
"Maaf, maksud Anda?"
"Apa kau tidak merasa jika wanita itu nampak familiar?"
"Maksud Anda jika, Nona Gizelle Feit terlihat seperti nona ...."
Bahkan Darren tak berani melanjutkan kalimatnya, takut akan membuat Alpha tak nyaman jika harus menyebut nama 'Starla' gadis yang pernah menjadi kekasih Alpha.
"Ya, kau benar. Apa kau tidak merasa demikian?"
"Tapi, mereka berbeda, Tuan. Secara fisik, aku juga merasa jika mereka sedikit memiliki persamaan, tapi ...."
"Yes I know, mereka hanya mirip," potong Alpha kembali mengalihkan pandangan keluar jendela mobil.
"Sepertinya ada sesuatu yang membuat Anda khawatir," sambung Darren yang sudah sejak tadi memperhatikan Alpha.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak apa-apa," balas Alpha menarik nafas panjang dan terlihat memejam.
Sebenarnya Darren sangat tahu, jika saat ini perasaan Alpha sedang tidak baik, bahkan sejak awal Jackob Sean mengungkit nama Emery di hadapannya. Dan sangat jelas terlihat jika pria itu sudah lama mengenal Emery, bahkan menjadikan istri Alpha itu targetnya. Dan mungkin wanita yang sudah lama ia sukai. Hal itu jelas membuat Alpha sangat terganggu hingga merasa kesal dan marah.
Empat puluh menit berlalu, saat mobil memasuki halaman mansion dan terparkir tepat di depan pintu utama yang di sana bahkan sudah nampak sosok Emery yang sudah berdiri menunggu. Sedang Alpha masih terdiam, sesaat menatap sang istri dari balik kaca mobil, sebelum akhirnya tangannya meraih pintu mobil untuk di bukanya sendiri, tanpa menunggu Darren.
Dengan langkah lebarnya, Alpha yang tanpa babibu, langsung memeluk erat tubuh sang istri yang hanya berdiri pasrah, bahkan Emery sempat melirik Darren dan Augusto secara bergantian, seperti isyarat untuk menanyakan apa yang sudah terjadi dengan suaminya saat ini. Namun, Darren hanya mengedikkan bahunya tanpa mengeluarkan satu kata pun, begitu juga dengan Augusto yang hanya terdiam enggan berkomentar.
"Dari mana saja?" tanya Emery yang masih berada di dalam pelukan erat suaminya.
"Di satu tempat," bisik Alpha menggendong tubuh istrinya seperti bayi koala dan langsung melangkah masuk ke dalam. "Apa kau sudah makan?" sambungnya dengan satu pertanyaan, terus melangkah dengan Darren dan Augusto yang masih mengikuti dari belakang.
"Belum, aku menunggumu."
"Kau tak lapar?"
"Hmm,"
"Kenapa kau tak makan terlebih dulu?"
"Aku menunggumu," balas Emery, membenamkan wajahnya di ceruk leher Alpha dan sedikit mengecupnya.
"Haruskah kita bercinta dengan perut kosong sekarang?" tanya Alpha saat Emery terus menggodanya dengan kecupan-kecupan lembut di lehernya, menghirup aroma rambut Alpha yang sangat ia sukai.
"Tidak, kita makan sekarang," balas Emery, sadar jika apa yang ia lakukan sudah mengacaukan pikiran suaminya.
"Kau yakin?"
"Tentu saja, Ibu dan Yoon sudah menunggu, kita akan makan malam bersama," balas Emery segera menjauhkan wajahnya dari ceruk leher sang suami, sebelum suaminya membelok dan menggiringnya di atas ranjang. Sedang saat ini perutnya sudah sangat keroncongan.
"Akhirnya kalian datang juga," sahut Leon yang tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Hingga membuat Allen yang tidak mengetahui apa pun, nampak mengernyit.
"All, kalian dari mana saja?" tanya Allen mengalihkan pandangannya ke arah Alpha yang masih menggendong tubuh sang istri.
"Aku memiliki sedikit urusan, tapi Ibu tak perlu khawatir. Karena aku sudah menyelesaikan semuanya," jawab Alpha, mendudukkan tubuh istrinya di atas kursi, menyusul dirinya. "Duduklah. Kita akan makan malam bersama, sambil menunggu Axel," sambungnya kepada Darren, Augusto, juga Akirra.
"Ya, Tuan," angguk Darren mewakili mereka, yang langsung duduk di kursi meja makan yang berukuran cukup besar dengan 12 kursi yang terlihat mewah.
Bahkan belum sempat memulai untuk makan malam, Axel sudah terlihat di sana, melangkah menghampirimu mereka.
Hingga makan malam pun di mulai tanpa ada obrolan serius dari mereka, hanya ada obrolan ringan yang terdengar, serta candaan yang membuat suasana makan malam keluarga Berta menjadi hangat dan akrab. Suasana seperti inilah yang sangat dirindukan oleh Allen selama ini, begitu juga dengan Emery yang saat ini sedang merasakan kesedihan, sebab sang ibu yang akan kembali ke Thailand dan mungkin akan menetap di sana.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Alpha saat menyadari jika sejak tadi sang istri nampak terlihat tidak fokus dengan makannya. Bahkan ia hanya terus mengaduk soupnya dan memakan dua suapan saja.
"Aku tak memikirkan apa pun," balas Emery mengulas senyum, berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya di hadapan sang suami.
"Kau yakin?" tanya Alpha mengusap rambut sang istri, sebelum mengambil mangkuk soup yang terletak di depan Emery dan mulai mengangkat sendoknya. "Makanlah, aku akan menyuappimu," sambungnya menyodorkan sendok berisi soup ke depan mulut Emery yang bahkan langsung membuka mulut, hingga beberapa kali suapan sampai mangkuknya terlihat kosong.
Sedang di tempat yang berbeda. Tepatnya di kota NEW ORLEANS (AMERIKA SERIKAT)
Terlihat Daniel yang sedang memarkirkan mobilnya tepat di sebuah caffee yang terletak di pinggiran kota Philadelphia dengan suasana yang tak begitu ramai, bahkan di sana ia menjadi seorang pengunjung satu-satunya, selain para pelayan wanita juga beberapa pria berwajah sangar yang di ketahui adalah beberapa kaki tangan dari Jackob Sean.
Daniel melangkah dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya dan pemantik yang terbuat dari besi putih yang ia nyalakan untuk menyulutnya, hingga langkah kakinya berhenti di sebuah meja yang di sana sudah terlihat Jackob Sean yang tengah duduk menyeringai dengan segelas sampanye di tangannya.
Menghembuskan asap rokoknya dengan perlahan, sebelum duduk di sebuah kursi yang sudah di siapkan, Daniel kembali menghisapnya hingga beberapa kali sebelum merematnya di dalam asbak.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Jackob," ucap Daniel menyenderkan tubuh di sandaran kursi dengan senyum terulas di wajahnya.
"Tidak masalah brothers, aku sudah terbiasa menunggu. Kau tidak perlu sungkan. Aku senang karena kau adalah orang yang aku tunggu," balas Jackob Sean tersenyum miring sambil meletakkan gelas sampanye di atas meja.
"Terima kasih. Senang mendengarnya. Aku dengar kau baru saja tiba dari Gaillac semalam."
"Ya, berita cukup cepat menyebar. Aku bahkan belum menginjakkan kaki di rumah. Dan langsung menemuimu di sini, ada apa?" tanya Jackob Sean.
"Aku dengar kau sedang menargetkan seseorang di Gaillac," balas Daniel tanpa basa basi.
"Ya, kau benar. Ada apa? Kau terlihat khawatir brothers, apa mungkin kau mengira jika aku sedang menargetkan orang terdekatmu?"
"Aku harap kau tidak menargetkan keluarga Berta."
Satu alis Jackob Sean nampak terangkat ke atas dengan lidah yang bergerak di dalam mulutnya, hingga terlihat jelas di sebelah pipinya. Sbeleum terlihat mengangguk pelan.
"Berta, yah ... kau benar. Aku memang sedang menargetkan keluarga Berta," balas Jackob Sean terang-terangan sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, sambil meneguk sampanye-nya.
"Kau bisa memberitahuku, masalah apa yang sudah di buat oleh keluarga Berta, hingga membuatmu sampai menargetkan mereka?"
"Setidaknya berikan aku satu alasan, kenapa aku harus memberitahumu tentang buruanku, Daniel?" balas Jackob Sean dengan satu pertanyaan, sambil menangkup dagunya di atas meja.
"Aku hanya tidak ingin kau menargetkan keluarga Berta, terutama menantu keluarga Berta," balas Daniel yang membuat alis Jackob Sean mengernyit, dan kembali meneguk sampanye-nya saat mendengar perkataan Daniel tentang menantu keluarga Berta yang tak lain adalah Emery Cullen.
"Ya, aku hampir lupa jika kau pernah menjadi pengawal pribadi paman Chris. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa melepaskan mereka begitu saja brothers,"
"Kau akan melakukannya, Jackob."
"Kenapa aku harus mendengarkanmu? Aku memiliki urusan dengan Alpha Khandra."
"Lalu?"
"Aku menginginkan Emery."
***