
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa melajukan kendaraan roda duanya itu melintasi jalanan beraspal dengan beberapa kendaraan yang berlalu lalang di sana motor matic-nya melaju dengan kecepatan sedang dengan senyum.
Syifa tak pernah lepas dari senyum di bibirnya. Rasanya Syifa bagaikan sosok gadis yang begitu sangat bahagia di dunia ini. Entah mengapa sebuah kebaikan dan kebahagiaan seakan berkobar dalam hati dan dadanya.
Sekarang tujuan Syifa hanya untuk membahagiakan semuanya. Andai saja ia akan mati nantinya maka ia akan sangat berharap banyak orang yang telah dibuat tersenyum setelah kepergiannya nanti. Tetapi jika Tuhan memberikan umur panjang untuknya maka ia akan mempertahankan kebahagiaan ini dan terus mengalirkan sebuah senyuman kepada orang-orang terdekatnya.
Syifa menghentikan laju motornya. Menepikan motor matic-nya itu di siring jalan lalu berlari kecil sambil merogoh tas ranselnya mendekati sosok wanita tua yang sedang menjulurkan telapak tangannya berusaha meminta sedikit uang dari para pejalan kaki yang melintas di trotoar.
"Selamat pagi, Nek!" sapa Syifa.
Kedua alis wanita tua itu mengernyit mendengar suara yang baru saja menyapanya.
"Syifa punya sedikit roti untuk Nenek. Nenek mau roti nggak?"
"Mau. Nenek lapar," jawabnya begitu kegirangan seakan mendengar ujaran Syifa sebuah kabar baik.
Dengan senang hati Syifa menjulurkan bekal itu ke telapak tangan wanita tua yang berpakaian sedikit kotor.
"Ini ada bekal isi roti untuk Nenek. Nanti rotinya dimakan, ya!"
Wanita tua buta itu tersenyum. Begitu bahagia saat ia meraba permukaan bekal dan membukanya lalu kembali meraba permukaan roti dengan selai nanas di sana.
"Terima kasih, nak."
Wanita tua itu mencium aroma roti ke hidungnya lalu tersenyum begitu bahagia.
"Wanginya juga sangat wangi. Nenek sangat suka," jelasnya memberitahu.
Syifa hanya tersenyum. Syifa senang saat roti untuk bekalnya di jam istirahat ia berikan kepada wanita tua ini. Sepertinya wanita tua ini lebih membutuhkannya.
"Oh iya nama kamu tadi siapa?"
"Syifa. Kalau begitu Syifa pergi dulu."
"Oh iya terima kasih lagi, ya Nak."
"Sama-sama," jawab Syifa dengan riang lalu kembali menaiki motornya dan kembali melajukan motornya itu.
Tak cukup beberapa menit Syifa akhirnya menghentikan laju motornya itu tepat di sebuah toko bunga. Di depan toko itu sudah terdapat berbagai macam jenis bunga yang dipajang.
Beberapa pembeli terlihat masih sangat kurang datang di pagi ini. Dari sini juga Syifa bisa melihat pemilik toko bunga yang terlihat sedang menyirami bunga-bunga yang ada di depan toko.
"Selamat pagi Mbak," sapa Syifa.
Pemilik toko menghentikan kegiatannya. Ia tersenyum ke arah Syifa.
"Selamat pagi juga. Mau cari bunga?"
"Iya Syifa mau cari bunga. Syifa mau pesan bunga mawar terus di dalam bunga itu Syifa mau dikasih sebuah kalimat ucapan."
"Kalimat ucapan? Kartu ucapan maksudnya?"
"Yah itu. Syifa mau di dalam tangkai bunganya ada kalimat ucapan, boleh?"
"Boleh. Mau berapa tangkai?"
"Satu tangkai saja."
"Satu tangkai bunga bunga mawar dan kartu ucapan. Silakan masuk!"
Rasanya mencium aroma bunga membuatnya begitu semakin sangat bahagia.
"Ini bunganya. Mau dituliskan kalimat apa?"
Syifa terdiam kemudian berpikir sejenak hingga tak berselang lama dia kembali bicara.
"Selamat pagi Ayah," ujarnya dengan pelan-pelan hingga saat ia mengucapkan kata itu rasanya ia ingin menangis.
Ada perasaan lain yang berkecamuk dalam hatinya tapi sedetik kemudian ia kembali menarik sudut bibirnya berusaha memberikan senyum kepada pemilik toko yang sedang sibuk menulis kalimat pada kartu bunga mawar itu.
"Ini sudah jadi."
"Terima kasih, mbak. Lain kali nanti Syifa datang lagi untuk memesan bunga mawar."
"Sama-sama. Wah, pasti Ayah Syifa sangat senang karena diberikan bunga mawar dari anaknya."
Syifa hanya tersenyum lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari toko. Ia meletakkan setangkai bunga itu ke dalam tas ranselnya dan kembali melajukan motor matic-nya itu.
...🕯️🕯️🕯️...
Udara segar pagi ini benar-benar membuatnya begitu sangat bahagia. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya membelainya begitu sangat lembut menemani perjalanan Syifa menuju rumah Ayahnya itu.
Syifa tidak peduli apakah Ayahnya itu sudah punya anak baru dan istri baru juga lalu dia juga tidak mau peduli atau memikirkan apakah Ayahnya masih sayang dengan dirinya atau tidak.
Lagi pula Syifa juga mengerti kehadiran orang baru tentu akan membuat orang tersebut melupakan yang lama.
Syifa tauu jika Ayahnya itu sudah tidak sayang lagi dengannya tapi Syifa sangat menyayangi Ayahnya. Ayah Syifa hanya satu yaitu Farhan dan hanya dialah sebuah harapan untuk Syifa. Kemana lagi Syifa akan memberikan kebahagiaan jika masih ada sosok Ayahnya.
Syifa menepikan motornya. Mematikan mesin motornya itu sembari kedua matanya yang menatap ke arah rumah bertingkat dua dengan pagar besi yang agak tinggi.
Ia melangkah turun dengan hati-hati menoleh kiri kanan menatap lingkungan kompleks rumah Ayahnya yang bagian sangat sepi. Sepertinya perumahan komplek ini rata-rata dihuni oleh orang-orang para pekerja kantoran karena ketika pagi seperti ini lingkungan rumahnya sudah sangat sepi. Mereka semua pasti sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.
Syifa berjinjit berusaha melihat pemandangan di dalam sana. Dari sini Syifa bisa melihat mobil hitam yang selalu dikendarai oleh Ayahnya ke kantor. Syifa hafal betul.
Syifa tersenyum dan dengan cepat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah milik Ayahnya bersama istri barunya itu.
Dengan langkah hati-hati ia mendekati mobil Ayahnya mendongak kiri kanan lagi berusaha memastikan jika Ayahnya tidak ada. Dengan gerakan tangan pelan ia meletakkan setangkai bunga itu di bagian atas moncong mobil hitam milik Ayahnya.
Semoga saja sebelum Ayahnya berangkat ke kantor dan sebelum ia menaiki mobilnya, dia bisa melihat setangkai bunga mawar yang Syifa berikan.
"Ayah, ini setangkai bunga untuk Ayah dari Syifa."
"Syifa sangat berharap dari bunga ini Ayah bisa terus mengingat Syifa. Syifa ingin Ayah selalu tersenyum kapanpun dan dimanapun walaupun Ayah tidak bersama dengan Syifa lag."
"Syifa ingin melihat Ayah tersenyum karena perbuatan Syifa bukan karena larian kecil dari anak dari istri baru Ayah itu."
"Syifa sayang Ayah."
Lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju keluar rumah. Untung saja pagar rumah ini tidak ditutup jadi Syifa tak perlu bersusah payah untuk mendorong pagar yang sepertinya sangat berat.
Syifa melajukan motornya dengan perasaan yang sangat lega rasanya. Dia ingin sekali melihat wajah Ayahnya setelah ia mendapatkan setangkai bunga di atas mobilnya tapi sepertinya tidak ada waktu untuk menanti Ayahnya itu keluar dari rumah. Bisa-bisa nanti ia terlambat untuk ke sekolah dan lain pula cerita yang akan terjadi jika Ayahnya melihat dia.
Selesai dengan setangkai bunga mawar itu kali ini ia harus menjalankan tugasnya satu lagi yaitu menjemput Lena sahabatnya yang super lelet itu.
Kalau misalnya Syifa terlambat maka alasan satu-satunya yaitu Lena yang sibuk mencari buku-buku pelajaran atau bahkan seragam yang tidak lengkap. Hah, gadis itu sedikit menjengkelkan tapi Syifa sangat sayang.
...🕯️🕯️🕯️...