Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-13



...🕯️🕯️🕯️...


"Mama itu kesepian. Kamu bisa ngomong kayak gini karena kamu nggak ngerti. Ngerti nggak, sih, Sya? Mama itu kesepian."


"Syifa juga kesepian, Ma. Sama yang kita rasain. Kesepian!"


"Mama bilang Mama kesepian, Syifa juga jauh lebih kesepian, Ma. Mama kira Syifa nggak kesepian apa selama ini?"


"Yang kesepian di rumah ini itu Syifa bukan Mama. Mama nggak tahu aja gimana perasaan Syifa. Semua teman-teman Syifa itu punya keluarga yang lengkap, mereka semua itu diantar sama Mama dan Ayah mereka sedangkan..."


"Sedangkan Syifa enggak. Ayah udah pergi ninggalin kita, Ayah udah nikah dan bahkan jarang balas chat Syifa."


"Syifa juga kesepian. Kita kesepian. Mama cuma kehilangan Ayah tapi Syifa, Syifa gimana, Ma? Syifa kehilangan dua-duanya."


"Sekarang iya memang Syifa masih punya Mama dan sekarang kalau mau menikah terus Syifa gimana?"


"Syifa!" ujar Rahmi namun, tak berhasil membuat Syifa berhenti bicara.


"Kalau Mama nikah? Terus Syifa tinggal dimana dan Syifa mau sama siapa?"


"Syifa!" teriak Rahmi yang berhasil membuat Syifa terdiam.


"Syifa kamu tuh ngomong seakan-akan Mama nggak bakalan ada buat kamu. Kita bakalan terus sama-sama. Kita bakalan sama-sama terus, enggak bakalan pisah," lanjutnya.


"Itu menurut Mama tapi enggak bagi Syifa. Kalau Mama nanti udah nikah sama pak Jaya, kita nggak bakalan bisa sama-sama lagi."


Rahmi menggeleng seakan tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya itu.


"Pak Jaya juga kayaknya kelihatannya enggak bener, kayak orang jahat. Syifa bisa liat dari mukanya. Sorot matanya aja tajam kayak gitu."


"Syifa, kamu bisa nggak, sih bisa enggak kamu enggak usah ngejelek-jelekin pak Jaya. Dia tuh baik, dia teman Mama. Mama lebih kenal daripada kamu."


Kini Syifa dibuat terdiam, tak tau lagi harus berbuat apa.


"Mama harusnya ngerti perasaan Syifa," ujar Syifa saat suasana di antara mereka sejenak senyap.


"Sama Mama juga mau kok ngerti perasaan kamu tapi kamu juga harus ngerti perasaan Mama."


"Mama, tuh kesepian. Kamu ngerti enggak, sih? Mama enggak bisa dong biarin pak Jaya itu pergi gitu aja. Dia itu juga sayang sama Mama dan juga cinta sama Mama."


"Mama enggak boleh biarin dia pergi gitu aja. Dia udah datang bener-bener baik buat ngajak Mama nikah tapi kamu nggak bersyukur kayaknya."


Syifa mendecakkan bibirnya dengan kesal menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk tidak marah besar.


"Bukan Syifa enggak bersyukur, Ma. Syifa itu sayang sama Mama. Mama nggak usah lah nikah lagi, kan ada Syifa. Kalau Mama kesepian kita bisa, kan jalan-jalan atau apa, kek biar kita sama-sama."


"Syifa rasanya, tuh beda. Mama tau kamu nggak ngerti karena kamu nggak tahu apa-apa, kamu masih kecil tau nggak."


"Mama bisa nggak, sih ngertiin Syifa?"


"Syifa, Mama itu udah banyak ngertiin kamu jadi kamu juga, dong ngertiin Mama."


"Mama juga mau dingertiin sama kamu. Bisa nggak, sih?"


"Ma, Syifa bisa ngertiin Mama tapi Mama nggak usah, lah nikah sama pak jaya."


Rahmi bangkit dari pinggiran kasur. Ia menyentuh keningnya seakan telah merasa lelah untuk berdebat dengan Syifa.


"Suatu saat nanti kamu juga bakalan tahu, kok gimana rasanya kalau hidup tanpa ada sosok pendamping."


Setelah mengatakan hal itu Rahmi kemudian memutuskan melangkah keluar dari kamar tak lupa juga ia menutup pintu rapat-rapat dengan suara hempasan membuat Syifa tersentak kaget.


"Mama! Mamaa!" panggil Syifa berusaha agar Mamanya tidak pergi begitu saja, ini belum selesai.


Syifa memenjamkan kedua matanya erat-erat. Rasanya ia ingin berteriak dengan keras mengguncang dunia ini begitu saja. Kedua mata Syifa memanas. Rasanya jantungnya berhenti berdetak di detik ini juga.


Sakit dan perih menghantam dadanya begitu bertubi-tubi. Harus bagaimana sekarang? Mamanya sekarang sudah berpaling hati ia berpikir jika Mamanya itu sangat mencintai sosok Ayahnya hingga tak menikah setelah perceraian tetapi rupanya kali ini sosok pengganggu datang dan menghancurkan semuanya.


Ia pikir semuanya akan baik-baik saja namun, rupanya tidak.


"Aaaaaa!!!"


Syifa berteriak dengan keras. Ia bangkit dari kasur dan melempar bantal-bantal beserta selimut ke segala arah.


Bruak!!!


Suara keras terdengar saat bantal yang ia lempar ke sembarang arah itu menghantam permukaan meja rias hingga peralatan make up nya itu berhamburan ke lantai dan bahkan ada beberapa alat make up nya yang pecah. Benar-benar berantakan, ya semuanya berantakan seperti perasaan hati Syifa yang benar-benar telah hancur. Hancur semua, berantakan tak mampu lagi ia kendalikan.


Syifa menjambak rambutnya dengan keras, berteriak kembali dan membungkam mulutnya dengan permukaan bantal.


Ia kembali berteriak dan memukul permukaan bantal dengan sangat keras menyuarakan rasa kemarahannya.


Syifa menjambak permukaan kasur itu dengan keras dan menariknya hingga ke jemari tangannya terasa sangat sakit, ini tak sakit. Tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit hatinya.


"Ke-ke-napa? Kenapa semuanya seakan menjauhi Syifa? Syi-fa nggak mau kehidupan siapa seperti!!!"


"Ini bukan kemauan Syifa!!! Syifa nggak mau seperti ini."


"Syifa mau Ayah dan Mama itu kembali lagi. Syifa nggak mau seperti ini. Syifa nggak mau kalau Mama nikah lagi apalagi sama pak Jaya."


"Syifa cuman mau Mama sama Ayah itu balikan. Aaaaa!!! Kenapa seperti ini?!!"


Syifa kembali menjerit mengeluarkan semua rasa kekesalan, kemarahan, sedih yang mencampur menjadi satu.


Tubuhnya gemetar, hatinya seakan teriris-iris begitu menyakitkan perasaannya. Hancur hati, hancur semuanya.


Bagaimana nasibnya jika Mamanya dan pak Jaya itu nantinya telah menikah lalu bagaimana dengan nasibnya mungkin setelah menikah Mama akan pergi meninggalkannya seperti apa yang dilakukan oleh Ayahnya itu yang kini telah membuat sebuah keluarga yang baru dan lebih bahagia menyisahkan Syifa dan Mamanya lalu Mamanya kini memutuskan untuk menikah dengan pak Jaya lalu Syifa dengan siapa?


Siapa yang akan menemani Syifa di sini? Apakah Syifa ditakdirkan hanya seorang diri saja?


Siapa yang akan menghapus air mata Syifa jika ia menangis?


Siapa yang akan memberikan semangat jika semua masalah datang silih berganti menemui Syifa?


Siapa yang akan memberikan pujian jika Syifa membuat sesuatu yang baik lalu siapa siapa yang akan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Syifa jika ia ulang tahun nantinya?


Siapa?


Siapa?


Tolong beritahu siapa yang akan melakukan itu semua! Syifa tak bisa melakukannya sendiri.


...🕯️🕯️🕯️...