Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-37



...🕯️🕯️🕯️...


"Ya udah, itu pertanda lu dilarang senyum sama Tuhan. Ketawa aja sakit apalagi ngakak," candanya membuat Syifa kembali tertawa dan yang kesekian kalinya ia kembali meringis berusaha untuk menahan sakit yang ada pada kepalanya.


"Pasien atas nama Syifa?"


Suara terdengar membuat tawa Lena dan Syifa terhenti. Keduanya menoleh menatap ke arah dokter yang sedang memegang sebuah kertas di sana.


kedua mata Lena membulat wajahnya begitu berbinar-binar saat melihat sosok pria yang sedang melangkah masuk.


"Syifa itu yang gue maksud. Dokter ganteng, idaman gue," bisiknya sambil menyikut tubuh Syifa membuat Syifa melirik tajam.


"Ya, Dok saya sendiri," jawab Syifa.


Dokter bernama Bryan itu tersenyum membuat Lena meremas lengan Syifa dengan keras seakan begitu tak tahan melihat paras tampan wajah pria berjas putih itu.


"Pemeriksaan hasil EEG sudah keluar," ujarnya memberitahu sambil menunduk menatap kertas yang ada di tangannya.


"Gimana, dok hasil pemeriksaan teman saya? Dia nggak apa-apa, kan?"


"Kepalanya nggak ada yang cedera? Nggak ada yang pecah? Retak atau hilang?" oceh Lena dan dengan cepat disikut oleh Syifa membuat Lena menoleh.


"Kok, ngomongnya kayak gitu, sih?"


"Gue khawatir. Emang kepala lu sakit setelah di hempas ke lantai, kan jadi gue takut lo sakit kayak gini karena cedera di kepala."


"Kalau sampai emang ada cedera, gue bakalan bawa kasus ini ke pihak polisi. Gue nggak akan biarin dia lolos. Iya, kan dokter?" ujarnya lalu tersenyum manis ke arah dokter Bryan.


Tak menjawab. Dokter itu hanya tersenyum membuat Lena semakin memerah pipinya.


"Gimana dok sama hasilnya?" tanya Syifa yang kemudian terdiam menanti dokter Bryan itu bicara.


"Sepertinya hal ini sangat serius. Bisa ketemu sama orang tua Syifa?"


Mendengar hal itu membuat Lena dan Syifa saling berpandangan.


"Maaf dokter tapi Mamanya Syifa itu lagi sibuk kerja terus Papanya juga sibuk kerja. Ya, kan Syifa?"


Syifa mengangguk. Dokter Bryan terdiam cukup lama lalu hal itu membuat Syifa dan Lena kemudian saling berpandangan.


"Ada apa, dok?" tanya Syifa.


"Saya ingin membacakan hasil pemeriksaan tapi saya ingin jika orang tua kamu tau."


"Memangnya Syifa sakit apa, dokter?"


Dokter Bryan melangkah maju mendekati Lena dan Syifa yang masih terdiam di sana ini.


"Ini hasil pemeriksaannya," ujar dokter Bryan lalu menjulurkan kertas ke arah Lena membuat Lena dengan cepat membukanya.


Syifa terdiam menatap raut wajah Lena yang terlihat begitu sangat cemas bahkan wajahnya terlihat mempias. Ia terdiam cukup lama lalu menoleh menatap ke arah Syifa dengan kedua mata membulat.


"Kenapa, Lan? Jangan buat Syifa jadi takut, dong Len!"


Lena terdiam.


"Kenapa sama hasilnya?"


"Syifa!" ujar Lena membuat Syifa meneguk salivanya.


"Apa?"


"Sumpah gue nggak ngerti bacanya. Ini apaan?" ujarnya membuat Syifa mendecapkan bibirnya dengan kesal.


Syifa pikir Lena sudah tau apa hasil pemeriksaannya.


"Begini saja mungkin ini bisa langsung diberitaukan kepada kedua orang tua atau bisa langsung memanggil orang tua kamu ke rumah sakit."


"Tapi sekedar informasi saja bahwa pasien yang namanya tertera di hasil EEG bahwa Syifa itu mengidap penyakit kanker otak," lanjutnya.


"Hah?!!!" kaget Syifa dan Lena secara bersamaan.


"Iya, penyakit kanker Syifa sudah masuk ke stadium 3," ujarnya membuat kedua mata Syifa membulat.


Ia menutup bibirnya itu yang terbuka tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh dokter Bryan.


"Len!" bisik Syifa membuat Lena menunduk menatap wajah Syifa yang telah memucat.


"Yang benar aja, dokter? Jangan bercanda, deh!"


"Ini serius. Semua hasil ini telah dilalui oleh pemeriksaan beberapa kali tapi hasilnya tetap menunjukkan bahwa pasien menderita penyakit kanker otak."


"Pasien telah melalui pemeriksaan elektroensefalogram atau EEG. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara merekam aktivitas listrik di bagian otak dengan menggunakan elektroda pada kulit kepala dan kami menemukan jika ada sel kanker di sana."


"Kami juga tidak menyangka," sambungnya lalu ia menoleh menatap Syifa yang kini terdiam.


"Terus gimana, dong caranya agar teman saya sembuh?"


"Ada beberapa cara yang umumnya dilakukan oleh kami untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit kanker otak seperti operasi pengangkatan sel kanker, radioterapi atau kemoterapi dan obat-obatan tertentu."


"Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia."


"Hah!!!" teriak Lena yang berhasil membuat Syifa dan dokter Bryan tersentak kaget.


"Hust! Lena bikin kaget aja, deh!" tegur Syifa.


"Kaget gue."


"Kanker sering menyebabkan kematian karena umumnya tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya, sehingga baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut.


"Baik tumor jinak ataupun ganas bisa muncul di bagian tubuh manapun, seperti hati, payudara, paru-paru, kolerektal, prostat, lambung, serviks, kandung kemih, tiroid, getah bening, dan masih banyak lagi."


"Kanker otak bisa diakibatkan oleh penyebaran kanker dari kanker organ lain yang biasa kita kenal dengan kanker otak sekunder atau metastasis."


"Sel kanker menyebar melalui pembuluh darah, saluran limfatik atau menembus lapisan penutup rongga organ agar dapat bertahan hidup. Karena berjumlah sangat banyak, sistem kekebalan tubuh kesulitan untuk membasmi seluruhnya sehingga terbentuklah kanker sekunder."


"Kanker juga bisa berawal di organ otak, lalu membelah serta memperbanyak diri di organ tersebut dan biasanya kita kenal dengan nama kanker otak primer."


"Kanker otak stadium lanjut berarti kanker sudah menyebar ke organ lain seperti sumsum tulang belakang," lanjutnya.


"Jadi itu berarti kanker di otak Syifa juga?" tanya Lena.


"Sepertinya."


Mendengar hal itu membuat Lena menghembuskan nafas panjang ia menunduk menatap Syifa yang kini masih mematung.


"Terus biar sembuh selain operasi pakai cara apa?"


"Seperti yang saya katakan tadi, salah satu pengobatannya adalah kemoterapi."


"Kemoterapi?"


"Iya."


"Terus kalau misalnya Syifa di kemoterapi ada efek tertentu nggak, sih dok?"


"Pada umumnya efek kemoterapi yang ditimbulkan pada setiap orang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, gaya hidup, dan riwayat masalah kesehatan sebelumnya."


"Seseorang bisa saja mengalami sakit yang luar biasa, sedangkan pada orang lain, obat yang sama mungkin tidak menimbulkan efek samping yang berarti."


"Efek samping kemoterapi mungkin bisa saya jelaskan agar nantinya pasien tidak terkejut setelah pengobatan kemoterapi berlangsung."


"Yang pertama adalah rambut rontok. Salah satu efek samping dari kemoterapi yang mungkin dialami oleh seseorang yang menjalani pengobatan ini adalah kerontokan rambut."


"Kok bisa, dok?"


"Kerontokan rambut yang terjadi karena kemoterapi disebabkan oleh penggunaan beberapa jenis obat untuk kemoterapi. Biasanya, kerontokan rambut terjadi beberapa minggu setelah proses kemoterapi yang pertama dilakukan."


"Syifa itu berarti lu bakalan botak," bisik Lena sementara Syifa


"Selain itu juga ada gangguan pencernaan, mulut kering, gangguan kesuburan, anemia, kelelahan dan napas yang menjadi lebih pendek."


"Lemahnya memori dan konsentrasi. Efek kemoterapi bisa memengaruhi memori dan konsentrasi, serta disorientasi waktu untuk sebagian orang. Pasien akan merasa jika rutinitas harian memakan waktu yang lebih untuk diselesaikan. Namun, gejala ini akan hilang setelah pengobatan selesai."


Mendengar hal itu Lena menggigit ujung jemari kukunya lalu memeluk pergelangan tangan Syifa yang kini masih terdiam.


"Syi, ngeri banget efeknya. Lo mau dikemoterapi?" bisiknya setelah mendengar penjelasan dari dokter.


"Harus banget, dokter dikemoterapi?" tanya Syifa akhirnya bicara.


"Harus apa lagi kalau tidak mau kemoterapi, ya harus dioperasi."


"Tapi Syifa takut, dok."


"Jalan satu-satunya hanya itu, kemoterapi."


"Lakukan yang terbaik buat teman saya dokter. Kalau mau diterapi, terapi aja, ya kan Syifa?" tanya Lena dengan wajah takutnya.


"Sebelum itu kita harus mengurus berkas-berkasnya terlebih dahulu. Kalau begitu saya permisi dulu," ujarnya lalu melangkah keluar.


"Syifa!" ujar Lena membuat Syifa menoleh.


"Gimana, dong? Gue takut banget."


"Lena tenang aja! Semuanya akan baik-baik aja, kok," ujar Syifa berusaha menenangkan walau sejujurnya ia juga sangat merasa sangat cemas.


"Oh, iya Syif."


"Em?"


"Lu lihat enggak, sih mukanya dokter itu? Ganteng banget, kan? Sesuai sama yang gue bilang. Putih, tinggi dan bersih. Oh ini tipe gue banget," gemesnya sendiri membuat wajah Syifa kini mendatar.


"Gila, ya Lena. disaat seperti ini aja Lena bisa muji dokter itu."


"Ya, lagian dokternya, sih yang salah. Punya muka, kok ganteng banget. Namanya siapa, ya?"


...🕯️🕯️🕯️...