
Tubuh Alpha Khandra tiba-tiba terasa kaku dengan nafas yang terasa tercekik saat pandangannya tertuju pada sosok tubuh yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Alpha Khandra mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras saat melihat kondisi Edrea yang masih terbaring dengan nafas yang terdengar pelan. Dengan perlahan, Alpha melangkahkan kakinya mendekati ranjang pasien Edrea, sambil terus mengamati kondisi Edrea yang dari kepala, wajah hingga tubuhnya di penuhi luka lebam juga luka lecet, bahkan pandangan Alpha juga teralih pada sebuah ventilator, satu satunya alat untuk membuat jantung Edrea tetap berdetak hingga saat ini.
Entah sejak kapan, tiba-tiba Alpha merasakan sesuatu yang menusuk di dalam hatinya, perasaan sakit sungguh membuatnya sesak, hingga berganti dengan rasa amarah yang kini sudah memenuhi hati dan pikirannya, juga rasa sedih dan ketakutan yang mendalam hingga membuat matanya berkaca. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Alpha meraih telapak tangan Edrea, tangan yang masih terasa hangat, juga tangan yang membuat Alpha seolah ingin terus menggenggamnya, berharap dengan genggaman itu bisa mengurangi rasa sakit yang kini di rasakan Edrea. Meskipun ia sadar jika hal itu tidak akan pernah mungkin.
Maafkan aku, kau terluka karena aku, seharusnya saat itu kau tidak melakukannya, seharusnya kau melihatnya saja, dasar gadis bodoh.. seharusnya aku yang terbaring di sini, bukannya dirimu,
Batin Alpha yang terus menatap wajah Edrea yang sepertinya masih betah untuk memejam di sana, bahkan tidak ada respon sedikitpun dari Edrea, meskipun hanya menggerakkan jemarinya. Dan hal itu semakin membuat Alpha merasa semakin takut. Hingga membuat tubuhnya bergetar karena menahan air matanya. Entah perasaan apa yang di rasakan Alpha saat ini, yang jelas ia benar-benar merasa kalut, hingga rasanya ingin berteriak sekuat-kuatnya untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya. Apalagi di saat ingatan Alpha kembali tertuju pada kenangan malam sebelumnya, malam yang di mana ia masih melihat Edrea tersenyum dan tertawa dengan sangat bahagia, berbicara dengan tidak ada hentinya, dan bernyanyi kecil saat sedang kelelahan dengan alat pelnya. Tapi lihatlah sekarang, bahkan hanya untuk menggerakkan telunjuknya saja gadis itu sudah tidak bisa lagi.
Bukan hanya Alpha yang sedang merasakan sakit saat ini, tetapi Dareen juga, dan pemandangan di hadapannya sangat membuat Dareen terhenyak, di mana untuk pertama kalinya selama 15 tahun ia bersama Alpha, baru kali ini ia melihat presdirnya dengan mata berkaca, wajah merah dengan graham yang menyatu, sangat terlihat jelas di mata Dareen, jika saat ini presdirnya sedang berusaha menahan air matanya.
Apa anda benar-benar menyukai gadis itu? Aku bahkan tidak pernah melihat anda seperti ini sebelumnya. Anda yang tidak pernah mengeluarkan air mata selama ini, Anda yang tidak pernah merasa peduli sampai sebesar ini ke pada seseorang, tapi sekarang aku bisa melihat semuanya, Anda bahkan rela duduk seharian untuk menemaninya, dan tidak memikirkan kesehatan Anda sendri.
Dareen yang masih mengamati Alpha akhirnya bangkit dari duduknya sambil melangkah pelan mendekati Alpha yang masih terdiam di sebuah kursi dekat ranjang Edrea sambil menggenggam tangan gadis itu erat.
"Tuan muda, dia akan baik baik saja." Ucap Dareen perlahan.
"Bagaimana kau bisa yakin jika dia akan baik baik saja Dareen? Lihatlah dia sekarang, bahkan ia tidak bergerak sedikitpun." Balas Alpha yang masih menatap wajah pucat Edrea, tampa berniat mengalihkan pandangannya sedikitpun pada gadis itu.
"Iya Tuan, tapi saya percaya, dia akan segera bangun, sebab yang saya ketahui, Nona Edrea adalah gadis yang kuat, kita hanya perlu mendo'akan keselamatannya."
"Tapi bagaimana jika dia tidak bangun juga?" Balas Alpha yang untuk pertama kalinya ia mulai berfikiran nagatif. Ia bahkan tidak yakin dengan keinginannya sendiri yang berharap gadis itu bisa bangun dan kembali tertawa seperti sebelumnya.
"Dia pasti akan segera bangun Tuan." Ucap Dareen yang masih berusaha untuk meyakinkan Alpha yang sudah terlihat nampak putus asa.
"Semoga saja." Gumam Alpha yang semakin erat menggenggam telapak tangan Edrea.
"Saya sudah mengerahkan beberapa orang kita untuk menjaga kamar Nona Edrea Tuan, jadi anda tidak perlu khawatir." Lanjut Dareen yang hanya di balas anggukan pelan oleh Alpha.
"Aku serahkan semuanya padamu."
"Iya Tuan,"
"Dan soal CALL KORP apa kau sudah membereskannya?" Tanya Alpha yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dareen yang tiba-tiba terlihat gelisah.
"Maaf Tuan, kalau Anda berkenan mendengar saran saya, sebaiknya kita tunda dulu rencana kita untuk merebut saham dan menjatuhkan CALL KORP."
"Apa?"
"Ini hanya untuk sementara Tuan,"
"Apa maksudmu?"
"Kita tunggu sampai situasi membaik, jika kita memaksa untuk mengambil CALL KORP sekarang juga, saya khawatir, tindakan kita akan berdampak buruk pada Nona Edrea, sebab bukankah Nona Edrea masih memiliki seorang ibu? Saya hanya takut, jika Tuan Chris kembali menyakiti ibu dari Nona Edrea." Jelas Dareen.
"Apa kau merasa takut sekarang?" Tanya Alpha yang sepertinya sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.
"Tentu saja tidak Tuan Muda, kita bisa saja melindungi ibu dari gadis itu agar aman dari jangakauan tuan Chris dan orang-orangnya, tapi masalahnya sekarang ibunya menghilang." Jawab Dareen yang membuat Alpha terkejut.
"Menghilang? Maksudnya?"
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja untuk menyembunyikan Ibu Nona Edrea, itulah kekhawatiran saya tuan, sebab sampai saat ini kita belum mengetahui, siapa dan di mana Ibu Nona Edrea sekarang, bukankah tuan tau sendiri dengan riwayat penyakit Ibunya yang tidak memungkinkan untuk keluar seorang diri."
"Apa kau berfikir jika Chris yang membawanya pergi?"
"Ini masih dugaan saya tuan, dan semoga saja tidak."
"Aakkhh sial.. " Umpat Alpha merasa jengah.
"Dan semoga saja tuan Chris belum mengetahui jika sebenarnya anda sudah tahu bahwa dialah dalang dari pembunuhan.." Dareen yang sepertinya sadar jika tidak seharusnya ia mengungkit masa lalu Alpha langsung menghentikan kalimatnya.
"Aku tau, aku akan lebih berhati-hati lagi mulai sekarang," Balas Alpha perlahan.
"Maaf Tuan, bukan maksud saya untuk mengingatkan Anda pada kejadian dulu," Ucap Dareen merasa menyesal saat melihat ekspresi Alpha yang tiba-tiba berubah.
"Tenang saja, meskipun kau tidak mengingatkannya, aku masih selalu mengingat kejadian itu tiap malam."
"Ma.. Maaf Tuan"
"Ng" Jawab Alpha singkat dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Edrea, menatap wajah gadis itu lekat. Dengan perlahan Alpha mengusap kepala gadis itu yang masih terbungkus perban.
Seketika perasaan aneh tiba-tiba muncul di hati Alpha yang sangat ingin memeluk tubuh gadis itu. Hingga perasaan sedih kembali menyelimutinya.
"Aku butuh udara segar."
"Iya Tuan, biar saya yang mengawasi Nona Edrea di sini,"
"Hm.. hubungi aku secepatnya jika terjadi sesuatu." Balas Alpha yang langsung beranjak dari duduknya sambil merapikan selimut gadis itu, dan langsung melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut dengan pengawasan penuh oleh beberapa bodyguardnya.
Hingga langkah Alpha terhenti saat pintu ruangan VVIP yang tepat berada di samping kamar yang baru saja ia kunjungi terbuka, dan menampakkan sosok Emery di depan pintu yang sepertinya hendak keluar sambil memegangi botol impusnya.
Alpha..
Terlihat jelas keterkejutan di wajah pucat Emery saat ia nyaris saja menabrak tubuh tegap yang sekarang tengah berdiri tepat di hadapannya, namun tidak dengan Alpha yang masih menatapnya dengan tatapan dingin, bahkan tatapan itu semakin tajam menusuk hingga ke jantung Emery yang hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Kau masih hidup?"
Pertanyaan Alpha yang membuat Emery seketika mematung dengan nafas yang tercekik, bahkan jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. Dengan keras Emery meremat ujung baju pasiennya, berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan Alpha yang masih menatapnya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku Hoodienya. Bahkan Emery bisa merasakan jika saat ini sudut bibir Alpha melengkung ke atas membentuk senyum smirk yang membuat Emery hanya bisa menarik nafas dalam.
Balas Alpha melanjutkan langkahnya yang di ikuti oleh kedua bodyguardnya meninggalkan Emery yang masih mematung di tempatnya, dengan air mata yang mulus keluar dari sudut matanya.
Maaf jika aku kembali mengecewakanmu,
Tubuhnya Emery merosot kebawah, dengan kedua tangan yang menumpu ke atas lantai dingin untuk menahan tubuhnya agar tidak terbaring ke lantai dingin tersebut. Emery mulai terisak dan dengan keras menarik selang infusnya yang masih menempel di punggung tangannya hingga mengeluarkan banyak darah.
Sementara Areta yang sejak tadi sedang merebahkan kepalanya di pinggiran tempat tidur Emery tiba-tiba tersentak kaget saat ia mendengar isak tangis Emery yang samar di luar sana. Sambil berlari kecil Areta menghampiri Emery yang masih terisak dengan darah yang masih terus keluar dari punggung tangannya.
"Astaga Nyonya, apa yang sedang anda lakukan di sini?" Tanya Areta panik sambil memapah tubuh Emery dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Saya akan memanggil Dokter Wil sekarang juga," Ucap Areta panik dan langsung melangkahkan kakinya. Namun langkah Areta tiba-tiba terhenti saat Emery menarik tangan Areta.
"Tidak perlu." Ucap Emery yang masih mencengkram lengan Areta.
"Tapi nyonya, tangan Anda.. "
"Saya baik baik saja Bibi Reta." Ucap Emery.
"Nyonya saya mohon.. "
"Bibi, saya akan tidur sekarang, sebaiknya Bibi Reta juga istirahat."
"Nyonya." Seru Areta saat melihat Emery meraih selimutnya, bahkan tampa mendengarkan ucapan dari Areta,
Sudah cukup.. berhenti mengkhawatirkanku. aku akan baik-baik saja, mulai saat ini.
Emery meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Semua akan berakhir..
Kyung tau, jika saat ini Emery tengah menangis dalam diam, namun apa lagi yang bisa ia lakukan, jika Emery sudah tidak ingin mendengarkan ucapannya lagi.
* * * * *
* MANSION CHRIS CULLEN.
"HAHAHAHAHAHA.... "
Tawa Tuan Chris terdengar memenuhi ruangan tersebut, raut bahagia tergambar jelas di wajahnya yang saat ini sedang menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa sambil menenggak wine di tangannya.
"Semoga kau puas dengan karyaku anak sialan." Ucap Tuan Chris dengan senyum smirknya yang terlihat penuh dengan kepuasan.
"Tuan, semalam Nona Emery sudah sadarkan diri." Ucap Kang Daniel perlahan.
"Bagus, bukankah sudah seharusnya dia segera bangun,"
"Tapi masalahnya gadis itu juga di rawat di rumah sakit yang sama di mana tempat Nona Emery di rawat." Balas Kang Daniel yang membuat Tuan Chris terkejut.
"Apa?"
"Tuan Alpha menemukan gadis itu, dan langsung membawanya kesana, bahkan di tangani oleh Dokter Wilfreed langsung."
"SIAL.. Apa Emery mengetahui hal itu?" Tanya Tuan Chris dengan wajah yang tiba-tiba berubah gelap.
"Cepat atau lambat pasti Nona muda akan mengetahuinya, Di tambah lagi selama Nona Emery di rawat di sana, bahkan sekalipun Tuan Alpha tidak pernah menjenguknya."
PRAAANNG..
Dengan keras Tuan Chris melemparkan gelasnya yang berisi wine ke lantai keramik hingga gelas itu hancur berkeping-keping.
"Anak itu benar-benar membuatku geram sekarang." Ucap Tuan Chris beranjak dari duduknya dan lansung berjalan keluar dengan langkah lebarnya.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ucap Tuan Chris yang di susul oleh Kang Daniel dan beberapa bodyguardnya.
* * * * *
Dengan di kawal beberapa bodyguard dan asistennya, Tuan Chris turun dari mobilnya dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah sakit yang di mana putrinya sedang di rawat sekarang.
Suasana tegang dan dingin tiba-tiba terasa sangat kental dan menakutkan di lantai 10 depan kamar VVIP yang dimana di sana juga telah berdiri beberapa bodyguard dan Asisten Alpha yang masing-masing sudah menunjukan tatapan tajam dan dingin yang jika di lihat sekarang, tatapan mereka sudah seperti segerombolan harimau yang sedang mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Begitupula dengan Dareen dan Kang Daniel yang sudah menampakkan aura mematikan di antara mereka, dengan tatapan yang saling mengintimidasi, seolah sedang menunjukkan kekuatan masing-masing.
Seolah sudah mengetahui kedatangan Tuan Chris, Bodyguard Alpha saling berpencar tampa aba-aba, dua orang di antara mereka menjaga pintu kamar Edrea, dan sisanya berdiri di samping Alpha.
Sedang Alpha yang sudah sejak tadi merasakan kedatangan sang pembunuh orang tuanya masih duduk santai di jejeran kursi depan kamar VVIP tempat di mana Edrea berbaring sekarang. Pria Berta itu mulai tersenyum di balik maskernya yang jika di lihat langsung oleh orang-orang, senyum Alpha saat ini sangatlah menakutkan, lengkap dengan tatapan elangnya yang seolah siap untuk menerkam mangsanya. Dengan sekuat tenaga, Alpha berusaha mengatur perasaan dan keinginannya yang sangat ingin menempatkan pistol dan menarik pelatuknya tepat di kepala pria yang sudah sangat lama di bencinya, pria yang kini tepat berada di sampingnya dengan senyum smirknya. Alpha hanya berharap kali ini agar Tuhan bisa memberikan kesabaran ekstra agar pistol yang sejak tadi terselip di punggung balik baju kaosnya tidak berpindah tempat.
Bahkan kenangan 26 silam lalu kembali memenuhi ingatan Alpha saat melihat tatapan mata Tuan Chris yang masih Sama dan tidak berubah sedikitpun.
Ayah.. apakah semuanya akan terbayar jika aku mebunuhnya sekarang? apakah mimpi burukku selama ini akan hilang jika aku sudah melenyapkan nyawa orang ini?
Dengan perlahan Alpha menyelipkan tangan kanannya di balik kaosnya dan memegang sebuah benda yang sejak tadi terselip di punggungnya, memegangnya erat dengan tatapan tajam yang ia tujukan ke pada Tuan Chris yang juga tengah menatapnya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.