Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-44



...🕯️🕯️🕯️...


"Tidak apa-apa, dokter. Syifa tidak apa-apa," jawabnya.


Dokter Bryan tersenyum. Ia kemudian membuka beberapa lembar buku yang ada di hadapannya lalu menyatukan kedua tangannya itu di depan bibir sembari menatap ke arah Syifa yang terlihat masih terdiam.


"Jadi sekali lagi saya ingin bertanya kepada Syifa."


Mendengar hal itu sontak membuat Syifa dengan cepat menatap sang dokter.


"Iya, dok?"


"Bagaimana perasaannya hari ini?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Syifa tertunduk. Dia pikir dokter yang ada di hadapannya ini ingin menjelaskan tentang penyakitnya melainkan ternyata ia sekarang mempertanyakan tentang perasaannya.


Syifa menggelengkan kepalanya seakan menolak untuk menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Hancur, tentu saja hancur. Kenyataan pahit terpampang dengan jelas di hadapannya lalu bagaimana bisa Syifa bisa mengatakan kalau hidupnya baik-baik saja sekarang.


"Ada apa?"


Syifa terdiam.


"Saya tau apa yang kamu rasakan tapi semuanya akan baik-baik saja. Percaya dengan saya!"


Mendengar hal itu membuat Syifa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Semoga saja apa yang dikatakan oleh sang dokter itu benar.


"Baik sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu tentang kanker otak yang telah berada di dalam otak kamu."


"Saya memanggil kamu untuk datang ke ruangan saya karena saya ingin menjelaskan penyakit kamu lebih jauh lagi."


"Gejala yang sering dirasakan oleh penderita kanker otak berupa sakit kepala baru atau semakin bertambah saat melakukan sebuah aktivitas bahkan rasa sakitnya sering muncul ketika seseorang yang menderita kanker otak batuk atau bersin."


"Ada pula tandanya seperti penglihatan kabur, hilang keseimbangan, kebingungan, dan kejang. Pada beberapa kasus pun bahkan ada yang sampai tidak ada gejala," sambungnya membuat Syifa mengangguk.


"Kanker otak terjadi ketika sel-sel di otak tumbuh secara tidak normal. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang kanker otak, misalnya paparan radiasi di kepala, riwayat kanker otak pada keluarga, dan kelainan genetik."


"Dan cara penyembuhan-nya yaitu dengan kemoterapi. Seperti yang saya katakan tadi kalau kemoterapi adalah pengobatan atau obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit kanker."


"Kemoterapi ini sudah menjadi kewajiban untuk mencegah terjadinya pertumbuhan kanker lagi tapi seperti yang sudah saya jelaskan mengenai dampak dari penggunaan kemoterapi yaitu adalah rontoknya rambut kamu."


Kedua mata Syifa bergetar. Rasanya ia ingin menangis tapi sangat sungkan untuk harus melakukannya di hadapan dokter.


"Kepalamu tidak akan ditumbuhi rambut setelah kemoterapi selesai dilakukan. Butuh waktu lama agar rambut kamu bisa tumbuh kembali seperti apa yang kamu punya dulu."


"Ta-tapi setelah itu Syifa bisa sembuh, kan dokter?" tanya Syifa penuh harap.


"Ya jika Tuhan mengizinkan kamu sembuh tentu saja kamu pasti akan sembuh. Jadi apa kamu sudah siap dengan semua efek samping dari kemoterapi?"


Syifa terdiam sejenak. Jika ia tidak punya rambut lagi maka itu berarti ia akan mengalami kebotakan dan sudah pasti dia akan tidak akan terlihat cantik lagi.


Apakah Glen masih mau dengannya? Apakah Glen masih ingin mencintainya dan apakah ia masih baik-baik saja?


Jika Kinara mengetahui penyakit karena kepalanya yang telah botak seperti ini, tentu saja ia dan dua sahabatnya itu akan menertawainya. Kondisi seperti ini saja mereka masih membully-nya lalu bagaimana jika kepalanya benar-benar akan botak nanti? Apakah Syifa masih bisa untuk bersekolah setiap harinya?


"Syifa!" panggil dokter Bryan membuat Syifa dengan cepat menatap ke arah dokter yang masih menatapnya dengan raut wajah kebingungan.


"Ada apa? Dokter panggil-panggil tapi, kok enggak nyahut?"


"Maaf dokter."


"Syifa lagi mikirin apa?"


Syifa menggelengkan kepalanya menolak untuk mengatakan semuanya lagi pula dokter ini bukan tempat curhat, bukan untuk memberitahu semuanya mengenai apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan.


"Oh iya, ini adalah surat untuk melakukan izin untuk melakukan tindakan pengobatanm Kedua orang tua ada tidak?"


"A-a-ada dokter."


"Kalau begitu Syifa bisa meminta tanda tangan dan persetujuan dari salah satunya yang akan menandatangani kertas ini."


Syifa masih terdiam. Kedua matanya menatap ke arah kertas yang dijulurkan oleh dokter Bryan.


"Kalau ada kedua orang tua, salah satunya bisa memberikan tanda tangan pada kertas ini guna memberikan persetujuan tindakan dokter."


"Tapi-"


Ujaran Syifa terhenti. Ia tak tau harus mengenakan apa. Apakah ia jujur saja kepada dokter Bryan mengenai apa yang sebenarnya terjadi atau malah harus tetap menyembunyikan-nya?


"Ada apa? Katakan saja!"


Syifa meneguk salivanya. Ia sangat gugup untuk mengatakan hal ini kepada dokter apa yang sebenarnya terjadi jika Syifa merahasiakan penyakit Syifa kepada kedua orang tuanya.


"Dokter!"


"Iya?"


"Sebenarnya yang mengetahui penyakit ini hanya dokter dan Lena, sahabat Syifa yang ada tadi siang."


Mendengar hal itu, sontak raut wajah dokter Bryan terlihat begitu terkejut. Ia tidak menyangka jika pasien yang ada harapannya ini tidak memberitahu kedua orang tuanya mengenai penyakit yang dia derita.


"Loh, kenapa tidak diberitahu sama kedua orang tua kamu kalau kamu itu sakit?"


Syifa tersenyum tipis.


"Syifa, Syifa takut."


"Takut kenapa?"


"Takut membuat semuanya jadi kacau."


"Maksudnya?" tanyanya tidak mengerti.


Syifa tertunduk. ia memainkan jemari tangannya yang begitu sangat cemas untuk harus mengatakannya. Tak tau bagaimana cara harus menceritakannya dan harus memulainya dari mana.


"Syifa malu dokter."


"Kenapa harus malu?"


"Syifa tidak bisa mengatakannya."


"Kenapa?"


"Soalnya Syifa hanya akan menceritakan kisah Syifa kepada orang dekat Syifa sementara dokter-"


"Kalau begitu anggap saya sebagai sahabat!" potong dokter Bryan membuat kedua mata Syifa membulat.


"A-a-apa dokter?"


"Sekarang kita adalah sebuah teman dalam kata kesehatan kamu jadi saya yang akan memantau kesehatan kamu dari pengobatan sampai kamu benar-benar sembuh."


"Jadi apa sekarang kamu masih tidak ingin menceritakan semuanya?"


Syifa masih terdiam tidak tau harus melakukan apa sekarang membuat dokter Bryan nampak terdiam.


"Yah, baiklah saya tau apa yang kamu rasakan dan saya belum mengerti dengan apa yang menjadi masalah bagi kamu tapi saya tau Tuhan memberikan sebuah masalah kepada orang-orang tersebut karena Tuhan yakin kalau hambanya bisa melewati semuanya."


"Tuhan tidak akan memberikan sebuah ujian jika orang tersebut tidak mampu untuk melewatinya dan saya yakin kamu bisa melewati semua ini."


"Kamu orang yang kuat," sambungnya.


"Tanpa dokter tau apa yang membuat Syifa jadi seperti ini?" tanya Syifa membuat dokter Bryan terdiam.


Ia tersenyum lalu menunduk sejenak dan kembali menatap Syifa.


"Saya tidak akan mengerti bagaimana kehidupan kamu kalau kamu tidak menceritakannya. Baik kalau begitu ini adalah surat untuk persetujuan tindakan pengobatan dan ya, kamu bisa menandatangani di sini!" tunjuknya pada kolom tanda tangan.


"Bi-bisa dokter?"


"Ya, silakan!" pintahnya membuat Syifa dengan cepat meraih pulpen dan menarik kertas yang dijulurkan oleh dokter Bryan kepadanya.


...🕯️🕯️🕯️...