Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-48



...🕯️🕯️🕯️...


Sreet...


Suara gesekan dari kain gorden yang ditarik oleh Syifa terdengar diiringi cahaya matahari yang memasuki ruangan kamarnya secara perlahan membuat ruangan kamarnya yang sejak tadi gelap kini menjadi terang.


Ranjang berkasur putih serta lemari pakaian dan lemari riasnya nampak jelas terlihat. Syifa tersenyum menatap mentari pagi yang begitu sangat indah.


Udara segar begitu langsung menyapa wajahnya. Membelainya dengan lembut. Pepohonan juga terlihat. Burung-burung terlihat berterbangan, berkicau dengan merdu disana.


Syifa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan-nya dengan pelan. Perasaan-nya begitu sangat tenang sekarang. Senyumnya tergambar pada wajahnya hari ini.


Syifa akan memulai kehidupannya. Berubah menjadi lebih baik dengan menjadikan Nayla sebagai contohnya yang terus tersenyum. Memberikan senyum indah kepada orang-orang yang membutuhkan sebuah kebahagiaan.


Syifa berjanji akan tetap memberikan kebahagiaan bagi orang-orang terdekatnya karena ia tau ia akan mati, sekarang ataupun besok.


Syifa tidak tau apakah penyakit ini akan sembuh atau tidak. Tapi ia sangat berharap jika ia bisa hidup lebih lama untuk memberi kebahagiaan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.


Syifa ingin melihat orang-orang merasa bahagia karena kehadirannya, bukan malah membenci kehadiran Syifa di dunia ini. Tak peduli bagaimana pendapat orang-orang mengenai dirinya. Syifa hanya ingin membuat sebuah kebaikan, itu saja.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa melangkah turun menuruni anakan tangga dengan begitu gembira bahkan sesekali ia melompat dan berputar saat ia sedang menuruni anakan tangga seakan ia ada di atas awan.


Langkahnya yang begitu sangat bahagia pagi ini terhenti saat menatap sosok mbok Jati di meja makan serta Rahmi yang sedang asyik sarapan pagi dengan roti beserta selai nanas kesukaan Mamanya itu.


"Selamat pagi mbok Jati!" sapa Syifa lalu mengecup pipi mbok Jati yang sontak mbok Jati terbelalak kaget.


Dengan wajah terkejutnya itu ia meraba pipinya yang telah dikecup oleh Syifa dan dengan gerakan perlahan kedua matanya melirik sosok Rahmi yang terlihat sama kagetnya.


"Selamat pagi juga Mamaku sayang! Lagi sarapan, ya?"


Syifa juga ikut mendaratkan bibirnya itu ke pipi Rahmi. Sepotong roti yang berada di dalam mulut Rahmi tiba-tiba terjatuh kembali ke piringnya. Bibirnya terbuka lebar-lebar seakan tidak mengerti mengapa putrinya itu tiba-tiba saja malah berubah seperti ini.


"Mama lagi sarapan, ya? Syifa juga mau, dong! Please suapin Syifa juga! Ini rasa nanas? Syifa suka rasa nanas. Aaaa!" ocehnya lalu ia membuka mulut sementara Rahmi masih terdiam dengan wajahnya yang masih tidak menyangka.


Sorot matanya masih tertuju pada sosok Syifa yang masih mempertahankan mulutnya yang terbuka itu.


"Cepetan, Ma! Syifa juga mau. Suapin!"


Tanpa pikir panjang Rahmi dengan wajah yang masih kebingungan kemudian menyuapi sepotong roti ke arah mulut Syifa dan tanpa diminta Syifa dengan cepat memakan sepotong roti yang dijulurkan oleh Mamanya itu.


"Rasanya sangat enak, apalagi kalau Mama yang suapin Syifa."


Cup


Syifa kembali mengecup pipi Rahmi dan berlari kecil menghampiri mbok Jati yang masih mematung di sana.


"Ini bekal untuk Syifa, kan?" tanyanya lalu tanpa menunggu jawaban dari mbok Jati ia segera meraih bekal berwarna pink dari jemari tangan mbok Jati yang nampak mematung.


Dengan semangat Syifa meletakkan bekal itu ke dalam tasnya dan setelahnya ia kembali menatap Rahmi dan mbok Jati secara bergantian.


Tak ada jawaban dari keduanya.


"Hari ini itu semuanya harus bahagia! Tersenyum, bukan malah bengong kayak gitu. Yuk, bisa yuk! Semuanya bisa tersenyum!" ocehnya yang malah bersorak sendiri proses seorang penonton yang sedang menonton permainan sepak bola sambil memberikan contoh.


"Mbok Jati! Mbok Jati juga kenapa nggak senyum?"


"Mbok jati itu harus senyum, biar mbok Jati kelihatan cantik. Coba senyum!" ujarnya namun, mbok Jati hanya terus memasang wajah datar.


Jujur saja ia masih kebingungan dengan perubahan sosok Syifa yang untuk pertama kalinya ceria seperti ini. Biasanya setiap pagi Syifa itu selalu cemberut apalagi jika ia mengetahui Mamanya tidak ada di rumah dan setiap pagi juga Mbok Jati harus selalu menasehati Syifa untuk tidak sedih.


"loh, ayo, dong senyum! Senyum jadi cantik kayak gini," jelas Syifa yang kemudian menyentuh kedua pipi keriput mbok Jati dengan kedua jari telunjuknya membuat kedua sudut bibir mbok Jati terangkat hingga membentuk senyum paksa di sana.


"Nah, kayak gitu cantik, kan? Cantik, kan Ma kalau mbok Jati senyum kayak gini?"


Rahmi melongo. Iaa tak bisa mengatakan apa-apa kali ini.


Syifa yang sejak tadi menopang kedua pipi mbok Jati dengan jari tangan akhirnya menunduk menatap jam tangan yang telah menunjukkan setengah tujuh.


"Oh ya kalau kayak gitu Syifa harus berangkat dulu. dadah mbok Jati, Mama!" ujarnya lalu mengecup punggung tangan mbok Jati dan Rahmi secara bergantian.


Ia melambaikan tangan lalu melangkah dengan gembira menuju luar rumah. Tatapan Rahmi dan mbok Jati masih tertuju kepada sosok Syifa yang telah berlenggang keluar dari rumah hingga akhirnya Syifa tak terlihat lagi setelah ia keluar dari pintu.


Mbok Jati dan Rahmi saling berpandangan. Keduanya begitu sangat kebingungan.


"Tadi Syifa, kan?" tanya Rahmi yang akhirnya bicara yang sejak tadi bibirnya bungkam dan terasa membeku untuk harus bicara.


"Sepertinya non Syifa sakit," tabak mbok Jati yang masih kebingungan.


Rahmi menggelengkan kepalanya.


"Sudah lah mbok. Biarkan saja, mungkin hari ini dia sangat bahagia," putus Rahmi yang kembali pada kegiatan makannya.


"Iya, non malahan bagus kalau setiap harinya non Syifa bisa tersenyum seperti itu kayak tadi. Tapi nyonya, tidak biasanya non Syifa seperti itu."


"Iya juga, sih mbok. Rahmi juga bingung," ujar Rahmi yang menghentikan kegiatan makannya.


Tak berselang lama keduanya kembali melakukan aktivitasnya masing-masing mbok Jati sibuk membersihkan meja sementara Rahmi sibuk sarapan hingga tak berselang lama mbok Jati menghentikan aktivitasnya setelah teringat sesuatu.


"Oh, apa mungkin non Syifa sudah dekat kembali sama Ayahnya," tebak mbok Jati.


"Ayahnya?"


kunyahan Rahmi terhenti. Ujaran mbok Jati kini terlintas di pikirannya. Apakah mungkin perubahan sikap Syifa yang menjadi ceria seperti tadi karena Farhan, Ayah Syifa yang telah membalas pesan-pesan Syifa di ponselnya atau bahkan Farhan mengajak Syifa untuk ketemu dan makan bersama.


Ah, tapi tidak mungkin. suaminya itu adalah orang yang sangat sibuk dan sepertinya suaminya itu telah sibuk dengan anak dan istrinya barunya. Lalu apa yang menyebabkan Syifa jadi bisa berubah seperti ini yang tidak biasanya? Ini sangat membingungkan baginya.


...🕯️🕯️🕯️...