Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-58.



...🕯️🕯️🕯️...


Suara tempur ombak yang menghantam permukaan karang yang kian terkikis dihantam kerasnya ombak laut yang terbawa oleh angin sejuk membawa aroma air asin bercampur dengan ganggang rumput laut.


Ikan berenang di bawah sana, tepat di bawah jembatan yang terbuat dari kayu dimana sosok Syifa dan Glen terlihat berdiri berdekatan menghadap laut yang luas menikmati pemandangan diiringi hembusan angin yang menerpa wajah kedua makhluk yang masih berdiam kokoh di pinggiran jembatan dengan kedua tangannya yang berteger di atas jembatan kayu.


Telah lima menit mereka telah tiba di tempat ini dan setelah lama itu juga mereka berdiam diri tanpa pernah saling bicara. Rasanya keduanya begitu sangat gugup merasa aneh pada situasi sekarang setelah kejadian perayaan hari ulang tahun yang gagal, kemarahan Syifa dan juga Glen yang lebih memilih untuk melihat keadaan Kinara daripada dirinya membuat suasana rasa canggunh tak seperti dulu lagi.


"Syifa."


Satu kalimat itu berhasil lolos dari bibir Glen membuat Syifa akhirnya tertunduk. Rasa lelahnya berdiri kini dihadiahkan suara dari Glen.


"Sebenarnya gue nggak tau harus ngomong apa sama lo. Gue nggak tau harus ngomong apa.


"Terus kenapa Glen ngajak Syifa ke tempat ini kalau Glen nggak tahu harus ngomong apa sama Syifa?


Glen menggerakkan kepalanya menatap ke arah Syifa yang masih menatapnya lalu tetapan itu tak bertahan lama. Syifa kembali tertunduk seakan menolak untuk saling bertatapan dengan Glen.


Sebenarnya jujur saja rasa kekecewaan itu masih berada di dalam hatinya, tetapi begitu sangat sulit untuk ditunjukkan dan harus mengatakannya. Lagi pula semuanya juga sudah berlalu. Tidak perlu lagi dan tidak ada pentingnya harus dibahas kembali.


"Sebenarnya gue rindu. Gue rindu sama lo," ujar Glen sembari menggenggam tangan jemari halus milik Syifa.


Syifa memeguk salivanya saat Glen menyentuh tangannya membuat perasaannya begitu sangat bahagia. Jujur saja dia juga sangat rindu, rindu pada sosok Glen tapi Kinara selalu saja mengganggu mereka seakan berusaha untuk menghancurkan hubungan mereka.


"Gue rindu sama lo. Apa lo nggak rindu sama gue?"


Syifa tersenyum, senyum yang begitu sangat berat hingga akhirnya ia menggerakkan matanya itu menatap sosok Glen yang senantiasa menanti untuk saling berpandangan.


"Syifa juga. Syifa juga rindu sama Glen."


"Syifa, gue nggak tau apa yang terjadi sekarang tapi gue ngerasa kalau kita itu kayak jauh. Lo kayak ngejauhin gue."


"Enggak, Glen. Syifa enggak ngejauhin Glen."


"Tapi apa?"


"Syifa hanya ngerasa kalau Syifa mendekati Glen itu Syifa ngerasa enggak enak sama Kinara."


Kening Glen mengernyit.


"Kenapa? Kenapa harus bahas kenapa Kinara?"


"Karena menurut Syifa, Kinara itu dekat banget sama Glen. Dia juga nggak rela kalau Syifa dekat sama Glen. Kinara itu pasti ngerasa kalau Glen itu milik Kinara apalagi Syifa tah kalau Kinara itu udah dekat sama Glen sejak kecil."


"Dan pasti dia merasa kesal. Ngerasa kalau Syifa itu ngerebut Glen dari Kinara. Glen harusnya ngerti perasaan Kinara."


"Lo ngomong apa, sih? Gue itu sayang sama lo. Gue suka dan sayang sama lo."


"Syifa juga."


"Terus kenapa lo bilang kayak gitu? Kinara itu cuman sepupu nggak lebih."


"Tapi kayaknya Kinara itu juga sayang sama Glen."


"Glen cuma bilang itu sama Syifa?" ujar Syifa.


"Syifa!" ujar Glen yang menyentuh pundak Syifa agar pacarnya itu bisa berhadapan dengan dirinya.


Ia ingin jika Syifa menatap kedua matanya agar Syifa bisa tau bagaimana ia begitu sangat tulus dengan dirinya.


"Gue ngerasa kalau beberapa hari ini kita kayak jauh banget. Gue mau kita menjalin hubungan ini dengan keadaan yang seperti dulu lagi."


"Dimana gue selalu merasa bahagia kalau lu ada di samping gue bahkan sekarang lo jarang buat balas chat gue dengan cepat."


"Lo mau ngejauhin gue?"


Syifa tertuduh sejenak. Sebenarnya kekecewaan itu masih ada. Kekecewaan itu masih ada, hanya saja Syifa tidak sanggup untuk mengatakan semuanya. Syifa tidak ingin egois.


"Syifa, gue sayang sama lo. Lo mau, kan kita mulai hubungan kita seperti dulu lagi?"


Syifa yang tertunduk sejenak itu kembali mengangkat pandangannya menatap kedua mata Glen yang tak ada henti-hentinya menatap ke arahnya.


Syifa tersenyum membuat kedua sudut bibir Glen juga ikut terangkat menggambarkan bagaimana suasana hatinya sekarang.


"Syifa juga sayang sama Glen," ujarnya lalu memeluk tubuh Glen membuat Glen menyandarkan kepala Syifa itu di dadanya.


Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Syifa. Mengelus kepala kekasihnya itu dengan rasa penuh kasih sayang. Andai saja Syifa bisa mengetahui bagaimana rasa cintanya itu kepada Syifa mungkin Syifa akan sadar betapa sayangnya ia kepada dirinya itu.


"Kalau gue chat lo, lo harus balas cepat, ya! Gue nggak mau lu lama balasnya."


"Gue nggak mau nunggu. Gue mau lo harus balas chat gue dengan cepat. Lu juga nggak boleh sedih di hadapan gue. Lo harus bahagia, kalau perlu lu nggak usah peduliin apa yang Kinara bilang karena gue tetap sayang dan cinta sama lo."


"Gue perhatian sama Kinara hanya karena sekedar dia sepupu gue. Dia itu bagian dari keluarga gue. Gue nggak pernah berharap atau memiliki rasa cinta sedikitpun untuk Kinara."


"Hubungan gue sama dia hanya sebatas adik kakak saja."


Syifa hanya mengganggu, tak bisa berkata apa-apa untuk saat ini. Menurutnya kedamaian hati saat ia memeluk tubuh Glen adalah sesuatu yang begitu sangat ia sukai. Kehangatan itu dan menyadarkan kepalanya di dada Glen bisa membuatnya mendengar suara detak jantung dari dalam sana.


Dempuran ombak laut yang menghantam keras permukaan karang menyatu dan beradu dengan suara detak jantung Glen yang berganti berbunyi.


Suara deras ombak. Burung-burung dengan sayap panjang dan berterbangan di atas air menambah ketenangannya. Hari ini Syifa sangat bahagia tapi entah sampai kapan kebahagiaan ini akan bertahan.


"Syifa janji, Syifa akan selalu tersenyum di hadapan Glen, kapanpun," ujar Syifa disela-sela ia memeluk tubuh Glen membuat gelang tersenyum.


Dia mengecup kening Syifa dan menyandarkan pipinya itu di rambut Syifa.


"Lo juga jangan pernah ninggalin gue, ya Syifa soalnya gue udah sayang banget sama Llo," ujar Glen membuat kedua mata Syifa terbuka dengan perlahan.


Untuk satu kalimat itu sepertinya Syifa tidak bisa berjanji. Penyakitnya ini seakan mengancam jiwanya. Apakah ia akan tetap hidup atau justru pergi untuk selamanya.


Dan itu semua hanya Tuhan yang bisa mengaturnya. Semuanya ia serahkan kepada Tuhan. Bagaimanapun jalan ceritanya tetap akan berjalan sesuai dengan takdir.


...🕯️🕯️🕯️...