Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-09



...🕯️🕯️🕯️...


Suara dari orang yang berada di belakang membuat Syifa tersentak kaget dan dengan cepat ia menoleh menatap sosok Glen yang kini melangkah mendekatinya.


"Glen?"


Syifa terkejut bukan main. Bagaimana bisa Glen ada di sini dan sejak kapan ia ada di sini. Apa mungkin ia telah mendengar dirinya telah berteriak seperti orang kerasukan.


Glen mendekat membuat Syifa yang masih kesal itu dengan cepat membelakangi Glen membuat pria itu menghela nafas. Ia duduk di samping Syifa yang menduduki batang kayu yang biasanya mereka duduki bersama.


Suasana kini menjadi sunyi Glen masih menatap Syifa yang nampak diam. Glen masih bisa melihat raut wajah kesal pada Syifa namun, sedetik kemudian Glen menunduk.


"Lo marah, ya sama gue?"


"Nggak," jawab Syifa ketus. Dia mengusap air matanya yang dengan bodohnya mengalir disaat ia bersama dengan Glen. Harus bagaimana lagi Syifa masih sangat kesal dengan Glen.


"Kalau nggak marah kenapa nangis?"


"Jadi kalau orang nangis berarti dia marah? Kalau orang nangis berarti dia sedih bukannya marah."


Glen tak menjawab ia hanya diam.


"Sedih? Berarti lo sedih?"


Kini terganti. Bukan lagi Glen yang diam melainkan Syifa. Tak ada jawaban dari Syifa. Ia diam dengan rahangnya yang masih menegang berusaha memperlihatkan kepada sosok Glen jika ia benar-benar marah.


"Si Lena ngomong apa aja sama lo sampai lo bisa marah banget kayak gini?"


"Lena nggak bilang apa-apa, kok."


"Bohong. Gue tau, kok mana Syifa yang jujur dan mana Syifa yang bohong."


Glen mendekat. Ia menyentuh punggung tangan jemari Syifa namun, dengan cepat Syifa menarik tangannya. Glen menarik nafas dalam-dalam dan mengusap wajahnya dengan erat.


"Gue sama Kinara nggak ada hubungan apa-apa selain cuman sepupu aja."


"Kalau sepupu harus pelukan?" tanya Syifa yang berlagak sok kuat padahal rasanya ia ingin menangis berteriak dengan keras lalu memukul Glen tapi ia tidak bisa.


Syifa bisa merasakan juga tubuhnya mulai terasa lemas.


"Syifa, itu semua nggak sesuai sama apa yang lo pikirin. Kinara cuman seneng banget karena sekolah kita itu menang-"


"Terus kalau senang harus pakai pelukan gitu di depan semua orang?"


Nafas Glen seakan tertahan di dadanya, rupanya benar Syifa melihat adegan dimana Kinara memeluknya dihadapan sama orang.


"Syifa, gue sama Kinara itu dari kecil selalu barengan dan Kinara itu udah nganggap gue sebagai kakaknya sendiri."


"Bukan pacar?" tanya Syifa.


Glen menghela nafas lalu mendekatkan jarak duduknya antara ia dengan Syifa yang masih menoleh menatap ke arah lain seakan enggan untuk menatap ke arah Glen.


"Pacar?"


Syifa kali ini kembali diam.


"Pacar gue, kan cuman lo Syifa lagian gue juga nggak mungkin pacaran sama Kinara, dia itu sepupu gue."


"Oh jadi kalau kalian bukan sepupu berarti Glen mau pacaran sama Kinara?"


Nafas berat berhasil lolos dari mulut Glen hingga Syifa kembali bicara, "Lagian kalau masih sepupu masih bisa nikah kali."


"Kinara itu cuman gue anggap sebagai sepupu aja, udah gak lebih. Sampai kapanpun pacar gue tetap lo. Gue sayangnya cuman sama lo aja."


"Jadi Glen nggak sayang sama Kinara?"


"Sayang tapi kan-"


"Tuh, kan sayang," potong Syifa.


"Iya tapi kan sayangnya gue sama Kinara cuman sekedar sepupu dan sayangnya gue ke Kinara ya juga sama. Sepupu aja."


"Berarti Glen sayang, kan sama Kinara? Kalau emang sayang pacaran aja sama Kinara nggak usah sama Syifa!"


"Syifa!" sebutnya dengan lembut.


"Tau dari mana?"


"Syifa bisa lihat dari tatapan Glen ke Kinara. Malahan Syifa bisa lihat tatapan Glen ke Syifa dan ke Kinara itu beda."


"Apanya yang beda sama aja, tuh?"


"Ya beda malahan Syifa liat tatapan Glen lebih sayang ke Kinara daripada ke Syifa."


"Oh ya?" Syifa mengangguk membuat air matanya itu berhasil menetes lalu dengan cepat Syifa mengusap pipinya.


Glen dengan pelan menyentuh pergelangan punggung tangan Syifa. Syifa berusaha memberontak namun, Glen lebih kuat memegangnya.


"Syifa liat gue!"


Syifa terdiam, tak menuruti permintaan Glen membuat Glen menyentuh pipi Syifa dan menggerakkannya pelan sehingga kepala Syifa bergerak perlahan menoleh menatap ke arah Glen yang menatapnya dengan serius.


Kini Syifa bisa melihat sorot mata Glen yang terlihat begitu sedih. Kali ini tatapan mata yang selalu Syifa liat berbeda.


"Lo liat apa di mata gue? Lo pikir cara gue ngeliat Kinara sama lo itu beda?"


Hening, tak ada jawaban. Setetes air mata berhasil lepas dari mata indah yang dimiliki oleh Syifa dan dengan cepat Glen mengusap pipi Syifa dengan lembut. Dia tidak suka jika melihat perempuannya itu menangis.


"Iya emang beda. Tatapan gue ke Kinara dan ke lo itu emang beda. Gue ngeliat lo dengan cinta sementara gue ngeliat Kinara itu hanya sebatas adik kakak aja."


Syifa meneguk salivanya cukup lama. Ia menunduk memutuskan kontak mata dengan kedua mata Glen membuat akhirnya ia menggerakkan kepalanya menatap ke arah depan.


"Syifa lu harus percaya sama gue. Gue sayang banget sama lo. Gue nggak pernah ngajak orang pacaran kalau gue nggak benar-benar sayang sama dia."


"Dan gue itu sayang sama lo," sambungnya membuat Syifa menoleh.


"Kalau sama Kinara?" tanya Syifa dengan bibir yang bergetar berusaha menahan tangisannya.


Lagi dan lagi Glen menghela nafas panjang berusaha untuk mengerti dengan perasaan Syifa.


"Ayo jawab!" minta Syifa dengan genangan air matanya yang telah menggantung nyaris menetes.


"Iya say-"


"Bilang enggak!" potong Syifa.


"Bilang enggak sayang!"


Glen tersenyum kecil. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat. Rasanya ini ingin tertawa namun, ia tak ingin membuat Syifa semakin marah kepadanya.


"Iya, iya Gue nggak sayang sama Kinara karena gue sayangnya cuman sama Syifa yang orangnya suka cemburuan," ujarnya sambil merapikan poni Syifa yang sedikit berantakan.


"Enggak. Syifa enggak cemburu," bantah Syifa membuat Glen akhirnya tertawa kecil.


"Siapa yang bilang?"


"Yah emang Syifa nggak cemburu, kok."


"Kalau emang lo nggak cemburu, senyum dong!"


"Nggak mau."


"Tuh, kan kalau nggak mau berarti cemburu."


Syifa menoleh menatap tajam ke arah Glen hingga akhirnya mereka saling bertatapan cukup lama membuat Syifa tertawa saat Glen mengangkat-angkat kedua alisnya.


"Nah tuh, kan kalau senyum kayak gini jadi cantik. Gue nggak suka kali kalau lo sedih kayak gini."


"Kalau Glen nggak mau liat Syifa sedih, Glen jangan pelukan sama Kinara!"


"Iya gue nggak bakalan peluk Kinara lagi."


"Janji?"


"Janji."


Glen mengelus kepala Syifa dengan lembut lalu membawa dan meletakkan kepala Syifa pada bahunya membuat Syifa tersenyum.


...🕯️🕯️🕯️...