
"Apa yang terjadi dengannya Wil?"
Tanya Alpha seraya melangkah mendekati Dokter Wilfreed yang masih berdiri di samping tempat tidur Edrea yang sudah tersadar dari komanya.
"Seperti dugaan kita sebelumnya," Jawab Dokter Wilfreed seraya memalingkan pandangannya ke arah Alpha yang masih menatap Edrea.
"Jadi dia?"
"Iya," Jawab Dokter Wilfreed singkat dengan anggukannya.
Alpha menarik nafas dalam, dengan perlahan di hampirinya Edrea yang masih terdiam menyenderkan tubuhnya di pinggiran ranjang dengan pandangan ke luar jendela, hingga akhirnya obsidian gadis itu tertuju pada sosok Alpha yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Bahkan Alpha sendiri dapat dengan jelas melihat ekspresi kebingungan dari Edrea yang nampak mengernyitkan keningnya saat Alpha mendekatinya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Alpha perlahan.
"Anda? Siapa?" Tanya Edrea sambil mengedipkan mata bulatnya berulang-ulang kali.
"Saya adalah saudara laki-laki kamu," Jawab Alpha berbohong.
"Kakak?" Tanya Edrea sekali lagi dengan wajah polosnya.
"Hmm.. "
Jawab Alpha seraya mengusap pelan rambut Edrea yang masih nampak kusut, ada rasa takut juga kekhawatiran yang di menyelimuti hati Alpha saat ini, Bahkan ia sedikit merasa was-was jika ternyata Edrea tidak mau menerimanya, ataupun tidak ingin Alpha berada di sampingnya, sebab sejak tadi Edrea masih terus menatapnya dengan kening yang menyatu. Hingga akhirnya perasaan takut dan khawatir itu seketika hilang saat dengan tiba-tiba Edrea melingkarkan tangannya ke pinggang Alpha yang masih berdiri di tepi ranjangnya.
"Kakak,"
Ucap Edrea tersenyum dengan air mata yang tiba-tiba menitik di sudut matanya.
"Hei, apa kau sedang menangis sekarang? ada apa?" Tanya Alpha lembut seraya mengusap air mata Edrea.
"Aku.. Barusan bermimpi buruk, rasanya mimpi itu sangat panjang dan menakutkan, di mana aku terkurung sendirian di sebuah ruangan gelap, dan tiba-tiba aku melihat kakak." Jawab Edrea dengan air mata yang masih menitik dari sudut matanya, bahkan Kenzie dapat melihat sorot mata yang di penuhi rasa takut saat ini.
"Melihatku? Di mimpimu?" Tanya Alpha dengan kening menyatu.
"Hemm.. Kakaklah yang menggenggam tanganku, dan mengeluarkanku dari ruangan gelap tersebut, aku takut kak.. Mimpi itu seolah nyata." Balas gadis itu terus terisak, perlahan Alpha mengalihkan pandangannya ke arah Dokter Wilfreed yang masih berdiri sambil bersedekap dengan kening yang menyatu, sedang Dokter Wilfreed hanya memberi respon dengan anggukan perlahan, mengisyaratkan jika semua baik-baik saja.
"Tenanglah.. Berhenti menangis, kakak akan selalu melindungimu, kau tidak perlu takut, itu hanya sebuah mimpi." Balas Alpha seraya mengusap kepala Edrea lembut.
"Benarkah? apa kakak bisa berjanji akan selalu di dekatku?" Tanya Edrea mendongak ke atas untuk menatap wajah yang saat ini tengah mengusap kepalanya, wajah yang terlihat asing, namun entah bisa membuat perasaan Edrea nyaman.
"Iyaa.. Kakak janji akan selalu melindungimu." Jawab Alpha perlahan yang kembali di balas anggukan oleh Edrea seraya melepas pelukannya dan mulai menyeka air matanya sendiri.
"Ayah.. Ibu.. " Gumam Edrea.
"Ibu?"
"Seharusnya di sini ada Ayah dan ibu kan?" Tanya Edrea yang sesaat membuat Alpha terdiam dan kembali menatap Dokter Wilfreed.
"Sebaiknya kau istrahat dulu, sebab kau baru saja terbangun dari koma, kau masih harus beristirahat dengan cukup."
"Iya.. tapi.. Kenapa aku bisa berada di sini? dengan keadaan seperti ini?" Tanya Edrea saat baru menyadari jika saat ini tubuhnya di penuhi luka memar, bahkan ia sempat menyentuh kepalanya yang masih terbungkus perban.
"kakak akan menjelaskannya nanti, tidak sekarang." Jawab Alpha perlahan.
"Tapi, Aahkk.. kepalaku..?"
"Kau tida apa apa?" Tanya Alpha panik saat melihat Edrea meringis seraya memegangi kepalanya, bahkan darah segar mulai keluar dari hidungnya. Dengan cepat Dokter Wilfreed menghampiri mereka, dan langsung menyuntikkan obat tidur kelengan Edrea, hingga dalam hitungan detik Edrea mulai tertidur.
"Sebaiknya kau melakukannya dengan perlahan All, otaknya masih belum bisa berfikir dengan keras. Tunggu dia pulih dulu. Apapun yang akan kau ceritakan nanti, dia pasti akan mempercayai semuanya, sebab ingatan masa lalunya sudah benar-benar hilang sekarang. Kau tinggal mengisinya dengan kenangan yang baru. Yang bisa ia terima dengan baik." Jelas Dokter Wilfreed.
"Iyaa Wil, aku mengerti, sebenarnya aku sangat bersyukur dia amnesia, sebab dia bisa melupakan semuanya hal-hal buruk yang pernah di alaminya." Ucap Alpha sambil meraih sebuah tisu dan membersihkan sisah darah yang masih melengket di hidung Edrea.
"Iyaa.. Aku mengerti. Tapi kau jangan melupakan satu hal, jika suatu waktu ingatannya pasti akan kembali." Balas Dokter Wilfreed yang seketika membuat ekspresi Alpha berubah.
"Iya aku tau, tapi setidaknya tidak saat ini." Ucap Alpha yang beranjak dari duduknya seraya merapikan selimut Edrea yang kini tengah terlelap dalam tidurnya.
Dengan perlahan Alpha menarik pintu kamar itu untuk di tutupnya secara perlahan, seolah takut menimbulkan suara yang bisa membuat Edrea terbangun. Alpha kembali menyandarkan tubuhnya di kursi yang terletak di luar kamar Inap Edrea, seraya mengusap wajahnya kasar dengan tatapan yang kembali tertuju pada Dareen dan juga Dokter Wilfreed secara bergantian.
"Gadis itu menjadi tanggung jawabku sekarang. Dareen, siapkan kamar Edrea di Penthouse, dia akan tinggal sementara di sana sebelum Wil membawanya pergi."
"Pergi? Maksudnya?" Tanya Dareen mengernyit.
"Kau taukan hidup Edrea tidak akan aman jika dia terus berada di dekatku. Untuk sementara Wil yang akan membantuku untuk melindunginya, sekaligus merawatnya." Terang Alpha.
"Saya mengerti Tuan, saya akan segera menyiapkan semuanya." Balas Dareen mengangguk pelan.
"Persiapkan juga semua alat-alat rumah sakit dan obat yang di perlukan. Wil akan merawat dan memantau kondisinya di Penthouse mulai dari sekarang." Lanjut Alpha yang lagi-lagi di balas anggukan oleh Dareen.
"Biar aku yang menyiapkan semuanya All," Sela Dokter Wilfreed sambil menepuk pundak Dareen.
"Baiklah, kita tinggalkan rumah sakit ini sekarang." Perintah Alpha yang langsung beranjak dan berjalan memasuki kamar di mana Edrea sedang tertidur dengan pulas.
Dengan perlahan diletakkan tangannya di bawah leher Edrea dan tangan satunya di bawah paha gadis itu, dan langsung menggendong tubuh ringkih itu keluar dari rumah sakit setelah usai mengurus semuanya, dan langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di sana.
Perlahan Alpha meletakkan tubuh Edrea di kursi penumpang belakang seraya menyelimutinya, lalu menyandarkan kepala Edrea di bahu lebarnya, agar gadis itu merasa nyaman, dan di susul oleh Dareen di kursi samping kemudi, juga Dokter Wilfreed yang lebih memilih membawa mobilnya sendiri. Hingga tidak berselang lama mobil mewah itupun meninggalkan rumah sakit yang di ikuti semua bodyguardnya di mobil yang terpisah.
* * * * *
* MANSION CHRIS CULLEN.
"Apa kau sudah menemukan di mana Emery sekarang?" Tanya Tuan Chris.
"Belum Tuan, Nona benar-benar menghilang, sedikitpun kita tidak bisa menemukan jejaknya." Jawab Kang Daniel terlihat khawatir.
BRUUG..
Dengan keras Tuan Chris memukul meja yang berada di hadapannya.
"Jadi begitu, dia bahkan mengikuti jejak ibunya, dasar anak tidak berguna. Tetap cari anak itu." Ucap Tuan Chris yang terlihat geram.
"Baik Tuan," Balas Kang Daniel mengangguk pelan.
"Lalu gadis itu?" Tanya Tuan Chris lagi.
"Sepertinya gadis itu sudah terbangun dari komanya Tuan," Jawab Kang Daniel perlahan.
"Gadis itu dalam penanganan Dokter Wilfreed yang di mana semua orang mengetahui kehebatan Dokter Wilfreed. Tapi ada berita bagus."
"Apa?"
"Gadis itu amnesia sekarang," Jawab Kang Daniel yang membuat Tuan Chris kembali tersenyum.
"Bagus, lalu di mana gadis itu?"
"Sepertinya di bawah oleh Tuan Alpha,"
"Di bawah? Dia membawa jalang itu? Oh.. Jadi dia dekat dengan gadis itu sekarang?"
"Iya Tuan, Tuan Alpha sepertinya sangat melindungi gadis itu."
"Begitu rupanya, dia mencampakkan Emery demi gadis jalang itu, baiklah.. Ini menarik." Balas Tuan Chris dengan senyum smirknya.
"Apa Anda punya rencana Tuan?"
"Gadis itu yang akan menjadi target kita selanjutnya. Lenyapkan gadis itu." Jawab Tuan Chris.
"Tapi Tuan, saat ini, tidak mudah untuk mencari keberadaan gadis itu, sebab Tuan Alpha benar-benar menyembunyikan gadis itu di suatu tempat."
"Maka tugasmu adalah menemukannya, aku tidak mau tau." Balas Tuan Chris penuh penekanan.
"Baik Tuan, saya akan memerintahkan Xuan untuk mulai mencari keberadaan gadis itu dan membereskannya."
"Tidak perlu Xuan yang melakukannya."
"Maksud Tuan?" Tanya Kang Daniel yang tiba-tiba mengernyit saat melihat senyum smirk Tuan Chris.
"Selamat malam Ayah."
Sapa seorang pria yang baru saja memasuki Mansion tersebut dengan senyum manis di wajahnya.
"Selamat malam Tuan Muda Elard," Balas Kang Daniel membungkuk seraya memberi hormat pada Elard Cullen, anak bungsu dari keluarga Cullen.
Perlahan Tuan Chris beranjak dari duduknya dan langsung memeluk anak bungsunya yang selama ini berada di Kanada.
"Apa kabar Ayah?" Tanya Elard seraya membalas pelukan sang Ayah.
"Ayah Baik baik saja Nak,"
"Kak Emery apa kabar? Aku sudah sangat merindukannya," Tanya Elard lagi. Untuk sesaat suasana menjadi hening, baik Tuan Chris ataupun Kang Daniel yang masih terdiam dengan saling menatap.
"Apa dia baik Baik saja Ayah?" Tanya Elard sambil menatap ayahnya dan juga Kang Daniel secara bergantian.
"Kakakmu Baik baik saja." Jawab Tuan Chris santai.
"Aku akan menemuinya." Balas Elard yang langsung beranjak dari duduknya dan berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar kakaknya yang sudah hampir 7 tahun tidak di lihatnya.
Bahkan Elard tidak mengetahui sama sekali jika Kakanya Emery sudah menikah, semua itu sengaja di sembunyikan oleh Tuan Chris, sebab ia tau jika Elard tidak akan pernah menyetujui jika kakanya di jodohkan, apalagi dengan Alpha yang pada dasarnya sudah sangat di benci oleh Elard, karena sikap dingin dan kasar seorang Alpha Khandra bermarga Berta itu.
Kang Daniel menatap wajah Tuan Chris dengan penuh kekhawatiran, sedang Tuan Chris hanya terdiam dengan wajah yang terlihat biasa biasa saja, sambil menyesap winenya. Hingga 5 menit kemudian Elard kembali dengan wajah kecewa sambil membanting tubuhnya di sofa.
"Mana kakak? Apa dia keluar? Ini sudah jam berapa? Kenapa belum pulang juga, apa Ayah tidak memberitahu kakak sebelumnya jika aku akan pulang?" Tanya Elard dengan segala pertanyaannya.
"Kakakmu sudah pergi." Jawab Tuan Chris.
"Pergi?" Tanya Elard mengernyit.
"Dia bersama ibunya sekarang." Jawab Tuan Chris lagi yang kembali menyesap winenya.
"Ibu? Tapi... " Wajah Elard berubah pias mendengar jawaban sang Ayah yang tentunya sedang berbohong padanya.
"Bukankah Ayah tidak mengizinkan kami untuk bertemu Ibu? Bahkan kita sudah tidak tau kabar ibu sejak saat itu, ibu masih hidup atau tidak. Tapi kenapa sekarang kak Emery bersama ibu?" Tanya Elard kebingungan. Bahkan ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat ini.
"Itu pilihan kakak kamu, dia yang ingin bersama ibumu, ada apa? Apa kau keberatan?" Tanya Tuan Chris menatap wajah Elard yang hanya menggeleng pelan.
"Ah tidak Ayah.. " Balas Elard berusaha menyembunyikan kekecewaannya di hadapan sang Ayah.
"Kau tidak perlu memikirkan kakakmu, kau adalah ahli waris dan calon pemilik CALL KORP jadi Ayah sarankan, kau tidak perlu melakukan hal-hal bodoh yang seperti kakak kamu lakukan, kau ingatkan tujuan awalmu untuk pulang?" Tanya Tuan Chris.
"Tentu saja Ayah, untuk merebut BRT GRUP agar jatuh di tangan kita." Jawab Elard perlahan dengan nada suara yang terdengar lemas.
"Bagus, Ayah tau, hanya kau yang bisa Ayah Andalkan saat ini. Jika kita tidak bisa merebut BRT GRUP setidaknya kita bisa menghancurkannya." Balas Tuan Chris.
"Tapi Ayah, aku masih penasaran, kenapa Ayah begitu menginginkan BRT GRUP bukankah masih banyak perusahaan lain yang bisa Ayah ajak kerja sama?" Tanya Elard dengan segala rasa penasarannya.
"Kau tidak perlu tau, kau cukup melakukan tugasmu dengan baik." Jawab Tuan Chris yang sontak membuat Elard berdecak kesal.
"Tsk, kenapa aku tidak boleh tau? Bukankah BRT GRUP adalah perusahaan milik Almarhum Tuan Adley sahabat Ayah dulu?"
"Yah, kau benar, Ayah hanya tertarik dengan perusahaan itu, karena perusahaan itu milik almarhum sahabat Ayah, jika saja dia tidak berbuat curang, Ayah tidak mungkin ada niat untuk menghancurkan ataupun merebut perusahaannya." Jawab Tuan Chris tersenyum sambil menyesap winenya, yang hanya di balas gelengan kepala oleh Elard.
"Lalu kenapa harus aku yang membalas dendam, bukannya memaafkan Tuan Adley, dia kan sudah meninggal Ayah, meskipun kita tidak tau penyebab Tuan Adley yang meninggal secara tiba-tiba, tapi biar bagaimanapun dia kan sahabat Ayah." Balas Elard yang langsung menciptakan senyum kecil di wajah Ayahnya.
"Diamlah.. Kau cukup mengikuti perintah Ayah, ada hal yang tidak kau pahami, jadi sebaiknya kau tutup mulutmu itu." Balas Tuan Chris.
"Tsk dasar Singa Tua, semakin hari temperamen Ayah semakin buruk saja, aku capek Ayah, aku butuh tidur." Balas Elard yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
Sedang Tuan Chris hanya mengangguk perlahan sambil menatap punggung anaknya yang perlahan menghilang dari balik pintu.
"Apa rencana Anda selanjutnya Tuan?" Tanya Kang Daniel.
"Yang jelas rencanaku kali ini biar Elard yang menjalankannya, tapi kalian semua harus ingat, jangan sampai Elard mengetahui soal Emery dan pernikahannya, apa kalian paham?" Balas Tuan Chris.
"Iya Tuan. Saya akan memastikan Tuan Muda Elard tidak akan mengetahuinya sedikitpun."
"Bagus, kita tinggal akan menunggu berpindahnya perusahaan BRT GRUP di tangan kita" Balas Tuan Chris terbahak, sambil terus meneguk winenya hingga tandas.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.