Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-46



"Terima kasih dokter!" teriaknya dari luar dan berlari pergi membuat orang-orang yang ada di depan ruangan dokter Bryan melongok menatap bingung ke arah Syifa yang lari terbit-birit seakan dikejar oleh anjing.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa yang masih melangkahkan kakinya dengan terbirit-birit itu memelangkan langkahnya. Ia menoleh ke arah belakang berusaha memastikan jika dokter Bryan tidak sampai melihatnya seperti ini.


Syifa menyandarkan tubuhnya itu di dinding rumah sakit. Nafasnya ngos-ngosan setelah ia telah berlari secepat ini bahkan ia tidak peduli pada orang-orang yang berada di rumah sakit yang telah melihatnya dengan pandangan yang begitu kebingungan.


Rasanya sangat malu, malu sekali. Syifa bahkan tidak akan pernah melupakan kenangan yang sangat bodoh ini. Bagaimana bisa dia salah tingkah di hadapan dokter Bryan dan juga bisa-bisanya ia membuat kursi yang ia duduki terjatuh ke lantai serta mengapa ia bisa menabrak pintu saat ingin keluar dari ruangan dokter Bryan.


Ah, Syifa menyentuh kepalanya itu. Mengusap keringat yang bercucuran membasahi dahinya. Ia melangkah duduk di kursi besi lalu menopang kepalanya. Apa yang akan dikatakan dan apa yang akan dipikirkan oleh dokter Bryan setelah melihatnya seperti ini?


Apakah dokter Bryan tidak berpikir buruk atau bahkan ia telah menertawainya Syifa karena sikap bodohnya itu. Syifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Dasar bodoh!


Syifa sekarang tak tau bagaimana kondisinya nanti saat ia akan bertemu lagi dengan dokter Bryan di hari berikutnya. Sudah pasti Syifa akan sangat malu. Apalagi setelah kejadian ini.


"Ah, dasar bodoh," umpatnya dengan kesal.


Syifa bangkit dari kursi besi yang ia duduki lalu melangkahkan kakinya dengan pelan melewati beberapa ruangan rawat yang saat ini ia lalui.


"Nenek tidak akan lama di sina. Nenek tidak akan lama jadi Nenek harus ke rumah dulu untuk mengambil makanan untuk kamu."


"Kamu di sini dulu, ya!"


Suara itu terdengar membuat Syifa menghentikan langkahnya. Ia terdiam menatap sosok wanita tua yang sedang berbincang dengan salah satu pasien yang sedang duduk di tempat tidur rumah sakit.


"tapi kalau Nenek pergi pulang dan Nayla butuh apa-apa bagaimana?"


"Ditahan dulu! Nenek tidak lama, kok. Tunggu di sini, ya! ujarnya lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu ruangan namun, langkah wanita tua itu terhenti saat ia mendapati sosok Syifa yang ada di depan pintu dengan pandangannya yang menatap serius ke arahnya jendela kaca di mana sejak tadi ia melihat mereka.


"Kamu temannya Nayla, ya?"


"Hah?"


Kedua mata Syifa membulat serta pandangannya yang kebingungan.


"Sahabat?" tanya Syifa bingung bahkan ia tidak mengenal gadis yang ada di dalam itu.


"Buk-"


"Tolong, ya dijaga dulu Nayla! Nenek mau ke rumah dulu ambil makanan!"


"Tapi Syifa-"


"Kenapa? Kamu malu, ya? Sini sini biar Nenek yang antar," ujarnya lalu tanpa menunggu ujaran dari Syifa ia segera menarik pergelangan tangan Syifa dan membawanya masuk ke dalam.


"Tapi saya Syifa bukan sahabat dari orang yang sakit itu!" bantahnya tetapi wanita tua itu seakan mengabaikan ujarannya.


"Nayla!" panggil wanita tua itu membuat gadis berhijab berwarna biru yang selaras dengan warna pakaian pasien yang ada di rumah sakit menoleh menatap Syifa yang telah ditarik masuk oleh Neneknya.


"Ini sahabat kamu. Kamu sama sahabat kamu dulu, ya! Dek, tolong kamu temani Nayla dulu, ya! Nenek ada sesuatu yang mau dilakukan di rumah. Nenek pamit pergi dulu."


Ia melangkah pergi meninggalkan Syifa yang bibirnya masih terbuka berniat untuk mengatakan semuanya jika ia tidak mengenal dan bukan sahabat dari cucunya itu.


"Maafkan Nenek saya, ya!"


Suara dari gadis itu terdengar membuat Syifa menoleh lalu tersenyum kecil.


"Nggak apa-apa. Oh iya kalau kamu mau kamu bisa pulang saja. Tidak apa-apa kalau saya sendiri saja di ruangan ini."


"Oh," jawab Syifa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Memangnya selain Nenek kamu, tidak ada lagi yang bisa menemani kamu-


"Nayla, panggil saja saya Nayla!"


"Oh iya Nayla, salam kenal. Nama saya Syifa."


Nayla mengangguk.


"Syifa, silakan duduk!" ujarnya mempersilahkan membuat Syifa dengan pelan mendudukkan tubuhnya di kursi.


Kali ini iya harus pelan-pelan. Syifa tidak mau kursi ini terhempas seperti yang terjadi di dalam ruangan dokter Bryan dan ia tidak ingin hal itu terjadi kembali.


"Oh iya mengenai pertanyaan Syifa tadi memangnya tidak ada keluarga Nayla yang bisa menjaga Nayla di sini."


Gadis yang berumur sekitar 20 tahun itu menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Loh, kenapa tidak ada?"


"Saya hanya tinggal bersama Nenek saya di rumah."


"Loh, kenapa hanya tinggal bersama Nenek? Mama sama Papa Nayla dimana?"


"Dua-duanya telah meninggal."


"Meninggal?" tanya Syifa yang tidak menyangka.


Ia menutupi bibirnya seakan merasa bersalah setelah mengatakan hal ini kepada Nayla. Tuhan, mengapa sangat tega ia menanyakan tentang itu kepada Nayla.


"Syifa minta maaf. Syifa nggak tau."


"Nggak apa-apa, kok. Nayla udah biasa."


"Oh iya ngomong-ngomong memangnya orang tua Nayla dimana? Kenapa bisa meninggal?"


"Mereka berdua kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya. Jadi sekarang Nayla hanya tinggal bersama dengan Nenek saja."


"Oh," jawab Syifa yang memanjangkan kalimat o-nya sambil menganggukkan kepala menatap ruangan rumah sakit lalu ia kembali menatap sosok Nayla yang masih tersenyum di sana.


Nayla sangat cantik ditambah lagi ia yang begitu murah senyum memberikan aura positif pada gadis itu.


"Oh iya memangnya Nayla sakit sampai harus dirawat di rumah sakit?"


Nayla tertunduk sejenak seakan begitu sangat berat untuk mengatakan semuanya membuat Syifa menatapnya dengan serius.


"Kanker otak."


Kedua mata Syifa membulat begitu sangat terkejut.


"Kanker otak?" tanyanya tidak menyangka.


"Iya, kanker otak," jawabnya meyakinkan.


Rupanya bukan hanya ia yang mengalami penyakit tersebut melainkan selain dirinya rupanya ada juga yang mendapat penyakit itu dan itu dialami oleh Nayla.


"Kanker otak," bisik Syifa membuat gards itu tertawa kecil.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa," jawab Syifa berusaha tersenyum.


"Kalau begitu Nayla sudah di kemoterapi?"


"Sudah."


"Sudah?"


"Iya, sudah memangnya kenapa?"


"Berarti-" ujaran Syifa terhenti kedua matanya bergerak menatap ke arah bagian kepala yang dibalut dengan kain hijab itu.


"Iya kepala Nayla rambutnya sudah rontok karena kemoterapi."


"Memangnya Nayla sudah berapa lama sakit kanker otak?"tanya Syifa hati-hati takut menyinggung perasaan Nayla.


"Sudah 2 tahun lebih."


"2 tahun?"


"Iya. Ada apa?"


"Tidak apa-apa," jawabnya tidak enak.


Nayla tersenyum kecil ia tertulis sejenak lalu kembali menatap ke arah Syifa.


"Kata orang penyakit kanker otak ini bisa saja sembuh tapi ada juga sebagian orang yang mengatakan jika hidup para penderita kanker otak tidak akan lama."


Penjelasan dari Nayla membuat hati Syifa seakan begitu teriris-iris dan bergetar hebat. Entah mengapa ia ingin sekali menangis.


Apakah itu berarti ia akan mati?


"Jadi apa setiap orang yang penyakit kanker otak akan mati?"


"Tidak juga. Banyak bahkan ada yang bisa sembuh dari penyakit kanker otaknya," jawab Nayla dengan wajahnya yang terus memberikan senyum. Ia bahkan tidak terlihat sedih.


"Ada apa?"


"Oh tidak ada apa-apa," jawab Syifa yang kini menggulungkan senyum berusaha memberitahu sosok Nayla jika ia baik-baik saja walau sejujurnya hatinya sedang kacau.


...🕯️🕯️🕯️...