I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kembali bertemu.



* SEOUL KOREA.


* PERUSAHAAN BRT GRUP.


"Selamat datang Tuan muda."


Sapa Dareen yang langsung membungkuk memberi hormat, begitupun dengan semua Karyawan BRT GROUP yang sudah menunggu di loby untuk menyambut dan memberikan penghormatan mereka kepada pimpinan tertinggi di Perusahaan tersebut. Begitupun dengan keempat bodyguard Alpha Khandra yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung berjalan mengikuti langkah Alpha menuju sebuah Lift khusus untuk menuju ke ruangannya.


"Saya sudah menjadwalkan pertemuan anda dengan pimpinan Perusahaan EFR GROUP pukul 1 siang ini Tuan. tapi jika anda masih lelah, saya bisa menundanya di lain waktu." Ucap Dareen.


"Tidak perlu, bukankah lebih cepat lebih baik."


"Baik Tuan," Jawab Dareen yang hanya mengangguk, seharusnya ia tidak melupakan sikap dari Presdirnya, yang tidak akan pernah melakukan hal tersebut, apapun alasannya.


"Dareen,"


"Iya Tuan muda."


"Aku melihat Edrea pada gadis lain." Ucap Alpha seraya menatap sebuah bingkai yang di sana terdapat foto Edrea yang masih bertengger rapi di atas meja kerjanya.


"Apa? Maksud Tuan?"


"Gadis yang aku kenal di Jerman, dia memiliki banyak kesamaan dengan Edrea." Ucap Alpha seraya menyandarkan tubuh lelahnya di sebuah sandaran kursi kerjanya sambil memejam. Ingatannya kembali tertuju kepada sosok Starla yang diam-diam sudah memenuhi pikirannya saat ini. Bahkan Alpha juga tidak dapat memungkiri hatinya, jika saat ini Ia cukup merindukan gadis itu, meskipun Ia belum sepenuhnya mengerti dengan perasaan yang Ia rasakan untuk gadis itu.


"Apa mungkin gadis itu menaruh hati pada anda?"


"Hm.."


"Lalu, bagaimana dengan anda sendiri?" Tanya Dareen dengan rasa penasarannya.


"Entahlah.. Mungkin perasaan yang aku rasakan hanya sebatas ketertarikan seorang kakak saja kepada adiknya." Jawab Alpha penuh dengan kebimbangan.


"Tapi gadis itu bukan Edrea,"


"Aku tahu, bahkan Yoon juga mengatakan hal yang sama."


"Memang benar, karena itulah kenyataannya, anda tidak bisa menyamakan keduanya, karena mereka adalah orang yang berbeda."


Jawaban Dareen yang membuat Alpha terbungkam untuk sesaat dengan tarikkan nafas dalam. Kini ia merasa sangat kebingungan, ada yang berbeda dari perasaannya saat merindukan Starla, dan Ia bisa merasakan jantungnya berdebar saat wajah dengan senyum yang manis milik Starla terlintas di dalam pikirannya.


"Mungkin Tuan muda sudah mulai jatuh cinta pada gadis itu," Tebak Dareen.


"Jangan sok tahu kamu." Bantah Alpha dengan sikap keras kepalanya.


"Tapi menurut buku yang saya baca..."


"Persetan dengan buku bodohmu itu," Balas Alpha kembali memejamkan matanya.


"Tapi buku itu.."


"Yah.. Aku tahu, kau selalu menganggap buku itu benar, tapi sampai sekarang kau masih melajang, apa kau akan berniat menjomblo sampai tua?" Ucap Alpha yang membuat ekspresi Dareen menjadi berubah.


"Aish, tidak seperti itu Tuan, saya hanya belum menginginkannya." Balas Dareen dengan berbagai macam alasan.


"Tsk, jawaban yang selalu sama, mungkin jika saat itu kau ikut bersama Wil keliling untuk keliling dunia, bisa jadi saat ini kau sudah mendapatkan jodoh."


"Tapi saya lebih nyaman bersama anda di sini Tuan muda, suatu saat mungkin saya juga akan memiliki pasangan hidup, tapi di saat anda sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak." Balas Dareen santai yang membuat Alpha tersedak, bahkan ia sendiri belum sampai memikirkan sampai ke arah sana, sebab Istri dan seorang anak masih sangat jauh dari pikiran Alpha, meskipun sang Ibu sudah sangat menginginkannya untuk menikah lagi. Selama ini Alpha memang enggan memikirkan soal pernikahan, sejak perceraiannya dengan Emery, Ia benar-benar tidak ingin memulai hidup baru lagi dengan seorang wanita manapun, dan hal itu memang berhasil, membangun sebuah tembok kokoh untuk membentengi dirinya sendiri, namun sampai pada akhirnya benteng kokoh itu perlahan mulai runtuh, kini hidup dan perasaannya kembali terusik oleh hadirnya seorang wanita bernama Starla.


"Dareen, kau tidak perlu menunggu sampai aku menikah, kau boleh berhubungan dengan siapapun yang kau sukai mulai saat ini"


"Sayangnya saya belum mendapatkan wanita tersebut Tuan," Balas Dareen.


"Tsk, bukankah kau selalu mengandalkan buku mu itu?"


"Iya, tapi kadang isi dari buku tersebut tidak sesuai dengan harapan kita Tuan muda,"


"Lalu kenapa kau menawarkannya untukku? bahkan selalu menyarankanku untuk mengikuti petunjuk buku anehmu itu?" Tanya Alpha yang membuat Dareen gugup.


"Saya hanya mencoba, mungkin saja dengan Tuan itu bisa berbeda." Jawab Dareen asal.


"Jadi kau sedang melakukan sebuah percobaan denganku?"


"Ah tidak seperti itu Tuan,"


"Baiklah.. Sepertinya sudah waktunya."


Balas Alpha yang langsung mengakhiri perdebatan kecil mereka setelah puas bermain-main dengan Dareen, sambil melihat jam yang melingkar di lengannya, Alpha beranjak dari duduknya dan langsung melangkah keluar ruangan yang di susul oleh Dareen dan juga keempat Bodyguardnya yang selalu stanby di depan pintu ruang kerjanya.


* * * * *


Hingga mobil Alphard hitam milik Alpha terparkir di sebuah Restaurant mewah, tempat yang Dareen pilih untuk melakukan pertemuan dengan pimpinan EFR GROUP sesuai jadwal yang telah di sepakati.


Alpha yang di kawal kedua Bodyguardnya memasuki Restaurant tersebut, yang sepertinya di sana sudah ada yang tengah menunggunya. Sebab ia dapat melihat satu sosok yang terlihat berbeda dari pengujung lain di Restaurant tersebut. Sosok yang sedang duduk dengan tatapan dingin juga terlihat angkuh, dengan kedua Bodyguardnya yang juga sedang berdiri tepat di belakangnya, hingga Asisten dari pria Elfredo tersebut berdiri menyambut kedatangan Alpha Khandra dan Dareen dengan senyuman ramah.


"Selamat siang Tuan Alpha Khandra,"


Sapa Keano Favian, Asisten dari Lucas Elfredo sambil membungkuk memberikan hormat. Begitupun dengan pria dingin yang sejak tadi duduk sambil mengamati Alpha yang akhirnya ikut berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah Alpha.


"Perkenalkan, Lucas Elfredo." Ucap pria tersebut yang langsung di sambut oleh Alpha.


"Alpha Khandra Berta."


"Ah, silakan duduk Tuan Khandra," Balas Keano yang langsung mempersilakan Alpha dan juga Dareen untuk duduk.


"Bagaimana Tuan Khandra, apa anda sudah mempelajari proposal kerja sama yang Perusahaan kami ajukan?" Tanya Lucas membuka pembicaraan tampa berbasa-basi, sambil menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya, sungguh sikap angkuh yang membuat Alpha sedikit jengah, memang benar yang di katakan oleh Dareen selama ini, jika pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini memang sangatlah  menyebalkan dengan sikap arogannya.


"Maaf Tuan Lucas, sepertinya Perusahaan saya tidak bisa menerima kerja sama ini." Balas Alpha seramah mungkin, yang membuat suasana di dalam Restauran khususnya ruang VIP tempat mereka sekarang menjadi hening dengan atmosfer yang berbeda dari sebelumnya, tatapan tajam terlihat jelas di antara keduanya. Hingga jika ada orang lain yang melihat selain yang berada di dalam ruangan tersebut, pasti akan mengira jika mereka tidak saling menyukai satu sama lain.


"Bukankah anda terkesan kurang sopan Tuan Alpha Khandra? Menolak tampa membaca terlebih dahulu proposal yang Perusahaan kami ajukan?" Tanya Lucas yang terlihat sedang menahan rasa amarahnya. Meski sebuah senyum nyata terukir di bibirnya, namun sorot matanya jelas menunjukkan kemarahan.


"Maaf jika anda merasa sikap saya kurang sopan, dan saya rasa, saya hanya bersikap wajar, dan untuk proposal ini, saya tidak perlu mebacanya kan? Karena sudah jelas saya tidak menyetujui kerja sama ini." Ucap Alpha dengan wajah datarnya, juga senyum smirknya yang membuat Lucas semakin terlihat geram.


"Anda cukup lancang Tuan Khandra, apa anda tidak tahu, seberapa terkenalnya Perusahaan EFR di Negara ini? Bahkan sangat banyak Perusahaan lain yang ingin bekerjasama dengan Perusahaan Kami," Lanjut Lucas dengan sikap Arogannya.


Balas Alpha dengan satu pertanyaan yang lagi-lagi membuat Lucas terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca. Yang jelas ada tatapan yang di penuhi dengan amarah dan kekecewaan yang sangat jelas tergambar di wajah dingin Lucas, meski semua itu ia tutupi dengan sebuah senyum.


"Tuan muda, sepertinya keputusan Tuan Alpha Khandra sudah finish, dan kita tidak bisa memaksanya lagi." Bisik Keano kepada Presdirnya Lucas yang masih diam tampa ekspresi apapun. Dan Asistennya tersebut cukup paham jika saat ini Presdirnya jelas sedang merasa marah, sebab selama ini belum pernah ada orang lain yang menolak bekerja sama dengan Perusahaannya, hingga pada hari ini, untuk pertama kalinya Ia harus menelan kekecewaan, sebab hanya BRT GRUP satu-satunya yang berani menolaknya mentah-mentah.


"Baiklah, tapi ini belum berakhir Tuan Khandra, urusan kita belum selesai." Ucap Lucas Elfredo yang akhirnya mengeluarkan suara, meski terdengar sangat mengintimidasi bagi yang mendengarkannya, namun sepertinya tidak berpengaruh dengan seorang Alpha Khandra yang hanya menampakkan senyum smirknya.


"Saya rasa kita tidak punya urusan lagi Tuan Lucas, maaf."


Balas Alpha Khandra yang masih dengan senyum smirknya, bahkan tatapannya semakin tajam menatap Lucas yang sudah beranjak dari duduknya, sedikit merapikan jasnya dan langsung melangkah meninggalkan Alpha Khandra yang masih duduk disana sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Sepertinya Tuan Lucas sedikit kecewa dengan keputusan anda." Ucap Dareen membuka suara.


"Tsk, pria angkuh sepertinya, sungguh membuatku muak." Balas Alpha yang juga ikut beranjak dari duduknya dan langsung melangkah keluar yang di susul oleh Bodyguardnya yang selalu mengikutinya kemanapun. Hingga langkah kakinya terhenti saat sosok yang baru saja masuk dari restoran tersebut nyaris menabrak tubuhnya.


"All.. Alpha?"


"Emery?"


Balas Alpha yang seketika menjadi bingung akan bersikap seperti apa di hadapan mantan istrinya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya dengan senyum dan tatapan matanya yang di penuhi rasa rindu.


"Lama tidak bertemu Alpha, apa anda baik-baik saja?" Tanya Emery.


"Hm,"


Jawab Alpha singkat dengan senyum tipis yang tergambar dari bibirnya. Sungguh kecanggungan yang membuat Alpha tidak terbiasa, begitupun dengan Emery yang hanya bisa tertunduk untuk menutupi rasa gugupnya.


"Aku merindukanmu."


Gumam Emery yang langsung menatap wajah Alpha sesaat sampai akhirnya kembali tertunduk saat mata Alpha masih tertuju padanya.


Sudah dua tahun berlalu sejak perceraian mereka, namun jauh dari dalam lubuk hati Emery, ia masih sering merindukan sosok Alpha Khandra, bahkan sebenci apapun Alpha padanya dulu, itu tidak bisa merubah rasa sayangnya yang teramat tulus kepada Alpha, hingga sampai saat ini pun perasaan itu masih sama, meskipun ia masih belum mengetahui, apakah Alpha masih menaruh kebencian padanya juga keluarganya atau tidak.


Emery sangat menyadari, jika tidak mudah untuk melupakan semuanya, melupakan satu kebencian yang sudah mendarah daging di dalam hati Alpha, bahkan jika Emery berfikir lagi, kematian sang Ayah tidaklah cukup untuk membayar semuanya, sebab semua yang pernah merasakan penderitaan atas ulah Ayahnya masih belum sepenuhnya pulih. Bahkan mereka masih selalu diikuti oleh kesedihan dan trauma yang sulit untuk hilang begitu saja. Itulah yang Emery pikirkan saat ini, saat ia kembali menatap dan menyapa pria yang pernah menjadi suaminya, pria yang dulu sangat membencinya, dan kini tersenyum padanya, meskipun itu hanya sebentar.


"Sepertinya aku harus pergi, selamat tinggal."


Ucap Alpha yang seketika membuyarkan lamunan Emery yang hanya bisa mengangguk pelan saat melihat Alpha kembali tersenyum padanya sebelum melangkah pergi meninggalkannya yang masih terdiam mematung di sana.


"Hei, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"


Tanya Kang Daniel yang langsung merangkul bahu Emery yang masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ia sempat tersentak saat tatapan matanya beradu dengan tatapan Kang Daniel yang sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Ah, aku baik-baik saja," Ucap Emery merasa gugup.


"Apa yang terjadi?"


Tanya Kang Daniel yang langsung meraih tangan Emery sambil melangkah menuju sebuah kursi yang sudah mereka pesan untuk makan siang, sedang Emery hanya bisa terdiam dan menurut, mengikuti langkah kaki Kang Daniel, menarikkan kursi untuk ia duduki. Lalu menyusul Kang Daniel yang juga duduk di hadapannya.


"Ada apa?" Tanya Kang Daniel.


"Aku.. Baru saja bertemu Alpha." Jawab Emery sedikit terbata.


"Apa? Alpha? Dia sudah kembali?"


"Hmm.. Dia sudah di sini."


Balas Emery yang entah mengapa langsung membuat Kang Daniel tiba-tiba terbungkam dengan ekspresi yang terlihat penuh dengan kekhawatiran.


"Kau tidak apa-apa?"


Tanya Kang Daniel perlahan tampa memperdulikan perasaannya sendiri yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Sebab baginya yang terpenting adalah perasaan dan hati Emery, wanita yang sangat ia cintai selama ini. Meskipun ia belum mengetahui isi hati Emery yang juga mencintainya atau tidak, namun hal itu sungguh tidak di perdulikan olehnya, selama ia masih selalu berada di sisi Emery dan melindungi wanita itu, sungguh ia tidak peduli.


"Aku baik-baik saja, aku hanya sangat terkejut karena tidak menyangka bisa bertemu dia di sini."


"Iya aku mengerti."


Balas Kang Daniel yang masih dengan perasaan kalutnya, meskipun begitu ia masih berusaha untuk tetap tersenyum seperti biasanya.


"Daniel.. "


"Hmm.. Ada apa?"


"Ah tidak, tidak apa-apa." Balas Emery.


"Emery, ada apa? Kau nampak terlihat cemas," Tanya Kang Daniel perlahan.


"Tidak apa-apa,"


"Apa perasaan cemasmu ini ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi?" Tanya Kang Daniel mencoba untuk menebak.


"Entahlah.. Karena sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya." Jawab Emery yang bahkan melupakan sesuatu, melupakan perasaan Kang Daniel yang pasti akan terluka dengan kata-kata yang ia keluarkan barusan.


Tubuh Kang Daniel tiba-tiba terasa kaku saat mendengar pernyataan Emery yang sangat terang-terangan mengatakan jika ia masih belum bisa melupakan Alpha. Meskipun Kang Daniel mencoba untuk mengerti dengan perasaan Emery dan posisinya saat ini, namun tetap saja, kenyataan ini sangatlah menyakitkan buat Kang Daniel.


"Makanlah dulu." Balas Kang Daniel sambil meletakkan piring yang steaknya sudah di potong olehnya.


"Terimakasih Daniel." Ucap Emery tersenyum.


"Hmm"


"Maaf.. " Ucap Emery perlahan.


"Maaf?"


"Jika sudah membuatmu khawatir."


"Aku mengerti." Balas Kang Daniel tersenyum sebisa mungkin untuk menunjukkan ke pada Emery jika Ia sungguh baik-baik saja.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.