Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-64



...🕯️🕯️🕯️...


Suara keramaian orang-orang yang terdengar pada sebuah toko yang ada di tengah-tengah pusat kota menjadi hiruk pikuk. Begitu banyak orang di sini dan juga beberapa patung-patung dengan pakaian pengantin.


Toko ini begitu sangat besar dan dipenuhi dengan berbagai macam perlengkapan untuk persiapan pernikahan.


"Kayaknya tahun ini banyak yang nikah, deh," komentar Syifa yang menatap ke segala arah.


Ia menatap satu persatu orang yang sedang berlalu lalang di sekelilingnya.


"Undangannya yang ini atau yang ini?" tanya pak Jaya yang tiba-tiba memecah keheningan antara Syifa dan Rahmi yang sejak tadi sibuk mengomentari para orang-orang yang lewat di sampingnya.


Rahmi mendekat meraih dua undangan yang telah dipilih oleh pak Jaya.


"Syifa, menurut kamu cantik yang biru atau yang pink?"


"Terserah. Mama sama pak Jaya suka warna apa?"


Mendengar pertanyaan itu membuat pak Jaya dan Rahmi yang sontak saling bertatapan.


"Kamu sukanya warna apa?" tanya pak Jaya tanpa canggung.


"Semuanya Syifa suka. Warna pelangi Syifa juga suka. Semua warna Syifa suka."


"Warna apa yang kamu suka?" tanya pak Jaya.


"Syifa suka warna pelangi," jawab Syifa membuat pak Jaya tersenyum malu.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Syifa adalah benar. Jujur saja dia suka warna pelangi. Deretan warna yang membuatnya begitu sangat bahagia saat melihat warna itu.


"Yang benar?" tanya Syifa.


"Tidak percaya?" tanya Rahmi yang tertawa dan langsung mengangkat ponsel yang dilengkapi dengan warna pelangi pada bungkusan ponsel milik pak Jaya.


Syifat tertawa terpingkal-pingkal lalu ia dengan cepat ia mengangkat ponselnya membuat mata pak Jaya terbelalak menatap balutan ponsel Syifa dan miliknya yang sama.


"Itu ponsel kamu?" tanya pak Jaya tidak menyangka dan begitu pula Syifa yang juga tidak menyangka.


"Kok bisa sama?"


"Oh saya tau. Apa kamu jangan-jangan kamu ikut-ikutan sama pak Jaya, ya?" tunjuk pak Jaya mengejek.


"Enak aja. Syifa nggak ikut-ikut, ya! Atau jangan-jangan pak Jaya yang ikut-ikut sama Syifa. Pak Jaya yang beli silikon ponsel setelah melihat silikon punya Syifa, iya kan?" tunjuknya menatap penuh curiga.


"Tidak, ya!" bela pak Jaya yang tidak terima dengan tuduhan Syifa.


Dan perdebatan itu membuat Rahmi menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kecil dari pak Jaya dan juga putrinya. Entah mengapa hubungan antara calon suami dengan anaknya itu kini terjalin bahagia bahkan keduanya saling tertawa saat menyatukan silikon ponsel miliknya.


"Sepertinya warna hitam," bagus ujar pak Jaya sambil menatap undangan yang kini berada pada genggaman tangannya.


"Betul, warna hitam, kan netral. Lebih cantik apalagi tulisannya kalau pakai warna-"


"Kuning emas," potong Rahmi membuat pak Jaya dan Syifa sontak menoleh menatap Rahmi yang berada di tengah-tengahnya.


"Betul," jawab Syifa dan pak Jaya dengan kompak.


"Warna kuning emas sangat cantik. Syifa suka, iya kan Ayah?" tanya Syifa lalu membuat pak Jaya terkesima setelah mendengar panggilan kata Ayah yang diucapkan oleh Syifat kepadanya.


Ayah, satu kalimat yang tak pernah dibayangkan oleh pak Jaya bisa diucapkan oleh Syifa kepadanya saat Syifa sibuk dengan beberapa undangan yang ada di tangannya.


Pak Jaya yang terdiam beberapa saat langsung menoleh menatap sang calon istri yang menyentuh punggung tangannya memberikan senyum yang begitu sangat bahagia setelah mendengar jika putrinya itu memanggil pak Jaya dengan sebutan Ayah.


...🕯️🕯️🕯️...


"Syifa!" sebut pak Jaya membuat Syifa yang tadi sibuk bertanya-tanya pada karyawan undangan itu menoleh.


"Iya Ayah?" tanyanya membuat pak Jaya terpelonjak kaget.


Rasanya pak Jaya merasakan kupu-kupu yang bertebaran di dadanya. Ia begitu sangat bahagia saat Syifa yang untuk kedua kalinya Syifa menyebutnya dengan sebutan Ayah.


Sebenarnya pak Jaya ingin bertanya apakah ia salah dengar atau Syifa yang salah bicara, tetapi mendengar Syifa yang kembali mengucapkan kata Ayah kepadanya membuat ia mengurungkan niatnya hingga perasaan bahagia pada hatinya.


Begitu sangat bahagia saat mendengar ujaran dari Syifa kepadanya.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa kini terduduk di sofa memandangi Mamanya yang terlihat mencoba beberapa gaun pengantin bersama dengan pak Jaya yang sibuk merapikan jas yang ia kenakan.


"Apakah ini bagus tanya?" Rahmi kepada putrinya sejak tadi sibuk memandangi.


Syifa memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut Mamanya lalu menggelengkan kepalanya. Warna coklat. Ini tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran Syifa.


Sepertinya pikiran putrinya itu juga sama dengan pak Jaya yang langsung mengganggukan kepalanya setelah Rahmi menatap ke arah calon suaminya itu. Ia juga tidak sesuai dan sepemikiran dengan pilihan Rahmi.


"Terus warna apa? Syifa suka warna apa?" tanya Rahmi yang sepertinya sudah lelah.


Syifa bangkit diiringi dengan tawak kecil.


"Mama kalau mama tanya Syifa suka warna apa, tentu saja Syifa akan menjawab warna pelangi tapi Mama tidak mungkin memakai gaun pernikahan berwarna pelangi bukan."


"Itu juga cantik," gurau pak Jaya membuat Syifa dan Rahmi tertawa.


"Baju gaun pernikahan itu yang sesuai dengan Mama adalah baju putih. Baju putih melambangkan kesucian dalam sebuah pernikahan."


"Dan pak Jaya juga harus pakai baju putih," sambung Syifa.


"Bagaimana kalau kita gunakan dua warna," usul pak Jaya membuat kedua mata Syifa berbinar.


"Betul, warna putih dengan-"


"Warna hitam," potong pak Jaya membuat Syifa tertawa begitu bahagia.


"Ah, kenapa Ayah selalu sepemikiran dengan Syifa?" canda Syifa yang sengaja membuat wajahnya cemberut.


"Karena kita adalah calon Ayah dan anak," jawab pak Jaya dengan bahagia sembari memeluk pak Jaya yang begitu sangat bahagia terlebih lagi dengan Rahmi yang melihat kekompakan pada calon suami dengan anaknya itu.


Setelahnya kini Syifa menatap serius ke arah pak Jaya yang nampak sedang diukur oleh seorang pria sementara Mamanya juga nampak diukur. Alat pengukur itu terlihat mengitari pinggangnya ke lengan dan setiap sisi yang akan diukur oleh karyawan yang akan menjahit gaun pernikahan untuk Rahmi dan juga pak Jaya


...🕯️🕯️🕯️...