
"Kau bohong, Ibu tidak akan mungkin menolaknya, tidak.. Kau bohong Lucas.. "
"Tapi itulah kenyataannya Starla, Ibu yang menolaknya,"
"TAPI KENAPA?" Teriak Starla dengan air matanya. "Dari dulu Ibu selalu menginginkan untuk sembuh agar bisa selalu menemaniku, tapi kenapa Ibu sendiri yang menolak operasi itu? KENAPA LUCAS?" Tanya Starla yang semakin terisak, terlalu banyak kenyataan yang membuatnya terluka, dan fakta kali ini sungguh membuat hatinya benar-benar hancur, sebab selama ini ia yang selalu mengira Ibunya meninggal disebabkan pihak lain yang sengaja melakukannya, malah menjadi terbalik, Ibunya lah yang menolak sembuh, Ibunya yang menolak operasi, dan Ibunya lah sendiri yang ingin meninggal.
Tapi kenapa Ibu.. Kenapa Ibu tega meninggalkanku sendirian, kenapa.. Apa karena aku sudah menyakiti hati Ibu? Apa karena aku sudah melakukan satu kesalahan besar..
"Aku sempat memohon kepada Ibu saat itu, agar mau melakukan Operasi, tapi.. Maaf.. Jika saat itu aku tidak bisa meyakinkan Ibu, maaf.. Aku telah gagal membujuk Ibu."
"Ini tidak benar.. Kau bohong Lucas.. Katakan ini tidak benar."
"Aku tidak berbohong Starla, bahkan dari dulu sampai saat ini sedikitpun aku tidak pernah membohongimu."
"Keluarkan aku dari sini," Pinta Starla.
"Izinkan aku untuk mengantarkanmu pulang Starla."
"Tidak perlu.. " Tolak Starla.
"Tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu Starla,"
"Kenapa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri? Apa kau yakin Ayahmu yang terhormat itu akan tinggal diam jika mengetahui anak kebanggaannya kembali berhubungan dengan gadis sepertiku,"
"Aku tidak perduli, aku... "
"Dari dulu kamu memang tidak pernah mau perduli, apa kau tidak tahu hancurnya aku selama ini karena ulah Ayahmu? Aku kehilangan semuanya Lucas, tidak ada yang tersisa dari hidupku, hanya satu yang aku syukuri saat ini, karena aku masih memiliki nyawa. Jadi aku minta, jika kau masih ingin melihatku bernafas, berhenti mengikutiku." Balas Starla seraya mengusap air matanya.
"Starla.. Aku tahu kau terluka, aku tahu semuanya, kau kehilangan Ibumu, kehilangan pekerjaanmu, bahkan juga harga dirimu, aku tahu, dan aku.."
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Starla dengan nada yang mulai meninggi.
"Aku akan mengembalikan semua yang pernah jadi milikmu, selaian Ibumu, aku bisa mengembalikan semuanya,"
"KAU TIDAK BISA MENGEMBALIKAN SEMUANYA LUCAS.. TIDAK BISA.. "
"Aku bisa Starla, asal kau percaya padaku, aku bisa mengembalikan semuanya,"
"AKU BAHKAN KEHILANGAN HAL YANG PALING BERHARGA DARI DIRIKU LUCAS, DAN SEMUA KARENA DIRIMU.. APA KAU TAU, AKU KEHILANGAN SESUATU YANG BERHARGA KARENA DIRIMU LUCAS ELFREDO.."
Teriak Starla histeris sambil memukuli tubuh Lucas berulang-ulang kali, sedang Lucas hanya bisa terdiam, masih mencoba mencerna kata-kata Starla barusan.
"JANGANN SENTUH AKU.. " Teriak Starla seraya mendorong tubuh Lucas saat tengah berusaha untuk memeluknya.
"Jangan pernah menyentuhku lagi, cukup Lucas..."
"Starla.. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu? Apa yang tidak aku ketahui? Starla.. KATAKAN PADAKU, APA YANG SUDAH MEREKA PERBUAT PADAMU." Tanya Lucas dengan nada meninggi seraya mencengkram kedua bahu Starla.
"LEPASKAN AKU... MENJAUH DARIKU... " Teriak Starla yang mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Lucas.
"Starla.. Apa mereka benar-benar melakukannya padamu?"
"Ada apa? Apa kau benar-benar ingin tahu bagaimana Ayahmu menghancurkan hidupku?"
"Katakan.. APA MEREKA BENAR-BENAR MELAKUKAN ITU PADAMU?"
"Lupakan.. "
"Starla... Bicaralah.."
"Jika kau terus memaksaku seperti ini, aku akan benar-benar menghilang dari hidupmu Lucas, aku bersumpah," Ancam Starla yang langsung membuat Lucas terdiam, hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya terlihat Lucas yang tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya, menghirup udara dan kembali mengeluarkannya dengan kasar.
"Baiklah.." Ucap Lucas yang langsung membuka kunci mobil dan membiarkan Starla keluar dari mobilnya, tatapannya nanar saat menatap punggung Starla yang sedikit berlari meninggalkannya, hingga bayangan Starla menghilang di balik kerumunan orang yang siang itu terlihat cukup ramai.
"Tidak mungkin, semoga apa yang aku pikirkan salah, tidak mungkin, Ayah tidak sejahat itu, tidak.." Gumam Lucas sambil mencengkram kuat roda kemudinya. Perkataan Starla benar-benar telah membuat Lucas merasakan kegelisahan juga ketakutan. Sebab, sekeras apapun ia berusaha meyakinkan dirinya jika Ayahnya tidak mungkin melakukan hal yang kotor seperti apa yang ada di dalam pikirannya sekarang, namun tetap saja perasaannya seolah menolak dan terus berfikir jika semua itu benar.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika semuanya benar.
Batin Lucas sambil terus menghantam kemudi mobilnya berulang kali untuk melampiaskan kemarahan.
* * * * *
* MANSION ALPHA KHANDRA.
"Kau pulang?"
"Hm.. "
"All.. Bisa kita berbincang sebentar?" Tanya Leon saat melihat Alpha yang terus berjalan menuju kamarnya tampa memperdulikan perkataan Leon.
"Starla akan pergi." Ucap Leon yang langsung menghentikan langkah kaki Alpha. Sambil berdiri tampa ekspresi, Alpha berbalik dengan tatapan tajam yang tertuju ke arah Leon yang masih duduk di sofa tidak jauh dari tempat Alpha berdiri saat ini.
"Benarkah?" Tanya Alpha yang terdengar dingin dan acuh, membuat Leon mengernyit dengan reaksi Alpha yang seolah tidak peduli sedikitpun.
"Benar,"
"Lalu?"
"Apa kau tidak akan menahannya untuk pergi?" Tanya Leon perlahan.
"Untuk apa?"
"Untuk mengucapkan selamat tinggal, dan...."
"Aku rasa itu tidak perlu."
"All.. apa kau serius? bukankah kau terlalu cuek?"
"Aku sangat serius, apa aku terlihat seperti sedang bermain-main sekarang?"
"Yah aku tahu, setidaknya temui dia, sebelum ia benar-benar pergi." Jawab Leon.
"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Alpha lagi dengan tatapan dinginnya, alih-alih menjawab pertanyaan Leon.
"Alpha.. Ada apa dengan pertanyaanmu itu?"
"Bukankah wajar jika aku bertanya seperti itu? dia yang tidak menginginkanku untuk berada di sampingnya, jadi kenapa aku harus menahannya untuk pergi?"
"All.. Tapi bukan berarti kau berhenti untuk memperdulikannya kan?"
"Dia yang menyuruhku untuk pergi Yoon, apa lagi yang kau ingin aku lakukan? Dia yang memohon agar aku menjauh darinya,"
"All.. Bisakah kau tidak bersikap egois?"
"Bukankan dia yang selalu bersikap egois? Hentikan Yoon.. dan mulai sekarang, aku tidak akan melakukan apapun lagi untuknya, maaf.. " Ucap Alpha yang langsung melanjutkan langkahnya menuju ke dalam kamarnya.
Di rebahkan tubuhnya di atas sebuah ranjang King zise yang tertutupi sprei berwarna biru navi, matanya menatap lekat langit-langit ruangan yang nampak terlihat remang, hanya sinar rembulan yang memantulkan cahanya lewat sela jendela yang tidak sepenuhnya di tutupi tirai. Dadanya kembali sesak dengan nafas yang mulai tercekik.
Aku hanya ingin kau bisa merasa tenang, jika kehadiranku benar-benar membuatmu merasa sesak, aku akan menjauh darimu, meskipun aku tahu, jika separuh hidupku akan ikut pergi bersamamu. Aku akan melepaskanmu, seperti apa yang kau inginkan
Alpha berusaha untuk memejamkan matanya, meski semuanya sia-sia. Sebab ia kembali merasakan gelisah juga rasa marah dan sedih yang kini bercampur aduk di dalam hatinya.
Aku benci karena masih selalu merindukanmu Starla, aku benci karena ternyata aku tidak bisa jauh darimu.
"ARRGGHHH... "
Teriak Alpha yang langsung menghambur semua barang-barang yang berada di dalam kamarnya, hingga membuat kamarnya benar-benar berantakan. Sedang Leon yang menyadari ada keributan di dalam kamar Alpha hanya bisa menarik nafas dalam. Sebab sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain diam.
"Baiklah.. Aku menyerah.. Tidak seharusnya aku ikut campur, kenapa aku harus masuk dalam masalah serumit ini," Gumam Leon yang terus mengusap kasar wajahnya.
"Aku butuh Champagne untuk menyegarkan otakku." Ucap Leon yang langsung beranjak dari duduknya, sambil meraih Hoodie dan topi untuk di kenakannya, Hingga tidak berlangsung lama mobil Sportnya sudah melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Mansion Alpha.
Di tengah perjalanan menuju sebuah Bar, Leon yang masih fokus dengan kemudinya tiba-tiba di kejutkan oleh suara dering ponsel.
"Bukankah ini sudah sangat malam, siapa lagi yang menghubungi di jam selarut ini." Gumam Leon yang dengan cepat meraih ponsel yang tidak sengaja ia letakkan di belakang kursi kemudi, hingga tampa ia sadari jika ada sebuah mobil yang tengah terparkir tidak jauh dari hadapannya sekarang, dan saat menyadari hal itu, dengan cepat Leon menginjam rem mobilnya sebelum ia berhasil mendapatkan ponselnya.
BRUUGHHH...
Suara keras yang berasa dari dua mobil yang saling bertabrakan terdengar cukup nyaring dan sontak mengejutkan Leon juga semua pejalan kaki yang berada di sekitar jalan tersebut. Untuk sesaat Leon terdiam sambil mengatur nafasnya.
"Syiitt... " Umpat Leon yang langsung keluar dari mobilnya untuk memeriksa separah apa keruskan pada mobilnya.
"Ternyata kau,"
Suara datar yang membuat Leon mengalihkan atensinya. Matanya tajam menatap sosok pria di hadapannya yang tengah menyedapkan tangannya di atas dada lebarnya dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya.
"Ahk sial.. Kenapa aku harus bertemu denganmu di sini," Balas Leon sambil menaikan lengan hoodienya sampai ke siku.
"Apa kau pikir aku senang bertemu denganmu? Bagus.. Bukankah kita masih punya urusan yang belum kita selesaikan?" Balas Lucas yang langsung melangkah menghampiri Leon yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Cih, apa kau masih belum bisa melupakan pukulanku? Hingga kau terus mengingatku?" Tanya Leon dengan seringainnya, hingga membuat Lucas merasa geram dan tampa basa basi langsung melepaskan satu pukulan ke wajah Leon yang langsung terhuyung kebelakang dengan tubuh yang menghantam mobilnya sendiri.
"Sialan, apa kau serius akan berduel denganku bangsat?" Tanya Leon yang dengan gerakan cepat langsung melepaskan satu pukulan keras yang tepat mengenai pelipis Lucas, pukulan yang cukup keras hingga membuat Lucas tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya, bahkan sebelum tubuhnya terjatuh, Leon kembali melepaskan satu pukulan keras yang mebuat Lucas benar-benar tersungkur di atas aspal.
"Anak manja sepertimu yang masih tunduk dan terus bersembunyi di bawah ketiak Ayahmu tidak akan pernah bisa melawan ku, sebaiknya kau berfikir sekali lagi sebelum bertindak bodoh, kau masih punya otak kan untuk berfikir sendiri? atau kau perlu bantuan Ayahmu juga Asistenmu? aku akan dengan senang hati memberimu kesempatan untuk menghubungi mereka." Ucap Leon sambil mengusap darah dari sudut bibirnya.
"Bajingan.. APA MAKSUD DARI PERKATAANMU BANGSAT." Teriak Lucas yang merasa tidak terima dengan perkataan Leon barusan.
"Kau.. Anak manja yang sudah menghancurkan hidup seorang gadis, apa kau belum menyadari kesalahanmu selama ini?" Balas Leon dengan emosinya yang langsung membuat Lucas terdiam.Mulutnya seolah terbungkam oleh kenyataan yang memang sepenuhnya benar.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat pendiam sekarang? Apa tidak ada hal ingin kau katakan sebagai pembelaanmu?" Tanya Leon saat melihat Lucas yang masih terdiam dengan nafas yang terlihat naik turun, dan sangat jelas terlihat jika saat ini Lucas tengah berusaha menahan amarahnya.
"Bukankah kau terlalu lancang, dan tidak seharusnya kau mengcampuri urusanku BANGSAT.." Teriak Lucas yang berusaha bangkit dan langsung menyerang Leon dengan satu pukulan yang tentunya tidak membuat Leon diam saja. Sebab pukulan itu kembali di balas oleh Leon, terus hingga perkelahian keduanya pun tidak bisa terhindarkan lagi, saling baku hantam hingga membuat wajah keduanya di penuhi luka memar. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar tempat tersebut tidak ada yang berani untuk menghampiri keduanya, mereka lebih memilih untuk terus berjalan seolah tidak melihat kejadian apapun di sana.
"Menurutmu apa yang tidak aku ketahui? Kau salah besar jika mengira aku tidak tahu apapun tentang penderitaan yang sudah Starla alami selama ini karena dirimu," Ucap Leon saat perkelahian mereka terhenti karena masing-masing sudah merasa lelah.
"Apa?"
"Tsk, kau bertanya padaku? Kenapa tiba-tiba saja aku merasa ingin membunuhmu, kau sudah membuatnya menderita dan kau masih bertanya?"
"........... "
"Ada apa? Bukankah kau terlalu banyak diam hari ini? Apa kau sudah tidak punya kata-kata lagi untuk di ucapkan?" Tanya Leon dengan seringainnya.
"Bahkan meskipun kau beribu-ribu kali mengucapkan kata maaf atas kesalahanmu padanya itu tidak akan bisa menghapus semua lukanya selama 10 tahun ini. Setidaknya jika kau merasa menyesal karena sudah menyakitinya, kau bisa menebus semua kesalahan dan penyesalanmu dengan cara melindunginya dari orang-orang terdekatmu yang ingin menghancurkannya. Meskipun kau harus melindunginya dengan nyawamu sendiri."
"......... "
"Dan satu lagi, berhentilah menjadi seorang pengecut, jika kau memang sudah tidak mampu melindunginya, sebaiknya kau lepaskan saja dia, jangan membuat hidupnya semakin menderita karena menanggung semua kesalahan yang kau lakukan." Ucap Leon seraya melangkah mundur sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Lucas.
"Tunggu.. "
Teriak Lucas yang langsung menghentikan langkah kaki Leon.
"Aku akan melindunginya, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkannya,"
"Apa kau yakin? Sekarang kau bisa berteriak sekeras-kerasnya jika kau akan melindunginya, apa kau yakin? Bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu? Apa kau yakin bisa mengatasi mereka?"
Ucap Leon yang langsung berjalan meninggalkan Lucas yang masih terdiam dengan wajah gelapnya dan langsung melangkah masuk kedalam mobilnya. Hingga dalam hitungan detik saja mobil Leon sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Lucas yang masih terdiam.
"ARRGGHHH.... " Teriak keras Lucas yang merasa prustasi.
Apa ini semua benar-benar kesalahanku? Bahkan aku tidak bisa memberikan apa yang kau butuhkan, Starla... Haruskah aku berhenti sampai di sini? Tetapi kenapa hatiku menolaknya.
Lucas melangkah masuk kedalam mobilnya. Dan langsung melajukan mobilnya dengan keadaan wajah yang penuh luka dan rasa sakit yang tidak sebanding dengan hatinya saat ini. Pikiran Lucas kembali menerawang, fokusnya tiba-tiba menjadi terbagi, dengan keras Lucas menginjak remaja mobilnya dan langsung berhenti begitu saja di pinggir sebuah jalan yang mulai terlihat sepi. Perlahan di raihnya ponsel yang berada di saku celananya dan menghubungi Asistennya Keano.
"Ken.. Jemput aku sekarang, kau tinggal menyalahkan GPS dan mencari posisiku sekarang."
"Baik Tuan muda,"
Jawab Keano dari sebrang sana, hingga panggilan telfon pun terputus. Lucas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya seraya memejam. Memikirkan kata-kata Leon, seorang yang tidak di kenalnya cukup membuat Lucas gelisah. Sebab jika ia memutuskan untuk melindungi Leon, berarti ia harus bersiap untuk melawan Ayahnya sendiri. Sebab satu-satunya orang yang paling menentang hubungan mereka hanyalah sang Ayah.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.