I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kau marah padaku?



"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Alpha untuk yang kesekian kalinya. Namun, hanya di balas gelengan pelan oleh Emery yang saat ini memang sangat tidak ingin memakan apa pun meski perutnya keroncongan, sebab rasa pening di kepala membuatnya enggan untuk beranjak dari pembaringan. Dan hal itulah yang membuat Alpha terus merasa khawatir selama beberapa hari ini.


Ia tidak pernah mengira jika Emery akan sedikit kepayahan dengan kehamilannya kali ini, karena terus mengalami mual dan muntah cukup parah, tak enak makan, dan sangat candu padanya. Emery tak ingin melepaskannya barang semenit pun. Sebab jika tak mencium aroma di tubuhnya Emery akan mual dan kembali muntah. Dan hal itulah yang membuat Alpha memutuskan untuk kerja di rumah, meski usia kehamilan sang istri sudah menginjak usia enam minggu.


Bahkan di tiap harinya Emery terus memakai kemeja kedodoran suaminya, kaos oblong oversize yang sudah di pake sang suami, juga apa pun yang berbau suaminya. Baik syal, mantel, juga pakaian dalam suaminya, bahkan ia sendiri tidak menyangkah jika akan separah ini, menjadi terobsesi pada aroma suaminya, hingga membuatnya terlihat seperti maniak gila.


"Oh aku bisa gila, kenapa aku tidak bisa melakukan apa pun tanpa ini," keluh Emery yang terus menghirup baju kaos suaminya yang di penuhi aroma yang menenangkan bagi si janin.


"Ini tidak akan lama, bersabarlah. Apakah kau tahu jika aku sangat bahagia, sebab kau terus menempel padaku, dan aku suka ini," balas Alpha tersenyum sambil terus mengusap rambut sang istri yang kini di peluknya.


"Tapi aku membuatmu jadi tak leluasa untuk bekerja. Maafkan aku."


"Sungguh tak masalah, Sayang. Aku benar-benar menikmati moment ini. Aku selalu berharap kau akan bergantung dan selalu membutuhkanku. Aku menginginkanmu yang selalu tak bisa tanpaku. Dan sangat ingin kau selalu memanfaatkanku sesukamu. Jadi jangan pernah meminta maaf untuk hal seperti ini."


"Umm,"


"Dan makanlah sesuatu, aku terus merasa cemas karena belum pernah melihatmu makan dengan lahap."


"Aku tidak menginginkan apa pun, All. Bahkan untuk mengingat semua jenis makanan saja sudah membuat perutku bergejolak. Aku rasa janin ini tak menginginkan apa pun selain aroma ayahnya."


Alpha mengusap perut sang istri seraya tersenyum sambil mendekatkan wajahnya di sana.


"Apa yang ingin kau makan? Daddy akan membelikannya untukmu. Setidaknya makanlah sedikit saja," tanya Alpha yang mulai mengajak sang janin berbicara meski belum saatnya. Sungguh satu hal lucu yang membuat Emery tak mampu menahan senyum.


"Sepertinya aku butuh susu hangat," jawab Emery sengaja mengubah suaranya hingga terdengar seperti anak kecil.


"Baiklah, Daddy akan membuatkan susu hangat yang spesial untumu," angguk Alpha mengecup perut rata Emery, berpindah di dahi, kedua pipi dan berakhir di bibir pucat itu, sebelum beranjak dan menggendong istrinya. Sebab tahu jika Emery tak bisa jauh darinya saat ini.


Melangkah keluar kamar menuju lantai satu tepat di ruang tengah. Mendudukan tubuh istrinya di atas sofa dan menyelimutinya. 


"Aku tidak akan lama," ucap Alpha yang hanya di balas anggukan oleh Emery. 


Bahkan hanya dalam waktu beberapa menit saja Alpha sudah kembali dengan segelas susu hangat di tangannya, dan membantu Emery untuk meminumnya. Seteguk, dua teguk, tiga teguk, sampai rasa mual kembali menyerangnya.


"Oh tidak, jangan sekarang," ucap Emery menutup mulut dengan kedua telapak tangannya hendak berdiri.


"A-ada apa? K-kau baik-baik saja ...."


Huueekk ....


Susu yang sudah berada di tenggorokan Emery tiba-tiba di muntahkan begitu saja. Sepertinya kali ini ia sedikit terlambat untuk memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.


"I am so sorry, " ucap Emery saat muntahannya tercecer di atas lantai, bahkan sedikit mengenai baju Alpha yang tengah duduk di hadapannya.


"It's okay baby. Aku baik-baik saja, ini hanya sedikit basah. Aromanya juga tak buruk," balas Alpha yang masih sempat menghibur, sebelum melepaskan bajunya dan membersihkan sisa muntahan di atas lantai.


"Ini buruk, aku tidak bisa memakan atau meminum apa pun," keluh Emery mengeluh prustasi sambil terus mengusap perutnya.


"Apa kita perlu ke dokter?" tanya Alpha mengusap rambut istrinya yang nampak berantakan. 


Bahkan sejak sang istri mengalami mengindam parah, Alpha sudah sangat mengkhawatirkan kondisi sang istri. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun sebab Emery yang selalu menolak untuk melakukan apa pun, dan hal tersebut cukup membuatnya Alpha prustasi karena tak ingin melihat sang istri kepayahan.


"Tapi kau membutuhkan dokter, Sayang. Kau tidak pernah makan dengan benar selama beberapa minggu ini," 


"Hanya untuk beberapa minggu, All. Jika usia kandunganku sudah menginjak 12 minggu, semua akan kembali normal, percayalah," balas Emery.


 Ia cukup banyak mengetahui tentang masa-masa mengidam di trimester satu sampai tiga lewat beberapa artikel di internet yang selalu di bacanya. Juga bantuan dari ibunya juga sang ibu mertua yang saat ini tidak berada di Verona. Dan hanya ada Alpha yang terus menjaganya, begitu juga dengan Varela yang selalu siap membantu jika Alpha memintanya. Selain itu Emery tak punya siapa pun untuk menemaninya. Hingga Leon terkadang menjadi tukang masak mereka jika sang janin menginginkan itu. Tak jarang juga Akirra merasakan lelahnya berkeliling kota Verona jika Emery tiba-tiba menginginkan makanan yang sangat susah untuk di dapatkan.


"Apa kau yakin?"


"Ya, ini tak akan berlangsung lama."


"Tapi aku benar-benar khawatir padamu, apa bayi kita tidak akan merasa kesakitan jika kau terus muntah? Atau mungkin dia akan kelaparan di sana jika kau tak makan, apa perlu menghubungi Leon untuk memasak sesuatu untukmu?"


"Hmm, sepertinya aku menginginkan masakan Yoon, tapi ...." 


Kalimat Emery mengambang, ia sedikit merindukan spaghetti. Bahkan ia diam-diam merindukan spaghetti buatan Daniel.


"Ada apa sayang?"


"Sebenarnya aku sangat ingin memakan spaghetti."


"Spaghetti?"


"Hmm,"


"Baiklah, aku akan membuatkan ...."


"Daniel,"


"D-daniel?"


"Aku menginginkan spaghetti buatan Daniel," balas Emery yang membuat Alpha melongo.


"A-apa? Tapi, kenapa mesti Daniel?"


"Entahlah, aku hanya menginginkan spaghetti buatan Daniel, maafkan aku," balas Emery dengan mata berkaca. 


Entah mengapa ia benar-benar menginginkan masakan Daniel sekarang. Bukankah itu aneh? Terlebih keinginannya jelas akan membuat Alpha sedikit terganggu, bahkan mungkin kesal.


"Kau marah padaku?" tanya Emery saat mendapati Alpha yang masih diam.


"Bagaimana aku bisa marah, aku hanya bingung. Bagaimana caranya, sedang Daniel tak di sini, lagi pula aku tidak suka jika kau memakan masakan Daneil,"


Emery terdiam dengan bibir terkatup, mata berkaca, dan memilih untuk memejam sebelum air matanya menitik. Dan melihat hal tersebut cukup membuat Alpha cemas dan serba salah. Mengusap seluruh wajah sambil mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.


"My cherry, bisakah Yoon saja yang memasakkan spaghetti itu untukmu, atau Akirra, Augusto juga bisa, atau Axel ...."


"Tidak. Aku hanya menginginkan spaghetti buatan Daniel," potong Emery yang masih meringkuk dengan mata memejam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengan yang ia tekuk.


***