Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-61



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menghela nafas panjang sembari ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter Bryan . Nafas lega kini berangsur dengan pelan berhembus.


Ia sangat bersyukur karena dokter Bryan begitu paham dengan keadaannya sekarang dan memberikan waktu penundaan dalam pengobatan dengan kemoterapi yang akan dilakukan nantinya.


Satu hal yang paling ia inginkan adalah melihat Mamanya dan pak Jaya itu menikah sebelum ia menjalani proses pengobatannya. Ia ingin menjalani pengobatan dengan perasaan bahagia dan lega karena bisa melihat Mamanya itu bahagia nantinya walaupun tidak bahagia dengan kembali lagi bersama dengan Ayahnya, Farhan.


Saat ia melintasi ruangan Nayla langkah Syifa langsung terhenti. Ia menatap sejenak kearah ruangan Nayla dimana ia sedang tertidur disana sementara Neneknya terlihat setia menemani.


Dari sini ia bisa melihat Neneknya nampak membaringkan kepalanya dipinggiran kasur sambil memeluk erat jemari tangannya. Harusnya ia juga harus bersyukur dan sering tersenyum seperti Nayla. Walaupun ia tidak dibesarkan dengan kedua orang tuanya dan hanya bersama dengan seorang wanita tua yang disebut Nenek itu tapi ia tetap tersenyum.


Bisa diibaratkan jika kehidupan Syifa lebih baik daripada Nayla. Syifa masih punya keduanya, hanya saja mereka yang berpisah tempat walau berpisah hubungan.


Syifa juga bisa bersyukur karena ketika ia rindu dengan sosok Ayahnya maka ia bisa akan langsung datang ke kompleks Ayahnya dan melihat sosok Farhan yang dengan melihatnya berusaha untuk menghilangkan rasa kerinduannya walaupun Ayahnya itu tidak lagi selalu bisa bersamanya dan sudah ada orang baru yang mengisi hatinya.


Begitu juga dengan sang Mama, Rahmi yang tidak lama lagi akan dilamar oleh pak Jaya. Semuanya akan baik-baik saja bukan.


Dan itu yang selalu Syifa harapkan, sebuah hal-hal baik yang selalu ia inginkan.


Drtttt


Ponsel Syifa berdering memperdengarkan nada panggilan ciri khasnya membuat Syifa dengan cepat merogoh tas yang sejak tadi menyilang ditubuhnya.


Syifa tersenyum menatap nama Mamanya disana membuat ia buru-buru mengangkat telepon meletakkan ponsel itu ke pipinya hingga suara dari seberang terdengar.


"Iya Ma, Syifa disini."


"Kenapa belum pulang?"


"Ini Syifa baru aja mau pulang."


"Ya, udah Syifa kamu pulangnya cepet, ya! Soalnya Mama mau makan malam sama kamu."


"Makan malam dimana?"


"Dirumah lagipula kita, kan udah jarang makan malam sama-sama. Kalau mau kita makan malamnya di rumah aja, boleh?"


"Boleh," jawabnya dengan semangat.


"Yah, sudah Mama tunggu. Cepat pulang," ujarnya hingga sambungan terputus membuat Syifa menghentikan langkahnya menatap layar ponsel dengan bahagia diiringi dengan senyum yang mengembang memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.


Tidak sabar rasanya bisa makan malam bersama Mama. Tak pikir panjang Syifa segera memasukkan ponselnya itu ke dalam rongga tasnya dan melangkah berlenggang dengan semangat menuju tempat parkiran.


...🕯️🕯️🕯️...


Cahaya-cahaya lilin yang berada diatas meja dijadikan sebagai penerang makanan-makanan mewah yang juga tersaji diatas meja setelah dibuatkan oleh mbok Jati yang memutuskan pulang lebih dulu ke rumahnya.


Syifa mengaduk makanan yang telah berada di depannya sambil sesekali menatap Mamanya yang terlihat masih tersenyum.


Jujur saja ini adalah momen pertama kalinya Syifa dan Rahmi bisa makan malam bersama dan ini juga pertama kalinya mereka berdua makan malam tanpa sosok sang Ayah yang di tempat lain sedang asyik makan bersama istrinya itu.


Dulu mereka semua selalu menghabiskan makan malam dibarengi dengan sebuah candaan membuat suasana menjadi lebih hangat.


Syifa pikir itu semua akan terjadi sampai selamanya, tetapi rupanya tidak bertahan lama. Tiba-tiba keluarganya hancur memberikan luka dan menyesakkan serbuk sedih yang tersisa didalam hatinya.


Semuanya hancur berantakan mengyisahkan luka yang tak bisa diutarakan dengan sebuah kata-kata. Semuanya lebih menyakitkan dan peri berkepanjangan. Tak ada kata sebuah senyuman hingga memutuskan untuk menghapus kegiatan makan malam bahkan dulu Rahmi selalu memutuskan untuk makan diluar dan menolak untuk makan malam di rumah lagi.


Terlebih lagi Syifa yang tak ingin makan di meja makan karena merasa jika makanan malam tidak hangat jika tidak ada sosok kehadiran Ayahnya.


"Rasa ayamnya enak," puji Syifa disela-sela ia mengunyah membuat Rahmi yang sejak tadi merasa canggung dihadapan sang anak kini menggerakkan pandangannya menatap Syifa yang terlihat tersenyum seakan menikmati masakan dari mbok Jati.


"Iya Mama juga suka. Oh iya sebenarnya makan malam ini bukan hanya sekedar makan malam saja."


Ia meneguk beberapa air untuk membasahi tenggorokannya lalu kembali meletakkan gelas itu ke atas meja dan menatap serius ke arah sang Mama.


"Sebenarnya Mama mau ngomong sesuatu."


"Mau ngomong apa?"


"Sebenarnya Mama juga nggak enak mau ngomong sama Syifa."


"Loh, kenapa?"


"Mama takut merepotkan."


"Memangnya apa?"


Rahmi menghela nafas pendek berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan hal ini kepada putrinya yang nampak setia menanti ia bicara.


"Besok Mama boleh minta waktu kamu sedikit?"


"Boleh. Waktu untuk apa?"


"Mama ingin kamu hadir dalam proses lamaran Mama? Kamu mau, kan?"


Mendengar hal itu membuat Syifa tersenyum lebar dan tanpa sungkan dan berat hati ia langsung mengangguk dengan semangat.


"Yang benar?" tanya Rahmi tidak percaya.


Kedua matanya berbinar saat Syifa kembali menganggukkan kepalanya.


"Benar. Syifa nggak bercanda. Syifa mau, kok. Memangnya pak Jaya kapan datangnya?"


"Besok sekitar jam sepuluh pagi."


"Tapi kayaknya besok itu, kan Syifa punya jam sekolah. Gimana, dong?"


"Ya sudah, nanti biar Mama yang suruh pak Jaya buat undur jam lamarannya."


"Nggak usah diundur, Ma. Nanti nggak enak sama keluarganya pak Jaya. Gimana kalau Syifa enggak usah ke sekolah aja dulu," sarannya membuat senyum Rahmi berangsur lenyap.


"Loh, tapi nggak mungkin kamu nggak masuk sekolah."


"Nggak apa-apa, kok, Ma. Kan Syifa cuman sehari aja. Syifa juga nggak pernah bolos di sekolah jadi nggak apa-apa kalau Syifa nggak masuk sekolah sehari aja."


"Mungkin nggak apa-apa," sambungnya.


"Emang boleh?"


"Boleh. Demi Mama apa yang tidak boleh. Syifa akan lakukan semuanya karena Syifa sayang Mama."


Mendengar hal itu rasanya hati Rahmi bergetar. Entah mengapa setiap apapun yang dikatakan oleh putrinya membuatnya begitu sangat bahagia.


Pujian dan rasa sayang yang ditunjukkan oleh Syifa kepadanya membuatnya semakin bersyukur. Sebuah perubahan yang ia lihat dari sang anak dan ada sebuah kelembutan hati pada putrinya itu yang dulunya membeku karena sebuah kenyataan yang memberikan kepahitan jika iya sudah tidak bisa lagi bersama dengan Ayahnya.


"Mau tambah ayamnya lagi?" tanya Rahmi menawarkan membuat Syifa lagi dan lagi menganggukkan kepalanya dengan kencang.


Ia mengangkat piring dan menjulurkan kepada Rahmi yang bahagia bukan main.


Malam ini tentu saja akan menjadi malam yang paling membahagiakan bagi Rahmi. Kebersamaannya bersama sang anak adalah sebuah harta yang tak ternilai harganya. Ini adalah impiannya yaitu melihat putrinya bahagia dan tersenyum saat ia bersama dengan dirinya.


Hal kecil yang begitu menghangatkan hati.


...🕯️🕯️🕯️...