Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-68



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menggaruk kepalanya lalu ia menarik ujung baju batik yang digunakan oleh dokter Bryan membuat dokter Bryan sedikit menunduk membiarkan Syifa berbisik di telinganya.


"Dokter Bryan, maafkan Syifa, ya! Syifa harus panggil dokter Bryan dengan sebutan kakak biar semua orang tidak curiga."


"Tadi Syifa hampir keceplosan dan teriak dokter ke dokter Bryan," bisiknya lalu menjauh membuat dokter Bryan menegakkan tubuhnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oke, tidak apa-apa," jawabnya.


"Ya sudah dokter. Yuk, ikut Syifa! Syifa perkenalkan sama Mama," ujarnya lalu menarik pergelangan tangan dokter Bryan dan membawanya ke atas panggung melewati sosok Glen yang nampak begitu sangat kesal.


Entah mengapa Syifa seakan melupakannya dan melewati dirinya yang masih digandeng oleh Kinara sementara Syifa berjalan sambil menarik pergelangan dokter Bryan naik atas panggung.


"Itu siapa, kok dekat banget, sih sama Syifa?" bisik Kinara yang juga ikut kebingungan.


Disaat dokter Bryan dan Syifa naik atas panggung Lena yang sejak tadi sibuk menawarkan beberapa kue kepada para tamu langsung membulatkan mata kaget menatap Syifa yang menarik dokter Bryan naik ke atas panggung.


Ia tidak menyangka jika Syifa juga akan mengundang dokter Bryan. Sang Dokter yang ia kagumi ketampanannya bahkan para tamu undangan juga saling berbisik mengagumi ketampanan dokter Bryan yang masih ditarik oleh Syifa.


Ah andai saja ia tau jika dokter bilang datang mungkin ia juga akan berdandan lebih cantik lagi dan mungkin ia juga yang akan menyambut kedatangan dokter Bryan bukannya Syifa.


"Mama! Ayah!" panggil Syifa yang langsung membuat Rahmi dan pak Jaya yang sejak tadi menyalimi satu persatu para tamu menoleh.


Dokter Bryan yang kini tersenyum menatap Rahmi dan pak Jaya yang memandanginya cukup serius.


"Ini siapa?" bisik Rahmi sambil sesekali menatap ke arah dokter Bryan yang masih tersenyum


"Ini teman Syifa. Namanya kak Bryan," ujarnya memperkenalkan.


"Oh, Ini yang kamu bilang dulu itu yang mau kamu ajak ketemu," tebaknya.


"Iya," jawab Syifa tanpa berpikir panjang


Ini adalah kesempatan untuknya mencari jalan keluar agar tidak terlalu mencari alasan untuk menceritakan dan memperkenalkan dokter Bryan kepadanya.


"Selamat tante atas pernikahannya," ujarnya lalu menyalin Rahmi dan juga pak Jaya.


"Sejak kapan kamu ketemu dan berteman sama Syifa?"


"Sudah lama/ Baru aja," jawab dokter Bryan dan Syifat secara bersamaan membuat sontak dokter Bryan dan Syifa saling berpandangan sementara Rahmi dan pak Jaya terlihat begitu kebingungan.


Syifa seakan ingin menepuk jidatnya.


"Oh, sepertinya dokter, eh maksudnya kak Bryan kayaknya lapar. Iya kan kak?" bisiknya dengan kedua mata yang dibulatkan memberikan kode agar dokter Bryan segera mengatakan iya.


Tatapan dengan kedua mata tajam itu membuat dokter Bryan mau tidak mau hanya bisa menganggukan kepalanya lalu melangkah turun setelah Syifa menarik pergelangan tangannya hingga ia berpapasan dengan Lena yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Syifa dan berbisik di sana.


"Kok, dokter Bryan ada di sini? Kalau sampai Mama lu tahu dokter Bryan itu siapa, rahasianya bakalan terbongkar," bisik Lena dengan kedua rahang yang menegang.


"Mereka nggak bakalan tau kalau Lena sama dokter Bryan nggak kasih tau!"


Syifa kembali menarik dokter dan membawanya ke sebuah meja tak lupa juga ia menarik Lena yang hanya bisa mengikuti langkahnya.


"Lena! Dokter Bryan. Kalian berdua harus kerjasama! Jangan sampai semua tau dengan penyakit Syifa," bisiknya dengan kedua mata tajam membuat Bryan dan Lena saling berpandangan lalu tak berselang lama ia kembali menetap ke arah Syifa yang masih memandanginya dengan pandangan yang mengancam.


"Baiklah acara selanjutnya kita akan mendengar sepatah kata yang akan diberikan oleh putri dari Rahmi dan tentunya juga putri dari pak Jaya sekarang," sahut MC membuat Syifat yang sejak tadi melotot ke arah dokter Bryan dan Lena langsung menoleh.


"Kita sambut putri yang cantik itu, Syifa! Untuk naik ke atas panggung!"


Syifa melongo.


Mau tidak mau Syifa hanya menurut diiringi dengan tatapan semua orang yang mengiringi langkah kakinya menuju ke panggung di mana sosok Rahmi dan pak Jaya masih ada di atas panggung.


Syifa tersenyum paksa saat salah satu MC itu memberikan mikrofon kepadanya. Dengan gugup Syifa menatap ke arah para tamu undangan yang terlihat tidak sabar untuk mendengar sepatah kata yang akan diucapkan oleh Syifa untuk sang pengantin baru itu.


Syifa melipat bibirnya ke dalam kedua matanya bergerak-gerak memikirkan apa yang harus ia ucapkan saat ini.


"Selamat malam semuanya."


"Malam," jawab semuanya dengan begitu sangat ceria membuat senyum Syifa mengembang.


Rasanya ia ingin menangis menatap semua orang yang ada di acara pernikahan ini terlebih lagi saat ia menatap ke arah sosok Rahmi yang terlihat begitu sangat bahagia.


Kali ini ada senyum yang terukir indah di sana melihat sang Mama yang bersanding dengan pak Jaya membuatnya ingin menangis. Berusaha merelakan sang Mama menikah dengan pria lain berarti menggeser sosok sang Ayah kandung menggantikan sosok pria lain.


Begitu sangat berat tapi Syifa berusaha untuk menerimanya walau itu tidak mudah.


"Ini adalah beberapa pesan yang Syifa berikan untuk Ayah."


Pak jaya tersenyum ia mengelokkan posisi duduknya seakan tidak sabar untuk mendengar sepatah kata yang diujarkan Syifa untuknya.


"Syifa mau mengucapkan banyak terima kasih karena kedatangan pak Jaya bisa membuat Mama merasa bahagia."


"Pak Jaya hebat karena bisa menghapus air mata yang selalu jatuh di pipi Mama setelah perpisahan antara Ayah Syifa dengan Mama."


"Pernikahan Mama dengan pak Jaya sebenarnya adalah salah satu kesedihan bagi Syifa."


Satu kalimat itu membuat semua orang terkejut. Mereka tidak mengerti mengapa Syifa bisa mengatakan hal itu di hadapan semua orang.


"Jujur Syifa takut kalau Mama menikah lagi karena Ayah kandung Syifa memberikan luka yang dalam untuk Syifa."


"Syifa takut setelah Mama menikah Mama akan meninggalkan Syifa seperti apa yang dilakukan oleh Ayah kandung Syifa yang kini hidup bersama dengan perempuan dan mereka telah memiliki anak."


"Tapi Syifa tidak masalah. Syifa kini merasa bahagia. Syifa sadar semua manusia tidak boleh egois yang hanya memikirkan diri sendiri."


"Kita juga harus memikirkan orang lain. Syifa sadar, kebahagiaan itu sangat susah untuk dimiliki dan saat pak Jaya datang dalam kehidupan keluarga Mama, Syifa merasa tidak suka."


"Syifa merasa jika Mama akan diambil oleh pak Jaya dan itu betul, pak jaya telah mengambil Mama tapi Syifa juga sadar kalau bukan hanya Mama yang diambil tapi Syifa juga."


Syifa tertawa kecil hingga air matanya meneteskan membasahi pipinya.


"Ayah, tolong jangan tinggalkan Mama lagi. Syifa sangat sayang dengan Mama."


"Sayangi Mama Syifa seperti Syifa menyayangi Mama! Jangan buat Mama menjadi sedih karena Syifa juga akan sedih. Tolong jaga Mama dan berikan dia kasih sayang."


"Berikan dia cinta dan juga perhatian karena perempuan suka diperhatikan," ujar Syifa membuat orang tertawa kecil mendengar candaan yang diberikan dia berikan.


"Untuk Mama, tolong jangan tinggalkan Syifa kalau nanti Mama punya anak. Jangan tinggalkan Syifa, ya seperti Ayah meninggalkan Syifa."


Bibir Syifa bergetar. Ia menangis sesegukan membuat Syifa segera bangkit dan melangkahkan kakinya mendekati Syifa.


Ia memeluk tubuh putrinya hingga semua para penonton dibuat terharu bahkan dokter Bryan langsung melirik ke arah Lena yang terlihat sesegukan.


Seketika suasana yang sejak tadi dipenuhi dengan canda tawa dan kebahagiaan kini berubah menjadi haru penuh dengan air mata.


Ini hanya sebuah ungkapan bahkan MC yang berniat yang mengharapkan sebuah kebahagiaan setelah putri dari Rahmi memberikan sepatah kata malah ikut menitikan air mata.


...🕯️🕯️🕯️...