard yang tengah berdiri di pinggiran trotoar untuk menunggu kedatangan Edrea, dan nampak juga senyum menghiasi wajah tampannya. Dengan perasaan yang di selimuti kegelisahan, Elard kembali menatap sebuah paspor dan tiket di tangannya, ia yang berniat untuk membuat Edrea benar-benar aman dengan cara membawa Edrea meninggalkan Negara ini nampaknya sudah penuh dengan persiapan. Ia bahkan sudah mengurus segalanya, mulai dari tiket penerbangan dan visa Edrea.
Lama ia menunggu di sana, hingga akhirnya netranya tertuju pada sosok Edrea di sebrang jalan yang tengah melambaikan tangannya dengan senyuman ceria yang selalu membuat Elard bahagia. Senyum yang selalu membuatnya bersemangat, tiap saat, dan selalu membuatnya jauh lebih kuat.
Kenapa kau terlihat terlihat semakin manis, rasanya aku ingin terus memelukmu erat, Shareen.. Aku mencintaimu. Bisakah kau merasakannya? merasakan perasaanku.
Dengan langkah lebar Elard terus melangkah menuju ke arah Edrea yang masih setia menunggunya di sana. Senyum seolah tidak pernah luntur dari wajah Elard yang masih memegang erat sebuket mawar merah di tangannya.
Namun belum sempat Elard menyebrangi jalan untuk menghampiri Edrea yang tengah melambai dengan senyumnya, tiba-tiba terdengar suara Edrea yang meneriakkan namanya dengan sangat keras bersamaan dengan tubuhnya yang langsung lunglai dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
DOORR..
suara tembakan terdengar seolah memecahkan gendang telinga Elard yang seketika itu juga langsung berlari dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya, bahkan Elard sudah tidak mempedulikan lagi kendaraan yang Lalu lalang di jalan tersebut. Dan sebuah mobil menyambar tubuhnya yang tengah berlari hingga membuat tubuhnya terpental. Seolah tidak memperdulikan rasa sakit di seluruh tubuhnya, Elard berusaha bangkit dan terus melangkah mendekati tubuh Edrea yang sudah tidak bergerak lagi sejak 20 menit yang lalu.
"SHAREEEENN.. TIDAAKKK..."
Teriakan keras Elard sambil memaksakan dirinya untuk terus berlari mendekati tubuh Edrea yang sudah terbujur kaku dengan posisi tengkurap di atas trotoar jalan dengan kepala yang berlumuran darah.
"AAAARRGGG... AAARRRGGHH.. SHAAREENN.."
Teriakan pilu Elard yang langsung meraih tubuh Edrea dan di peluknya erat.
"Bangunlah sayang aku mohon.. Bangunlah.. Jangan tinggalkan aku.. Jangan tinggalkan aku.. " Bisik Elard yang terus menggerak gerakan tubuh Edrea yang bahkan tidak memberikan respon apapun lagi. Hingga tidak berlangsung lama kembali terdengar suara tembakan dari arah lain.
Di sana nampak Dokter Wilfreed yang tengah mengacungkan pistolnya sambil terus berlari mengejar Xuan, pelaku penembakan terhadap Edrea. Suara tembakan yang terdengar berkali kali membuat suasana berubah mencekam, di tambah lagi dengan beberapa bodyguard Alpha dan pengawal Tuan Chirs yang juga sedang berada di tempat tersebut kini sudah saling menyerang dengan senjata masing-masing.
Sedang di seberang jalan trotoar nampak Elard yang masih terus menangis sambil memeluk erat tubuh Edrea, dengan sekuat tenaga dan tubuh yang bergetar penuh luka memar Elard bangkit dan menggendong tubuh Edrea dan langsung berlari menuju mobilnya tampa menunggu ambulance lagi. hingga dalam hitungan detik saja mobil itu sudah melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
* * * * *
* HOSPITAL.
Tubuh Elard bergetar di sudut ruangan rumah sakit dengan seluruh bagian tubuhnya yang di penuhi dengan memar. Air matanya terus mengalir dengan isakan yang terdengar pilu sambil terus menggumamkan nama Edrea di bibirnya.
Bahkan luka memar ditubuhnya tidak ia hiraukan lagi. Rasa sakitnya seolah tenggelam berganti dengan rasa sedih dan takut saat melihat darah Edrea yang memenuhi tangan dan bajunya.
"DASAR BANGSAT."
Teriakan keras Alpha yang langsung menendang tubuh Elard dengan sangat keras, hingga membuat tubuh Elard terpental jauh ke lantai rumah sakit.
"BAJINGAN.. APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA ADIKKU?"
Teriak Alpha yang secara membabi buta menyerang Elard dan terus memukuli wajah Elard yang hanya terdiam tampa melakukan perlawanan sedikitpun.
Sedang Dareen hanya bisa mematung di tempatnya, selama ini ia tidak pernah melihat kemarahan Alpha seperti sekarang, bahkan ia sudah tidak mampu lagi menahan amarah Alpha yang sudah memuncak. Dengan gerakan cepat Alpha menarik pistol dari balik jasnya dan langsung mengarahkan kearah kepala Elard yang hanya pasrah bahkan tidak berniat untuk menghindar sedikitpun.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU, SEPERTI AYAHMU YANG TELAH MEMBUNUH KEDUA ORANG TUAKU."
Teriak Alpha yang langsung menarik pelatuknya dan suara tembakan pun terdengar memenuhi ruangan rumah sakit tersebut.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.