Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-69



...🕯️🕯️🕯️...


Setelah acara pemberian sepatah kata kepada kedua mempelai kini acara digantikan dengan acara lemparan bunga.


Kini Syifa hanya bisa berdiri agak menjauh dari gerombolan orang-orang yang sudah tidak sabar untuk menangkap bunga yang akan dilempar oleh pak Jaya dan Rahmi nantinya.


Dari sini Syifa bisa melihat sosok Kinara yang nampak masih menggandeng tangan Glen yang berusaha sejak tadi ia lepas. Rasanya ia sangat tidak nyaman jika Kinara terus saja menggantung di tangannya.


Apa Syifa perlu cemburu?


Bagi Syifa tidak masalah. Syifa tau Glen tetap akan menyayanginya dan ia telah terlanjur percaya dengan ujaran Glen jika ia hanya menganggap Kinara sebagai sepupunya saja. Sebatas adik kakak.


"Baiklah semuanya, bunga akan segera dilempar bersiap-siap semuanya!"


Suara dari MC terdengar memimpin jalannya acara pelemparan bunga hingga akhirnya Rahmi dan pak Jaya terlihat memegang bunga lalu dengan bersamaan diiringi dengan hitungan mereka melempar bunga mawar itu ke belakang dan terlihat melayang tinggi membuat semua orang mendongak.


Mereka semua dibuat bertanya-tanya entah mendarat ke mana bunga itu.


"Yey, akhirnya Lena dapat!"


Suara teriakan terdengar membuat Syifa sedikit menjinjit berusaha melihat siapa yang telah berhasil mendapatkan bunga itu.


Hingga akhirnya proses pencarian itu terhenti saat ia bisa melihat Lena yang melompat-lompat dengan bunga yang sudah ada di tangannya.


Hal itu membuat Syifa tertawa bahagia. Sahabatnya itu sepertinya begitu sangat bahagia saat bunga jatuh langsung ke arahnya.


"Pak dokter Lina dapat bunga!!!" teriaknya sembari melambaikan bunga itu ke arah dokter Bryan membuat Syifa membulatkan kedua matanya tidak menyangka jika Lena baru saja keceplosan dengan memanggil dokter Bryan dengan sebutan dokter.


Padahal mereka sudah bersepakat untuk memanggil dokter Bryan dengan sebutan Kakak. Saking senangnya dia sampai lupa. Apakah semuanya akan curiga.


Ah, bahkan Syifa tidak ingin memikirkannya. kepalanya seakan sudah sakit sekali untuk harus berpikir lagi.


Setelah acara pelemparan bunga kini para tamu-tamu disuguhi dengan penampilan para penyanyi yang menghibur para hadirin yang sesekali nampak mengganggukan kepalanya menikmati alunan musik yang terdengar.


Tak cukup sampai di situ, hingga akhirnya suara musik dangdut yang sejak tadi menghibur kini tergantikan dengan musik DJ dilengkapi dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip seakan tempat ini merupakan tempat diskotik.


Syifa hanya duduk di kursinya sambil menatap para tamu yang terlihat menikmati musik bahkan Rahmi dan pak Jaya terlihat bergoyang di atas panggung menghasilkan decak tawa yang terjadi di sana.


Lena yang tidak mau ketinggalan dengan cepat menarik tangan Syifa dan membawa Syifa kini ke atas panggung. Bukan hanya kedua pasangan pengantin baru itu yang sedang berada di atas panggung tapi para tamu juga berlarian naik ke atas untuk menikmati musik DJ yang dimainkan.


Syifa hanya tertawa kecil bahkan tak jarang ia terbahak saat melihat Lena yang mengeluarkan gerakan yang aneh saat mengeluarkan aksinya.


Kini acara pesta pernikahan benar-benar sangat menyenangkan. Semua kebahagiaan dirasakan oleh semuanya hingga akhirnya senyum Syifa yang mengembang sejak tadi tertahan saat merasakan sakit di kepalanya.


Nafasnya terasa sesak. Rasa sakit sakit di kepalanya begitu sangat menyiksa membuat ia dengan cepat menekan keningnya itu berusaha untuk menahan rasa sakit yang dirasakan.


Tapi tetap saja sakit itu tetap saja tidak bisa tertahan. Syifa berjalan ke siring berusaha menjauhi kerumunan yang bahkan beberapa kali menabraknya.


Kedua mata Syifa memburam. Ia tak mampu melihat suasana dengan jelas.Tangannya meraba kesegala arah mencari sesuatu untuk menjadi pegangnya.


Ia takut jika ia jatuh dari panggung. Syifa mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha menormalkan pandangannya tapi tetap saja pandangan itu memburam.


Tubuh Syifa menabrak seseorang tapi Syifa tidak tau. Ia berusaha menoleh menatap orang tersebut tapi ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Suara itu bisa ia kenali dengan jelas.


"Enggak apa-apa, kok mbok. Syifa cuman mau ke atas. Kayaknya lensa mata Syifa udah kering, deh jadi rasanya perih," ujarnya memberi alasan.


"Ya sudah biar mbok Jati antar ke atas, ya."


Syifa tak menjawab. Ia membiarkan sosok mbok Jati yang memegang tangannya dan mengantarnya menuju masuk ke dalam kamar.


"Udah mbok! Syifa di sini aja. Mbok Jati nggak usah masuk!" larangnya sambil menegang pinggiran pintu.


"Tapi itu lensa Matanya-"


"Biar Syifa aja!" tolaknya berusaha untuk tersenyum walau kedua mata Syifa masih terpejam.


Ia masih merasakan rasa sakit di kepalanya itu tetapi ia berusaha untuk tetap kuat dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa belum sempat mbok Jati menjawab Syifa langsung menutup pintu dengan keras membuat menjadi tersentak kaget ia mematung di depan pintu menatap nanar pada permukaan pintu Syifa pintu kamar Syifa yang kini telah menjadi sunyi hanya ada suara musik DJ yang terdengar dari luar.


Syifa berjalan sempoyongan. Ia terjatuh ke lantai kanan dan kiri berusaha untuk menggapai tempat tidurnya.


Setelah ia tiba dan tangannya menyentuh permukaan kasur ia langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja. Kepalanya begitu sangat perih. Ia menekan kepalanya dengan erat.


Air matanya menetes membasahi pipi, ini benar-benar sangat menyakitkan hingga ia masih menangis sesegukan.


Syifa mengusap pipinya yang basah itu lalu menekan keningnya dengan erat-erat.


Syifa menarik nafas panjang berusaha untuk bangkit walau sekujur tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit di kepala.


Ia berusaha untuk berjalan mendekati meja tapi begitu sulit. Hingga ia tetap memaksakan diri dan tubuhnya terbentur ke permukaan meja saat ia sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.


Tubuhnya jatuh ke lantai, tetapi dengan sebuah paksaan ia mendongak menatap laci dan membiarkan tangannya mengacak-acak laci lemarinya berusaha mencari obat yang telah diberikan oleh dokter Bryan.


Apa mungkin rasa sakitnya ini timbul karena ia tidak minum obat? Ya, akhir-akhir ini ia sangat sibuk hingga lupa minum obat.


Saat tangannya telah menggapai wadah berisi obat-obatan miliknya itu tanpa berpikir panjang Syifa langsung membukanya.


Ia mengeluarkan beberapa biji obat ke telapak tangannya dan memasukkannya ke dalam mulut lalu meneguknya paksa.


Ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia rasakan. Ia ingin cepat menghilangkan rasa sakit yang menyiksanya itu bahkan saat ia minum obat tak ada air yang tersedia.


Hal itu membuat tubuh Syifa bergetar berusaha menurunkan obat yang tersangkut di tenggorokannya.


Saat obat-obatan itu telah turun melewati kerongkongannya, Syifa kembali menangis.


Dia membaringkan tubuhnya ke lantai yang begitu dingin. Air matanya jatuh membasahi lantai. Ia masih menangis diiringi dengan musik DJ yang terdengar dari luar.


Di saat semua orang bahagia dengan sebuah pernikahan dan acara kini tanpa mereka semua ketahui jika ada sosok makhluk yang sedang berusaha menahan sakit di dalam kamar.


Syifa yang kini mengurung diri berusaha menyembunyikan rasa sakit. Entah sampai kapan rahasia ini akan ia simpan rapat-rapat.


...🕯️🕯️🕯️...