
...🕯️🕯️🕯️...
"Sekarang Glen dimana?"
Lena menghela nafas panjang. Ia beranjak dari kursi lalu melangkah dengan pelan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua mata Syifa melirik menatap ke arah mana Lena melangkah.
"Sebenarnya gue ragu, sih mau ngasih tahu lo kayak gini."
"Maksudnya?"
"Ya gue takut aja, sih lo nangis."
"Maksud Lena apa, sih Len? Syifa nggak ngerti."
Langkah Lena terhenti kedua tangannya kini berpegangan pada sisi besi brankar di bagian kaki.
"Tadi gue liat Glen lagi ikut lomba basket di stadion mini milik sekolah."
Syifa menepuk tidaknya bagaimana bisa lupa jika kalian hari ini mengikuti perlombaan bola basket yang mewakili sekolah dan sekolahnya inilah yang menjadi tuan rumah.
"Aduh, Syifa lupa kalau hari ini pertandingan bola basket, ya ampun."
Lena menatap bingung sekaligus khawatir saat Syifa melangkah turun dari berankar membuat Lena buru-buru mendekat.
"Lo mau ke mana, sih Fa? Lo mau ngapain?"
"Syifa harus buru-buru, Len. Hari ini pertandingan Glen. Syifa harus liat dan kasih semangat buat Glen."
Lina melongo. Matanya bahkan tak mengerjap di detik itu juga. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Lo gila, ya? Lo kan lagi sakit. Lo aja baru sadar dari pingsan."
"Tapi Glen butuh Syifa."
"Lo tuh sakit, Fa. Lo ngerti nggak, sih kata definisi sakit."
"Tapi Syifa udah janji mau lihat Glen main bola basket di stadion mini buat ngeliat Glen main bola basket."
"Syifa itu kan pacarnya Glen jadi Glen itu butuh dukungan dari Syifa sekarang," sambungnya lalu melangkah berniat untuk keluar namun, pergelangan tangan Syifa dengan cepat dicegat oleh Lena.
"Lo nggak punya kuping apa, ya? Gue udah bilang lo, tuh masih sakit," larang Lena.
Syifa menghempas tangan Lena. Tubuhnya masih terasa lemas tapi berusaha untuk lepas dari pegangan Lena.
"Syifa tahu tapi ini, tuh penting. Syifa tahu sekarang pasti Glen lagi nungguin Syifa."
Diiringi dengan hal-halaan nafas yang cukup berat, "Oke," putusnya lalu melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Syifa dan memilih untuk melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oke, gue nggak ngelarang lo lagi sekarang. Ya udah kalau emang itu mau lo. Pergi aja sana! Pergi ke Glen dan lihat siapa yang ada di samping dia yang sekarang."
"Awalnya gue nggak mau ngomong ini atau ngasih tahu lo karena gue nggak mau lo sakit hati atau sedih."
"Atau bahkan gue enggak mau kalau lo itu nyalahin gue dan nganggap kalau gue itu berniat buat misahin lo sama si Glen tapi ini jujur dan real dari hati gue, Syifa."
"Gue nggak pernah ngarang cerita kalau Glen itu dia enggak peduli sama lo."
Syifa terdiam. Wajahnya terlihat bingung saat mendengar penjelasan dari Lena.
"Mereka deket bahkan lebih dari kata dekat dekat, Syifa. Gue lihat tuh pakai mata-"
"Buktinya apa?" potong Syifa yang akhirnya bicara setelah sejak tadi suasana ruangan UKS ini hanya dikuasai oleh suara Lena.
"Bukti gue banyak."
"Yah, udah apa?"
"Yang pertama lo nggak pernah diantar pulang ke rumah dan yang diantar siapa? Kinara, kan? Bukan lo."
Syifa terdiam.
"Dan yang diajak jalan-jalan setiap minggunya siapa? Bukan lo yang diajak. Pernah nggak, sih lo itu ngerasa diperhatiin sama Glen?"
"Nggak, kan?" sambungnya
Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat. Rasanya ini bukan sebuah bukti baginya.
"Syifa nggak tahu lagi harus ngomong apa sama Lena tapi alasan Glen ngantar Kinara itu ke sekolah karena Kinara nggak pintar bawa motor."
"Lagian Glen dan Kinara itu sepupu, mereka punya hubungan keluarga jadi wajar kalau dia itu boncengan dan jalan-jalannya sama-sama."
Lena tak habis pikir saat mendengar penjelasan dari Syifa. Sepertinya otak dan hati Syifa telah benar-benar ditutup dengan rasa cinta kepada Glen.
"Oke, pergi sekarang dan lo bisa liat gimana kedekatan Kinara sama Glen. Oh iya sekarang masih jam sebelas jadi pertandingan kayaknya masih berlangsung jadi lo bisa liat gimana serunya Kinara yang ngasih semangat buat Glen."
Syifa terdiam. Ia benar-benar mematung sekarang, tak tahu harus mengatakan apa hingga akhirnya Syifa memutuskan untuk keluar dari ruangan UKS meninggalkan Lena yang kini mendecarkan bibirnya dengan kesal. Sahabatnya itu seakan tidak memiliki telinga sehingga tidak ingin mendengar nasehat darinya.
Syifa berlari, tubuhnya masih terasa sangat lemas bahkan kedua kakinya seakan tak sanggup lagi untuk berlari. Kepalanya masih pusing, berputar sedikit namun masih bisa ia kendalikan. Orang-orang menatapnya. Mereka masih mengingat kejadian dimana Syifa pingsan di depan tiang bendera.
Sesekali Syifa menghentikan larinya lalu berpegangan pada sebuah tiang yang berada di koridor sekolah. Kedua matanya terbuka dan tertutup perlahan. Ia berusaha untuk memaksakan dirinya agar bisa sampai ke stadion mini dimana Glen sedang bermain bola basket.
Syifa menyentuh kepalanya sejenak lalu kembali berlari menaiki anak tangga yang berada di lantai 2. Sialnya lapangan untuk bola basket itu berada di lantai dua sehingga mengharuskan Syifa harus bersusah payah menaiki anakan tangga.
Beberapa orang yang menuruni tangga terlihat menatap serius ke arah Syifa yang wajahnya telah memucat. Bibirnya nampak kering dengan sorot mata sayu. Rambutnya basah sedikit terlihat kusut namun, Syifa tak menghiraukan itu semua. Ia hanya fokus pada tujuannya yaitu harus melihat Glenn bermain bola basket.
Dari luar sudah terdengar suara-suara teriakan histeris dan suara pukulan bola basket serta suara gesekan sepatu pada permukaan lapangan. Kini Syifa telah benar-benar berada di depan pintu masuk lapangan.
Syifa menarik nafas dalam-dalam. Ia merapikan rambutnya, seragamnya dan mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat itu lalu setelah merasa rapi Syifa memberanikan langkahnya untuk masuk ke ruangan stadion dimana bangku-bangku penonton nampak dipenuhi dengan para penonton yang berasal dari berbagai sekolah, cukup ramai.
Syifa kini berada tepat di bibir pintu masuk, dari sini juga bisa melihat tim basket sekolahnya yang sedang berjuang mati-matian untuk memasukkan bola ke ring lawan.
Syifa tersenyum saat dari kejauhan ia bisa melihat sosok Glen yang sedang bermain bola basket. Tak sulit untuk mencari sosok Glen yang berbaur dengan teman-temannya.
Glenn punya ciri khas. Tubuhnya tinggi, berkulit putih, senyum yang manis serta pengikat kepala yang mengitari keningnya berwarna merah yang diselaraskan dengan baju tim yang ia gunakan.
Syifa kembali merapikan rambutnya. Apakah iya sudah terlambat?
Glen berlari dengan sangat cepat sambil memukul-mukulkan bola ke permukaan lantai lalu melompat hingga berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Semua orang bersuara membuat Syifa mendongak menatap skor nilai yang menunjukkan jika sekolah mereka menjadi pemenang kali ini.
Syifa ikut tersenyum bahagia hingga senyum itu melenyap secara perlahan saat ia bisa melihat sosok gadis yang berlari lalu memeluk tubuh Glen di tengah lapangan membuat semua orang berteriak histeris. Layaknya sepasang kekasih mereka terlihat malu-malu saat diserbu oleh teriakan histeris dari para penonton.
...🕯️🕯️🕯️...